Fuuki Iin no Harenchi Yuugi Volume 1 - Prolog: Mimpi atau Kenyataan?

    





Diterjemahkan Oleh: SEV

"Kalau kita sudah dewasa nanti, menikahlah denganku, ya?! Itu janji!"

Sore musim semi begitu tenang, seolah kehangatan mentari menyelimuti seluruh dunia.

Di antara kelopak-kelopak sakura yang menari di udara, Mio kecil dengan lembut mengulurkan jari kelingkingnya. Aku mengaitkan jariku dengan jarinya, menggenggamnya erat, sebuah ‘janji kelingking’.

Lalu, tanpa sepengetahuan sensei, kami mencium diam-diam di bawah pohon sakura─────

─────Tidak ada yang lebih ambigu dan tidak serius selain ‘janji’ masa kecil.

Namun, aku, Ryougo Sawa, seorang siswa tahun kedua SMA, selalu mengingat ‘janji’ itu.

Tak peduli berapa tahun berlalu, bayangan pohon sakura itu dan senyuman Mio tak pernah pudar.

Karena itu, sesekali, aku memimpikannya.

Bersama diriku saat itu, bersama senyum polos Mio, bersama janji, dan ciuman itu.

Kalau Mio, aku yakin dia masih mengingatnya. Aku ingin percaya itu─────

─────Tepat di momen itu, hal itu terjadi.

Kurasakan kelembutan asing di bibir, dan saat aku membuka mata─────jantungku seolah copot.

Tepat di hadapanku, hanya berjarak beberapa senti, ada wajah Niina Fuyutsuki.

“F-Fuyutsuki!!”

Aku melompat bangun, seperti tersengat listrik. Kursi metal itu jatuh menghantam lantai dengan suara keras.

Tanpa mengerti apa yang terjadi, aku refleks melihat sekeliling.

─────Kami berada di ruangan komite disiplin.

Di temaram senja, bayangan kardus-kardus yang tertumpuk rapi di lantai dan meja memanjang. Di atas meja, laptop menampilkan screen saver.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh sore lebih sedikit.

Tampaknya, aku tertidur selama sekitar tiga puluh menit.

─────Tidak, itu tidak penting.

Ini terlalu mendadak.

Saat membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah wajah pucat seorang perempuan tepat di depan. Di ruangan tanpa lampu, dia menatapku lekat dengan mata hitam kosongnya, tanpa ekspresi apa pun; wajar saja aku ketakutan.

…Tidak bercanda, aku mengira itu hantu.

Fuyutsuki, sama sepertiku yang sedang berbaring miring, menempelkan pipinya ke meja dalam posisi yang sama, seakan kami tidur bersama.

─────Pokoknya, aku benar-benar kaget setengah mati.

Meski kepalaku masih setengah tidur, jantungku sudah terbangun lebih dulu dan berdebar kencang seperti drum.

“A-Apa yang kau lakukan? Itu terlalu mengagetkan jantungku…”

Fuyutsuki bangkit tanpa suara. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Dia tetap gadis yang entah apa yang sedang dipikirkannya.

─────Aku mencoba mengingat sedikit.

Kalau tidak salah ingat, Fuyutsuki berkata akan pergi ke ruang guru untuk mengambil beberapa kardus.

Sementara itu, aku menunggunya kembali sambil memeriksa catatan kegiatan komite disiplin terdahulu di laptop.

Entah di titik mana aku mulai mengantuk, tidak bisa menahan kantuk, aku menyandarkan kepala di meja, dan saat terbangun, wajah Fuyutsuki sudah berada sangat dekat.

…Tidak, tunggu dulu. Ini benar-benar tidak masuk akal.

Aku hanya beberapa kali bicara dengan Fuyutsuki, hubungan kami tidak sedekat itu.

Apa ini semacam lelucon untuk membangunkan orang?

“La… apa yang baru saja kau lakukan?”

Kutanyakan lagi, tapi Fuyutsuki, seperti dugaan, tidak menjawab.

Namun, postur itu tadi, jarak sedekat itu, dan keheningan ini─────terlalu tidak wajar untuk seseorang yang hanya menungguiku bangun.

Lalu─────

Fuyutsuki beranjak berdiri dengan lembut dan berdiri tepat di hadapanku.

Matanya, yang hampa emosi, menembusku langsung. Lalu─────

"Aku menciummu."



Sejenak, waktu berhenti.

Dengan nada seolah itu hal paling biasa di dunia, dia mengatakannya begitu saja.

“…Ah? Apa katamu?”

Aku bertanya tanpa berpikir, tapi tenggorokanku kering dan suaraku keluar serak.

Fuyutsuki bahkan tidak berkedip dan melanjutkan dengan dingin.

“Kataku, saat kau sedang tidur─────aku menciummu, Sawa-kun.”

Suaranya luar biasa tenang dan sepenuhnya tanpa emosi. Tidak ada canda, keraguan, atau rasa malu. Dia mengatakannya dengan nada sedatar pengumuman administratif, tanpa setetes pun emosi.

Aku diliputi perasaan bahwa seluruh dunia membeku, dan aku bereaksi secara tiba-tiba.

“Ciuman…? Tidak mungkin!”

─────Roda gigi di dalam diriku terlepas, mengeluarkan bunyi yang jelas.

Sampai beberapa saat lalu, hari-hariku biasa saja, membosankan, namun nyaman dengan caranya sendiri, di mana tak terjadi apa-apa dan itu baik-baik saja.

Kurasakan bagaimana hari-hari ‘selalu’ itu, yang berputar begitu tenang, mulai berderak dan hancur─────

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...