I Became the Hated Villain in an Academy - Prolog

 


Diterjemahkan Oleh: SEV

Lantai arena pertarungan akademi diukir dengan lingkaran-lingkaran sihir yang rumit.

Seorang pria terbaring tak berdaya di atasnya, rambut abu-abu pucatnya penuh debu dan kotoran, seragam bangsawan mahalnya compang-camping.

NOTIFIKASI SISTEM

[Apa akan mengeksekusi ' Evan Dreadnought'?] [YA/TIDAK]

Tidak ada alasan untuk ragu.

Lagi pula dia bukan karakter yang begitu penting.

"Aku, putra sulung Keluarga Dreadnought—beraninya si jalang rakyat jelata sepertimu...!"

Pria itu berteriak dengan wajah yang terdistorsi menjijikkan, tapi tidak secuil pun simpati terpancar dari tatapan yang mengarah padanya.

Hanya penghinaan dan cemoah yang memenuhi udara.

Gadis berambut perak yang menatapnya dari atas.

Iris, protagonis dari game The Glory dan perwujudan keadilan, menatap musuh yang telah dikalahkannya dengan mata dingin.

"Kesombonganmu itulah yang menghancurkanmu, Evan. Keluargamu tak bisa lagi menjadi perisaimu."

"Diam mulutmu!"

"Sudahlah, Iris. Berbicara lebih banyak toh takkan membuatnya mengerti."

"Benar. Mari akhiri saja di sini."

"...Hiiik! A-ampuni aku!"

Evan Dreadnought.

Penjahat kelas tiga yang dilanda rasa rendah diri, terus-menerus menghalangi jalan kelompok protagonis.

Takdirnya sudah ditetapkan sejak awal—menyiksa sang heroine dengan kekuasaannya, menggali jebakan pengecut, dan tertawa sambil melakukannya.

Ya, akhirnya adalah kehancuran.

"Hah, dasar tolol."

Ini adalah adegan yang sudah kusaksikan ratusan kali, tapi setiap kali...

Aku tak bisa menahan cibiranku melihat keadaan menyedihkan si brengsek itu.

Betapa menggelikannya, menyaksikannya meronta-ronta putus asa hanya untuk mengulur hidup beberapa detik lagi dengan tubuhnya yang tak bisa bergerak?

Aku agak ingin menonton lebih lama, tapi...

Demi kelanjutan cerita, inilah waktunya beralih ke adegan berikutnya.

Kugerakkan kursor mouse dan arahkan ke tombol [YA] yang melayang di tengah layar.

"Selamat tinggal, tolol."

Klik.

"Jangan main-main denganku... A-Aku, aku sama sekali gak akan ma-ma-mati, takkan matiiii!"

Zzzzt!

Dan itulah ingatanku yang terakhir.

Ketika kubuka mataku lagi.

Pria yang sangat kubenci itu berdiri di dalam cermin.

Rambut abu-abu pucat dan mata lesu seperti ikan mati—si penjahat kelas tiga.

Evan Dreadnought. 

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...