Fuuki Iin no Harenchi Yuugi Volume 1 - Chapter 1: Salib dan Renda Hitam

    





Diterjemahkan Oleh: SEV

Akhir April sudah hampir tiba, dan sebentar lagi akan masuk Golden Week.

Kesibukan awal masuk sekolah sudah sedikit mereda.

Begitu naik ke tahun kedua, aku diseret untuk mempersiapkan upacara penerimaan siswa baru, lalu terpilih menjadi ketua komite disiplin lewat undian di kelas, dan setelah itu tahu kalau pacar temanku selingkuh─────Kalau melihat ke belakang, rasanya sudah terlalu banyak masalah yang terjadi di awal semester ini.

"Sialan... si Fumika itu!"

Ngomong-ngomong, masalah perselingkuhan temanku itu masih belum selesai.

"Ryougo! Fumika parah banget, kan?"

"…Yah, kamu juga salah."

Bagaimanapun, meski sudah punya pacar, dia pergi kencan grup dengan cewek-cewek dari sekolah lain saat liburan musim semi dan membawa pulang cewek yang dekat dengannya. Dia sendiri yang mencari perkara. Tidak masuk akal kalau apa yang dia lakukan dianggap baik, tapi yang dilakukan ceweknya dianggap buruk.

Dan karena keduanya ketahuan sama-sama selingkuh─────dan masih belum putus juga, sungguh dunia ini penuh misteri.

─────Meski begitu, cinta itu memang sesuatu yang rumit.

Haruskah kukatakan aku menerima baptisan sejak masuk SMA? Berkat Ayato Seki, tipe pria tampan, playboy, dan sampah yang menyatu dalam satu sosok, aku jadi memikirkan banyak hal.

─────Apa itu cinta yang normal?

Menyukai seseorang, mengajaknya kencan, menyatakan cinta... Akhir-akhir ini aku mulai berpikir bahwa jalur biasa semacam itu sebenarnya hanyalah idealisme yang naif.

Cuaca di luar jendela ruang kelas begitu nyaman. Kelopak-kelopak sakura menari bersama angin.

Di hari seperti ini, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, aku membuat 'janji' dengan Mio. Karena itu, musim semi juga merupakan musim dengan kenangan terindah yang kumiliki.

Meski begitu, karena terkena serpihan pertengkaran sepasang kekasih orang lain, suasana hatiku jadi suram.

…Sungguh. Kenapa aku berteman dengan Ayato?

Aku menghela napas panjang.

"Ngomong-ngomong..."

Ayato tiba-tiba merendahkan suaranya.

"Ryougo, apa kau tahu sesuatu? Rumor tentang Shibayama."

Shibayama yang dimaksud adalah Ichika Shibayama, teman sekelasku di 2-C, sama seperti Ayato.

Aku berkata 'ah', lalu menatap ke arah tempat duduknya. Sudah kosong sejak pagi tadi.

"Ini tentang dia yang diskors, kan?"

Saat kukatakan kalimat itu tanpa minat, Ayato menyelaku, "Maksudku alasannya."

"Ada rumor tentang kenapa dia diskors─────katanya dia terlibat dalam 'papa katsu'."

"Wah, ada rumor begitu?"

"Yah, karena ini rumor antar cewek, kuharap keandalannya setengah-setengah... tapi yang ini sepertinya cukup serius. Katanya dia terlihat di area hotel dengan pria berjas."

"Serius? Shibayama yang itu─────"

Shibayama punya citra yang murni dan pendiam. Justru karena itu, dia sangat populer di kalangan cowok sekelas, bahkan ada satu yang menyatakan cinta padanya dan ditolak.

Terlebih lagi, saat ditanya alasan penolakannya, jawabannya cukup serius: 'Karena ada orang yang kusukai'.

Karena itulah, aku mengira dia adalah tipe orang yang mempraktikkan 'cinta normal' yang ada di pikiranku.

…Dan meski begitu, papa katsu?

"Aku tidak percaya."

Mungkin itu bohong, tapi nyatanya, dia diskors karena suatu alasan.

Di mana ada asap, di situ ada api─────Tidak, bagaimanapun juga, mungkin Shibayama sangat dibenci seseorang sampai-sampai mereka mengarang rumor seperti itu.

"Kau tidak mendengar detail apa pun dari para sensei?"

"Ah? Kenapa aku?"

"Karena kau ketua komite disiplin yang mengerikan, yang bahkan anak kecil yang menangis pun bisa diam dibuatnya!"

Karena Ayato mengatakannya dengan sarkasme, aku jadi sedikit kesal.

Saat itu, tiba-tiba, suara seorang pria terdengar di telingaku─────

"─────Kau tidak perlu berusaha keras. Tidak ada yang peduli, lakukan saja setengah hati."

Sementara gejolak ringan masih tersisa di dasar dadaku, aku merasa sangat tenang secara aneh.

"Ryougo? Ada apa?"

Ayato memasang ekspresi bingung.

"…Sial, aku melamun. Jadi?"

"Itu tadi, tentang Shibayama. Karena kau ketua komite disiplin, apa kau tidak tahu sesuatu?"

"…Tidak ada hubungannya. Kami di komite tidak ikut campur urusan pribadi."

Saat kukatakan itu dengan acuh tak acuh, Ayato kehilangan minat dan berkata 'begitu rupanya' sambil bangkit dari tempat duduknya.

─────Menurutku itu bodoh.

Tentu saja aku tertarik pada wanita, bahkan punya gadis yang kusukai.

Jadi aku tidak mengatakan bahwa semua hubungan pria dan wanita itu omong kosong. Ini masalah kadar. Kalau kita mengesampingkan 'cinta normal', ada hal-hal seperti papa katsu, para playboy seperti Ayato, si jalang pacarnya, atau hal-hal seperti di usia berapa mereka kehilangan keperawanan atau menyombongkan seberapa banyak pengalaman mereka─────

Ketika 'seksualitas' bercampur dalam cinta seperti itu, mau tidak mau aku merasa bahwa apa yang kupikir indah tiba-tiba menjadi kotor.

Bukannya aku seorang puritan, tapi aku tidak begitu mengerti alasan untuk membicarakan hal-hal itu secara terbuka.

Dan fakta bahwa rumor konyol semacam itu dikonsumsi sebagai hiburan─────

Tiba-tiba, aku menatap sekali lagi ke meja Shibayama.

"Hei, apa yang kau dengarkan? ─────Ah, lagu itu! Aku juga suka! Bagus, kan?!"

─────Tidak ada orang yang bicara padaku dengan kealamian seperti itu.

Apa yang sedang dilakukan Shibayama di rumahnya sekarang?

Meski aku tidak ingin memikirkannya─────

"Fufu ♪, aku diskors gara-gara Oji-san~ ♪"

"Tidak, tidak, maaf, maaf."

"Tapi, karena orang tuaku tidak ada di rumah jam segini, kita bisa bersama sampai malam."

"Kau anak nakal, Ichika."

"Fufu─────kalau begitu, kita saling membersihkan tubuh di bak mandi ya, Oji-san?"

─────Tidak... tidak, tidak, tidak, tidak, mengenal Shibayama, itu tidak mungkin...

Saat gambaran terburuk itu terputar sendiri di sudut kepalaku,

"Ryougo, salahku! Rumor yang tadi, ternyata benar-benar bohong!" kata Ayato ribut sambil kembali.

"Jadi, cewek dari kelas sebelah─────tunggu, kenapa kau merah?"

"…Tidak, begitu dengar itu bohong, aku merasa sangat lega."

"Wah, merah padam begitu karena lega? Aneh sekali."

Aku tidak ingin diberi tahu olehmu─────pikirku sementara, memang benar, akhir-akhir ini aku agak aneh. Entah kenapa, seperti sekarang, semakin sering aku tiba-tiba tenggelam dalam dunia fantasi.

Aku memutar sendiri gambaran-gambaran yang tidak ada di otakku, dan tiap kali itu terjadi, aku semakin merasa jijik pada diri sendiri...

Bahkan mengikuti alur yang biasa saja, aku tidak bisa menahannya.

…Sialan. Kenapa aku punya begitu banyak fantasi? Apa ini frustrasi seksual?

Kebiasaan berfantasi yang selalu melenceng ke arah erotis ini benar-benar yang terburuk.

Akhir-akhir ini, kesadaranku cenderung mengarah ke sisi itu, dan aku merasa muak pada diriku sendiri. Ada seseorang yang aku tidak ingin dia tahu bagian diriku yang itu─────

 

†††

 

"─────Ah, Ryou-chan! Ayo pulang bersama!"

"Ah, iya... Bagaimana dengan klubmu?"

"Hari ini aku libur~!"

Begitu kelas selesai, saat aku keluar dari ruang kelas, aku langsung dipanggil.

Yang menunggu sambil bersandar di dinding koridor adalah Mio Segawa. Dia tinggal di dekat rumahku dan kami adalah teman masa kecil selama lebih dari sepuluh tahun.

Saat dia sedikit menjauh dari dinding, rambut potongan mediumnya bergerak lembut. Garis indah dari telinga hingga dagu dan lehernya terlihat jelas.

Dan senyum manisnya yang selalu begitu─────sempurna tanpa cela. Bukan hanya aku yang memperhatikannya. Cowok-cowok yang lewat pun tanpa sengaja menoleh.

"Ada apa, Ryou-chan?"

"Ah, tidak... Kita pulang?"

"Iya!"

Meskipun aku adalah teman masa kecilnya, aku malah ikut menatapnya tanpa sadar.

─────Mio adalah gadis cantik sempurna yang diakui semua orang.

Sesekali aku mendengar hal-hal seperti 'dia mirip artis terkenal itu', 'aku ingin berkencan dengannya'─────Penampilannya memang sehebat itu, dan lagi, kepribadiannya juga baik. Hanya dengan berjalan di sisinya, aku bisa tenggelam dalam sedikit perasaan superior.

─────Orang itulah yang kusukai.

Aku masih belum menyampaikan perasaanku, tapi aku pikir tidak lama lagi─────

Kami keluar dari pintu gerbang sambil membicarakan hal-hal sepele.

"Mentari terasa hangat dan nyaman sekali! ─────Ah, kelopak sakuranya menari!"

Mio membuka kedua tangannya dengan polos sambil berkata 'wah' dan berjalan dengan perasaan senang sementara sakura-sakura berjatuhan di sekelilingnya. Melihatnya, rasanya hatiku pun ikut tersucikan.

─────Mio selalu seperti itu, bicara riang tentang apa yang dilihatnya.

Kalau diingat-ingat, aku tidak pernah melihatnya dalam suasana hati buruk. Mungkin, meskipun dia sedang buruk, dia tidak menunjukkannya padaku atau pada orang lain.

"Hei, apa kau tahu?"

"Hmm?"

"Arti bunga sakura adalah 'kemurnian' atau 'keindahan jiwa'."

Aku menjawabnya dengan senyum kecut.

"Itu sudah kudengar sejuta kali. Itu asal usul namamu, Mio, kan?"

"Hehehe, ketahuan ya?"

"Bukannya ketahuan, kau yang mengatakannya setiap musim semi..."

"Soalnya Ryou-chan itu pelupa."

Konon nama menentukan pribadi, dan Mio tumbuh mengikuti citra arti bunga itu.

Kadang itu menjengkelkan, tapi tidak ada niat buruk di dalamnya. Mungkin karena itu, setiap kali dia tersenyum nakal, dadaku terasa bergetar. Dan sekarang, juga bergetar.

Aku berjalan perlahan menyesuaikan langkah Mio.

Di sana ada profil cantik itu. Ayato pernah berkata padaku: 'Karena kalian teman masa kecil, harusnya kau sudah terbiasa', tapi tidak begitu. Malahan, Mio semakin hari semakin cantik, dan akhir-akhir ini aku bahkan sungkan untuk menatap wajahnya langsung.

Dan saat menurunkan pandangan, payudaranya yang besar bergerak naik-turun... Ah, bahaya, bahaya.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan dari dada Mio.

Mio sendiri sangat khawatir dengan ukuran payudaranya.

Katanya dia benci tatapan yang dilemparkan cowok-cowok saat kelas olahraga, sampai-sampai di musim panas pun dia memakai lengan panjang─────

"Hei... apa pendapatmu tentang cewek yang punya dada besar?"

Tahun lalu, saat Mio sendiri yang bertanya langsung soal itu padaku, aku cukup gugup.

Waktu itu─────aku menahan diri untuk tidak mengatakan 'itu luar biasa'. Aku ingat aku mengatakan sesuatu yang samar seperti 'tidak tahu' atau 'tidak begitu', pura-pura tidak tertarik.

Namun, yang pasti sekarang lebih besar dari saat itu.

Apa ini cup G?... tidak, mungkin H.

Menurut dia, 'setiap tahun naik satu ukuran...', jadi, kalau terus begitu, mungkin dalam sepuluh tahun jadi cup R.

Aku rasa tidak mungkin begitu, tapi─────maksudku, yang ingin kukatakan adalah, dada Mio punya potensi untuk terus bertumbuh.

Tentu saja, karena Mio khawatir soal itu, aku tahu tidak boleh melihatnya dengan mata seperti itu. Meskipun aku tahu, pandanganku tertarik tanpa bisa dihindari ke arah dada itu.

Di saat-saat seperti itu, selalu ada kata-kata yang kuulang dalam pikiranku.

…Aku berbeda dari Ayato, aku berbeda dari Ayato, aku berbeda dari Ayato.

Mengingat wajah kenalan yang tidak diinginkan itu, kuulangi seperti mantra untuk menahan hasratku sendiri.

"Ngomong-ngomong soal itu─────"

Tiba-tiba, Mio mengalihkan topik.

"Ryou-chan, bagaimana kegiatan komite disiplinmu akhir-akhir ini?"

"Eh? Akhir-akhir ini... ya, biasa saja?"

"Ya ampun, selalu begitu. Biasa, biasa... sesekali aku ingin dengar cerita yang tidak biasa."

"Meskipun kau bilang begitu..."

…Masalah yang merepotkan.

Kegiatan komite disiplin sama sekali tidak menarik. Soalnya, aku hampir tidak melakukan apa-apa.

Akhir-akhir ini, aku cuma menulis satu lembar rencana kegiatan. Itu beres dengan mengganti nama ketua dan wakil ketua, menulis konten yang sama dengan tahun lalu, dan mengumpulkannya. Umumnya, hal-hal semacam itu hanya formalitas, dan tidak akan ada yang memeriksa isinya.

Selain itu... apa ya, sensei pernah memintaku membersihkan ruangan komite yang ada di gudang?

Aku sudah memutuskan akan melakukannya suatu hari nanti, tapi belum menyentuh apa pun─────

"…Kesimpulannya, tidak ada apa-apa."

Mio tersenyum seperti sedang kesusahan dan sedikit memiringkan kepalanya sambil berkata 'begitu rupanya'.

"Maaf tidak sesuai harapanmu. Sebenarnya, kami tidak melakukan banyak hal."

"Begitukah? Tapi, karena kau sudah berusaha untuk jadi ketua, kenapa tidak mencoba melakukan sesuatu?"

"Bukan... tidak ada yang mau jadi ketua, jadi aku hanya menerimanya karena tidak ada pilihan lain."

"Kalau begitu, Ryou-chan itu mengagumkan."

Mio tersenyum lembut.

Senyum yang murni dan tanpa pertahanan itu membuat jantungku berdetak sangat kencang.

"…Begitukah menurutmu? Kenapa?"

"Karena kau menerima sesuatu yang tidak ada yang mau melakukannya."

"Tapi, kalau tidak ada yang melakukannya, semuanya tidak akan berjalan..."

Saat aku mengatakan itu dengan kurang percaya diri, Mio menunjukkan senyum berseri-seri.

"Aku pikir yang penting adalah apa yang kau lakukan di sana dan apa yang kau dapatkan dari itu, Ryou-chan."

Dadaku bergetar. Seperti kabut yang terangkat, aku merasa pemandangan tiba-tiba menjadi jelas.

…Apa yang kau lakukan di sana dan apa yang kau dapatkan darinya, ya?

Tidak hanya terbatas pada komite disiplin, Mio ingin mengatakan padaku bahwa, tergantung usahaku, hari-hari membosankan ini dan masa depan yang akan datang juga bisa berubah.

Sungguh, kata-kata Mio selalu mendorongku maju.

Dia mengambil semuanya dengan positif dan menuntunku ke arah yang benar.

Aku merasa lagi seperti menyadari betapa luar biasanya gadis itu.

Mungkin karena itu, kata-kata ini keluar begitu saja.

"Kalau begitu... kurasa aku akan berusaha sedikit lebih keras."

Seketika, Mio mengangguk riang. "Ya, itu semangatnya! Semangat, Ryou-chan!"

Lalu, dia tiba-tiba menatap ke langit.

"Kalau kau mau berusaha, aku juga harus mendukungmu, Ryou-chan. Kira-kira ada yang bisa kulakukan ya...?"

Dengan kata-kata itu, emosi yang sudah lama kutahan di dasar dadaku meluap sekaligus.

"Kalau begitu, Mio... apa kau mau berkencan dengan─────?"

"Itu dia! Ryou-chan, temani aku!"

"Eh!?"

Tidak mungkin pengakuan cinta dari Mio─────muncul di saat ini.

"Ada tempat yang ingin kusinggahi."

Tempat yang ingin disinggahinya itu, sudah pasti tempat itu, kan?

Sesaat aku mengernyitkan dahi, tapi langsung berubah jadi senyuman.

"Ah, iya... Ke tempat biasanya?" "Iya! Tempat biasanya! Ayo, ayo!"

Mio mulai berjalan dengan langkah melompat-lompat kecil.

Sambil menatap punggungnya, aku mengikutinya dengan senyum yang dipaksakan.

 

†††

 

"Tuhan... tolong, bimbinglah Ryou-chan."

Cahaya yang menembus kaca-kaca patri jatuh dengan sunyi ke lantai kapel.

Salib itu tetap diam. Melihat Mio berlutut di depannya, aku merasa dia bahkan memancarkan aura suci.

Menirunya, aku ikut berlutut dan mengambil pose berdoa, sekadar ikut arus.

"Semoga melalui kegiatannya di komite disiplin, dia bisa membedakan mana yang benar dan yang tidak. Semoga Ryou-chan punya kekuatan untuk memilih keadilan."

Aku berkata pada diriku sendiri di dalam hati bahwa komite disiplin bukanlah agensi pahlawan super.

Meski begitu, doa Mio berlanjut.

"Jika tampaknya dia akan tersandung, tolong topanglah dengan lembut. Selain itu, karena perut Ryou-chan sensitif, tolong jangan biarkan dia masuk angin. Dan juga, tolong perbaiki sifat pelupanya itu. Ah, dan kalau bisa, tolong bereskan rambutnya yang berantakan saat bangun tidur. Dan lagi─────"

...Di pertengahan bagian kedua, aku merasa seolah ibuku telah merasuki Mio. Dan di atas itu semua, meminta bantuan pada Tuhan?

"Dan yang terakhir~... secara umum, buatlah segalanya... terlihat baik-baik saja."

...Itu terlalu kabur. Tuhan pun pasti bingung.

Sambil melontarkan komentar internal tentang doa(?) Mio, aku menelan keluh kesah.

─────Sampai beberapa tahun lalu, SMA Seigyou ini adalah sekolah khusus putri yang bernama 'SMA Putri Seigyou'.

Konon berubah jadi campuran karena rendahnya angka kelahiran, tapi kebenarannya tidak pasti.

Namun, bahkan setelah jadi campuran, semangat pendirian dan kapel ini tetap dipertahankan.

Karena itu, ini adalah sekolah agama, tapi iman tidak diwajibkan. Faktanya, tampaknya mayoritas murid dan sensei bukan penganut.

Di antara mereka, bahkan ada seorang playboy 'liberal dalam cinta' seperti Ayato Seki.

Aku ingat ada negara yang menghukum mati perzinahan; kalau orang macam dia lahir di sana, pasti sudah dieksekusi seratus kali... Pasti Yesus sendiri pun akan bilang 'kau, jangan' padanya.

─────Mengenai Mio, dia adalah salah satu yang imannya terbangun setelah masuk sekolah ini.

Tentu saja, aku rasa itu bukan hal yang buruk. Sebaliknya, jika seorang gadis murni dan manis semakin mengasah hatinya melalui iman, itu tampak sebagai sesuatu yang luar biasa bagiku.

Hanya saja─────sejujurnya, aku tidak merasa terlalu nyaman di lingkungan yang khidmat ini.

Aku merasa bahwa perasaan yang ingin kusampaikan padanya, keinginan untuk sedikit lebih dekat itu─────terperangkap di suatu tempat. Saat merasakan itu, aku bertanya-tanya apakah cintaku telah menjadi sedikit lebih tidak murni dibandingkan saat kita masih kecil.

"─────Amin... Huf."

Setelah melepas napas kecil, Mio berbalik ke arahku dengan tenang.

"Selesai. Bagaimana doaku tadi?"

"Kau tampak seperti biarawati. Aku merasa sedikit lebih terinspirasi. Jadi lebih bersemangat untuk berusaha."

Mio terkikik kecil dan, mengepalkan tangan di depan dadanya, tersenyum cerah.

"Kalau kau, Ryou-chan, pasti akan baik-baik saja! Tuhan dan aku akan menjagamu!"

"Ah, makasih..."

...Sejujurnya, bagian 'Tuhan' itu tidak perlu.

"Baiklah, aku akan langsung ke ruang komite disiplin. Akan kulihat apakah bisa memikirkan suatu rencana."

"Ya! Semangat, Ryou-chan! Aku percaya kau akan baik-baik saja!"

 

†††

 

Setelah keluar dari kapel dan berpisah dengan Mio, aku kembali ke gedung sekolah.

Di tengah jalan─────tiba-tiba, saat melihat ke arah bayangan salah satu paviliun, aku melihat sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra.

Setelah memastikan tidak ada yang datang, si cowok menyentuh pipi si cewek dengan lembut, lalu keduanya menyatukan bibir dalam diam. Lagi dan lagi...

...Hei, jangan lakukan itu secara mencolok.

Sambil menahan komentar itu dalam pikiran, iblis di dalam diriku berdecak 'cih'. Andai aku bisa, aku juga, dengan Mio─────

"Ah, ah... Ryou-chan, cium aku lagi..."

"Ti... aku sudah kehabisan napas... lagipula, kalau ada yang melihat kita..."

"Tidak apa-apa, di sini tidak akan ada yang melihat."

"Y-Yah, itu benar..."

"Karena itu... beri aku lebih banyak ciuman?"

Bibir Mio mendarat di leherku. Terasa lembut, hangat, sedikit basah, dan meninggalkan sensasi yang melekat.

Sementara itu, Mio, dengan tenang, membawa tangannya ke kancing-kancing seragamnya.

"Hei... ini panas, boleh aku lepas?"

Saat dia bertanya dengan tatapan dari bawah, aku tersentak kaget sambil melihat ke sekeliling.

Tanpa menunggu persetujuanku, Mio membuka kancing-kancing blusnya. Dari belahan bra-nya, terlihat kulitnya yang sedikit berkeringat.

Lalu, dia melemparkan dirinya ke pelukanku.

Mio, yang merasa malu tapi pasrah, berbisik di telingaku: "...Kau tahu, meski kau tidak tahu, sebenarnya aku ini cewek mesum."

Embusan napas dari tawa kecilnya menggelitik telingaku, dan aku merasakan getaran di sepanjang punggungku.

"Karena itu, kumohon... aku menginginkan segalanya darimu~~~...♥"


  


─────Apa yang kupikirkan, sialan!?

Mengusir fantasi yang membuatku ingin menutupi wajah itu, aku mempercepat langkahku.

Tidak mungkin perkembangan yang begitu menguntungkan bisa terjadi kecuali di manga erotis.

Apa yang kulakukan, menelanjangi Mio hanya di dalam kepalaku?

...Tidak, tapi.

Kalau aku memberanikan diri─────kalau aku menggenggam tangannya, kalau aku mendekat sedikit lagi... apakah fantasi ini akan menjadi kenyataan?

Saat aku berpikir begitu, Mio kembali menghela napas manis dalam pikiranku─────

"...Ryou-chan, kau selalu melihat dadaku, ya?"

"Eh!? Ti-Tidak, itu..."

"Hehe... kalau mau, kau boleh menyentuhnya. Lakukan kapan pun kau mau, karena ini untukmu, Ryou-chan ♥."

─────Tidak, hentikan. Kalau terus begini, aku akan berakhir menggunakan teman masa kecilku yang berharga.

…Bukankah aku ini hanya seorang frustrasi seksual?

Keluh kesah keluar dengan sendirinya.

Kalau dipikir dengan tenang, alasan kenapa jarak antara Mio dan aku tidak berkurang bukan hanya karena aku tidak ingin merusak hubungan kami yang sekarang.

Jurang antara ideal, pemikiran, dan keraguan kami sedikit demi sedikit menumpuk─────mungkin akumulasi kesalahan selama bertahun-tahun itulah yang menciptakan jarak sebesar ini sekarang.

 

†††

 

"─────Eh? Fuyutsuki...?"

Saat membuka pintu gudang yang disebut 'ruang komite disiplin' ini, kudapati sang wakil ketua, Niina Fuyutsuki, berdiri sambil memegang kardus-kardus.

"Kerja bagus."

Fuyutsuki mengatakan itu dengan acuh tak acuh, tanpa merusak ekspresi datar biasanya.

"Kerja bagus... Kau membersihkan sendirian?"

Dia mengangguk kecil dan meletakkan kardus-kardus itu di sudut rak.

"Dan kau, Sawa-kun?"

"Aku... yah, bisa dibilang aku jadi sedikit termotivasi."

"Termotivasi?"

"Ya. Aku sedang berpikir untuk melakukan sesuatu bulan depan di komite. Mungkin merencanakan suatu acara."

Fuyutsuki memiringkan kepala dengan penasaran, tapi tidak bertanya lebih lanjut.

Mengingat Mio yang telah menyemangatiku tadi, aku mengatakannya dengan sedikit malu:

"Sebenarnya, ada seseorang yang menyemangatiku untuk berusaha..."

"Siapa?"

"Yah... seorang teman, atau lebih tepatnya, teman masa kecil?"

Merasa malu lagi, aku menggaruk tengkukku.

"Ah, sebelum merencanakan, apa kau ingin kubantu sesuatu?"

"Tidak."

Kurasakan kata itu sedikit menurunkan suhu ruangan.

"Sawa-kun, lakukan tugasmu sendiri."

"Eh?... Ah, ya."

Fuyutsuki mulai memasukkan arsip-arsip lama yang ada di rak ke dalam kardus.

Sikap acuh tak acuh itu sudah biasa darinya. Mungkin dia tidak terbiasa melakukan sesuatu bersama orang lain─────

...Yah, tidak ada gunanya memikirkan setiap hal.

Aku membuka laptop yang ada di atas meja dan menyalakannya.

Karena sudah tua, agak lama waktu yang dibutuhkan untuk menyala. Sementara itu, aku melirik punggungnya yang sedang bekerja.

 

─────Aku pikir, Fuyutsuki jauh lebih mirip boneka daripada Mio.

Dia punya rambut lurus yang nyaris tidak memantulkan cahaya itu. Kulitnya yang putih.

Kontur wajah yang tegas dari dahi hingga pipi dan dagu, dengan mata yang memanjang.

Dia ramping dan serius─────Meski tipenya berbeda dari Mio, dia tetap gadis yang cantik bagiku.

Tapi aku tidak pernah mendengar rumor tentang dirinya.

...Mungkin simpati dan popularitas berbanding lurus.

Aku menyimpulkan sendiri begitu.

Saat itu, Fuyutsuki berjongkok untuk melakukan sesuatu.

Tapi ujung roknya tersangkut di rak.

Stoking hitamnya adalah jenis yang hanya mencapai setengah paha, dan kulit di atasnya muncul di depan mataku.

Detik berikutnya, pantsusnya, yang dihiasi renda hitam di tepinya, tersingkap jelas. Pita-pita di sisi kain yang halus itu bergerak tanpa pertahanan.

"~~~~...!?"

Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tapi dampaknya sudah terpatri di benakku.

…Apa itu tadi? Thong? Itu setengah transparan.

Itu adalah pakaian dalam yang sama sekali tidak cocok dengan citra Fuyutsuki biasanya. Aku tidak hanya melihat garis lengkung bokongnya, tapi, melalui kain transparan itu, aku bisa melihat dengan jelas sampai ke belahan pantatnya─────

"...Sawa-kun."

Mendengar nama belakangku dipanggil dengan suara rendah, jantungku melompat.

Aku lebih gugup dari sebelumnya, tapi kupasang ekspresi pura-pura agar dia tidak sadar.

"Eh? ...A-Ada apa?"

"...Aku akan pergi ke ruang guru mengambil kardus lagi."

"Ah, ya... hati-hati."

Fuyutsuki bangkit dengan wajar, seolah tidak terjadi apa-apa, lalu keluar dari ruangan.

...Berbahaya sekali.

Kukira dia akan sadar kalau aku melihat pantsusnya.

Meski begitu─────siapa sangka Fuyutsuki akan memakai sesuatu yang begitu provokatif. Tampaknya orang tidak selalu seperti yang terlihat.

...Lupakan saja.

Aku menenangkan diri, menemukan catatan kegiatan komite di folder, dan mulai memeriksa arsip satu per satu. Kalau aku menyibukkan tanganku, ingatan tentang renda hitam itu akan hilang seiring waktu─────pikirku.

Begitulah, aku membaca catatan beberapa tahun terakhir, memaksa otakku mempelajari apa yang sudah dilakukan komite.

Setelah beberapa saat─────

Meski begitu, Fuyutsuki lama sekali...

Aku melihat jam. Sebentar lagi pukul enam sore.

Sudah tiga puluh menit berlalu sejak dia keluar.

Apa butuh waktu selama itu hanya untuk mengambil kardus? Apa dia ada urusan lain di ruang guru?

Tanpa sadar, bayangan panjang mulai jatuh di lantai ruang komite, yang diwarnai oleh semburat senja.

Gampang saja untuk langsung pulang, tapi aku bertanya-tanya apakah itu baik. Rasanya tidak benar meninggalkan Fuyutsuki sendirian setelah dia membersihkan selama ini.

"...Aku tunggu saja. Aku akan mentraktirnya sesuatu saat keluar nanti."

Tiba-tiba, pikiranku melambat. Rasa kantuk menyerangku.

Sebentar saja, sampai Fuyutsuki kembali...

Aku duduk lebih santai di kursi, menyilangkan tangan, dan menyandarkan kepala di meja.

Hanya untuk sesaat, tapi pikiranku jatuh ke dalam kegelapan─────

 

†††

 

─────Dan demikianlah, sampai saat ini.

 

"Aku menciummu."

"…Ah? Apa katamu?"

"Kataku, saat kau sedang tidur─────aku menciummu, Sawa-kun."

"Ciuman?... Tidak mungkin!"

Sejak di kelas saat jam makan siang sampai ciuman Fuyutsuki setelah pulang sekolah, semuanya terhubung...?

Tidak, sama sekali tidak terhubung.

Kalau kupikirkan dengan tenang, 'aku menciummu' itu terlalu mendadak. Sementara aku tetap membeku tanpa mengerti apa-apa─────

"...Hehe."

Fuyutsuki tersenyum untuk pertama kalinya di depanku. Senyuman yang, entah bagaimana, terasa penuh kemenangan.

"Kalau kau pikir itu bohong, coba sentuh bibirmu."

Seperti yang dimintanya, aku membawa jariku perlahan ke bibirku.

Di ujung jariku, yang kuturunkan untuk kulihat, ada warna merah muda yang mencolok.

Aroma buah yang manis.

Aroma persisten itu, yang telah menyusup ke dasar indra penciumanku, membuat batas antara ingatan dan hasratku menjadi kabur.

A-apa... serius!?

Ketidaknyamanan yang datang terlambat mengacaukan sarafku.

"Lihat?"

Fuyutsuki tersenyum tanpa suara, tanpa menunjukkan sedikit pun penyesalan.

"…Jangan main-main denganku!"

Dicuri ciuman sudah bukan masalahnya.

Tapi─────itu bukanlah sesuatu yang dilakukan seenaknya saat seseorang tidur, mengabaikan perasaan orang lain.

Ketidakmasuk-akalan ini memicu campuran antara kebingungan dan kemarahan dalam diriku. Selain itu, melihat wajah Fuyutsuki yang begitu tenang, hanya menambah amarahku.

 

Berlawanan dengan perasaanku, Fuyutsuki melangkah maju.

Eh? Sebelum aku selesai berpikir, dia menarik dasiku.

Saat aku sadar, wajahnya sudah berjarak beberapa senti. Pada jarak di mana aku bisa merasakan napasnya di kulitku─────

"…Apa kau benar-benar pikir aku akan menciummu hanya untuk main-main?"

Bisikan rendah dan dingin.

Matanya sama sekali tidak tersenyum. Sebaliknya, dia benar-benar menantangku.

Merasakan dingin yang tak memberi celah untuk satu lelucon pun, aku hampir lupa cara bernapas.

...Dalam situasi ini, bukankah seharusnya hanya aku yang berhak marah?

Aku tidak mengerti kenapa aku yang harus menerima kemarahan tak masuk akal ini.

"Pikirkan baik-baik. Kenapa aku menciummu saat kau tidur."

…Eh? Apa yang dikatakan wanita ini...?

Namun, kalau dia tidak main-main─────hanya satu alasan yang bisa kupikirkan.

"…Karena kau menyukaiku?"

Fuyutsuki menunggu sedetik sebelum melepaskan dasiku.

Tapi, di detik berikutnya─────dia mendorong dadaku dengan kuat.

Akibat tindakan tak terduga itu, aku jatuh ke belakang dan akhirnya terduduk di lantai. "…Argh...!"

Tanpa waktu untuk memulihkan diri, Fuyutsuki menaiki tubuhku.

Aku benar-benar didominasi. Dalam ekspresi yang menatapku dari atas, terlihat erotisme dan hasrat untuk mengendalikan yang melampaui sekadar kenakalan. Aku bisa melawan jika mau, tapi aku begitu bingung hingga kemampuan penilaianku tidak bisa mengikuti.

"Apa yang kau─────?"

─────Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, jari telunjuk Fuyutsuki menekan lembut bibirku.

Lalu, dia menggerakkan jari yang sama perlahan ke bibirnya sendiri dan berbisik: 'Shh'.

"Sekarang jam pulang. Kalau ada yang lewat... apa kau tidak masalah jika kita terlihat dalam keadaan begini?"

"…...!?"

"Kalau begitu... mungkin akan sampai ke telinga gadis yang selalu bersamamu itu."

Suaranya rendah dan provokatif.

Saat membisikkan itu, Fuyutsuki mengambil pita dasinya dengan ujung jarinya dan melepaskannya perlahan dari lehernya.

Shururi─────suara kain bergesekan itu terasa erotis secara aneh.

Lalu, jari-jari putihnya mencari kancing-kancing blusnya. Setiap kali satu kancing terbuka, jantungku berdetak lebih cepat.

Di saat itu, yang melintas di kepalaku adalah─────

"Kalau kau, Ryou-chan, pasti akan baik-baik saja!"

Wajah Mio, yang tersenyum murni seperti malaikat di dalam kapel.

Dibandingkan dengan itu─────Apa wanita ini iblis?

Niina Fuyutsuki menatapku tajam dari atas, mempertahankan senyum penuh nafsu.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...