Madoka membentangkan setumpuk kertas ujian yang telah dikembalikan, "Pasah!", lalu menyodorkannya ke depan ibunya yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Jajajajang—!"
—Simfoni Kelima Beethoven, 'Takdir'.
Harusnya itu frase yang berat dan dalam, tapi yang keluar dari mulut Madoka entah kenapa begitu cerah.
Awalnya, ibunya hanya mengeluarkan suara tanpa tenaga, "Aku takut lihatnya~...." Biasanya, ia akan tertawa getir, "Kamu sudah berusaha, ya." Tapi, hari ini berbeda. Begitu membalik selembar kertas jawaban, matanya terbuka lebar.
"Tunggu dulu... Bahasa Inggris tujuh puluh dua!? Yang lain juga banyak di angka enam puluhan!"
"Ehehe, kali ini aku benar-benar berusaha, soalnya~♪ Ngomong-ngomong~, semuanya di atas nilai rata-rata~!"
Wajah ibunya menunjukkan campuran antara keterkejutan dan kegembiraan, membanding-bandingkan kertas jawaban itu.
"Wah~, Madoka bisa dapat nilai segini, Mama kaget, deh~...!"
"Ya, begitulah♪ Aku juga benar-benar kaget."
"Kamu belajar sama Risa-chan dan yang lain, ya?"
"Ya! Risa dan yang lain juga di atas rata-rata, lho♪"
Ibunya membulatkan mata, "Hebat."
"Meski begitu, zaman udah berubah, ya. Kelompok belajar di 'Gyaru Circle', ya. Nggak kebayang di zaman Mama dulu."
"Ya ampun, keluar, deh. Makanya, sebutan Gyaru Circle itu, udah kuno. Sekarang, kan, era Reiwa."
"Tapi, kalian kan, syuting dance? Mama juga dulu joget Para Para di depan stasiun. Jadi, mirip-mirip, lah."
"Kalau ponsel?"
"Nggak ada, sih, tapi ada ponsel flip!"
Melihat ibunya yang ngotot dengan penuh percaya diri, Madoka tertawa geli.
"Kalau gitu, kalian, gyaru era Reiwa, nyebutnya apa?"
"Hm~ ...biasa aja, teman, atau grup?"
"Hubungan kalian nggak seringan itu, kali. Yang lebih padat, itulah Gyaru Circle."
Ibundanya mengalihkan pandangan ke dinding. Madoka pun melihat ke arah yang sama. Di sana, terpajang foto empat orang gyaru dengan riasan panda, berpose "Yeah♪" berjejer.
Foto itu adalah saat ibu Madoka menghiasi sampul majalah untuk gyaru, 'GAMO'.
Yang paling mencolok dengan rambut merah mudanya, adalah ibu Madoka waktu muda. Bahkan di dalam foto, ia tertawa seperti tokoh utama.
"Ada, lho, persahabatan yang nggak berubah meski dua puluh tahun berlalu. Kalau kalian berteman sesama gyaru, kalian harus diikat oleh ikatan gyaru yang sekuat itu, ya?"
Ibunya membusungkan dada dengan bangga.
"Ya, ya, udah masuk mode cerita masa lalu, nih~"
Madoka mengangkat bahunya, tapi tertawa bahagia.
"Ya udah, Mama mandi dulu, ya~. Makan malamnya angetin sendiri, ya."
Sambil melambaikan tangannya, ibunya menghilang ke arah kamar mandi.
Madoka yang ditinggalkan, menatap tumpukan kertas ujiannya, lalu tiba-tiba tersenyum.
"Ikatan gyaru, Gyaru Circle, ya..."
Padahal kupikir ini bukan hal yang sehebat itu, tapi entah kenapa yang muncul di kepalaku bukan hanya Risa dan Mizuki—melainkan juga wajah cowok yang terlalu serius itu.
Madoka tanpa sadar tertawa, "Pfft."
"Ryuusei juga gyaru, benar-benar nggak mungkin, sih."
* * *
Begitu Mizuki tiba di rumah, pintu masuk sudah dipenuhi suasana ramai seperti biasa.
Suara adik-adiknya. Bau yang menguar dari dapur. Semuanya keramaian yang sama seperti hari-hari biasa. Biasanya dia akan bergumam, "Berisik..." Tapi hari ini, hanya dengan satu kata, "Aku pulang," ia melepas sepatunya.
"Ah, Mi-chan. Selamat pulang."
Ibunya yang kebetulan membawa tas, keluar dari ruang keluarga dengan sibuk.
"Mama, mau keluar sebentar. Sekitar tiga puluh menit."
"Ya."
Mizuki langsung berniat lewat begitu saja. Tapi, tiba-tiba ia menghentikan langkah.
"...Ah, iya."
Berkata seolah baru ingat, Mizuki membuka tasnya, mengeluarkan tumpukan kertas ujian dengan cepat, dan menyodorkannya pada ibunya.
"Ini."
"Eh, ujian? ...Lho, eh!?"
Suara ibunya naik satu tingkat.
"Matematika, delapan puluh delapan!? Mi-chan, hebat, dong!"
Tidak hanya matematika, kimia juga delapan puluh dua. Mata pelajaran sastra pun di atas enam puluh. Semuanya adalah nilai yang tidak terpikirkan untuk Mizuki biasanya.
"...Yah, dari awal aku kuat di sains dan matematika."
Mizuki berkata dengan datar.
"Meski begitu, sudah lama, kan, kamu nggak dapat nilai segini? Kamu sudah berusaha, ya!"
Ibunya menurunkan sudut matanya, berlebihan sampai begitu.
Ekspresi itu sedikit membuatnya geli. Mizuki mengencangkan sudut matanya, lalu mengalihkan pandangan.
"Aku ganti baju dulu. ...Bantuan makan malam, nanti kulakukan."
"Ya, ya. Selalu, terima kasih, ya, Mi-chan."
Sambil mendengarkan kata-kata itu di punggungnya, Mizuki menuju kamarnya sendiri.
Begitu pintu tertutup, ekspresi tanpa perasaannya sampai barusan, tiba-tiba mengurai. Mizuki, masih merasakan pintu di punggungnya, tidak bisa menahan kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya, lalu diam-diam tersenyum.
"...Ya, aku, sudah berusaha."
Kecil, sangat kecil—dengan suara yang tidak terdengar siapa pun, ia menjawab kata-kata ibunya tadi.
* * *
Begitu Risa membuka pintu masuk, dari dapur terdengar suara minyak yang memercik. Ia melepas sepatunya, dengan tas masih tergantung di bahu, hanya menyembulkan wajahnya dari celah pintu.
"Aku pulang."
"Ah, selamat pulang, Risa-chan."
Ibunya menoleh sambil menggoyangkan wajan. Ia seperti tersenyum sedikit, tapi segera mengembalikan pandangannya ke kompor.
"Hari ini, sekolahnya gimana?"
Atas pertanyaan ibunya yang baru ditemuinya setelah tiga hari, Risa menjawab dengan tertawa getir.
"Yah, seperti biasa, kali?"
Ibunya hanya berkata, "Begitu," satu kata,
"Mama mau konsultasi. Rencananya, Mama mau menyewa pembantu rumah tangga."
Lalu, dengan cepat mengganti topik pembicaraan.
"Eh? Kenapa?"
"Urusan rumah, Mama nggak sanggup. Kerjaan lagi sibuk. Itu, lho, perusahaan kosmetik yang Mama dirikan setengah tahun lalu, ingat? Itu populer banget di kalangan anak remaja dan dua puluhan. Sekarang lagi negosiasi, apa bisa ditaruh di department store juga. Mama juga akan bolak-balik ke daerah Kansai. Jadi, akan sibuk lagi, nih."
"Begitu, ya... Mama, berat, ya?"
Kata Risa, lalu ia duduk di kursi ruang makan.
"...Tapi, ya, pembantu rumah tangga, nggak perlu. Urusan rumah, aku bisa sendiri, kok."
"Benarkah?"
"Ya."
Ibunya mematikan api kompor. Begitu mengecek rasa sup di panci, ia melihat jam.
"Ah, celaka... Mama harus pergi sekarang."
"Eh? Mama? Nggak makan?"
"Ini mau ada jamuan makan malam."
"Gitu, ya..."
"Nanti kalau Papa pulang, makan bersama."
"Papa hari ini nggak pulang, lho? Dinas ke luar, di Osaka, kan?"
Ibunya menghentikan tangannya, lalu melihat ke langit-langit seperti berpikir.
"...Iya, ya."
Percakapan tidak berlanjut lebih dari itu. Suara panci yang mendidih, "blubuk-blubuk", bergema dengan tenang.
"Sudah waktunya, Mama pergi."
"Ah, Ma! Hari ini ujiannya udah dibalikin—"
Begitu Risa hendak mengeluarkan tumpukan kertas ujian dari tasnya,
"Nggak ada waktu, maaf, ya. Taruh saja di atas meja. Nanti kalau pulang, Mama lihat."
Ibunya dengan sibuk melepas celemeknya, menggantungnya di sandaran kursi, meraih tasnya, lalu menuju pintu masuk.
"Mama... hati-hati, ya."
Pintu tertutup. Rumah menjadi sunyi.
Tumpukan kertas ujian itu terlihat dari mulut tas. Risa hampir saja mengeluarkannya, tapi berhenti. Begitu ia melepaskan tangannya, tumpukan itu jatuh ke dasar tas.
Ia melihat piring kosong yang diletakkan di atas meja.
"...Padahal Mama sudah susah-susah membuatkannya."
Risa memindahkan masakan buatan ibunya ke piring selagi hangat.
Suara kulkas yang menderu pelan terdengar.
Jarum detik jam, bergerak teratur seolah mengisi celah di antara suara itu.
Risa terus makan dalam diam. Bukan karena ada yang melihat, bukan pula karena berbicara dengan siapa pun. Hanya dengan datar, ia melanjutkan pekerjaan yang disebut makan ini.
Rumah ini luas, bersih, dan sunyi seperti biasa.
Tapi, ruang kosong yang tak bisa diisi, rasanya seperti merenggut rasa dari masakan buatan tangan ibunya.