Jujur saja, aku sendiri tidak begitu paham alasanku berada di sini.
Di seberang gerbang tiket. Stasiun terdekat dari taman hiburan di hari libur.
Dikelilingi poster warna-warni dan gelombang manusia yang bersemangat,
"...Orangnya banyak."
Kataku, lalu mengembuskan napas kecil.
"Pastinya, dong~"
Risa berdiri di sampingku sambil mengibas-ngibaskan pamflet. Hari ini ia memakai dress kasual dan sepatu keds. Rambut pirangnya yang bergoyang di bahu, terlihat semakin berkilau karena sinar matahari.
"Sekarang ini, lagi waktu yang pas banget buat datang ke taman hiburan, kan? Nggak merasa begitu?"
Tidak. "Waktu yang pas" yang dipikirkan seseorang, tentu saja dipikirkan juga oleh orang lain. Hasilnya, berkembang menjadi situasi di mana orang sebanyak ini berdatangan. Dengan kata lain, untukku yang tidak suka keramaian, ini tepat bertepatan dengan "waktu yang tidak pas".
Sewaktu aku berpikir begitu, Madoka ikut nimbrung dalam percakapan, "Memang orangnya banyak, sih~."
"Dibanding pas Natal atau hari-hari event lainnya, bukankah ini lebih mending?"
Sambil berkata, ia menarik ringan lengan sweaternya yang pendek, dan memperhatikan ujung rok mini lipit hitamnya. Bukan pakaian yang mencolok, tapi setiap kali ia bergerak, rambut peraknya sangat menarik perhatian di tengah keramaian.
"Iya, iya, ini masih lebih sedikit!"
"Kalau Natal itu, parah banget, ya?"
"Tapi, itu juga, bukannya nggak enak, gitu, ya~"
Sambil berkata begitu, mereka berdua mengeluarkan tiket tahunan taman hiburan dari dalam tas.
"Ini ketiga kalinya tahun ini, jadi lebih dari balik modal, ya~?"
"Balik modal, balik modal♪"
Risa dan Madoka saling menunjukkan tiket tahunan mereka dengan gembira.
Sambil melirik mereka berdua, aku melihat pada Mizuki.
"Kalau Mizuki? Nggak punya tiket tahunan?"
"Aku nggak begitu sering datang."
"Begitu."
Mungkin karena dia harus mengurus adik-adiknya, jadi tidak ada waktu untuk itu.
"...Tapi, ya, hari ini spesial."
"? Spesial?"
"Karena ujian yang lalu aku sudah berusaha. Mama menyuruhku pergi. Terus..."
"...Terus?"
"...Nggak, bukan apa-apa."
Wajah Mizuki memerah, lalu ia memalingkan muka.
Mungkin karena ia menantikan datang ke taman hiburan, dan agar tidak ketahuan—atau, ia sangat menantikan datang dengan anggota ini.
Aku memiringkan kepala, menatap Mizuki yang masih memalingkan muka.
Parka hitam dan rok denim ramping. Meski mengutamakan kemudahan bergerak, entah kenapa terlihat imut. Hanya saja, hari ini di lehernya tidak ada headphone besar seperti biasa. Mungkin karena itu, ekspresinya terlihat lebih tanpa pertahanan dari biasanya. Aku jadi sedikit bingung harus meletakkan pandangan ke mana.
"Hei, Ryuusei."
Lalu, yang mengambil lengan kiriku adalah Madoka.
Skin ship mendadak seperti ini selalu membuatku terkejut. Tapi, karena ini sudah biasa, aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Apa?"
"Hari ini~... kamu jadi pacar sehariku, ya♪"
"...Hah?"
Aku menatapnya dengan tatapan curiga.
"Eh? Nggak senang?"
"Mana bisa senang. Apa itu, pacar sehari?"
"Maksudnya, hari ini kamu berperan jadi pacarku~"
"Kenapa, sih..."
Aku paham, ini cuma bercanda. Tapi, Madoka terus menempel di lenganku dengan erat. Karena itu, sikuku menekan dadanya yang besar itu. Jujur, dalam hati aku panik.
—Lalu.
"Madoka, curang, deh~"
Kali ini, lengan kananku diambil oleh Risa.
...Orang ini, ikut-ikutan bercandanya Madoka.
Hanya saja, Risa jarang melakukan hal seperti ini padaku. Jadi, aku tidak tahu harus bagaimana. Atau lebih tepatnya, pikirku, jangan gampangan menggandeng lengan cowok, kalian berdua.
"Ryuusei itu peran pacarku!"
"Enggak. Dia peran pacarku~"
...Jujur, 'peran' itu tidak menyenangkan, dalam kasus seperti ini.
Sewaktu aku memasang ekspresi rumit, Mizuki bertanya, "Wajah apa itu?"
"Ini wajah netral. Wajahku saat nggak tahu harus bagaimana."
"Begitu, ya."
Mizuki tertawa geli, lalu memotret "Cekrek!" wajah netralku dengan ponselnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa harus peran pacar? Nggak perlu, kan..."
Kataku dengan lelah. Madoka mengangkat bahu.
"Itu, lho~, kalau cuma cewek bertiga, banyak hal menyebalkan, lho~"
"Iya, iya. Ditegur cowok-cowok dari kelompok lain, atau diganggu..."
Risa berkata begitu, lalu melirik sekilas ke arahku.
"Karena itu, hari ini, kamu jagain kami, ya?"
"Jadi petugas keamanan, ya..."
"Iya, iya. Posisi super penting♪"
Madoka tertawa seperti bercanda. Tapi, jelas sekali di mata siapa pun, ini hanya kejahilan belaka.
"Ayo, ayo, pergi, pergi!"
Risa menarik lenganku lebih kuat.
"Hari ini, kan, harinya main. Jadi, kita harus bersenang-senang seharian!"
Dalam formasi dikelilingi mereka bertiga, aku mulai berjalan.
—Kalau aku yang dulu, pasti di sini aku sudah mundur satu langkah.
Kenapa aku juga? Nggak ada hubungannya, kan—dengan perasaan begitu, dari awal, aku pasti tidak akan datang ke taman hiburan seperti ini.
Tapi sekarang, aku tidak berpikir begitu. Mereka bertiga dengan santainya memasukkanku ke dalam lingkaran mereka. Entah kenapa, perasaan itu kupikir "tidak buruk". Aneh, ya.
"...Itu."
Kataku lirih sambil berjalan. Pandangan mereka bertiga langsung tertuju padaku.
"...Aku, sudah lama sekali nggak ke taman hiburan. Jadi, mungkin cuma akan ngikut aja—"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa!"
Risa langsung menjawab.
"Bahkan kalau Ryuusei tersesat, kami akan mencarimu!"
Begitu ia berkata dengan penuh percaya diri, Madoka dan Mizuki juga mengangguk, "Iya, iya."
"Nggak akan tersesat... aku bukan anak kecil."
Meskipun aku berkata begitu, entah kenapa Risa dan yang lain terlihat bisa diandalkan.
Begitu, saat gerbang masuk semakin dekat, entah kenapa aku sedikit gugup.
* * *
"Ryuusei, terakhir kali ke taman hiburan, kapan?"
Begitu Risa bertanya, aku berpikir sedikit.
"...Sejak study tour SMP, kayaknya. Ini pertama kalinya ke sini."
"Kalau gitu, serahkan padaku! Kami akan memandumu dengan sempurna~"
Risa berkata sambil membusungkan dada. Madoka mengeluarkan topeng maskot karakter dari tasnya,
"Ngomong-ngomong, Ryuusei juga pakai ini~♪"
Lalu, ia menekankannya ke kepalaku.
"Hei... aku malu, tahu, beginian..."
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa♪ Lihat, semuanya pada pakai, kan!"
"Bukan itu masalahnya..."
Setengah dipaksa, aku pun berbaur dengan orang-orang bersemangat di sekitar.
—Setelah masuk ke taman hiburan, percakapan tidak terputus.
Risa dan Madoka bergantian mengajakku bicara. Karena didorong oleh suasana mereka, aku juga untuk sementara mengikuti.
Di sisi lain, Mizuki berdiri agak jauh, mengoperasikan ponselnya, melihat waktu tunggu atraksi.
"Pertama, yang nggak terlalu ngantri, bagus, ya?"
"Ayo, ayo♪"
Begitu Madoka langsung setuju, Mizuki berjalan di depan, "Kalau gitu, sini."
Sambil mengikuti di belakangnya, Risa berkata padaku dengan suara pelan.
"Mizuki itu, nggak cuma pintar, tapi intuisinya juga tajam, lho~"
"Intuisi?"
"Kalau datang ke tempat begini bareng, entah kenapa waktu tunggunya jadi pendek."
"Hal konyol..."
Kalaupun itu benar—itu bukan intuisi, tapi masalah rasionalitas dan efisiensi. Mungkin, dia melihat angka dan tata letak atraksi, lalu tanpa sadar memilih solusi terbaik.
...Tapi, kalau dia sendiri tidak menyadarinya, apa itu tetap disebut intuisi?
Entah kenapa aku jadi tidak mengerti. Untuk sekarang, aku putuskan untuk mengikuti punggung Mizuki.
—Lalu.
Kami sampai di tempat tujuan. Salah satu dari dua roller coaster yang ada di dalam taman. Kelihatannya atraksi yang populer. Tapi, orangnya tidak terlalu banyak mengantri. Papan penunjuk waktu tunggu, di tempat lain sudah biasa tiga puluh menit, satu jam. Hanya di sini, tertulis "Tunggu 15 Menit".
"Seriusan..."
"Lihat, kan?"
Risa memasang wajah bangga. Tapi, sebenarnya yang hebat itu Mizuki.
"Nggak, Risa yang bangga itu salah, dong..."
Aku melontarkan tsukkomi lirih. Tapi, Risa mengabaikannya, "Ayo, cepat ngantri~," dan menarik lenganku.
* * *
Setelah mengantri beberapa saat sambil mengobrol, akhirnya giliran kami tiba.
Kami menaruh barang di loker, lalu dipandu menuju roller coaster empat kursi sejajar. Hasil dari suit yang dilakukan sebelumnya, urutan tempat duduk dari dalam adalah, Madoka, Mizuki, aku, Risa. Lalu, entah beruntung atau tidak, kami di barisan paling depan.
Selagi menurunkan palang pengaman,
"Ryuusei, siap buat teriak?"
Begitu Madoka bertanya, aku menggelengkan kepala.
"Nggak. Aku nggak akan teriak."
"Kenapa~? Teriak itu enak banget, lho~?"
"Nggak akan teriak."
Staf berkata, "Baik, selamat menikmati~." Coaster mulai bergerak perlahan. Berbunyi, "Gatak, Gatak," kami ditarik naik secara diagonal ke langit.
"Takut~!"
Risa berteriak jujur. Mungkin karena ia di kursi pinggir, pemandangan langsung terbuka lebar. Harusnya, ia bisa melihat pemandangan lebih baik daripada aku dan Mizuki yang duduk di tengah.
Tiba-tiba, aku melihat ke samping.
"Mizuki, kamu nggak apa-apa dengan yang beginian?"
"Ha... biasa aja! Aku udah biasa banget, kok!"
Jawabannya langsung. Tapi, nada suaranya jelas-jelas tidak natural. ...Tidak, pura-pura kuat, jelas sekali.
Saat puncak sudah dekat, aku sekali lagi, bertanya lirih.
"Terus terang, kamu takut, kan?"
"Hah? Ini sama sekali nggak—"
Lalu, di saat berikutnya.
"Kyaaaaaaaaa—...!"
Sebelum Mizuki selesai bicara, coaster langsung terjun.
Risa dan Madoka, dari awal sampai akhir terus berteriak dengan gembira.
Kalau Mizuki—ia menjerit dengan jenis teriakan yang berbeda.
"Apa ini! Lucu banget, deh!"
Setelah turun dari roller coaster, di pojok panel foto, Madoka menunjuk dan tertawa terbahak-bahak. Itu adalah foto kami yang diambil saat coaster sedang berjalan.
"Mizuki teriak banget, tapi Ryuusei sendiri, wajahnya datar banget!"
"Iya, ya! Wajahnya lurus banget!"
Risa juga tertawa sambil memegangi perutnya.
"Aku sama Risa, terlalu sempurna pas waktunya buat pose!"
Benar juga, mereka berdua melihat kamera dan berpose "Yeah—!". Pengalaman datang sebagai pemegang tiket tahunan, benar-benar bukan mainan.
"Aduh..."
Mizuki melihat foto itu dan mengerutkan wajahnya.
"Aku, jelek banget... poni, kacau, nih..."
"Nggak, lebih baik dari wajah datarku, kan?"
Setelah saling menghibur luka seperti itu, kami kembali menatap panel itu.
Semuanya ada di foto. Tapi, ekspresinya, empat orang empat rupa.
* * *
Pagi harinya, kami menaklukkan dua dari empat roller coaster yang ada di dalam taman, lalu menikmati sensasi mendebarkan di mesin jerit jenis berputar berikutnya.
Dan, lewat dari pukul setengah dua belas, kami memutuskan untuk makan siang sedikit lebih awal.
"Ini! Ryuusei, aku kasih satu."
"Makasih... lho, brokoli, ya."
Setelah memakan brokoli yang diberikan Risa, sekalian ia memberiku masakan daging.
"Aku ambil air minum~"
"Ah, aku juga."
Madoka dan Mizuki pergi mengambil air. Aku pun berduaan dengan Risa.
"Jadi, gimana? Kamu menikmatinya?"
"Ah, ya, sih."
"Reaksinya tetap tipis, ya~"
"Memangnya kenapa."
Risa terkikik, lalu menekan-nekan pipiku dengan ujung jarinya.
"Karena sehari-hari nggak ketawa, mungkin otot ekspresinya kaku, ya?"
"Kalau ngomong begitu, Risa dan Madoka kelihatannya lentur, ya?"
"Mizuki juga, lho~"
"Eh? Mizuki jarang ketawa, kan?"
"Nggak juga, kok—tuh."
Ujung pandangan yang Risa arahkan, Madoka dan Mizuki yang pergi mengambil air ada di sana. Mizuki tertawa bahagia. Itu, terlihat sangat natural.
"Mizuki, bisa ketawa biasa seperti itu, ya..."
"Ya, kalau lagi bertiga, dia lumayan sering ketawa. Kalau di depan orang lain, ekspresinya jadi kaku."
"Kenapa, ya?"
"Hmm... bukannya dia pemalu?"
"Meskipun gyaru, ada yang pemalu?"
"Itu prasangka, tuh. Mungkin dari penampilan nggak kelihatan, tapi semua orang, di luar dugaan, sensitif, lho?"
Aku melihat wajah Risa.
"Kalau begitu, Risa juga?"
Begitu kutanya, Risa mulai menyeringai.
"Wah, wah? Kamu tertarik padaku~?"
"Nggak, sama sekali."
"Langsung!?"
"Terus terang, sensitif atau ceroboh, keduanya juga nggak apa-apa."
"Jahat banget, deh! Lebih tertarik padaku, dong!?"
Risa melipat tangannya dengan tidak senang, lalu memalingkan muka.
"Sudahlah... Ryuusei, aku benci!"
"Ah, begitu... ya, aku sih, nggak apa-apa kalau begitu."
"Hah!? Nggak apa-apa, gimana, sih!? Aku di sini, suka padamu, makanya kita bersama, kan!"
"...Yang kamu katakan, bukankah kontradiksi? Kamu benci atau suka, yang mana, sih?"
"Benci dan suka itu sinonim!"
"Bukannya antonim..."
Tepat saat akal sehatku ditulis ulang, tanpa kusadari, Madoka dan Mizuki sudah kembali. Madoka melihat wajahku dan Risa bergantian, lalu menyipitkan matanya dengan curiga.
"...Pertengkaran pasangan?"
"Hah!? Bukan!"
Risa berdiri dengan penuh semangat, membantah dengan wajah merah padam.
Mizuki berkata dengan wajah serius, "Bertengkar di taman hiburan, tipe yang sebelum putus." Madoka pun setuju dengan keras, "Benar, tuh!". Salah paham di bawah level anak SD... tidak, ini benar-benar untuk mengerjaiku dan Risa.
Meski begitu, ini sudah menjadi alur yang tetap. Tanpa mempedulikan apa pun, aku memasukkan makanan ke mulut.
"...Enak, ya. Masakan restoran taman hiburan, sesekali, lumayan juga."
Sewaktu aku berkata, para gyaru itu masih ribut, "Wah, wah."
—Meski begitu, sudah berapa lama, ya.
Dibilang "suka" atau "benci" langsung di hadapan seperti ini.
* * *
Setelah selesai makan siang, tempat yang kami tuju adalah rumah hantu.
Eksteriornya bergaya rumah Jepang, dan jelas-jelas memancarkan suasana yang menyeramkan. Bendera yang merambai dengan tulisan merah menyala "Terseram di Kanto" berkibar.
"Ini, lewat."
"Nggak mungkin."
Risa dan Mizuki, begitu melihat pintu masuk, langsung menjawab.
"Eh~? Kalian berdua, penakut banget~"
Madoka tertawa dengan penuh percaya diri.
"Aku sih, biasa aja. —Iya, kan, Ryuusei?"
"Kenapa aku diseret?"
Aku refleks membalas.
"Nggak juga, aku nggak suka rumah hantu..."
Mengabaikan kata-kataku, Madoka mencengkeram lenganku erat.
"Ayo, pergi, pergi♪ Masuk berdua dengan cowok, terus terang ini pertama kalinya, lho~♪"
"Aku juga nggak senang dikasih tahu info begituan."
"Hah? Lebih senang, dong~! Aku sudah mempersembahkan yang pertama untukmu, tahu!"
"Cara ngomongmu..."
Setelah percakapan itu, aku masuk ke dalam rumah hantu berdua dengan Madoka yang berisik. Tapi—
"...Tuan Ryuusei."
Tak lama setelah dimulai, aku mendengar suara yang sangat sopan.
"Sebentar, boleh aku pinjam lenganmu?"
"...Tadi, kamu bilang, 'Biasa aja', kan?"
"Itu, ternyata, nggak biasa aja! Aku nggak dengar, ini, begini!"
Begitu kudengar, sepertinya isinya telah diperbarui total dari saat ia datang sebelumnya. Bahkan Madoka yang sudah masuk beberapa kali pun, benar-benar di luar dugaannya—
"Tambah serem, padahal...!"
"Meski dibilang kayak pesan ramen..."
Kepercayaan dirinya sampai barusan, hilang entah ke mana.
Aku mengembuskan napas kecil, lalu "Hm," merenggangkan lenganku sedikit.
"Ma, makasih..."
Madoka menggandeng lenganku, lalu langsung menempel erat.
Jujur, sulit berjalan. Tapi, begitu suhu tubuhnya tersampaikan, entah kenapa justru aku yang jadi lebih tenang.
"Mungkin, di tikungan sana, nanti ada yang muncul."
"Eh? Kok kamu tahu? Pernah datang?"
"Nggak, tapi, begitu, kan? Ada pola yang cukup pasti, dan—"
Begitu melewati tikungan, dari langit-langit, kepala manusia jatuh.
Madoka berseru, "Hiks...!".
Kepala manusia yang digantung dengan kawat berhenti di tengah jalan, lalu berputar-putar.
Di tengah suara tawa menyeramkan dari speaker,
"Lihat, kan?"
Kataku, sambil menunjuk kepala manusia itu.
"Nggak, di situ, lebih terkejut, dong! Kenapa kamu setenang itu!?"
"Kalau sudah bisa baca kelanjutannya, ya, nggak begitu terkejut..."
"Jangan menganalisis rumah hantu!"
Setelah itu, bentuknya adalah aku melihat ke depan dan maju, menavigasi Madoka. Tapi—
"Hya! Tangannya banyak!"
"Lumayan realistik."
Madoka bereaksi atas semua yang ia lihat—
"Itu apa!? Bonekanya ketawa!? Bergerak, padahal!"
"Biaya produksinya, berapa, ya? Kayaknya mahal."
Aku terus bereaksi atas reaksi Madoka—
"Ruangan ini, penuh darah! Takuuut~~~!"
"Kalau dibilang, ini lebih ke 'menjijikkan' daripada 'menakutkan'."
Akhirnya kami sampai di pintu keluar.
Akan tetapi, begitu keluar dari pintu keluar, Madoka menatapku dengan tatapan kesal.
"Ryuusei... sebentar, berdirilah di situ."
"Haah," jawabku tanpa semangat. Begitu aku berdiri seperti yang dikatakan, omelan langsung dimulai.
"Itu, ya, kata-kata yang nggak perlu, kebanyakan!"
"Eh?"
"Aku di sini, pingin teriak 'Kyaa—!', tapi sama sekali nggak bisa teriak, tahu!? Apa ini, perasaan nggak tuntas!? Aku, ini pertama kalinya, tahu! Ngomong-ngomong, nggak ada satu pun poin yang bikin kamu terkejut!?"
"...Aku terkejut, kirain boneka Jepang tadi, kayaknya mahal."
"Bukan yang itu!"
Madoka menarik napas besar, lalu mendekat dengan cepat.
"Begini, ya? Pihak cewek itu, di saat seperti itu, ingin kamu juga ikut terkejut! Dengan tenang bilang, 'Berapa, ya, kira-kira?' itu nggak boleh! Sama sekali nggak boleh!"
Kenapa aku, sedang dimarahi di taman hiburan?
"Aku juga, sedikit banyak, punya pembelaan."
"...Apa?"
"Karena Madoka takut. Aku pikir, kalau aku juga takut, kamu bakal makin takut."
Mata Madoka membulat.
"Karena itu, aku hanya berusaha untuk tetap tenang."
Setelah keheningan beberapa detik, Madoka tiba-tiba kehilangan tenaganya.
"...Begitu, ya."
Lalu, ia terkekeh.
"Ryuusei, itu... untuk ukuranku, poinnya terlalu tinggi."
"Hah? Apa, maksud—"
"Ayo, kita balik ke Risa dan yang lain♪ Mereka nunggu di atraksi berikutnya, kayaknya♪"
Kata itu, Madoka langsung menempel erat di lenganku seperti hal yang biasa.
"Hei. Rumah hantunya, sudah selesai, kan."
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa♪"
Mendekatkan wajahnya, ia tertawa kecil.
"Kalau begini tuh, entah kenapa, ya... bikin tenang, deh~"
Suhu tubuh yang tersampaikan di lengan, dan keringanan yang seperti kebohongan dari pura-pura kuatnya sampai barusan—entah karena dia gyaru, atau karena dia Madoka, aku tidak tahu. Tapi, begitu melihat Madoka yang tersenyum, hal seperti itu jadi tidak penting.
Sambil menghela satu napas, aku berjalan perlahan dengan Madoka menuju ke tempat Risa dan yang lain.
* * *
"...Hari ini, gimana?"
Di dalam bianglala yang diselimuti sinar senja, Risa menanyakan kesanku. Di hadapan kami, Madoka dan Mizuki sedang mengambil foto untuk Instagram. Suara Risa sepertinya tidak terdengar oleh mereka.
"Jujur, capek, sih... tapi, menyenangkan."
"Iya, kan? Benar, kan, kamu senang datang?"
"Ya..."
Tiba-tiba, pundakku didorong pelan, "Ton".
"Ngomong-ngomong, gimana kencan dengan tiga gyaru?"
"Ini kencan? Kayak kegiatan klub, kan?"
Risa terkekeh.
"Sebutannya apa juga nggak apa-apa, sih... main dengan cewek, nggak menyenangkan?"
"Yah... jadi pelajaran, sih?"
"Hah? Saudara Ryuusei, itu bukan jawaban, lho~?"
Kata Risa sambil bercanda, lalu tertawa. Disinari sinar senja, wajah sampingnya terlihat semakin cantik. Benar-benar gadis yang cocok dengan senyuman. Hanya saja, tatapan matanya terlalu kuat. Aku tidak bisa menatapnya lama-lama.
"...Yah, kalau dibilang menyenangkan, ya, menyenangkan."
Begitu kukatakan sambil memalingkan muka, pundakku didorong lagi, "Ton".
"Setidaknya, lihat mataku saat bilang begitu, dong?"
"Dilihat atau nggak, sama aja, kan..."
"Tetap saja, nggak jujur, ya."
"'Tetap saja', apa..."
Sewaktu kami melakukan percakapan itu, aku sadar Mizuki dan Madoka mengarahkan ponsel ke arah kami.
"Mesra banget, ya? Aku cemburu, nih~"
Kata Madoka dengan lelah, lalu memotret, "Cekrek".
"Ngomong-ngomong, kalian cocok, bikin kesal."
Kali ini Mizuki berkata begitu, lalu "Cekrek"—jarang-jarang, ia ikut dalam bercandaan Madoka.
Kukira Risa akan bereaksi berlebihan. Ternyata, "Iya, kan~?" ia tertawa bahagia. Ini cuma lelucon ringan di antara kami, yang dari awal sudah tahu kalau ini bercanda.
Sebagai aku yang tidak bisa mengikuti lelucon, aku berusaha untuk mengernyitkan wajah sebisa mungkin.
* * *
Begitu keluar dari taman hiburan, bersama rasa lelah yang pas, aku merasakan panas di tubuhku langsung surut.
Dari balik punggungku, musik di dalam taman masih terdengar sayup-sayup. Tapi, seolah kejadian sampai barusan adalah mimpi, kesadaranku perlahan-lahan ditarik kembali ke realita.
Risa dan yang lain saling membicarakan kesan mereka dengan senang.
Aku mendengarkannya dari samping, sambil diam-diam tenggelam dalam sisa-sisa kenangan taman hiburan.
Sampai di stasiun terdekat.
Begitu kami berhenti di peron, Risa berkata dengan sedikit nada berat berpisah.
"Kalau gitu, hari ini kita bubar di sini. Semuanya, selamat beristirahat~"
Madoka dan Mizuki melambaikan tangan, "Da-daa~", lalu naik kereta yang baru saja tiba.
Karena aku dan Risa naik kereta ekspres, kami menunggu kereta satu setelahnya. Ada sedikit waktu kosong.
"Ryuusei, duduk di bangku situ, yuk?"
"Ah, iya."
Begitu kami duduk di bangku kosong, tepat di sebelah kami, sepasang suami istri dengan anak duduk. Di pangkuan sang ayah, ada tas asli taman hiburan. Di dalamnya, pasti penuh dengan banyak oleh-oleh.
Anak perempuan mereka yang kira-kira kelas rendah SD, diapit di tengah, masih dengan semangat yang belum reda berbicara dengan kedua orang tuanya—"Menyenangkan", "Aku ingin datang lagi"—suara seperti itu terdengar putus-putus.
Risa, diam-diam menatap pemandangan itu.
Entah kenapa, aku pikir, apa ia sedang menumpuk dirinya di masa kecil di sana.
"...Entah kenapa, nostalgia."
Tiba-tiba, Risa bergumam.
"Aku juga, dulu sering pergi ke taman hiburan bertiga dengan Papa dan Mama."
"Sekarang?"
"Mereka berdua, sekarang sibuk kerja. Di rumahku, mereka berdua pengusaha. Jadi, tiap hari kerja terus. Tapi, dulu... kami bertiga tertawa sepuasnya. Menyenangkan, ya~"
Aku menjawab, "Begitu, ya," sambil menatap wajah samping Risa. Suaranya ceria. Tapi, hanya untuk sesaat yang sangat singkat, aku merasa ada bayangan di balik ekspresinya.
"Kalau Ryuusei?"
"Hm?"
"Kenangan taman hiburan, dengan Papa dan Mama."
Begitu ditanya, aku berpikir sedikit.
"...Nggak ada. Sekali pun."
"Eh?"
"Di rumahku, dari dulu orang tuaku sibuk... atau lebih tepatnya, ketat. Terutama ayahku—"
'Tidak ada kegagalan di keluarga Makimura! Jangan mencoreng wajahku!'
"—Ugh..."
Sesaat, begitu teringat wajah ayahku, napasku tercekat. Tapi, entah bagaimana, aku berhasil mengelabui, dan mencoba tertawa.
"Setelah SD selesai, tiap hari tempat les atau guru privat. Komik, game, juga nggak dibelikan."
"...Maaf. Aku, nanya hal yang nggak enak, ya?"
Ekspresi Risa menjadi gelap, tapi,
"Nggak, nggak apa-apa, kok."
Kataku, lalu tertawa ringan.
"Berkat itu, aku jadi cukup bisa belajar. Bisa datang bermain bersama Risa dan yang lain seperti ini, dalam arti tertentu, juga berkat itu, kan?"
"Mungkin, sih..."
"Jadi, nggak perlu dipikirin. —Yah, aku nggak punya kenangan taman hiburan. Tapi, sesekali diajak ibuku pergi menonton film, itu menyenangkan."
Risa, tanpa berkata apa-apa, diam-diam menatap wajahku.
...Makanya, tatapan matamu itu kuat.
Sambil berpikir begitu, aku diam-diam mengalihkan pandangan, melihat ke arah taman hiburan. Bahkan dari peron ini, bianglala yang diterangi lampu terlihat berkilauan dengan indah.
"Kalau Risa... mau, datang lagi dengan orang tuamu?"
Begitu kukembalikan topiknya, Risa memiringkan kepalanya kecil, "Eh?".
"Tadi, kamu memasang wajah seperti itu."
Setelah melongo, Risa menurunkan pandangannya ke kakinya.
Lalu, ia menaikkan sudut bibirnya sedikit, dan menatap ke arah yang sama denganku—taman hiburan.
"...Nggak. Aku juga, kan, sudah dewasa."
Setelah berkata begitu, nada suaranya kembali cerah seperti biasa.
"Hari ini juga, sangat menyenangkan. Jadi, nggak harus bersama Mama dan Papa."
Aku tidak bermaksud menanyakan apakah itu menyenangkan. Tapi, aku menjawab, "Begitu, ya," dan mengiyakan.
Kereta ekspres meluncur masuk ke peron.
Di dalam kereta dalam perjalanan pulang, aku mengobrol hal-hal tidak penting dengan Risa.
Tapi—jujur, aku hampir tidak ingat isi percakapannya.
Lebih dari itu, wajah samping yang Risa tunjukkan sesaat tadi, bagaimanapun juga, tidak bisa lepas dari kepalaku.