Gyarusa no Katei Kyoshi ni Natta Volume 1 - Chapter 1: Sisi Lain dari ‘Percuma Saja’

     




Diterjemahkan Oleh: SEV

"――Baik. Kalau begitu, tolong bawa pulang hasil ujian percobaan yang baru saja dibagikan ini ke rumah, ya."

Wali kelas kami, Bu Mikami Nanako, menutup sesi homeroom dengan kata-kata itu. Suasana kelas langsung mencair, dan bersamaan dengan bunyi kursi yang digeser-geser, suara-suara saling menunjukkan hasil ujian mulai terdengar dari sana-sini.

"Gue, jurusan Psikologi Informasi Universitas Tosei, dapat E..."

"Lumayan bagus, ternyata."

"Aku Fakultas Sastra Universitas Inase dapat B, mungkin dengan begini bisa lanjut!"

"Ngelihatin ke nyokap, males banget, deh~..."

"Hei, hei, gimana hasilnya~?"

Di tengah kebisingan itu, kumasukkan hasil ujian percobaan yang sedari tadi kupegang ke dalam tas, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Angin bulan Mei berembus masuk dari jendela yang terbuka lebar, membuat ujung gorden bergoyang lembut.

...Jalur karier, ya.

Sambil menatap awan yang mengapung di langit biru, aku bergumam dalam hati.

Ini tahun kedua sejak aku masuk sekolah ini. Tahun depan akhirnya naik ke kelas tiga, dan saat itu aku harus mulai memikirkan masa depan dengan realistis. Kudengar, sudah ada murid yang mulai ikut bimbingan belajar atau mendatangkan tutor pribadi, mulai bergerak menuju ujian masuk universitas.

Meski begitu, SMA Yuki Naura, tempatku bersekolah, punya catatan prestasi kelulusan yang kurang cemerlang.

Setiap tahun, ada empat atau lima murid yang berhasil masuk universitas negeri bergengsi, tapi di sisi lain, ada juga kasus di mana murid peringkat bawah menyerah karena kurangnya kemampuan akademik.

Singkatnya, ini sekolah dengan kemampuan akademik yang sangat beragam.

Mereka yang menikmati masa muda sepuasnya, dampaknya pada akhirnya akan kembali ke jalur karier mereka. Tapi, di antaranya—

"Nilai F semua, seriusan?!"

—ada juga gyaru yang kelihatannya sama sekali tidak gelisah.

"Risa, kamu ngerjainnya serius, kan? Terus, ini apa?" tanya gyaru kuro berambut perak yang mencolok.

"Yah, sih, gitu~" jawab gyaru shiro berambut pirang.

"Ngomong-ngomong, nilai simpangannya cuma di tempat yang tinggi-tinggi, ya," ujar gyaru berambut hitam dengan headphone melingkar di leher.

Mereka adalah teman sekelasku, Uki Madoka, Onozaka Risa, dan Nanjo Mizuki.

Mereka bertiga selalu bersama. Suasana kelas saat jam istirahat, biasanya dipenuhi suara tawa mereka. Saat jam makan siang, mereka sering merekam video dance dan mengunggahnya ke media sosial.

...Yah, bagaimana, ya.

Aku bahkan belum pernah bicara dengan mereka. Yang kutahu hanyalah informasi umum semacam itu.

"Aku pilih nama universitas yang kutahu, hasilnya ya begini~"

Kata Onozaka sambil tertawa getir.

"Dasar bodoh... setidaknya seragamkan dulu fakultasnya."

Benar apa yang dikatakan Nanjo. Entah ini uji kemampuan atau uji keberuntungan. Mungkin karena belum memutuskan apa-apa, jadinya asal tulis nama universitas yang dikenal saja—.

Sewaktu aku berpikir demikian, Bu Mikami datang ke arahku.

"Himejima-kun. Setelah ini, ada waktu sebentar?"

"...Ada apa?"

Bu Mikami berkata, "Di ruang guru," lalu tersenyum lembut dengan ekspresi tenang.

Wajahku langsung mengernyit. Tahun lalu Bu Mikami juga jadi wali kelasku, tapi sejujurnya, tidak pernah ada hal baik setiap kali dipanggil dengan alasan "setelah ini, ada waktu sebentar?"—.

 

* * *

 

"—Hah? Barusan, apa yang Ibu katakan?"

Tanpa sadar, aku bertanya balik pada Bu Mikami.

Kami berada di sudut ruang konsultasi, di salah satu pojok ruang guru. Di sekitar, para guru sibuk mondar-mandir, dan para murid juga hilir mudik keluar masuk.

Bu Mikami yang duduk di hadapanku, seraya merapikan lengan kardigan tipisnya, terus menampilkan senyuman lembut yang tak berubah. Rambutnya diikat longgar, bahkan gerakannya membetulkan rambut lepas dengan jarinya pun terlihat begitu tenang.

"Begini, aku ingin kamu mengajari anak-anak itu belajar, sedikit saja tidak apa-apa."

Bu Mikami mencondongkan tubuhnya ke arah meja. Suasana lembutnya semakin mendekat, dan untuk sesaat aku bingung harus meletakkan pandangan ke mana. ...Dadanya, terlalu besar.

"...Maksudnya, pada para gyaru itu?"

Wajah Onozaka, Uki, Nanjo—terbayang jelas satu per satu di kepalaku.

"Maaf, tidak bisa. Saya tolak. Selamat tinggal—"

Sewaktu aku hendak berdiri, Bu Mikami menyatukan kedua tangannya dengan bunyi "tepuk".

"Tunggu dulu! Bagaimanapun caranya, tolonglah!"

...Maksudku, meski ia menyembahku begini.

"Begini, lho... ini beda kasusnya dengan panitia festival budaya tahun lalu, lho? Mengajari gyaru belajar? Ini drama remaja yang mana, sih..."

"Bukankah hasil ujian percobaan kali ini Himejima-kun juga bagus? Tolong pinjamkan aku kekuatanmu yang peringkat atas di angkatan ini!"

"Itu, tapi—"

—Hampir saja kukatakan "penelantaran pendidikan", namun aku menggeleng.

"Mengajari murid belajar itu tugas guru, kan."

"Itu sih, benar, ya~..."

Bu Mikami tertawa getir, lalu matanya sedikit menerawang seperti sedang berpikir.

"Untuk anak-anak itu pun, kami sudah memberikan bimbingan individu, menambah jam pelajaran tambahan, dan melakukan segala yang kami bisa sejak mereka kelas satu. Tapi, begitu pelajaran dimulai, mereka sulit sekali mempertahankan konsentrasi..."

"Bukankah itu masalah motivasi mereka sendiri?"

"Tidak, anak-anak itu juga punya motivasi!"

Mendengar itu, aku mencoba membayangkan realita kehidupan para gyaru itu.

Untuk saat ini, mereka memang tidak merepotkan siapa pun, tapi tetap saja, pernyataan "punya motivasi" itu sulit dipercaya.

"Tentu saja kami, para guru, juga akan berusaha semaksimal mungkin..."

Setelah menghela napas panjang, Bu Mikami memaksakan senyum dan melanjutkan.

"Tapi, kupikir, anak-anak itu akan lebih mendengar kalau teman sebaya yang bisa bicara dari sudut pandang yang sama."

"Haah," jawabku ambigu, untuk sementara.

"Aku ini laki-laki, apa tidak masalah? Atau lebih tepatnya, kenapa harus aku?"

"Kalau kumintakan pada anak perempuan, sepertinya mereka malah akan ikut jadi gyaru..."

...Ah, itu mungkin sekali terjadi.

Aku hanya bisa membayangkan masa depan di mana anak perempuan yang sampai kemarin masih rajin, tiba-tiba jadi gyaru dengan seruan, "Gila, sih~!"

"Untuk itu, Himejima-kun itu pintar, di atasnya lagi, karakternya tidak mudah terbawa arus. Ujian tengah semester juga sudah dekat, satu minggu saja. Bisakah kalian berempat melakukan kelompok belajar?"

"Ah, tidak... masalahnya—"

—Terlalu banyak sampai aku kehilangan kata-kata. Aku meletakkan tangan di dahi, memikirkan cara untuk menolak.

"...Apa itu yang mereka sendiri inginkan?"

"Belum, aku belum bicara pada mereka."

"Hanya karena teman sekelas, bukan berarti kami punya hubungan. Kalau aku yang mengajar, bukankah mereka justru tidak suka?"

"Untuk hal itu, tidak masalah."

"? Kenapa Ibu bisa tahu?"

"Karena mereka bertiga itu, anak-anak yang sangat baik!"

Ia membusungkan dadanya dengan bangga... Begitu rupanya. Sama sekali bukan dasar yang jelas. Benar-benar berani mengatakannya.

"Dan juga, ada hal baik untuk Himejima-kun!"

"...Hal baik?"

"Kamu bisa dapat tiga orang teman!"

"Sungguh, itu mah namanya ikut campur, Bu..."

Kataku dengan perasaan lelah, tapi tiba-tiba Bu Mikami menatapku dengan wajah serius.

"Bukan cuma belajar. Anak-anak itu, sebenarnya sulit mengandalkan orang lain... mereka tidak bisa mengeluh, dan juga sering bertindak nekat. Tapi, kupikir, kalau Himejima-kun, kamu pasti bisa mendengarkan mereka."

"Kenapa Ibu bisa yakin begitu?"

"Karena Himejima-kun, mirip dengan anak-anak itu, kurasa?"

Untuk sesaat, kata-kataku tercekat.

...Aku mirip dengan Onozaka dan yang lain? Bagian mananya? Tidak, pikirkan saja, jelas berbeda.

"Maaf, tapi aku—"

Aku membuka mulut untuk menolak, namun pada saat itu—

"Permisi~. Bu Mikami~, Ibu ada~?"

Sebuah suara yang sangat ceria dan terdengar familier bergema di ruang guru, membuatku sangat goyah.

Dan benar saja, dari celah pintu masuk, tiga kepala dengan warna rambut pirang, perak, dan hitam, menyembul keluar.

"Onozaka-san, Uki-san, Nanjo-san! Sini, sini~!"

Begitu Bu Mikami melambaikan tangan sambil tersenyum, Onozaka langsung bertanya dengan riang, "Dipanggil, nih, kenapa~?"

Firasat buruk sudah tidak bisa dihindari lagi—tidak, ini artinya aku benar-benar sudah dipermainkan oleh Bu Mikami.

"Apa, nih? Eh, lagi konsultasi?"

Onozaka dan yang lain mendekat tanpa rasa sungkan, lalu menatap wajahku dengan penuh rasa ingin tahu.

Padahal aku bermaksud mengakhiri pembicaraan dan kabur, tapi kini di belakangku sudah terbentuk dinding tiga orang gyaru.

"Begini, kan ujian tengah semester sudah dekat? Pelajaran tambahan seperti biasa juga salah satu cara, sih—"

Bu Mikami melirik sekilas ke arahku, lalu menampilkan senyuman penuh.

"Karena ada kesempatan, bagaimana kalau minta tolong sedikit pada Himejima-kun? Sekarang ini, kami sedang membicarakan hal itu."

...Dan, aku harusnya sudah langsung menolak.

Jangan lanjutkan ini seolah-olah aku sudah setuju.



Kutatap Bu Mikami dengan pandangan tajam. Ia menjulurkan lidahnya sedikit, "Tehe~," sambil mengangkat bahu. ...Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada "tehe-pero" dari guru di ujung usia dua puluhan, ya.

"Eh, Himejima-kun itu pinter?"

Onozaka berkata dengan mata membulat, sementara Nanjo, yang masih melipat tangannya, mendengus "Hmph."

"Aku pernah dengar rumor, tahun lalu dia peringkat atas di angkatan."

Serta merta, Onozaka dan Uki bereaksi berlebihan, "Serius!?"

"Nggak, nggak, nggak begitu, kok..."

Aku buru-buru melambaikan tangan, tapi Onozaka malah tertawa.

"Bilang gitu, padahal aslinya jenius banget, kan!?"

Seraya meletakkan kedua tangannya di pundakku.

Harusnya aku tidak akan goyah hanya dengan itu, tapi karena jaraknya yang lebih dekat dari yang kuduga, bahuku refleks tersentak. Terlalu dekat. Aroma manis yang sejak tadi sudah samar-samar tercium, kini semakin pekat.

Sewaktu aku membeku, Uki melihat ke arah Nanjo.

"Kalau aku sih setuju, tapi Mizuki gimana?"

"...Yah, aku sih, nggak masalah. Nggak ada alasan buat nolak."

Onozaka yang masih menaruh tangannya di pundakku juga berkata dengan ceria, "Aku juga setuju~!"

"Ya udah, kalau gitu, urusan beres!"

Satu kata dari Uki, dan semuanya sepakat—tidak, mereka memutuskan sesuka hati.

"Ta, tapi, aku—"

"""Tolong bantuannya, ya!"""

Mata yang penuh harap, tekanan khas gyaru, dan "tehe-pero" dari guru di ujung dua puluhan.

Tentu saja aku masih bisa menolak, tapi—sedikit sekali, aku merasa terganggu dengan ucapan Bu Mikami.

...Aku, mirip dengan para gyaru ini, ya.

Begitu kulihat Bu Mikami, ia menyatukan ujung jarinya dan tersenyum seolah berkata, "Tolong, ya."

Dalam keraguan, aku menjawab, "Ya."

—Dan pada saat ini, aku masih belum tahu.

Kalau urusan kelompok belajar dengan suasana ringan seperti ini, akan membuat keseharianku yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa riuh.

 

* * *

 

Sepulang sekolah keesokan harinya.

Aku dan tiga gyaru yang tersisa di kelas, mencoba memulai kelompok belajar dengan menggabungkan meja-meja.

Materi ajar berupa beberapa lembar print bahasa Inggris dan matematika yang sudah kuterima sebelumnya dari Bu Mikami.

Karena sudah menerima, aku berniat menjalankan tugasku dengan benar.

Namun—.

Begitu berada di antara mereka bertiga yang penampilan dan suasananya serba gemerlap ini, bagaimanapun, hanya kesan "culun"-ku yang menonjol.

Apalagi, Onozaka Risa itu seorang gyaru yang bahkan dikagumi oleh cewek-cewek di sekitarnya. Aku ingat pernah mendengar di suatu tempat, dengan penampilannya yang menawan itu, baru-baru ini ia dimuat di sebuah majalah.

Uki Madoka, konon katanya, punya bentuk tubuh seperti gravure idol sampai cowok-cowok bergosip, "Erotis banget, ya~" saat pelajaran olahraga. Kenyataannya, kalau dekat-dekat begini, aku bingung harus menaruh pandangan ke mana.

Untuk Nanjo Mizuki, ia seperti model yang tegas. Bahkan wajah sampingnya yang sedang menopang pipi sambil memainkan ponsel pun terlihat bagai lukisan. Meski agak susah diajak bicara, yang pasti ia cantik.

...Yah, cuma satu minggu. Bu Mikami juga sudah bersikeras bilang kalau mereka punya motivasi...

Kukatakan itu pada diriku sendiri, dan memutuskan untuk fokus pada apa yang ada di hadapanku.

"Kalau gitu, mulai hari ini, mohon bantuannya, ya~"

Onozaka berkata sambil tersenyum. Di sebelahnya, Uki mencondongkan tubuhnya.

"Himejima, nama depannya... Ryuusei, ya?"

"...Memangnya kenapa?"

"Namanya keren~! Kayaknya, tipe nama yang biasanya dipakai artis, ya?"

Uki berkata dengan berlebihan.

"Fetis nama, ya."

Sahut Nanjo tanpa ketertarikan, masih memainkan ponselnya.

"Eh~? Eh, Mizuki, kamu nggak merasa begitu?"

"Ngomong-ngomong, memang ada artis dengan nama itu."

"Eh? Siapa? Idola?"

Begitu Uki bertanya, Nanjo mengembuskan napas kecil.

"Idola, penyanyi, artis, banyak. Ngomong-ngomong, itu biasa aja."

...Hei, hei, hanya dengan nama, sampai sejauh mana kalian akan memperpanjang topik ini?

Aku merasa lelah, tapi di saat yang sama, aku merasakan semacam perbedaan suhu di antara mereka bertiga.

Sejauh mana Onozaka dan Uki bersemangat, hanya Nanjo yang sedikit menjaga jarak dan melihat dengan tenang. Antara Onozaka dan Uki pun, ada sedikit perbedaan suhu semangat, dan gerakan Uki lebih mencolok.

Aku tidak bisa menemukan perumpamaan yang bagus—tapi seperti band.

Onozaka itu gitar, Uki itu drum, Nanjo itu bass.

Arah suaranya masing-masing berbeda, tapi anehnya bisa menyatu—kesannya begitu.

...Kalau beneran bikin band gyaru, kayaknya bakal pas banget.

Sambil memikirkan hal yang tidak penting itu, aku segera mencoba memulai belajar.

Akan tetapi, mereka tak kunjung beranjak dari topik tentang nama itu. Onozaka dan yang lain mencari nama "Ryuusei" lewat ponsel, lalu semakin bersemangat.

Di saat itulah Onozaka berkata dengan cerah, "Ah, kalau gitu!"

"Kami panggil Ryuusei, jadi kamu juga panggil kami dengan nama depan, ya? Aku, Risa!"

"Madoka, ya~"

"...Mizuki."

...Dengan alur begini, sepertinya mustahil untuk menolak.

Saling panggil dengan nama depan, adalah budaya yang tidak ada hubungannya denganku. Tapi, di dalam atmosfer seperti ini, hanya aku sendiri yang menjaga jarak rasanya malah aneh dan memalukan.

"...Baiklah, Risa-san."

"Ri-sa!"

"...Oke. Risa, ayo kita segera mulai?"

Kataku seraya menyerahkan lembaran print, tapi Risa tertawa geli, "Eh~".

"Karena lagi begini, kenalan lebih lanjut dulu, yuk?"

"...Hah?"

"Soalnya~, cuma belajar doang itu hambar banget, kan? Ceritain tentang Ryuusei, dong!"

Kata Risa, lalu tersenyum lebar.

"Pertama-tama, kita ngobrol yang kayak perkenalan diri gitu, ya! Hobi, makanan favorit, atau apa, gitu~"

Madoka setuju dengan ceria, "Boleh, tuh♪".

"Kalau gitu, mulai dari aku~! Aku tuh, suka tata rias rambut, kuku, atau yang gituan. Makanan favorit, semua yang manis-manis! Terutama yang cokelat, suka banget♪"

Begitu Madoka selesai bicara, entah kenapa Mizuki mengerutkan wajahnya.

"Nggak bosen apa, makan manis-manis?"

"Sama sekali nggak. Eh, ngomong-ngomong, Mizuki jarang makan manisan, ya~?"

"Aku nggak mau bilang, 'Berat badanku naik lagi', kayak Madoka."

"Hei, jangan sebut-sebut itu, ya~!"

Madoka dan Risa kompak tertawa terbahak-bahak, tapi Mizuki menatap ponselnya tanpa ekspresi.

—Aku ini, tidak suka dengan suasana beginian. Sama sekali tidak bisa mengikuti.

Lalu, Madoka menaruh siku di atas meja, dan dengan bangga memamerkan dadanya pada Mizuki.

"Dibilang gemuk, ini sih, cuma payudaranya yang tumbuh~♪ Waktu kuukur beberapa waktu lalu, ternyata ukurannya G!"

"...Nggak juga, kan, besar itu berarti bagus."

Mizuki berkata sambil mengernyitkan alis. Madoka menjawab dengan wajah penuh percaya diri, "Masa, sih?".

"Ngomong-ngomong, kamu itu, minder ya karena punyamu kecil?"

"Nggak kecil, tahu!"

Tepat saat Mizuki berkata dengan kesal, meja berguncang "Gatak".

Perkelahian akan pecah—kukira begitu, ternyata Mizuki melipat tangannya dan "Hmph", memalingkan muka dari Madoka.

...Ini percakapan sehari-hari? Topiknya sudah ngelantur jauh dari perkenalan diri, di atas itu lagi, membicarakan ukuran dada di depanku yang cowok. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa mengikuti.

Lalu, Risa berkata sambil mengangkat tangan, "Kalau gitu, giliran aku!".

"Aku suka dance, karaoke, atau yang gituan! Makanan favorit, ayam-ayaman, kali, ya~? Karaage, atau paket makan siang ayam nanban di kantin, aku suka, lho~"

Begitu selesai, "Selanjutnya, Mizuki!" ia langsung mengoper tongkat estafet dengan mudah.

Mizuki mengembuskan napas ringan, lalu sambil menurunkan pandangannya ke ponsel, berkata dengan datar.

"...Musik, secara umum. Aku cukup sering dengerin musik. Terus, podcast, atau ASMR, juga. Makanan favorit, yang pedas-pedas."

Makanan favoritnya di luar dugaan, tapi memang benar, citranya selalu terlihat seperti sedang mendengarkan musik. Headphone yang melingkar di lehernya pasti untuk itu.

Setelah perkenalan para gyaru selesai satu putaran, Risa menoleh ke arahku.

"Kalau gitu, sekarang giliran Ryuusei!"

Aku menghela napas kecil.

"...Hobi ataupun makanan favorit, nggak ada yang spesial."

Begitu kukatakan, serta merta Risa memasang wajah curiga.

"Hah? Serius?"

"Serius. —Kalau begitu, ayo segera kita mulai."

Aku menenangkan diri, lalu membagikan lembaran print pada mereka bertiga.

—Suhuku jelas berbeda dengan mereka.

Risa dan yang lainnya memang berbeda hobi dan karakter, tapi mereka sudah punya hubungan yang terbentuk.

Benar saja, aku memang tidak cocok dengan gyaru. Atau, bukan hanya gyaru, mungkin aku memang tidak mampu membangun hubungan dengan orang lain secara umum. Ini, mungkin, hanya masalah pribadiku.

Meski begitu—.

Bagaimanapun bentuknya, karena aku sudah terlanjur mengajari ketiga gyaru ini belajar, hanya hal itu yang ingin kulakukan dengan benar. Dengan pikiran itu, aku menggenggam ulang pensil mekanikku, tapi—.

 

* * *

 

Tidak ada pertanyaan khusus dari mereka bertiga. Sekilas, kelompok belajar ini terlihat berjalan lancar.

Akan tetapi, setelah tiga puluh menit berlalu sejak mulai mengerjakan soal, tiba-tiba Risa meletakkan penanya.

"Hm~, udah agak capek, nih~"

...Cepat sekali konsentrasinya habis.

"Eh, ngomong-ngomong, Ryuusei, di antara kami, siapa yang paling tipe kamu?"

"...Hah?"

Tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh melayang. Wajahku langsung mengernyit seketika.

"Aku mau denger, tuh~!"

Madoka ikut nimbrung dengan penuh semangat.

"Aku sih, pede, lho~♪"

"Keluar, deh, kepercayaan diri tanpa dasar..."

Mizuki bergumam pelan dengan ekspresi lelah.

"Eh~? Kalau gitu Mizuki gimana? Merasa dirimu sendiri?"

"Nggak. Sama sekali nggak tertarik."

"""Nggak, nggak, tertarik, dong!"""

Risa dan Madoka kompak melontarkan tsukkomi dan tertawa.

...Jadi, apa, sih, suasana beginian?

Dengan wajah mengernyit, aku membuka mulut dengan tenang.

"Udah mau istirahat? Atau, hari ini mau selesai aja?"

"Istirahat, istirahat."

Begitu Risa menjawab enteng, kulihat lembar printnya, aku jadi sangat lelah. Baru tiga soal yang ia kerjakan.

...Motivasi, apa ada?

Kalau tidak mengerti, bilang saja. Tanpa melakukan itu, tiba-tiba minta istirahat—.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi kutahan dalam-dalam di tenggorokan.

Tapi, Risa itu menepuk pundakku pelan sambil tertawa.

"Eh, gimana, nih? Jujur aja~"

Madoka pun mengikuti suasana itu, "Ya! Ya!" mengangkat tangannya.

"Bu Guru, ada pertanyaan~! Siapa yang paling tipe kamu~?"

"Madoka, bodoh amat."

Bahkan Mizuki ikut tertawa, dan aku akhirnya menaruh tangan di dahi, menunduk.

Suara tawa para gyaru itu terus bertumpuk. Seperti suara tawa itu jatuh menimpa lembaran print di hadapanku. Dalam sekejap, telinga bagian dalamku terasa sakit, dan suara melengking tinggi mulai berdenging di kepalaku.

Melihat wajahku yang cemberut begitu, Risa berkata dengan nada ringan.

"Ryuusei, mukanya serem~... Cuma bercanda, jangan marah-marah gitu~"

"...Nggak, aku nggak marah."

"Bohong! Kerutan di dahimu aja kelihatan!"

Risa menatapku dengan senyuman polos, tapi entah kenapa, itu semakin membuat dadaku terasa kasar.

—Sudah, hentikan! Kalian pikir ini untuk siapa!

...Bukan. Itu bukan kata-kata yang hendak kuucapkan.

Di dalam telingaku, suara yang berbeda bergema. Suara bentakan yang dalam, serampangan, dan mengganggu telinga.

—Lakukan sampai bisa! Berapa kali harus kukatakan! Jangan membuatku malu!

Begitu kata-kata itu bergema di dalam telingaku, perutku terasa dingin.

Kepalaku jadi kosong, ritme napasku kacau. ...Ah, sudah tidak bisa.

"...Maaf, aku sebentar—"

Aku menutup mulut, dan buru-buru berdiri dari tempat duduk.

"Eh? Ryuusei, kenapa? Hei, nggak apa-apa!? Muka, pucat banget...!"

Suara Risa mengikutiku, tapi aku tidak bisa menoleh. Udara di koridor terasa sangat dingin. Suara langkah kaki bergema di kejauhan.

Kudorong pintu toilet pria, lalu masuk ke bilik.

Begitu menggenggam pinggiran kloset, aku tidak bisa menahan sesuatu yang sudah naik.

"Ugh... glek...! Uu...—"

Tenggorokanku terasa terbakar oleh apa yang keluar.

...Sial! Kenapa, masih juga...

Suara di dalam telingaku itu, masih belum hilang—.

 

* * *

 

Setelah kelompok belajar berakhir, kami berempat berjalan menuju stasiun.

Jalanan di sore hari ramai oleh murid-murid yang pulang dari kegiatan klub. Tapi, di antara kami ada keheningan yang aneh. Suasana seperti sebelumnya tidak ada lagi di sini. Risa, Madoka, semuanya berjalan dengan canggung. Mizuki pun diam.

Aku juga, tidak tahu harus bicara apa. Aku merasa, kalau mengeluarkan sepatah kata pun, suasana akan jadi lebih buruk.

"...Maaf, Ryuusei."

Membuka keheningan, Risa membuka mulut.

"Kamu lagi nggak enak badan? Entah kenapa, kami, mungkin kelewat ribut..."

Nada suaranya sudah tidak seringan sebelumnya.

Madoka pun berkata sambil menunduk.

"Kami bercanda kelewatan... maaf, ya?"

Aku mengembuskan napas pelan.

"Bukan, kondisi tubuhku jadi buruk bukan karena kalian. Soal bercanda tadi pun—"

Nggak apa-apa—hampir saja kukatakan itu, tapi kutelan kembali kata-kataku. Menyelesaikannya dengan "nggak apa-apa", mungkin salah. Mungkin tidak baik untuk siapa pun.

Aku menghentikan langkah, lalu melihat mereka bertiga.

"Aku, tetap saja... kurasa, nggak cocok... mengajari orang lain seperti ini."

Mereka bertiga mengangkat wajah bersamaan.

"Bukan masalah nggak cocok suasananya, atau suhu semangatnya yang berbeda. Waktu yang kalian pikir menyenangkan, dan waktu yang ingin kuhabiskan, kurasa, itu dua hal yang berbeda. Meski kita belajar bersama, salah satu hanya akan bertahan. Itu, mungkin bukan hal yang baik."

Angin bertiup.

Setelah sedikit keheningan, Risa berkata kecil, "Iya, ya."

"Kami, kan, bodoh..."

Seperti setuju, Madoka dan Mizuki juga mengangguk pelan.

"Iya, iya. Di suatu sisi, kami pikir, percuma juga..."

"Pada dasarnya, kami mendahulukan hal yang lebih menyenangkan daripada belajar..."

Bodoh, karena percuma, mendahulukan hal menyenangkan—melihat mereka merendahkan diri sendiri sambil berkata begitu, entah kenapa, justru aku yang jadi merasa sakit.

"...Kalau begitu, jangan menyerah pada diri sendiri."

Mulut mana yang bilang begitu—sambil berpikir begitu di dalam kepala, kata-kataku tidak berhenti.

"Bahkan jika orang sekitar menganggap kalian bodoh, menganggap diri sendiri bodoh itu berbeda..."

Madoka bergumam kecil, "Iya, ya."

Risa masih diam. Mizuki, begitu tatapannya bertemu denganku, langsung menurunkan pandangannya.

Cahaya jingga memanjangkan bayangan di deretan pertokoan. Empat bayangan kami yang harusnya sejajar, masing-masing menghadap ke arah dan bentuk yang berbeda. Terlihat sangat compang-camping.

"...Maaf, lupakan yang barusan."

Merasa canggung, aku pun berpamitan, "Kalau begitu, sampai jumpa."

 

* * *

 

Rumah yang kutinggali adalah salah satu unit di apartemen. Sejak masuk SMA, aku tinggal terpisah dari keluarga.

Di ujung lorong, ada ruang keluarga yang terlalu luas. Agar bisa pindah kapan saja, hanya perabotan seminimal mungkin yang kuletakkan. Mungkin karena itu, hampir tidak ada kesan "hidup" di sini.

Kulepas jaket seragam, lalu kulempar ke sandaran sofa.

Ruangan ini, terasa terlalu sunyi dari biasanya. Tanpa sadar, kuambil remote TV.

Kebetulan, berita sore sedang ditayangkan, tapi—

'Gubernur Makimura, mengenai sistem dana tunjangan untuk keluarga orang tua tunggal, apakah Anda berpikiran untuk memperluasnya secara bertahap ke seluruh rumah tangga tanpa anak?'

'Ya. Pertama-tama, sambil memprioritaskan bentuk bantuan yang pasti sampai ke keluarga yang membutuhkan, berdasarkan hasil dan suara dari mereka, saya pikir untuk mengembalikannya ke lebih banyak orang. Saya sendiri juga berada di posisi sebagai orang tua, jadi saya memahami beratnya realita yang mengelilingi keluarga—'

Klik—kumatikan TV. Saat kuletakkan remot di meja, tanganku gemetar.

Aku tidak ingin melihatnya. Wajah pria itu, suaranya yang tenang, senyumannya yang penuh percaya diri.

Rasa mual kembali muncul. Aku menutup mulut.

—Memalukan.

Hanya beberapa detik, hanya karena wajah dan suara pria itu mengalir di TV, sudah jadi begini.

Aku tenggelam di sofa, mengembuskan napas. "Gubernur yang hebat" di dalam TV, dan "ayah"-ku di dalam diriku, mungkin seumur hidup tidak akan pernah tumpang tindih sebagai orang yang sama.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...