Gyarusa no Katei Kyoshi ni Natta Volume 1 - Prolog: Teman Pertama adalah Tiga Gyaru

     




Diterjemahkan Oleh: SEV

Sepulang sekolah, aku diseret tiga orang gyaru ke bagian penjualan pakaian renang.

"Hei, hei, gimana kalau yang ini? Lucu, nggak?"

Risa mengacungkan bikini biru sambil tersenyum, tapi Madoka mengerutkan alisnya.

"Hm~... agak polos, ya? Kalau ke laut sih, yang lebih ramai gitu lebih asyik, kan♪"

Mizuki melirik bikini yang tergantung di gantungan itu, lalu berkomentar dari samping.

"Justru yang simpel begitu lebih cocok."

Satu menentang, satu mendukung—kurasa aku sudah bisa menebak perkembangan selanjutnya.

Dan, seperti dugaanku, tatapan Risa kini tertuju padaku. Maka, sebelum ia sempat bicara, lebih dulu kusambar.

"Jangan tanya padaku."

"Eh~? Kenapa~?"

"Kenapa? Memangnya kenapa aku harus memilihkan baju renang buat Risa—"

"Ini, punyanya Ryuusei, lho."

...Di luar dugaan. Tidak kusangka, ternyata dia yang memilihkan bikini yang pas buatku.

"Nggak, itu jelas-jelas nggak mungkin, kan..."

"Kenapa~?"

"Kalian berniat memakaikanku ini lalu menyuruhku jalan-jalan di pantai? Nanti bekas terbakar mataharinya gimana?"

Aku mencoba membayangkan sesi ganti baju olahraga pertama setelah liburan musim panas nanti.

Kalau sampai di pundak atau dadaku ada bagian yang sama sekali tidak terbakar dan jelas-jelas membentuk bekas bikini—kelihatan sangat tidak natural—orang lain bakal mikir apa, ya? Luka di punggung itu aibnya samurai, bekas bikini pada cowok juga sama memalukannya. Membayangkannya saja sudah bikin muak.

"Kalau Ryuusei nggak mau, aku coba pakai deh~"

"...Dari awal memang itu punyamu, kan?"

Melihatku yang cuma terbengong, Risa tersenyum jail.

"Kalau gitu, kasih tahu aku cocok apa nggak, ya?"

Katakan itu, ia menempelkan bikini dari gantungan itu ke dadanya.

—Onozaka Risa.

Seorang shiro-gyaru berambut pirang. Kalau ia tersenyum, suasana jadi terasa satu tingkat lebih cerah.

Ceria dan modis. Tipe yang kalau jalan di kota bakal bikin orang menoleh dan bergumam, "Cantik."

Tapi, yang paling membuatku tertarik pada Risa adalah matanya.

Tatapan yang seolah melihat ke sekeliling, tapi kadang seperti melihat ke kejauhan. Mata yang seolah berkata, kalau sampai aku mengalihkan pandangan darinya, aku bisa melukainya. Mata licik itulah yang kini menantikan kata-kataku, tanpa berkedip—.

"...Kurasa bakal cocok."

Begitu aku berkata begitu, mata Risa langsung menyipit lembut. Penuh ketulusan, tampak senang—tidak, senyuman itu benar-benar curang. Aku selalu berpikir begitu.

"Makasih! Kalau gitu, aku coba sebentar, ya~!"

Risa pun berangkat ke tempat pas bersama Mizuki.

Aku mengembuskan napas panjang. Untuk mengalihkan suara debaran jantungku yang mendadak kencang—.

—Aku, Himejima Ryuusei, sampai kelas dua SMA ini selalu hidup jauh dari keberadaan gyaru.

Tidak masuk ke dalam lingkaran pertemanan, di hari libur cuma baca buku atau nonton video di rumah. Aku pikir gyaru itu penghuni dunia yang berbeda.

Meski begitu, sejak Mei tahun ini—setelah tiba-tiba dimintai tolong menjadi semacam tutor les—sebelum sadar, berkeseharian dengan tiga orang gyaru sekelasku sudah jadi keseharianku.

Sekarang sedang pertengahan Juli. Sebentar lagi libur musim panas.

Sebelum itu, dengan semangat ringan "Ayo ke laut~!", para gyaru ini jadi bersemangat. Dengan dorongan hati saat itu juga, jadilah kami datang ke mal seperti ini untuk memilih baju renang bersama 'Gyaru Circle'.

Gyaru Circle. Artinya, lingkaran para gyaru. Harusnya bukan tempatku.

Tapi, entah kenapa, aku yang bukan gyaru juga dihitung sebagai anggota.

Iya.

Karena ini penting, jadi kukatakan sekali lagi—aku, bukanlah seorang gyaru.

"Ngomong-ngomong, kenapa mukamu merah gitu, sih~?"

Diserang pertanyaan Madoka, aku yang tadinya menatap papan bertuliskan "Pakaian Wanita" ini, mau tak mau menghela napas tipis, menyadari kenyataan kalau aku dikepung baju renang dari segala arah.

"Begini, ya... seorang cowok datang ke tempat beginian itu, nguras energi banget, tahu. Padahal aku sudah bilang mau nunggu di kafe..."

"Ya, kita-kita perlu sudut pandang cowok, dong♪"

"Begitu, ya?"

Kutatap dia dengan tatapan kesal, Madoka cuma menjawab, "Memang," seraya menyibak rambut peraknya.

"Kalau sesama cewek itu, kan, cenderung milihnya cuma dari 'lucu' atau 'instagramable', tapi cowok itu, biasanya ngasih tahu penampilannya beneran keliatan gimana, kan? Nah itu yang penting."

"...Begitu, ya."

Jadi pelajaran, atau malah enggak, ya. Tapi, aku tidak bisa menepis perasaan, bukannya ini tetap saja tidak harus aku.

"Yah, Ryuusei juga bisa bebas milihin baju renang yang pengen kami pakai. Jadi, ini semacam tunjangan jabatan gitu, kan♪"

"Nggak butuh tunjangan macam itu..."

Kujawab dengan perasaan lelah, Madoka cuma bisa tertawa riang "Ahahaha".

—Uki Madoka.

Kulitnya yang kecokelatan kontras dengan rambut peraknya, tipikal kuro-gyaru klasik.

Yang paling mencolok di antara ketiga gyaru ini, dan bentuk tubuhnya seperti gravure idol.

Kelihatannya santai dan lembut, tapi kadang tiba-tiba menyerang inti permasalahan, atau sengaja membuat celah untuk mengguncang lawan bicara. Entah bagaimana ia bisa melakukan teknik tingkat dewa semacam itu dengan natural—dia adalah gyaru di antara para gyaru.

"Yah, kalau cuma lihat baju renang aja kamu malu, mana bisa ke laut, kan? Ini juga bukan pakaian dalam."

"Yah... ya, sih."

Aku bingung, lalu menempelkan tangan di dahi.

"Baiklah, baiklah. Kalau begini, mau nggak mau, ya..."

Madoka mengangkat bahunya, lalu merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.

"Ayo, sini kupeluk~♪"

"...Kenapa? —Hei, ti...!"

Mengabaikan rasa penasaranku, Madoka memelukku dari depan.

Benda andalannya, G-cup, menempel lembut di dadaku. Empuk. Tapi, rasanya seperti didorong balik oleh kekuatan kenyal yang padat. Setiap kali seperti ini, aku selalu menahan napas.

"Anak baik, ya."

Sekalian, dia mengelus kepalaku. Rasanya seperti diperlakukan anak kecil, anehnya bikin gatal.

"Ayo, ayo~, tubuh wanita itu nggak menakutkan, lho~"

"Cara bicaramu vulgar banget..."

"Deg-degan, ya, dipeluk diriku?"

"Nggak, karena disuruh milih baju renang."

Begitu kujawab cepat, pelipis Madoka bergerak-gerak.

"Hah? Apa? Coba ulangi?"

"Jadi, karena milih baju renang. Aku ini sudah terlalu sering dipeluk, jadinya udah biasa."

"Hmm... begitu, ya~"

Madoka mengerutkan kening, tampak tidak senang—tapi, ia menempelkan telinganya tepat di dadaku.

"Bilang begitu, tapi jantungnya deg-degan kenceng banget, tuh!"

"...!?"

"Mukanya juga merah padam~!"

"Ini... mau bagaimana lagi!"

Madoka tertawa mengejek, "Lucu banget~!"

"Yah... tapi... itu... 'mau bagaimana lagi'-nya...—kali."

Aku tidak mendengar bagian tengahnya, jadi tanpa sadar aku bertanya balik, "Ha?"

"Bukan apa-apa. —Kalau gitu, aku lihat Risa yang lagi pas baju dulu, ya~♪"

Dengan langkah ringan, Madoka pergi.

Aku ditinggal sendirian, tepat di tengah-tengah bagian baju renang wanita. Tepat di saat yang bersamaan—

"Lagi ngapain?"

Seperti bergantian dengan Madoka, Mizuki kembali.

"Madoka kelihatan seneng banget, tuh?"

"...Nggak ada apa-apa."

"Oh, gitu. ...Ngomong-ngomong, cowok sendirian berdiri tegak di sini, benar-benar mencurigakan."

"Orang yang membawaku ke sini kok bilang gitu. —Tapi, Mizuki balik, aku benar-benar tertolong."

"Apa, sih? Jujur amat, jadi geli..."

Meski berkata begitu, tangan Mizuki meraih beberapa baju renang di dekatnya, lalu menariknya tanpa suara.

Wajahnya sedikit cemberut, tapi telinganya sedikit memerah.

—Nanjo Mizuki.

Seorang gyaru keren dengan rambut hitam panjang.

Tidak semencolok Madoka dan Risa, tapi di lehernya selalu melingkar headphone kesayangannya.

Ekspresi tanpa perasaan, atau cemberut ringan adalah setelan dasarnya. Sejujurnya, sulit menangkap apa yang sedang ia pikirkan.

Tapi, belakangan ini, kalau dipuji telinganya memerah, dan pura-pura marah tapi buru-buru mengalihkan pandangan. Kecanggungannya jelas terlihat, malah jadi gampang dimengerti—.

"...Jadi, ada apa dengan Madoka?"

"Yah... habis dipeluk."

Begitu aku menjawab, serta merta kening Mizuki berkerut dalam, lalu ia melipat tangannya erat.

"Dia itu, benar-benar... gampang banget ngelakuin hal kaya gitu, ya?"

"Yah, dia sendiri pernah bilang, 'nggak sama semua orang', sih."

Sewaktu aku berusaha membela Madoka, ia langsung menatapku dengan tatapan tajam.

"Hee... jadi, kamu spesial, gitu?"

"Ha?"

"Yang barusan itu... bukan apa-apa, jadi."

Suaranya melemah, tapi tangan Mizuki masih memutar-mutar label barang yang ia pegang.

"...Marah?"

"Nggak. Aku nggak peduli..."

Mizuki memalingkan muka. Lebih terlihat ngambek daripada marah.

—Yah, begitulah.

Mereka ini tidak bisa disamaratakan hanya dengan label "gyaru". Ada suhu masing-masing yang berbeda.

Risa cerah bagai matahari, Madoka bebas bagai angin, dan Mizuki, kadang, seperti permukaan air tenang yang bergejolak di kedalaman. Wajah saat tertawa, keheningan waktu gelisah, semuanya berbeda.

Meski begitu, kalau lagi bersama, harmoni itu tercapai.

Kurasa, masing-masing dari kami perlahan-lahan menutupi bagian diri kami yang hilang—.

"Oy~, Mizuki, Ryuusei~"

Tiba-tiba, suara Madoka melayang.

"Risa udah selesai ganti, suruh ke sini, katanya~"

 

* * *

 

"Ta-da~!"

Begitu membuka tirai, Risa melompat keluar dengan senyuman menyilaukan.

Bikini biru, rambut pirang diikat tinggi dengan scrunchie membentuk ponytail. Pose sengaja bergaya gravure itu, pastinya cuma bercandaan jail untukku.

"Gimana, gimana? Dari sudut pandang cowok?"

Risa berputar satu kali. Rambut pirangnya bergoyang lembut, pinggang ramping dan kulit sehatnya terekspos.

"...Nggak, yah. Bisa dibilang bagus, sih..."

Aku tak bisa melihat langsung. Bukan cuma penampilan baju renangnya, tapi postur tubuhnya terlalu bagus.

"Eh~? Komentar yang aneh, deh~ ...Bilang aja yang jelas, dong~?"

"Yah, aku pikir cocok..."

"Makasih! Kalau gitu, pas pergi ke laut nanti, kita pakai yang ini, ya~"

Madoka tersenyum, "Yah, Risa banget, sih," dan Mizuki pelan berkata, "Bagus."

Lalu Risa, sambil menatap wajahku, tertawa jahil, "Nishishi."

"Ngomong-ngomong, Ryuusei~ ...dari tadi merah aja, kenapa?"

"Justru, kalau ada cowok yang nggak merah lihat ini, bawa dia ke sini..."

Sewaktu aku tetap memalingkan muka, Madoka menyeringai.

"Telinganya aja merah padam, tuh! Wajah malumu lucu banget~♪"

"Hei... jangan peluk aku setiap saat, bisa nggak!"

Mizuki kembali melipat tangannya erat, mengalihkan pandangannya, tak senang.

"...Benar-benar, banyak yang bodoh."

 

* * *

 

Setelah membeli baju renang, kami berempat menuju stasiun. Dari sana naik kereta, sampai di apartemenku.

Mulai sekarang kami berempat akan belajar. Aku sih, menyediakan tempat seperti ini tidak masalah. Tidak masalah memang, tapi... aku mau bilang tidak masalah, sih...—

"Ya ampun~, padahal ujian akhir udah selesai, tapi belajar, kok rasanya realistis banget, ya~"

Risa berkata sambil tenggelam di sofa.

"Belajar itu biar bisa main, kan?"

Mizuki membalas dengan nada bosan, Risa tertawa getir, "Iya, sih~."

"Tapi, ya, kita yang tiap hari bilang 'belajar', lumayan parah, ya? Rajin banget!"

Madoka mengangguk, "Aku ngerti, tuh~," lalu menatapku.

"Kalau nggak ketemu Ryuusei, pasti kita nggak bakal jadi kaya gini. Makasih, ya~♪"

Risa juga tersenyum lebar, lalu berkata cerah.

"Iya, makasih banyak udah selalu ngajarin kita!"

Sedikit terlambat, Mizuki juga membuka mulut, tampak agak malu.

"...Makasih."

Tatapan mereka bertiga mengarah padaku serempak—tapi, pelipisku sudah berkedut-kedut sejak tadi.

Ada banyak hal yang ingin kukatakan... ah, sudah di batas maksimal.

"...Ucapan terima kasih itu, sampaikan saat kalian tidak sedang pakai baju renang di rumah orang."

"""Ha?"""

Ketiga gyaru itu melongo bersamaan.

"Jadi... kalian berniat belajar dengan pakaian renang?"

Risa, yang masih dalam balutan bikini biru yang baru dibelinya, tanpa rasa bersalah menjawab.

"Memangnya kenapa?"

Serta merta Madoka menyeringai.

"Ada masalah~?"

Madoka mengenakan baju renang model one-shoulder warna pink muda. Desainnya memang mencolok, tapi entah kenapa cocok dengan suasananya yang santai.

"Ngomong-ngomong, jangan lihat sini..."

Kata Mizuki malu-malu. Ia mengenakan bikini hitam. Ada aksen flare yang memberi kesan lembut, tapi garis tubuhnya terlihat jelas. ...Kalau malu, jangan pakai, dong.

Sesampainya di rumah, mereka langsung bilang, "Kami ganti baju dulu, ya~," maka kupinjami ruang ganti. Kuduga setelah berganti mereka akan keluar, ternyata begini jadinya.

Kubiarkan mereka sedikit berenang di imajinasi, tapi aku tidak bilang mereka boleh berenang di rumahku.

"Kenapa malah pakai baju renang? Kita ini mau mulai belajar, apa di dalam kepala kalian sudah suasana main di pantai?"

Begitu kuberi sarkasme, Risa tertawa jail.

"Kan baru beli, jadi sekalian latihan persiapan?"

"Latihan persiapan..."

"Lagian, mungkin begini lebih bisa konsentrasi, nggak? Ruangan ini panas, soalnya!"

Madoka menimpali, "Iya, iya," mengiyakan pendapat Risa, namun Mizuki memalingkan muka, mukanya merah padam.

...Kalau kalian berpakaian begini, aku yang nggak bisa konsentrasi.

Pertama-tama—kuraih remote AC yang ada di atas meja.

"Baiklah, kalau gitu, suhu maksimum, kekuatan angin kencang."

"""Setan!"""

"Terserah. Aku tidak akan semudah itu memanjakan kalian, paham?"

—Begitulah, hari ini pun kamarku riuh.

Tapi, anehnya aku tidak membenci suasana ini. ...Tidak, lebih tepatnya, aku harus bilang sudah terbiasa dengan tensi begini atau sudah menyerah, ya.

Hanya saja—.

Risa yang ceria, Madoka yang tensinya kelewat tinggi, Mizuki yang jutek tapi langsung ketahuan dari raut wajahnya. Aku tahu, mereka semua, dengan alasan masing-masing, berpikiran "ingin berusaha".

Di balik tawa mereka, sebenarnya setiap orang menyimpan sesuatu—.

Ngomong-ngomong, kenapa aku sampai mengajari ketiga gyaru ini dan menjadi anggota Gyaru Circle.

Itu terjadi dua bulan yang lalu, mundur ke bulan Mei, setelah liburan Golden Week berakhir—.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...