Otherworld Dating App - Chapter 6: Iris (2)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Apa yang barusan kudengar?

'Payudara...?'

Aku tidak bisa mempercayainya, tak peduli berapa kali aku memutarnya ulang di kepalaku, tapi aku jelas mendengarnya.

—Jika kau tidak keberatan... a-apa kau mau menyentuh payudaraku...?

Setiba-tiba ini? Tapi kenapa? Kenapa Iris, wanita yang kecantikannya bahkan tidak bisa ditandingi oleh selebritas terkenal mana pun, memberikan tawaran seperti itu padaku?

'Jangan-jangan aku dianggap tampan menurut standar elf?'

Itu cuma tebakan ngawur, tapi sama seperti wanita ras beast-kin yang lebih suka pria kekar dan kasar, mungkin saja aku memenuhi standar ketampanan elf tertentu.

Tentu saja, itu cuma tebakan. Lagipula, tak peduli seberapa berbedanya standar kecantikan antara manusia dan ras lain, aku tidak merasa punya fitur wajah yang menonjol.

'...Tinggiku?'

Aku memang tergolong tinggi. Terakhir kali cek, tinggiku hampir 190 cm. Dan Iris sendiri kelihatannya tingginya jauh di atas 170 cm. Tapi bahkan jika tinggi badan adalah alasan yang paling mungkin, itu tetap alasan yang cukup lemah untuk menawarkan payudaranya.

Apa aku pernah sebingung dan sekacau ini seumur hidupku? Rasanya tidak.

'...Kayaknya aku nggak bakal nemu jawaban walau dipikirin sampai botak.'

Aku memutuskan untuk berhenti menebak alasannya. Itu seperti berkutat dengan soal matematika yang tak tahu rumusnya—benar-benar buang waktu. Lagi pula, yang penting sekarang adalah bagaimana menjawabnya.

Bilang iya atau tidak, itulah pertanyaannya. Sudah jelas sih, jawabanku pasti iya. Pria mana di dunia ini yang bisa menolak tawaran dari wanita secantik dan sebahenol Iris? Kalau ada kesempatan, aku bisa meremasnya seharian.

Akan tetapi, satu hal membuatku khawatir: kemungkinan bahwa tawaran ini semacam ujian. Bagaimana kalau dia sedang mengujiku untuk melihat apakah aku benar-benar manusia yang aman dan tidak berbahaya? Bagaimana kalau saat aku menyeringai dan mengulurkan tangan, dia memaki aku bajingan tak tahu malu lalu mulai membombardirku dengan sihir?

Hanya memikirkannya saja sudah membuat punggungku merinding. Sayang sekali memang, dan aku benar-benar ingin menyentuhnya, tapi nyawaku lebih penting daripada sepasang payudara. Selama aku masih hidup, kesempatan lain pasti akan datang.

"...Maaf."

Aku mencubit paha bagian dalamku sekeras mungkin. Kalau tidak, rasanya aku tidak akan sanggup menolak.

"A-Apa maksudmu...?"

"Meski begitu, menyentuh payudara wanita yang baru saja kutemui itu agak..."

Saat melihat wajah Iris yang tampak seolah dunianya baru saja runtuh, hatiku sakit seakan aku baru saja melakukan kejahatan keji. Haruskah kutarik ucapanku sekarang? Tapi bagaimana kalau ekspresi itu juga cuma akting untuk ujian?

"Kau tidak mau menyentuh payudaraku...? Apa karena aku seorang elf?"

"B-Bukan, bukan begitu sama sekali!"

Aku panik. Banyak selebritas yang kariernya hancur gara-gara komentar rasis antarspesies, dan bahkan orang biasa pun harus berhati-hati dengan ucapan mereka. Bukannya aku suka ras lain, tapi ketidaksukaanku terbatas pada yang bentuknya non-humanoid. Kalau wanitanya cantik, aku tidak peduli dia punya tanduk atau lingkaran cahaya di kepalanya.

"Kalau begitu... kau mau menyentuhnya...?"

"Itu bukan..."

Sebuah pita Möbius terlintas di benakku. Kalau aku bilang tidak, dia pasti akan tanya lagi, 'Berarti kau mau menyentuhnya?' lagi. Terus aku harus bagaimana, sialan? Aku memegangi kepalaku yang berdenyut dan kembali berpikir.

'Apa aku tutup mata saja dan langsung gas?'

Pandanganku secara alami beralih ke dada Iris. Di sanalah mereka berada, bukti kasih sayang keibuan, tampak begitu masif dan lembut yang selama ini cuma kulihat di video atau gambar.

Kalau dia tanya apa aku mau menyentuhnya, aku bisa joget bahu saking senangnya sampai bahuku copot. Bikin gila rasanya melihat bagaimana benda itu bisa terlihat begitu erotis tanpa sedikit pun terekspos, dan aku mati penasaran seputih dan selembut apa di baliknya.

Awalnya, aku berusaha keras untuk tidak melihat dan bersikap acuh tak acuh, tapi tawaran tiba-tiba Iris sudah mendorongku sampai batasnya.

"Hyun-woo...?"

Saat aku tenggelam dalam pikiran, entah bagaimana Iris sudah berada jauh lebih dekat, dan aroma harum tercium darinya. Aroma seorang wanita, aroma yang membangkitkan nafsu yang menggila. Dan saat aku menatap Iris, dengan air mata seperti manik-manik menggenang di matanya, aku rasa aku bisa mendengar utas terakhir kewarasanku putus.

"...Aku mau menyentuhnya."

"Hah?"

Aku tidak pernah jadi orang yang sabar. Aku juga tidak punya banyak ketekunan. Pikiran rasional mengatakan tidak ada sepasang payudara yang sepadan dengan mempertaruhkan nyawa, tapi ironisnya, aku bisa dengan percaya diri bilang kalau hasrat seksualku tiada duanya.

"Aku sudah ingin menyentuhnya sejak pertama kita bertemu. Kau tidak akan menolak sekarang, kan?"

Aku mencengkeram pergelangan tangan Iris yang ramping dan putih, lalu mendesaknya. Sejak wanita ini—seorang femme fatale dalam arti sebenarnya yang cukup cantik untuk membuat seorang raja menjual negaranya—terus memaksakan dirinya pada cowok yang bahkan belum pernah pacaran dengan cewek cantik, akulah korbannya dan dialah pelakunya.

"Ah, i-itu... t-terlalu dekat..."

Iris tidak bisa menyembunyikan kebingungannya pada perubahan sikap Kang Hyun-woo yang tiba-tiba agresif. Takut ditinggal sendirian di sini lagi, dia melancarkan serangan yang tidak akan pernah berani dibayangkan oleh Iris yang biasanya. Tapi dihadapkan dengan respons tegas pria itu, dia tak bisa menahan rasa terintimidasi.

Selain tugas resmi, seumur hidupnya Iris belum pernah berbicara dengan lawan jenis, apalagi menyentuhnya.

Seperti manusia, elf menikah, membentuk keluarga, dan memiliki anak. Namun, sudah menjadi tradisi dan adat bagi keluarga kerajaan untuk tidak menikah. Takhta Peledeia aslinya adalah milik siapa pun yang ditunjuk oleh satu-satunya dewa, Pohon Dunia. Ini untuk menghilangkan potensi sumber konflik yang tidak perlu.

Beberapa orang mungkin menyebut pemikiran seperti itu menghujat, tapi ada sejarah mereka yang memberontak terhadap Pohon Dunia dan berusaha merebut takhta, jadi itu adalah pencegahan yang wajar. Titik kumpul terbaik untuk pemberontakan adalah garis keturunan kerajaan. Tokoh sentral pemberontakan kala itu adalah putra raja kedua, jadi setelah itu, pernikahan kerajaan praktis tidak ada lagi.

"T-Tolong pelan-pelan..."


Suasana berubah dalam sekejap. Tidak mampu menatap mata satu sama lain, Iris melirik ujung jari Kang Hyun-woo, sementara dia mencuri pandang ke dadanya. Hanya suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit sesekali terdengar. Tidak ada suara lain di antara mereka, bahkan napas mereka pun tidak. Saking gugupnya sampai lupa bernapas, pikiran mereka kacau balau, seperti pertunjukan kembang api 108 tembakan yang meledak sekaligus.

"...Permisi."

Aku tidak bisa menyangkal kalau aku bertindak gegabah, tapi karena tidak ada sihir yang melayang ke arahku, aku memutuskan untuk tidak mengkhawatirkannya. Bukan itu yang penting sekarang.

Setelah banyak keraguan dan kegugupan, aku dengan hati-hati mengulurkan tangan. Jaraknya begitu pendek, namun kenapa terasa begitu jauh? Jantungku berdegup kencang seolah akan meledak. Tidak seperti beberapa kali sebelumnya di mana tanganku hanya menyentuh udara sebelum jatuh, kali ini tidak jatuh.

Puk—

"Eek...?!"

Bersamaan dengan jeritan imut, kelembutan yang tak terlukiskan memenuhi telapak tanganku. Ini gila. Benar-benar gila. Aku tidak bisa menghentikan tanganku.

"H-Hyun-woo... t-tunggu sebentar...!"

Di satu titik, aku sadar sedang meremas payudaranya dengan kasar menggunakan kedua tangan, tapi aku masih tidak bisa berhenti. Rasanya seperti aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Sensasi kulit lembutnya melalui gaun tipis itu adalah candu yang tak terlukiskan.

Aku bisa terus menyentuhnya seperti ini sampai ada pisau di leherku, dan aku masih bisa menyatakan itu kematian yang indah. Aku tidak pernah tahu kalau sensasi gumpalan daging itu, yang berubah bentuk dengan setiap sentuhan sebelum kembali memenuhi telapak tanganku, bisa begitu memabukkan. Wanita itu curang. Mereka bisa membuat pria jadi idiot hanya dengan gumpalan lemak alami.

"Ngh... Hah..."

Seiring sentuhan Kang Hyun-woo menjadi lebih kasar, napas Iris secara alami juga menjadi tersendat. Saat ketegangannya memuncak, rona merah menyebar alami di pipinya, dan sudut matanya memerah cerah. Melihat Iris menjadi lebih cantik, seolah-olah dia baru saja memakai makeup dalam sekejap, Kang Hyun-woo tanpa sadar menelan ludah.

'...Aku ingin menyentuhnya secara langsung.'

Manusia adalah makhluk penuh hasrat. Bahkan saat mendapatkan pengalaman yang jauh melampaui apa yang pantas kudapatkan, aku terus menjadi semakin serakah. Selembut apa kulitnya jika aku menyingkirkan pakaian yang merepotkan ini dan menyentuhnya langsung? Hanya sesaat membayangkannya membuat tubuh bagian bawahku yang sudah kaku mulai terasa sakit.

Tanganku, yang masih memegang payudaranya, mempererat cengkeramannya.

"H-Hyun-woo... sakit..."

Saat suara tangis Iris mencapai telingaku, kewarasanku yang sempat kabur jauh kembali. Baru saat itulah, terkejut dengan betapa nafsunya aku tadi, aku mampu menarik tanganku dari dadanya.

'Dasar bajingan gila, bajingan gila, bajingan gila.'

Tidak seperti sesaat yang lalu ketika semua darah naik ke kepalaku, suara Iris mendinginkanku, dan bayangan diriku yang terangsang berkelebat di benakku. Bayangan seorang penjahat kelamin, matanya merah, meremas payudaranya dengan paksa tanpa sedikit pun pertimbangan.

Tentu saja, aku tidak menyesal menyentuhnya. Bahkan sekarang dengan kepala dingin, aku bisa menyatakan momen itu sebagai yang terbaik dalam hidupku. Memang seindah itu. Masalahnya adalah aku terlalu bersemangat dan hampir melewati batas.

"...Maaf. Aku terlalu bersemangat."

Iris hanya memberiku izin untuk menyentuh payudaranya. Bahkan saat itu pun, aku seharusnya lembut, memperhatikan reaksinya dengan hati-hati. Tapi aku tidak peduli dengan semua itu dan hanya meremas-remasnya demi kepuasanku sendiri. Aku pernah dengar payudara adalah salah satu titik vital wanita. Aku telah meremasnya cukup keras, jadi kemerahan di matanya tak bisa disangkal adalah salahku.

"T-Tidak... Aku yang memintanya, jadi kenapa kau minta maaf, Hyun-woo...?"

"Tetap saja, aku sangat tidak perhatian."

Mendengar suara Iris, yang gemetar jauh lebih hebat dari sebelumnya, aku dibanjiri rasa bersalah.

"Aku benar-benar tidak apa-apa. Jadi... kau tidak perlu terlalu khawatir."

Iris memberikan senyum cerah dan menatap Kang Hyun-woo. Saat mata mereka bertemu, dia merasakan gelombang emosi menyapunya. Malaikat. Ada malaikat di sini. Kurasa aku jatuh cinta lagi padanya, melihat dia dengan murah hati memaafkan kesalahan seorang perjaka pecundang yang tidak peka.

"L-Lebih penting lagi..."

Iris memegangi dadanya yang berdenyut. Dia tidak bisa bilang tidak ada rasa sakit sama sekali, tapi bukan hanya rasa sakit yang dia rasakan. Seolah-olah ada emosi lain, bukan sensasi rasa sakit, yang berputar di dadanya. Mirip dengan rasa sakit karena berdenyut, tapi sepertinya tidak hanya menyakitkan... Perasaan semacam itulah. Diam-diam merangkul perasaan baru dan asing ini, Iris melanjutkan.

“A-Apa payudaraku sesuai selera kamu...?”

tanyanya, wajahnya cukup merah untuk meledak.

"Ya! Tentu saja! Itu luar biasa lembut."

"Ah...!"

Mendengar ulasan jujurnya, Iris tersenyum cerah seolah lega. Itu adalah pemandangan yang benar-benar ironis, tapi karena kedua pihak yang terlibat tampak puas, tidak ada yang mempermasalahkannya.


Mengingat sensasi memabukkan itu, Kang Hyun-woo tenggelam dalam pikiran mendalam yang tidak seperti biasanya. Apa yang bisa dia lakukan untuk cinta pertamanya, wanita yang begitu cantik hingga tak terlukiskan, yang bahkan telah membiarkannya menyentuh payudaranya?

Secara teknis, dia bukan cinta pertamanya, tapi itu tidak penting sekarang.

'Pasti membebaskannya, kan?'

Aku belum pernah masuk penjara, tapi tidak mungkin dia tidak ingin pergi setelah menghabiskan 200 tahun sendirian di tempat gelap dan lembap seperti ini.

"Untuk keluar dari sini, apa kita cuma perlu membereskan perisainya?" "Aku tidak yakin, tapi mungkin iya. Mereka tidak bisa menempatkan penjaga di tanah suci tempat Pohon Dunia berada. Kemungkinan besar sama halnya untuk sihir atau alat sihir."

Penjara tanpa penjaga, tanpa sipir, bahkan tanpa CCTV? Aku bertanya-tanya apakah penjara selonggar itu bisa ada, tapi kemudian aku memikirkan seberapa kuat perisai yang melindungi tempat ini sampai mereka bisa seceroboh itu.

'Meski begitu, aku tidak pernah berpikir bakal serius merencanakan pembobolan penjara.'

Ini mungkin bukan konteks yang tepat, tapi kurasa inilah yang orang maksud ketika mereka bilang kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup.

Kemudian, sebuah pertanyaan untuk Iris tiba-tiba muncul di kepalaku.

"Um, Iris? Ada sesuatu yang membuatku penasaran. Boleh aku bertanya?"

"Ah, ya, silakan saja."

Ini mungkin pertanyaan paling penting untuk merencanakan pelarian kami.

"Iris, berapa banyak lingkaran mana (mana circles) yang kau miliki?"

Karena sangat tertarik pada mage, aku tahu tentang lingkaran mana. Sementara pengaruh seorang Hunter atau Hero ditentukan oleh peringkat (rank) yang diberikan oleh asosiasi atau negara, pengaruh dan keahlian seorang mage dinilai dari jumlah lingkaran mana mereka.

Secara alami, semakin banyak lingkaran yang dimiliki seorang mage, semakin kuat dan terampil mereka dianggap. Dua atau kurang lingkaran mana berarti kau adalah mage magang, sementara tiga atau lebih berarti kau diakui sebagai mage yang cukup terampil.

Dengan empat atau lebih, aku tahu kau akan disambut di negara mana pun. Aku bahkan pernah dengar beberapa negara akan memperlakukanmu seperti bangsawan semu. Namun, mage dengan lebih dari enam lingkaran mana bukanlah orang yang bisa ditemui orang biasa dengan mudah, jadi aku tidak bisa memastikan, tapi ada lelucon bahwa negara bahkan memberi mereka lisensi untuk membunuh.

Mereka selangka dan seberharga itu. Jika Iris adalah mage tingkat tinggi, aku tidak perlu bersusah payah memecahkan perisai itu sendiri. Tidak ada alasan untuk nonton tutorial NewTube dan memperbaiki komputer langkah demi langkah ketika ada teknisi perbaikan duduk tepat di sebelahmu.

"...Aku punya delapan."

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...