Otherworld Dating App - Chapter 4: Matching (4)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Setelah mencibir pada ratu yang pernah dia layani, Resilia berbalik menghadap orang-orang yang menatap kosong ke arahnya.

"Rakyat Peledia, Pohon Dunia telah memerintahkan pencopotan takhta ratu saat ini, Iris Remeria Baiart Peledia."

"?!"

Para bangsawan sudah menduga akan ada permainan kotor dari Resilia, mengingat sikap pengkhianatannya, tetapi kata-katanya begitu terang-terangan hingga mereka semua terdiam seribu bahasa. Semua kecuali satu tetua dan faksi bangsawannya.

"Saya, Biglis Harun Hartz, Tetua Pertama Dewan, akan mematuhi perintah Pohon Dunia."

Tetua Pertama yang wajahnya penuh kerutan itu membuat pernyataan mengejutkan.

'Apa yang diomongin kakek tua gila itu?!'

'Bukankah dia seharusnya tidak tertarik pada kekuasaan?!'

'…Ini berbahaya.'

'Kalau Tetua Pertama sendiri yang bilang begitu…'

Kecemasan para bangsawan tinggi segera menjadi kenyataan.

"Saya, Alanya Remong Provina, Tetua Kedua Dewan, akan mematuhi perintah Pohon Dunia."

"Saya, Amal Florence Khashka, Tetua Keempat Dewan, akan bertindak sesuai kehendak Pohon Dunia yang mulia dan agung."

"Saya, Rayken Van Pitel, Tetua Ketujuh Dewan, akan mematuhi perintah tersebut."

Kecuali beberapa tetua yang absen dan Tetua Keenam, yang baru saja memarahi Resilia karena memfitnah ratu, setiap tetua yang hadir baru saja memberikan suara setuju untuk pencopotan ratu saat ini.

"Apa... apa maksud dari kekejian ini?!"

Tetua Keenam berteriak pada rekan-rekan anggota dewannya, wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan, tetapi mereka tidak merespons.

"Yang Mulia? Tidak, Iris?"

"Resilia!!"

Akhirnya kehilangan kendali atas akal sehatnya, Iris mencoba meraih Resilia, hanya untuk ditahan oleh sosok misterius berbaju hitam yang muncul entah dari mana. Itu adalah kemunculan prajurit tingkat master yang keempat.

Bahkan bagi Iris, seorang Archmage Lingkaran ke-8, tidak ada peluang menang melawan kesatria tingkat master begitu dia membiarkannya mendekat sedekat itu. Lagipula, tak peduli seberapa besar dia kehilangan ketenangannya, dia tidak bisa melakukan kekejian menggunakan sihir di tanah suci.

"Hmph? Sejak kapan tangan Yang Mulia begitu cepat memukul? Ah, tapi kau kan mantan ratu sekarang, bukan?"

"Apa…! Apa yang telah kau lakukan pada Pohon Dunia!"

"Oh, astaga..."

Resilia menatap Iris dengan ekspresi iba yang dibuat-buat, tapi matanya dipenuhi ejekan yang terang-terangan.

"Rakyat Peledia! Sesuai perintah Pohon Dunia, saya, Resilia Runvanien Falun Peledia, dengan ini menyatakan bahwa saya telah naik takhta sebagai penguasa kelima Peledia!"

Itu adalah serangkaian pernyataan dan kejadian yang tak bisa diproses oleh akal sehat, bahkan saat melihat dan mendengarnya terjadi secara langsung. Mantan ratu mereka yang baik hati telah ditolak oleh Pohon Dunia. Seorang wanita yang mengaku sebagai kanselir telah memfitnah Yang Mulia, lalu melakukan kekejian dengan menyentuh tubuh Pohon Dunia itu sendiri. Dia adalah pengkhianat tingkat tertinggi, yang seluruh garis ketuargannya pantas dimusnahkan.

Dan sekarang, penjahat seperti itu adalah ratu baru? Rakyat, yang dihantam satu demi satu bencana, tidak bisa dengan mudah lepas dari kebingungan mereka. Tapi itu pun, hanya sesaat.

"...Hi-Hidup Ratu baru!"

"Hi-Hidup Ratu Resilia!"

"Segala puji bagi Pohon Dunia!"

"Kemuliaan bagi Peledia!!"

"Hore! Hore!!"

Bagi para elf, kehendak dan pilihan Pohon Dunia—satu-satunya dewa dan ibu mereka—sudah lebih dari cukup untuk memikat massa. Tidak peduli seberapa baik Iris sebagai penguasa, seorang pemeluk agama selalu memberikan kepercayaan dan kesetiaan mutlak kepada dewa mereka.

Setelah itu, segalanya berjalan cepat. Iris dipasangi alat penyegel kuat yang menekan sihirnya dan dijatuhi hukuman kurungan abadi di gua bawah tanah. Dia tidak akan pernah bisa meninggalkan penjara sampai dia mengakhiri hidupnya sendiri atau mati karena alasan lain.

Iris, yang menjadi pengkhianat dalam semalam dan sekarang terkunci di penjara, dengan linglung menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali pada dirinya sendiri.

Kenapa ini terjadi? Kenapa Resilia melakukan hal seperti itu?

'Kenapa…?'

Brak—

Hingga saat pintu penjara terbanting menutup, tak ada seorang pun yang muncul untuk menjawab pertanyaannya. Dan begitu saja, 200 tahun berlalu.


Mungkin karena pengaruh aplikasi, Iris menceritakan kembali kisah yang bahkan sulit didengar itu dengan suara tenang dan datar.

'…Dua ratus tahun.'

Hanya memikirkannya saja sudah membuat sesak napas. Bagi manusia biasa sepertiku, yang baru hidup dua puluh satu tahun, itu adalah rentang waktu yang mustahil kubayangkan. Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan apa yang pasti dia rasakan, hidup sendirian di tempat ini selama itu.

Setelah mengungkapkan seluruh masa lalunya, cahaya kembali ke mata Iris.

"Apa kau tidak ingin balas dendam?"

Aku berusaha keras untuk tidak menunjukkannya, tapi kata-kata itu meluncur begitu saja sebelum aku bisa menghentikannya.

"Balas dendam..."

Iris tampak agak terlepas dari semua itu.

"Siapa yang harus disalahkan sekarang? Melihat sifat asli seseorang adalah kebajikan seorang penguasa… Aku hanya buruk dalam menilai karakter orang."

Iris tampaknya menyalahkan dirinya sendiri, dan meskipun suaranya tenang, dia terlihat sedih.

"Tetap saja, kau tidak mungkin mau tinggal di sini selamanya."

"Itu benar, tapi..."

"Kalau begitu sudah putuskan."

Secara pribadi, kesimpulan yang paling memuaskan adalah Iris membalas dendam pada wanita itu, Resilia, tapi aku tidak berniat memaksakannya jika dia tidak mau. Bagaimanapun juga, keinginan orang yang bersangkutan adalah yang paling penting.

"Balas dendam atau tidak, ayo kita keluar dari sini dulu, oke? Setidaknya itu tidak masalah, kan."

Lagipula, tidak benar membiarkan orang tak bersalah membusuk di penjara seumur hidup mereka. Untuk saat ini, hanya itu yang penting. Iris sosok yang terlalu menyedihkan untuk terjebak di tempat gelap dan lembap seperti ini selamanya.

"K-Keluar dari sini...?"

Suara Iris tenggelam berat.

"Terima kasih atas perhatiannya… tapi itu mustahil."

Dia menunjuk ke sebuah pintu raksasa. Tingginya kira-kira setara gedung apartemen lima atau enam lantai.

"Satu-satunya jalan keluar diblokir oleh perisai (barrier) Pohon Dunia, dan aku hampir tidak bisa menggunakan sihir karena alat penyegel ini."

Bukan berarti dia berpangku tangan selama 200 tahun terakhir. Bahkan dengan sihirnya yang dibatasi oleh alat itu, dia sudah mencoba segala cara untuk menghilangkan perisai tersebut. Namun, dengan kecepatannya saat ini, dia menghitung butuh waktu sekitar 1.200 tahun hanya untuk menganalisisnya.

Tentu saja, gagasan seorang makhluk fana seperti dia menganalisis perisai dewa itu sendiri sudah tidak masuk akal sejak awal. Tapi bahkan jika dia menyelesaikan analisisnya, menghilangkan perisai itu dalam kondisinya saat ini adalah masalah yang sama sekali berbeda.

"Hei, sekarang situasinya berbeda dari dulu."

"Hah? Berbeda apanya?"

"Kau punya aku sekarang."

Apa benar-benar tidak ada cara untuk kabur tanpa menghilangkan perisai itu? Aku rasa tidak. Bahkan department store di Bumi menjual artefak pelarian (escape artifact) yang dirancang untuk warga sipil yang terjebak di dalam Gate.

Masalahnya adalah harganya yang gila-gilaan mahalnya, tapi aku rasa aku bisa membelinya kalau saja aku mendapat izin Iris untuk menggali beberapa akar Pohon Dunia yang berserakan di mana-mana.

Akan tetapi, ada satu fakta yang Kang Hyun-woo lupakan. Bumi, tempat magical beast sudah ada sejak awal sejarah manusia, dipenuhi dengan berbagai macam artefak dan alat sihir. Tapi jika bicara soal keberadaan dewa, belum ada yang terbukti. Catatan sejarah kuno terkadang menggambarkan makhluk transenden, tapi para ahli masih memperdebatkan apakah sosok-sosok ini benar-benar dewa atau hanya individu super kuat seperti Hunter S-rank.

Akibatnya, Kang Hyun-woo tidak punya cara untuk mengukur sifat sejati dewa seperti Pohon Dunia, yang benar-benar ada di dunia ini. Begitulah sifat imajinasi yang dangkal. Dia bahkan tidak mempertimbangkan sesaat pun apakah artefak yang dikembangkan manusia bisa menembus perisai dewa.

Masih butuh waktu sebelum Kang Hyun-woo menyadari fakta ini.

"Aku datang dari dunia lain yang disebut Bumi."

"Apa...? Dunia lain?"

Aku menjelaskan keadaan kedatanganku ke sini kepada Iris sedetail mungkin. Kecuali bagian tentang aplikasi kencan. Bukan berarti aku mencoba merayunya, tapi gengsiku tidak mengizinkanku mengakui bahwa seorang pria dewasa terseret ke sini saat menggunakan aplikasi kencan.

Tentu saja, Iris tidak akan tahu apa itu aplikasi kencan, tapi mungkin aku harus menjelaskannya nanti. Awalnya, aku bingung bagaimana menjelaskan apa itu ponsel, tapi sepertinya perkembangan alat sihir di dunia ini cukup mengesankan.

"...Jadi, kau bilang kau melakukan perjalanan antar dimensi ke dunia kami melalui alat komunikasi dari duniamu ini, yang disebut ponsel?"

"Ya."

Hanya dengan penjelasan singkat, dia sepertinya mengerti konsep ponsel. Cukup mengejutkan bagaimana dia menangkap poin-poin kuncinya meskipun kemampuan penjelasanku buruk. Reaksinya terhadap gagasan perjalanan dimensi, bagaimanapun, ternyata biasa saja.

'Apa karena kedengarannya terlalu mengada-ada?'

Justru sebaliknya, dia tampak lebih tertarik pada ponsel itu sendiri. Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya, meskipun dia tidak mengatakannya dengan lantang.

"Mau coba pakai?"

"Apa benar boleh...?"

"Tentu saja."

"Te-Terima kasih..."

Aku menyerahkan ponsel itu kepada Iris, yang sedari tadi menatapnya seolah terhipnotis. Dengan ekspresi bahagia, dia mulai mengutak-atiknya. Aku menjelaskan berbagai fungsi kepadanya, memuaskan rasa ingin tahunya.

Raut kecewa di wajahnya saat aku memberitahunya bahwa dia tidak bisa terhubung ke internet sekarang sangat imut sampai aku ingin memotretnya. Reaksi seorang elf saat menggunakan ponsel modern… Kalau aku mengunggah ini ke NewTube, bukankah bakal dapat setidaknya lima juta penayangan dalam sehari?

'Kurasa 'Otherworld Dating App' cuma terlihat olehku.'

Jaga-jaga, aku mencoba menunjukkan aplikasi itu pada Iris, tapi dia sepertinya tidak bisa melihat apa pun. Tampaknya aplikasi ini tidak menjodohkanku dengan gadis-gadis dari dunia lain, melainkan mengirimku ke tempat di mana gadis yang memenuhi kriteria keinginanku berada.

'Kurasa aku bisa yakin setelah beberapa kali match lagi.'

Untuk saat ini, itu masih prospek yang jauh.

"Um... Hyun-woo..."

"Ya? Ada apa...?"

Aku menoleh tanpa banyak berpikir dan melihat layar yang ditunjukkan Iris padaku. Aku merasakan kejutan seolah-olah seseorang baru saja menampar bagian belakang kepalaku.

Di layar itu ada gambar yang sangat familier. Itu adalah foto tanpa sensor seorang aktris AV, dengan payudara besarnya yang terekspos sepenuhnya. Itu bahan coli yang susah payah kudapatkan baru-baru ini. Kenapa Iris menunjukkannya padaku?

'...Ah, aku lupa bilang jangan buka galeri.'

Meskipun itu foto yang relatif baru, itu bukan foto terakhir yang kusimpan. Jika dia menunjukkanku ini, itu berarti dia sudah melihat gambar-gambar yang jauh lebih eksplisit dan sepenuhnya sesuai seleraku.

"H-Hyun-woo, apa ini... yang kau suka?"

"..."

Kang Hyun-woo terdiam seribu bahasa. Dia merasa seolah baru saja memamerkan koleksi video porno dan gambar cabulnya kepada teman kencan buta, sambil menyatakan bahwa itu 'tipe'-nya. Bukannya dia pernah kencan buta sih.

—Hei, bunuh diri saja sana.

Dia bahkan mendengar halusinasi pendengaran, seolah nalurinya sendiri sedang berbicara padanya.

"J-Jika kau mau...!!"

Tepat saat aku berpikir mungkin lebih baik menenggelamkan diri di semangkuk air, aku mendengar suara Iris yang gemetar menyedihkan. Wajahnya, merah padam seolah mau meledak, mendekat saat dia menggenggam tanganku erat-erat.

"Apa kau... mau menyentuh payudaraku?"

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...