Otherworld Dating App - Chapter 39: Gate (4)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Kantor Manajer Cabang, di dalam gedung cabang Korea World Hunter Association.

Tok, tok—

"Masuk."

Dengan izin pemiliknya, sekretaris itu dengan hati-hati memasuki kantor. Di tangannya ada sebuah map kecil.

"Ini laporan investigasi tentang pria yang menukarkan sejumlah besar batu sihir magical beast elit peringkat D+, seperti yang kita bicarakan."

"Hmm."

Saat Kang Cheolho memindai dokumen itu dengan ekspresi acuh tak acuh, secercah ketertarikan muncul di matanya.

"Apa ini benar?"

"...Ya."

Map itu berisi informasi pribadi dasar Kang Hyun-woo, diikuti dengan catatan pergerakannya selama enam bulan terakhir.

"Orang biasa, mahasiswa sampai beberapa hari yang lalu, tiba-tiba mendaftar sebagai mage dalam semalam. Dia bahkan belum pernah keluar kota, namun dia memperoleh sejumlah besar batu sihir dan menukarkannya..."

Kalau dia telah menyelesaikan undiscovered gate (gate yang belum ditemukan), seperti yang dicurigai pertama kali, setidaknya harus ada catatan dia mengunjungi daerah terpencil.

Tapi selama enam bulan terakhir, dia jarang menyimpang dari tiga lokasi: kampusnya, tempat kerja paruh waktunya, dan rumahnya. Terlebih lagi, pergerakannya pada hari dia menukarkan batu-batu itu juga aneh.

"Gereja?"

"Ya, gereja tepat di sebelah gedung cabang kita. Saat saya bertanya pada pendeta di sana, dia bilang pria itu mengalami luka yang cukup serius."

"Apa dia diserang oleh magical beast?"

"Belum pasti, tapi pendeta itu bilang berdasarkan keadaannya, itu sangat mungkin."

Menjadi mage bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam. Dia belum pernah berada di dekat tempat di mana undiscovered gate mungkin muncul, namun dia mendapatkan sejumlah besar batu sihir elit dan menderita luka yang sepertinya berasal dari magical beast...

Bisakah seseorang menjadi lebih mencurigakan dari ini?

"Pak, ada satu hal lagi yang perlu dilaporkan."

"Oh?"

Sekretaris itu menyerahkan map lain kepada Kang Cheolho.

"Salah satu korban dari isolated gate (gate terisolasi) yang muncul kemarin pada pukul 19:49 adalah Kang Hyun-woo yang sama yang baru saja kita bicarakan."

"...Dan bukankah korban lainnya adalah cucu perempuan dari Nyonya Choi Young-ok?"

"Ya."

"Hah."

Kang Cheolho merasa situasinya menjadi rumit.

Seorang pria mencurigakan, yang tidak diketahui apa pun secara pasti tentangnya, terjebak dalam isolated gate bersama dengan tak lain adalah pewaris tunggal keluarga Choi Seongbuk. Bukankah semuanya terasa terlalu kebetulan?

"Kau bilang gate itu peringkat B, kan?"

"Ya... Nyonya Choi Young-ok menuntut beberapa evaluasi ulang, jadi kami bahkan mendatangkan peralatan pengukuran presisi tinggi, tapi tidak ada perubahan."

Seorang mage Lingkaran ke-2 dan mage Lingkaran ke-3 tidak akan pernah bisa menyelesaikan gate peringkat B, bahkan dalam mimpi terliar mereka sekalipun. Bertahan hidup selama seminggu tanpa persiapan apa pun juga mustahil.

Ini adalah kepastian yang didukung oleh data selama puluhan tahun yang dikumpulkan saat memegang posisi penting di Asosiasi. Jika ada peluang untuk selamat, itu hanya bergantung pada keberadaan pria ini, Kang Hyun-woo, yang diselimuti misteri.

Biasanya, dia akan merasa tidak senang dengan orang yang meragukan seperti Kang Hyun-woo, tapi sebagian dari dirinya juga ingin berbicara dengan pria itu. Adapun alasannya, bahkan Kang Cheolho sendiri tidak tahu.


Dua sosok sedang berjalan melintasi jantung padang salju, badai salju yang ganas mengamuk di sekitar mereka. Mereka adalah Kang Hyun-woo dan Choi Hyena.

Dilihat dari dekat, kondisi mereka jauh dari kata baik. Choi Hyena telah menghabiskan sebagian besar kekuatan sihirnya selama serangan mendadak oleh kawanan Serigala Putih (White Wolves), dan Kang Hyun-woo menderita luka robek yang cukup besar di lengannya.

Dia berhasil menghentikan pendarahannya untuk sementara waktu, tapi itu tak lebih dari pertolongan pertama.

Seiring berjalannya waktu, warna kulit Kang Hyun-woo semakin memburuk. Dia telah mencoba memberikan tekanan sekuat mungkin, tapi secarik kain belaka tidak bisa sepenuhnya menghentikan darah merah tua yang merembes keluar.

Akhirnya, Kang Hyun-woo terhuyung-huyung dan ambruk ke salju.

"K-Kau tidak apa-apa?!"

Terkejut, Choi Hyena bergegas ke sisinya, hanya untuk merasa ngeri melihat kondisinya, yang jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan.

Secarik kain yang diikatkan di lengannya sudah lama kehilangan fungsinya sebagai perban. Wajah Kang Hyun-woo berkerut kesakitan, dan bibirnya pucat pasi. Jelas terlihat sekilas bahwa dia akan berada dalam bahaya jika tidak segera mendapat perawatan yang layak.

"Nggak apa-apa."

"Berhenti sok kuat! Kenapa kau tidak bilang apa-apa padahal lukamu separah ini?!"

"..."

Kang Hyun-woo tidak mengatakan apa-apa. Tidak, lebih tepatnya, dia bahkan tidak punya tenaga untuk membuat alasan.

"Keluar dari sini itu prioritas utama."

Menurut Choi Hyena, Serigala Putih membentuk kawanan yang jauh lebih besar daripada kawanan Yeti Putih.

Kami sudah membunuh sekitar sepuluh ekor. Aku tidak berpikir kami seberuntung itu untuk bertemu dengan kawanan kecil. Tidak ada yang tahu kapan Serigala Putih lain mungkin datang mengejar kami.

'...Dan shop-nya belum di-reset.'

Setelah mengalahkan Beruang Es dan kawanan Serigala Putih, koinku telah melampaui 3.000, tapi di shop yang belum di-reset, tidak ada yang berguna untuk situasi kami saat ini.

Dengan cooldown matching untuk Iris dan Cheon Yeo-hwa yang masih aktif, satu-satunya hal yang bisa kupikirkan sebagai pilihan terakhir adalah match baru. Tapi itu juga pertaruhan. Bukan berarti aku bisa dengan pasti memilih match-ku.

'Haruskah aku atur profesi yang diinginkan jadi 'dokter'?'

Itu akan meningkatkan kemungkinannya, tapi itu tetap belum pasti. Namun, itu lebih baik daripada mati kehabisan darah di padang salju, jadi aku memutuskan untuk mengingat opsi itu.

"Pakai ini untuk menekan lukanya."

Choi Hyena melepas mantel bulunya dan menyerahkannya padaku. Mantel itu compang-camping akibat pertarungan dengan kawanan Serigala Putih.

"Ambil ini, cepat. Kalau pendarahannya tidak berhenti, kau akan mati, dan aku akan dibunuh oleh magical beast apa pun yang mengikuti kita."

Kurang meyakinkan kalau kau mengatakannya sambil menggigil.

"...Baiklah."

Tentu saja, aku tidak punya kemewahan untuk menolak.

Aku mengambil mantel bulu itu dan merobek sepotong. Setelah melilitkan bagian yang sobek dengan kencang di sekitar luka untuk memberikan tekanan, aku akhirnya merasakan pendarahannya mulai mereda.

"Hoo..."

Rasanya aku bisa hidup. Tidak ada peningkatan dramatis dalam kondisiku, tapi hanya dengan mengetahui pendarahannya sudah berhenti saja sudah sangat melegakan.

Namun, hawa dingin yang menggigit yang terasa seperti akan mematahkan jari kakiku kapan saja tidak membaik sama sekali.

Dengan kekuatan sihirku yang hampir habis, aku tidak bisa menggunakannya untuk menghangatkan tubuhku. Dan Choi Hyena, yang telah melepas mantel bulunya yang compang-camping, sekarang mengenakan pakaian yang terlalu tipis, wajahnya semakin pucat dari detik ke detik.

Kalau begini terus, kami ditakdirkan untuk mati kedinginan bersama.

Ini bukan waktunya untuk menimbang-nimbang pilihan kami. Untuk bertahan hidup, kami harus melakukan apa pun yang diperlukan.

· · ·

"...Kau serius?"

"Apa? Kau lebih milih mati kedinginan aja?"

"..."

Choi Hyena merengut melihat tempat berlindung yang kubuat dengan susah payah seperti anjing.

"...Dasar mesum."

Di bawah bukit yang sedikit landai, lubang kecil yang kugali dari salju itu sangat sempit sehingga yang paling bisa kami lakukan adalah mendirikan tenda satu orang seringkas mungkin.

Tentu saja, itu terlalu kecil untuk dua orang. Yang berarti kami harus saling berdempetan erat hanya untuk muat di dalam.

"...Bukannya ini yang pertama kali buat kita."

"Apa maksudmu? Hah?"

Tatapan tajam Choi Hyena menusuk. Tapi tidak ada pilihan lain.

Kami tidak bisa menemukan apa pun seperti gua dangkal dari sebelumnya, dan kalau kami cuma mendirikan tenda di tempat terbuka, kami akan rentan terhadap serangan kapan saja.

Lebih baik menutupi pintu masuknya dengan salju, hanya menyisakan lubang pernapasan kecil, dan bersembunyi di dalam.

Lagi pula, kalau kami bahkan tidak punya tenda, kami harus tidur menggunakan salju sebagai selimut. Memikirkan itu, aku tidak punya keluhan.

Tentu saja, meskipun bagian dalam tenda menghangat dengan sendirinya, tubuh kami sedingin es, dan kami bisa masuk angin dan mulai menggigil kapan saja. Kami berdua tahu betul bahwa sedikit kehangatan tidak akan cukup.

Baik aku maupun Choi Hyena.

—Jadi apa yang kita lakukan?

Apa lagi? Kami harus saling berpelukan tanpa busana lagi.

"Kau sudah buka baju?"

"..."

Tidak ada jawaban.

Menganggap itu sebagai isyaratku, aku melucuti pakaianku secepat mungkin, memblokir pintu masuk dengan salju, dan merangkak ke dalam tenda.

Di dalam, Choi Hyena yang telanjang sedang duduk, menutupi dirinya.

"...Rebahan saja."

Aku melakukan apa yang dikatakannya.

Saat aku rebahan, Choi Hyena memanjat ke atasku.


 

"Apa yang kau lihat...?! Tutup matamu!"

Aku merasa bakal dipukul kalau tidak melakukan apa yang disuruh.

Aku tidak punya pilihan selain menutup mata. Setelah ragu sejenak, Choi Hyena diam-diam menyusup ke dalam pelukanku.

Aku bisa merasakan sentuhan lembut payudaranya.

"...Sentuh aku dan kubunuh kau."


Berapa lama waktu berlalu?

Kelopak mataku yang berat terbuka dengan sendirinya. Di sekeliling kami gelap gulita, dan Choi Hyena tidur nyenyak di pelukanku.

Dia terlihat cantik saat sedang tidur.

'Hangat...'

Apa di luar sudah pagi? Atau malam? Aku tidak bisa memastikannya.

Yang bisa kudengar hanyalah suara samar badai salju yang mengamuk.

Aku lapar, tapi yang terbaik adalah bertahan di sini selama mungkin.

Lagi pula, mengingat mage adalah kelas barisan belakang dan Choi Hyena adalah tipe peneliti biasa yang menghabiskan hari-harinya terkurung di bengkel kerja Menara Sihir, staminanya pasti sudah mencapai batasnya.

Adalah hal yang benar untuk membiarkannya beristirahat sebanyak mungkin selagi dia bisa.

'Tapi kondisiku lebih baik dari yang kukira.'

Aku sudah menghentikan pendarahannya, tapi aku belum menerima transfusi, jadi aku memperkirakan bakal merasa tidak enak badan bahkan setelah bangun tidur. Tapi tubuhku terasa jauh lebih normal dari yang kuantisipasi.

Apa ini juga berkat kekuatan sihir?

Aku tidak yakin, tapi aku memutuskan itu hal yang baik dan tidak memikirkannya lagi.

"...Dia tidur nyenyak sekali."

Bahkan cara tidurnya saja memancarkan aura khas anak dari keluarga bergengsi. Dia pasti merasa cukup tidak nyaman tidur di atasku, tapi dia bahkan hampir tidak pernah mengigau.

"Ayah..."

Tepat saat aku sedang mengagumi Choi Hyena yang sedang tidur, aku mendengarnya membisikkan panggilan untuk ayahnya dengan suara sekecil semut merayap. Kalau dipikir-pikir, dia juga mencari ayahnya dalam tidurnya waktu itu.

Saat dia menggumamkan panggilan untuk ayahnya, ekspresinya mulai berubah masam. Dia mulai mengeluarkan keringat dingin, seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk.

"Hh, hhhk..."

Melihatnya meneteskan air mata yang seperti mutiara, aku bertanya-tanya mimpi macam apa yang sedang dia alami dan apakah aku harus membangunkannya.

Saat pikiranku bergulat dengan dilema itu, aku teringat apa yang biasa dilakukan direktur panti asuhan untukku saat aku mengalami mimpi buruk saat masih kecil.

Aku meletakkan tangan di punggung Choi Hyena dan mulai membelainya dengan lembut. Sepelan dan sesantai mungkin.

Merasakan sentuhan hangat di punggungnya, ekspresi Choi Hyena melembut. Dia terlihat jauh lebih damai dari sebelumnya.

Tapi sekarang ada masalah.

Memeluk Choi Hyena yang telanjang saja sudah cukup sulit, tapi mengelus kulitnya yang mulus dan lembut benar-benar membuatku gila.

'...Dia lagi tidur, jadi nggak apa-apa kan?'

Mengingat bagaimana aku meng-carry tim dengan secara andal melindunginya dari depan selama perburuan magical beast, bukankah aku berhak mendapat sedikit hadiah? Lagi pula, aku membereskan separuh kawanan Serigala Putih sendirian. Ini adalah hadiah yang adil.

Tangan yang mengelus punggungnya perlahan bergerak ke bawah.

Remas...!

Pantatnya yang kencang dan besar memenuhi telapak tanganku. Aku dengan lembut membelainya, menikmati sensasinya.

Syukurlah, Choi Hyena masih tidur dengan senyum bahagia, mood-nya jelas sudah membaik. Melihat dia tidur jauh lebih nyenyak dari yang kuduga, aku memutuskan untuk mengambil satu langkah lebih jauh.

Aku sedikit menggeser posisiku dan menyelipkan kemaluanku yang sudah keras seperti batu di antara kaki Choi Hyena.

Menekan tepat di vaginanya, kemaluanku menjeritkan keinginannya untuk menumbuk rahimnya dan menembakkan beban sperma yang kental ke dalamnya.

Tentu saja, aku ingin melakukan itu juga, tapi sekarang bukan waktunya.

Mencengkeram pantatnya dengan kedua tangan, aku mulai menggesekkan vaginanya ke kemaluanku.

Basah, basah—

Pre-cum yang bocor keluar berfungsi sebagai pelumas antara kemaluanku dan vaginanya.

Gerakanku dibatasi, jadi aku tidak bisa bergerak sepuas yang kuinginkan, tapi ini juga tidak buruk.

Itu adalah dry humping yang menggoda, tapi setelah pertempuran berturut-turut dengan magical beast, hasrat seksualku sedang berada di puncaknya, dan dorongan untuk keluar meningkat dengan cepat.

Tanganku yang meremas pantat Choi Hyena menjadi semakin berani juga. Saat aku meremas pantatnya, yang terasa seperti jeli yang kenyal, aku membiarkan ujung jariku menyapu vaginanya.

"Ah, ahn... ahht..."

Di bawah belaian terus-menerus dari kemaluan dan jari-jariku, Choi Hyena mengeluarkan erangan pelan.

Mencapai batasku, aku mulai menyorongkan pinggulku, mempercepat pelepasanku.

Tepat saat aku menyorongkan pinggulku, menikmati sensasi vaginanya, yang menjadi lebih licin dan basah dengan apa yang pastinya adalah cairan cintanya sendiri...

Crot, crooot!!

"Keuk...!"

Sperma yang tertahan selama beberapa hari meledak keluar sekaligus. Sperma yang kutembakkan mendarat di pantat Choi Hyena seperti topping.

Jumlahnya cukup mengesankan, bahkan jika dilihat sekilas.

Tepat saat kepalaku yang sekarang sudah jernih mulai mengkhawatirkan cara membersihkannya...

"Nngh..."

Choi Hyena mengeluarkan erangan aneh dan mulai bergerak.

Mata violetnya, yang sekarang sudah bangun, menoleh ke arahku. Masih setengah sadar, matanya tidak fokus sejenak, tapi kemudian, seolah merasakan ada yang tidak beres, dia melirik ke bawah ke pantatnya. Ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang begitu ganas hingga tak bisa digambarkan.

"...Apa putri kecilku tidur nyenyak?"

"Mati kau."

Hanya butuh 0,1 detik bagi Choi Hyena untuk menerjang leher Kang Hyun-woo dengan tatapan membunuh di wajahnya.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...