Otherworld Dating App - Chapter 34: The Blind Date (2)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Di sebuah kafe sepi dekat Menara Sihir.

Karena kafe itu berlokasi di area dengan banyak kantor perusahaan, tempat itu hampir kosong sekarang setelah jam sibuk makan siang berakhir, kecuali aku.

Menu macam apa yang namanya Dirty Matcha Truffle Chocolate Shake?

Pikiranku lagi kacau. Tetap saja, rasanya lumayan juga.

"Tapi aku nggak nyangka bakal ditolak mentah-mentah begitu."

Sudah satu jam berlalu sejak aku meninggalkan Menara Sihir, tapi jawaban Choi Young-ok yang benar-benar di luar dugaan terus terngiang di kepalaku.

—Maaf ya, tapi seorang profesor di Menara Sihir tidak boleh mengajar mahasiswa yang bukan dari lab mereka sendiri secara privat. Apalagi saat liburan kampus begini.

Jujur saja, kupikir dia bakal membantuku tanpa ragu. Dibandingkan dengan apa yang kuminta soal Jeon Hyeseong, ini sepertinya permintaan yang jauh lebih sederhana.

"Mau gimana lagi."

Aku nggak mungkin mengamuk di sana. Lagipula, aku sudah berutang budi besar padanya karena membantuku mengurus Jeon Hyeseong.

Dan bukan berarti aku nggak dapat apa-apa sama sekali.

—Oh, benar. Aku hampir lupa. Apa kau ada waktu luang dua hari lagi?

—Dua hari lagi? Ya, anu... Saya nggak ada rencana khusus sih.

—Sempurna. Kalau begitu, maukah kau bertemu dengan cucu perempuanku saat itu?

Pertemuan pertama dengan teman kencan butaku akhirnya ditetapkan dua hari lagi. Sejujurnya, aku gugup setengah mati, bangsat.

Foto yang ditunjukkan Choi Young-ok padaku adalah mage wanita yang begitu cantik hingga dia bisa dengan mudah menyaingi Iris atau Cheon Yeo-hwa.

"Tiba-tiba aku dikelilingi cewek."

Aku nggak yakin ini berkah atau kutukan, tapi buat orang yang seumur hidupnya belum pernah kencan buta, ini pasti bikin gelisah, entah itu hal yang baik atau buruk. Aku gugup, tapi juga excited.

Ting—

Tepat saat aku menyeruput minuman dengan nama aneh itu, sebuah pesan teks masuk ke ponselku.

[Bank S]

[Penarikan: 200.000 KRW]

[Saldo: 22.171.280 KRW]

"Ah, uang sewa."

Sudah waktunya bayar sewa bulanan. Berkat menjual batu sihir, aku nggak perlu lagi pusing mikirin uang sewa, tapi tetap saja nyesek melihat saldoku tinggal 20 juta won lebih sedikit setelah membeli berbagai perlengkapan bertahan hidup sebelum bertemu Cheon Yeo-hwa.

"...Apa aku coba masuk Gate aja ya?"

Berkat kartu registrasi wizard-ku, aku bisa masuk Gate bahkan tanpa lisensi hunter. Ditambah lagi, sebagai mage, bahkan party yang lebih kuat dariku pasti bakal memohon-mohon biar aku bergabung, jadi bakal gampang banget numpang carry.

Di dungeon bawah tanah, aku bertarung lebih mirip warrior (kesatria/petarung jarak dekat) daripada support lini belakang.

Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, rasanya agak nggak adil.

Aku ini mage yang mulia, bukan warrior rendahan! Lalu kenapa aku yang harus menghindari ayunan pedang magical beast dan jadi bantalan panah? Sudah saatnya aku kembali ke tempatku yang seharusnya sebagai mage, salah satu dari dua pilar kemuliaan bersama healer.

"Atau mungkin belajar ilmu pedang ide yang bagus juga."

Kalau aku mau menggunakan 'Pedang Sihir Tentara Kekaisaran' yang kubeli kemarin dengan benar, masuk akal kalau aku belajar cara menggunakannya. Bukan cuma itu, belajar ilmu pedang juga melibatkan latihan fisik, memberiku kesempatan bagus untuk membangun stamina dan kekuatanku.

Aku jelas merasakan staminaku kurang saat di dungeon bawah tanah dan mendaki gunung bersama Cheon Yeo-hwa. Syukurlah, aku bisa menambahnya dengan kekuatan sihir, jadi aku nggak pernah sampai pingsan karena kelelahan, tapi aku nggak bisa selamanya mengandalkan sihir untuk menambal kekuranganku.

Aku sadar bahwa semakin kuat fisik dasarku, semakin efisien aku bisa menggunakan jumlah kekuatan sihir yang sama.

"Kira-kira ada nggak ya tempat dekat rumah yang ngajarin ilmu pedang atau semacam pertarungan fisik."

Sejujurnya, belajar ilmu pedang yang proper itu biayanya mahal banget. Beberapa tempat yang lebih mahal punya biaya tahunan sampai miliaran won.

Tentu saja, aku nggak niat masuk ke tempat kayak gitu. Pertama, aku nggak punya uang. Yang kubutuhkan cuma tempat yang bisa ngajarin aku gerakan dasar dengan benar—menebas, menusuk, dan mengayun.

"...Oh? Ternyata ada satu di dekat rumahku?"

Aku pakai aplikasi peta buat ngecek apa ada dojo pedang di dekat sini, dan mengejutkannya, ternyata ada.

[Dojo Pedang Full Moon]

Aku nggak nyangka bakal ada dojo di lingkungan kumuh itu.

"Hmm... apa aku coba cek ke sana aja ya? Kalau lumayan, aku daftar. Kalau nggak, aku cari tempat lain aja."

Setelah itu, aku berencana nyari Gate dan nyari duit. Buat apa istirahat? Aku harus nyari duit.

Aku harus bayar lunas pinjaman rumahku dan, kalau aku mau beli dan nyetir mobil luar negeri, aku harus mulai bergerak.


Sepuluh menit jalan kaki dari rumahku.

Beneran ada dojo pedang di sana. Namun, khas lingkungan kumuh, bagian luar bangunannya sangat bobrok sampai kelihatan sangat kumuh.

Keajaiban ada bisnis yang jalan di sini. Ini jenis lingkungan di mana toserba aja bisa bangkrut karena sepi orang.

"Apa beneran ada yang daftar di sini?"

Aku punya firasat kalau aku bayar buat setahun, tempat ini bakal tutup dalam dua bulan.

Tetap saja, rasanya buang-buang waktu kalau balik sekarang. Mending aku lihat ke dalam dulu sebelum mutusin.

Aku dengan hati-hati masuk ke gedung itu.

Kring-kring—

Saat aku buka pintu dojo di lantai dua, bagian dalam yang mengejutkannya luas dan bersih menyambutku. Tentu saja, tempat itu juga kosong melompong.

"...Apa mereka beneran buka?"

"Yah, lampunya nyala. Kelihatannya kayak tutup ya?"

"?!"

Kaget karena ada orang di belakangku, aku langsung berbalik.

Di sana berdiri seorang wanita yang kelihatan setidaknya dua kepala lebih pendek dariku.

Sejak kapan...? Sampai dia ngomong, aku sama sekali nggak ngerasain atau bahkan curiga ada orang di belakangku.

Karena pernah ngelawan magical beast di dungeon dan bahkan ngebunuh bandit, pikiran pertamaku adalah kalau ini pertarungan sungguhan, kepalaku pasti udah dipenggal bersih.

"Takut?"

Melihat lebih dekat, aku baru sadar dia bukan manusia.

Dengan telinga serigala di kepalanya dan ekor serigala nempel di tulang ekornya, dia adalah beast-kin (manusia setengah hewan), ras dengan populasi terbesar kedua setelah manusia.

"Jadi, ngapain manusia di sini?"

"Bukannya ini dojo pedang? Aku ke sini buat ngecek dan mutusin mau daftar atau nggak."

Wanita beast-kin itu menatapku dengan ekspresi aneh.

Rambut perak dan mata emas... meskipun ras lain cenderung punya penampilan yang lebih nggak biasa daripada manusia, jarang banget aku ngelihat yang secolok ini.

"Kau hunter?"

"Bukan."

Gaya bicaranya yang santai mulai bikin aku kesal, tapi ini emang ciri khas kebanyakan wolf-kin (manusia setengah serigala). Mereka ras yang kurang ajar, nggak peduli orang itu lebih tua atau orang asing sama sekali. Mereka mungkin nunjukin sedikit rasa hormat ke orang yang lebih kuat dari mereka, tapi itu sifat umum di antara sebagian besar beast-kin karnivora.

Pokoknya, mereka terkenal karena temperamennya yang buruk dan sering cari gara-gara di jalan. Parahnya lagi, kemampuan fisik mereka yang superior bikin mereka biasanya ngancurin lawan mereka. Pantesan aja ada pepatah, kalau mau denger serigala melolong, nongkrong aja di kantor polisi.

"Sejuta won sebulan."

"...Maaf?"

"Bayar buat setahun, aku kasih sebelas juta."

Apa wanita ini gila? Bahkan untuk sebuah dojo pedang, gimana bisa dia minta sejuta won sebulan buat tempat kumuh kayak gini yang kelihatannya nggak punya murid?

"Kau beneran niat jualan nggak sih?"

Pikiran itu terlontar dari mulutku sebelum aku bisa menahannya.

"Kau punya uang, kan? Kalau kau belajar di tempat lain, biayanya paling nggak sepuluh juta sebulan."

"Meskipun begitu, bayar sejuta won tiap bulan itu..."

Jujur, aku agak condong buat daftar, tapi sejuta won sebulan itu kemahalan.

"Kau masih mikir gitu setelah ngelihat ini?"

Wuuus—

Apa yang menghancurkan kekhawatiranku itu adalah energi biru yang jelas memancar dari ujung jari wanita wolf-kin itu.

Itu bukan Aura Blade yang bisa digunakan oleh hunter terampil peringkat B ke atas, melainkan Aura Blade yang konon cuma bisa digunakan oleh segelintir monster yang disebut hunter peringkat A.

"Gimana?"

Hari itu juga, aku bayar lunas 11 juta won dan memberi hormat pada guru baruku.


Meskipun pendaftaran di dojo berjalan lancar, pikiranku kacau balau dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab dalam perjalanan pulang.

"Kenapa orang kayak gitu ada di dojo pedang di lingkungan kumuh kayak gini?"

Aku sempat mikir buat nanya ke dia, tapi aku mutusin itu bukan urusanku buat ngorek-ngorek dan menahan lidahku. Gimana kalau guru baruku itu kesal dan nawarin refund?

Belajar dari hunter peringkat A cuma dengan 11 juta setahun? Kalaupun aku bayar 10 juta buat sehari aja, itu masih dibilang murah. Bukannya ini pada dasarnya kayak kegiatan amal?

"Dojo Pedang Full Moon... Aku nggak bisa nemuin apa-apa sekeras apapun aku nyari."

Beneran cuma muncul di peta. Nggak ada postingan blog atau artikel kafe tentang tempat itu. Wajar saja, nggak ada informasi juga soal wanita wolf-kin yang jadi guru dojo itu.

Kupikir orang dengan tingkat keahlian sepertinya pasti punya rumor yang beredar, entah itu baik atau buruk.

Aku nggak bisa menghilangkan perasaan yang sedikit nggak nyaman, tapi aku mutusin buat fokus pada fakta bahwa hunter peringkat A ngajarin aku secara privat.

Khawatirin hal-hal yang nggak kuketahui nggak bakal ngasih jawaban. Kalau nanti ada masalah, aku bisa mikirinnya nanti. Lagipula, aku punya aplikasi kencan dunia lain dan koneksiku dengan keluarga Choi Seongbuk.

"Sekarang, apa aku cari Gate yang lumayan aja ya? Ini masih siang, jadi harusnya ada party yang lagi rekrutmen."

Setelah menerima kartu registrasi wizard-ku, aku dapat akses ke aplikasi khusus hunter yang dijalankan oleh World Hunter Association. Dengan ini, aku bisa nyari party yang cocok tanpa khawatir postingan clickbait dan melihat daftar Gate yang bisa diakses saat ini.

"Party peringkat D..."

Sayangnya, satu-satunya party yang sepertinya cocok buat kuikuti saat ini adalah party peringkat D. Aku memang mau numpang carry sebagai mage, tapi party peringkat D itu agak berlebihan.

Kalau aku membandingkan kemampuanku saat ini dengan peringkat hunter, aku mungkin ada di sekitar D+. Monster yang kuhadapi di dungeon bawah tanah adalah monster peringkat D atau D+. Tapi kalau aku gabung party peringkat D, aku nggak bakal di-carry; aku yang bakal nge-carry mereka.

"Nggak ada yang lumayan apa ya..."

Kring, kring, kring—

Tepat saat aku nge-scroll postingan rekrutmen party, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Penipuan voice phishing?

"Halo?"

—Halo.

Suara wanita asing terdengar dari telepon. Suaranya seksi, dengan nada yang agak rendah.

—Apa ini Kang Hyun-woo?

"Ya, benar. Ini siapa?"

Aku nggak kenal wanita mana pun yang suaranya bisa dapat 5 juta subscriber cuma dari ASMR doang. Sebenarnya, aku malah nggak kenal wanita sama sekali.

—Ini Choi Hyena. Apa kau sudah dengar dari nenekku?

"Ah."

Tadi aku mikir siapa, ternyata teman kencan butaku.

—Tiba-tiba ada urusan mendadak dua hari lagi. Apa kita bisa ketemuan malam ini aja?

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...