Otherworld Dating App - Chapter 31: Murim (8)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Di dalam tenda, terselimuti keheningan.

Cheon Yeo-hwa, dengan wajah semerah tomat, menatap Kang Hyun-woo, tenggelam dalam pikiran.

'...Sekarang aku harus ngapain?'

Sangat kontras dengan deklarasi beraninya—"Kau nggak bakal tidur malam ini. Aku nggak akan biarin."—Cheon Yeo-hwa adalah seorang perawan yang bahkan belum pernah pegangan tangan dengan pria.

Bahkan kalau cuma di lingkup keluarganya sendiri, dia lebih jauh daripada orang asing, nggak pernah ngobrol kecuali untuk urusan resmi, apalagi pegangan tangan.

Baginya, saudara laki-lakinya bukanlah keluarga yang bisa diandalkan, melainkan cuma pesaing yang suatu hari nanti harus disingkirkan demi posisi pewaris.

Terlebih lagi, ayah kandungnya, Sang Pemimpin Sekte, bukanlah pria family man yang hangat. Dia tipe pria yang bakal melempar anaknya yang masih kecil ke sarang binatang buas dan menyuruh mereka bertahan hidup sendiri.

Bagaimanapun juga, setelah seumur hidup nggak pernah kontak dengan pria, pengetahuan seksual Cheon Yeo-hwa cuma sebatas dasar dari yang paling dasar: kemaluan pria masuk ke kemaluan wanita, dia maju mundur, dan sperma yang keluar dari kemaluan pria masuk ke rahim wanita untuk mengandung anak.

Itu tingkat pengetahuan yang lumayan menyedihkan buat Putri Kedua dari Sekte Iblis Surgawi, yang dulunya dikenal sebagai Penyihir Roh Bulan yang telah membantai tak terhitung banyaknya seniman bela diri. Tapi dia memang nggak punya niat untuk menikah dengan siapa pun atau punya penerus, bahkan kalau dia naik takhta jadi Pemimpin Sekte sekalipun.

Wajar saja kalau dia nggak tahu apa-apa.

Untungnya dia cepat tanggap dan sangat peka.

Bertengger di atas Kang Hyun-woo, Cheon Yeo-hwa menyelesaikan pertimbangan singkatnya dan secara naluriah paham apa yang harus dia lakukan.

'Pertama, aku harus buka bajunya... kan?'

Pakaian Kang Hyun-woo punya gaya aneh yang belum pernah dia lihat di Sekte Iblis atau Dataran Tengah, jadi buka bajunya pun nggak bakal gampang. Namun, cuma dengan sekilas lihat, Cheon Yeo-hwa dengan cekatan membuka gesper sabuknya dan menarik ritsletingnya ke bawah.

Tentu saja, Kang Hyun-woo ngebantu dengan sedikit mengangkat pinggulnya saat dia menarik.

Namun, insiden malang terjadi: celana dalamnya ikut melorot bareng celananya.

Meskipun pada akhirnya dia harus bikin pria itu telanjang bulat, Cheon Yeo-hwa baru saja membuang sedikit waktu yang dia punya untuk nyiapin mentalnya.

"...Ini."

Apa yang terungkap dari balik celana dalam itu adalah bagian tubuh yang belum pernah dilihat Cheon Yeo-hwa sebelumnya.

Begitu mengerikan dan aneh, dengan urat-uratnya yang kemerahan dan menonjol serta wujudnya yang tegak kaku, itu mirip ular piton.

Ketebalannya sepertinya seukuran pergelangan tangannya sendiri, dan panjangnya sekitar tujuh chon (sekitar 21cm).

'Benda sebesar dan setebal ini bisa masuk ke tubuhku...?'

Kewalahan oleh ukurannya yang di luar dugaan, Cheon Yeo-hwa sesaat terpana.

Dia bahkan nggak berani ngebayangin kalau ular piton segede itu bisa muat ke lubangnya yang kecil dan sempit.

Tersesat dalam dilema ini, Cheon Yeo-hwa sejenak teringat masa lalu.

—Nahyang, gimana rasanya?

—Hah? Apanya yang gimana?

—Jangan pura-pura polos deh, malam pertamamu!

—Ah...

—Kita kan penasaran juga, ceritain dong.

Saat jalan-jalan santai di kediaman untuk menjernihkan pikiran dari tugas-tugas resminya yang numpuk, Cheon Yeo-hwa nggak sengaja dengar obrolan pelayannya yang lagi nyuci baju.

Sepertinya seorang pelayan bernama Nahyang baru saja menikah dan menghabiskan malam pertamanya bareng suaminya.

Biasanya, dia nggak bakal peduli dan terus jalan, tapi di hari itu, dia ngerasa penasaran sama gosip sepele para pelayan itu.

—Yah...

—Hmm? Kenapa ragu-ragu? Ada yang terjadi?

—Sebenarnya... aku berdarah pas aku sama suamiku berhubungan...

—Berdarah?! Kau berdarah pas malam pertama?

—Iya... Aku juga nggak tahu, tapi rasanya sakit banget pas anunya masuk, tahu nggak? Aku sampai nangis dan segala macamnya, dan dia bilang aku berdarah di bawah sana...

—Wah... Beda banget sama yang kubayangin.

—Sama. Kupikir suasananya bakal jauh lebih enak, dicintai dan segala macamnya, tapi ternyata sakit...

Para pelayan itu lanjut ngobrolin topik lain setelah itu, tapi perhatian Cheon Yeo-hwa tertuju pada percakapan sebelumnya.

—Sakit dan berdarah...

Setelah secara nggak sengaja tahu kalau pengalaman pertama wanita dibarengi rasa sakit dan darah, Cheon Yeo-hwa fokus pada informasi yang belum pernah dia dengar ini.

Tentu saja, karena nggak terlalu tertarik sama urusan pria dan wanita, dia segera lupa kalau pernah dengar obrolan itu. Tapi sekarang, dia nyadar kebenaran di balik pepatah orang bijak zaman dulu bahwa nggak ada yang namanya pengetahuan yang nggak berguna.

Cheon Yeo-hwa menyimpulkan kalau bakal sangat wajar ngerasa sakit luar biasa dan sedikit berdarah pas kemaluan Kang Hyun-woo yang gedenya nggak ngotak itu masuk ke lubangnya yang kecil dan sempit.

'Kelihatannya memang agak menakutkan... tapi kalau kasih sayangku padanya cukup dalam, nggak ada yang nggak bisa kutahan.'

Astaga naga.

Cheon Yeo-hwa saat ini berencana buat masukin ular piton utuh ke memek perawan ting-ting yang mungkin baru ngeluarin cairan cinta seujung sendok teh, sambil ngelantur soal teori konyol tentang tekad.

Udah jelas sih, tapi pendarahan karena robeknya selaput dara itu bisa terjadi atau nggak, tergantung individu.

Lagipula, pendarahan semacam itu karena kapiler yang pecah, bukan karena bagian dalam vaginanya beneran robek atau terluka.

Secara alami, Cheon Yeo-hwa, yang nggak mungkin tahu detail intim kayak gitu, dengan berani nangkep kontol Kang Hyun-woo dan ngebawanya ke pintu masuk memeknya dalam tindakan kegilaan yang total.

"Hyun-woo, kau lihat? Ini adalah momen kemaluanmu merenggut yang pertamaku."

Kang Hyun-woo ngeri ngelihatnya.

Tunggu, dia mau langsung masukin tanpa foreplay sama sekali?

Dia bahkan nggak basah sendiri. Kang Hyun-woo bisa ngerasain sedikit kelembapan di ujung kepalanya, tapi dari pengalaman sebelumnya, dia tahu wanita itu masih jauh dari kata cukup basah buat nerima kontolnya dengan mulus.

Bahkan sama Iris, dia udah rajin banget foreplay, tapi Iris tetap aja kesusahan pas momen penetrasi.

Dan dia mau langsung masukin magnum-nya ke memek yang kering dan belum kesentuh?

"T-Tunggu sebentar!"

"Hm? Ada apa? Jangan bilang... kau gugup? Hehe, kau punya sisi imut juga. Jangan khawatir. Meskipun ini pertama kalinya buatku berhubungan seperti ini, aku akan segera mahir mengambil esensimu. Kau tiduran aja dan hitung noda di tenda."

Dengan wajah yang setengah pede dan setengah ekspresi ngeselin orang yang lagi ngelihat sesuatu yang imut, Cheon Yeo-hwa mulai nurunin pinggulnya pelan-pelan.

Apa dia gila?

Kalau begini terus, pengalaman pertama monumental Cheon Yeo-hwa sangat mungkin berubah jadi bencana di mana pintu masuk vaginanya bakal robek.

'...Posisi cowgirl harus ditunda dulu.'

Tepat saat atmosfer Cheon Yeo-hwa berubah, energi tak berwujud mulai menekan tubuhku, seolah-olah mengikatku dengan tali.

Jadi ini yang namanya tenaga dalam. Setelah menetralkan sekitar 80% racunnya, Cheon Yeo-hwa jauh lebih kuat dariku.

Tapi entah itu karena pertimbangan untukku atau kurangnya kekuatan, tekanannya ada di level yang bisa kulawan sampai taraf tertentu kalau aku mendorong sihirku sampai maksimal.

Langsung menarik semua sihir dari lingkaran manaku dan mengalirkannya ke seluruh tubuh, aku bisa memutus energi mirip tali yang menahanku.

Wajah Cheon Yeo-hwa menunjukkan kilasan keterkejutan melihatnya, tapi aku langsung duduk.

Menopang pinggangnya dengan satu tangan, aku duduk menghadapnya, cukup dekat hingga napas kami berbaur.

"A-Apa yang kau lakukan! Kau harusnya penurut hari ini..."

Cup. Satu ciuman sudah cukup buat nyelesaiin keluhan pelanggan berharga kita.

"Kukira nona muda kaya sepertimu pernah dapat pendidikan seks, tapi ternyata nggak, ya?"

Cemberut sedikit, Cheon Yeo-hwa cantiknya nggak ketulungan.

"Aku salah sudah menyebut nama wanita lain."

Kelihatan jelas cuma dengan sekilas lihat kalau harga diri Cheon Yeo-hwa itu lebih kuat dari kebanyakan orang.

Seberapa hancurnya pasti harga dirinya pas ada pria nyentuh tubuhnya sambil nyebut nama wanita lain?

"Jadi, maukah kau ngasih aku kesempatan buat nebus kesalahanku hari ini?"

Dengan tanganku yang bebas, aku ngebelai wajahnya. Dia nggak kelihatan nolak; malahan, dia ngerespon dengan halus dengan ngegesekkin wajahnya ke tanganku.

"...Kau cuma punya satu kesempatan."

"Tentu saja."

Cup. Aku ngecup ringan bibirnya yang cemberut.

Dengan setiap kecupan, waktu selaput lendir kami bersentuhan makin lama.

Di satu titik, kami nggak bisa dipisahin, mulut kami terbuka, lidah kami saling membelit.

"Hmph, slurp, smooch..."

Lidah Cheon Yeo-hwa bergerak dengan rasa canggung.

Aku nggak boleh terus ngebanding-bandingin, tapi kecanggungannya beda dari Iris.

Kalau Iris ngerakin lidahnya tanpa teknik beneran, Cheon Yeo-hwa kelihatan belajar dari gerakanku, pelan-pelan jadi lebih mahir berciuman.

Sesuai dugaan dari seorang seniman bela diri, dia sepertinya punya bakat buat hal-hal yang dilakuin pakai tubuh.

Makin lidah kami campur aduk, aroma Cheon Yeo-hwa yang merangsang makin menuhin hidungku, bikin kepalaku pusing.

Seiring berjalannya waktu, rasa cemburu dan racun di matanya lenyap, diganti sama tatapan sayu dan linglung.

Saat kami terus berciuman, aku pelan-pelan ngelepasin jubah panjang yang nutupin tubuhnya.

Itu baju yang asing dan agak susah dilepas, tapi nggak sesusah punya Iris.

Dengan tiap lapis baju yang lepas, aku dengan lembut ngebelai kulit putih pucat yang terungkap.

Bahunya, lengannya, punggungnya, dan pinggangnya. Tiap bagian pamerin kelembutan dan kemulusan yang nggak masuk akal.

Cara kulitnya nempel di tanganku adalah sensasi bikin candu yang susah dijelasin pakai kata-kata.

"Hngh, bukannya tanganmu itu terlalu mesum...?"

"Mau gimana lagi kalau kau semesum ini?"

"Kurang ajar...!"

Buat nenangin amarah Putri Kedua Sekte Iblis Surgawi, aku nggak punya pilihan selain nyegel bibirnya dengan ciuman lagi.

Saat lidah kami ngebelit, aku kaget gimana dia dengan rakus ngerampas air liurku kayak orang yang sekarat kehausan, tapi aku mutusin buat maafin dia.

Karena tanganku, yang tadi ngebelai pinggang mulusnya, diem-diam ngerayap naik ke arah payudaranya.

"Hk?!"

Meskipun sentuhan mesumku udah ngasih sinyal niatku, Cheon Yeo-hwa nggak bisa nahan erangan pas tanganku dengan kasar ngeremas payudaranya.

Bukan cuma dia yang kaget.

'Gila bener...'

Dari segi ukuran absolut, Iris menang sedikit, tapi kelembutan dan kekenyalannya begitu luar biasa sampai mustahil buat nentuin mana yang lebih bagus.

Sensasi dagingnya yang menuhin tanganku dan terjepit di antara jari-jariku nyalain nafsuku.

Pas sama Iris, aku nggak punya kemewahan buat bersikap lembut, tapi karena keperjakaanku udah hilang, aku sekarang punya sedikit lebih banyak ketenangan.

"Phu-ah..."

Pas ciumannya selesai, Cheon Yeo-hwa natap bibirku kayak menyesal, ngambil napas tersengal-sengal.

"Hah, hah..."

Tanpa aba-aba, aku jilat turun ke lehernya, ngelewatin bahu dan tulang selangkanya, terus ke dadanya, di mana aku masukin puting merah mudanya ke mulutku.

"H-Heugh?! A-Apa yang kau lakukan...!"

Slurp, isap, slurp.

Saat aku mulai ngisap putingnya dengan rakus, Cheon Yeo-hwa nggak bisa nyembunyiin kebingungannya.

Ini... nggak ada bedanya sama bayi baru lahir yang nyusu di dada ibunya.

Tindakan yang nggak bisa dipahaminya ini ngaduk-ngaduk emosi aneh dalam dirinya. Bukan cuma ada sensasi geli yang kadang nyetrum dari putingnya, tapi Kang Hyun-woo, yang emang udah kelihatan menawan buatnya, sekarang kelihatan makin menawan aja.

Cheon Yeo-hwa berjuang nahan erangannya saat dia meluk kepala pria yang ngisap putingnya.

Sambil ngisap, aku biarin tanganku ngerayap ke bawah, ngebelai dan ngeremas paha dan pantatnya yang kencang sesukaku, muasin hasrat egoisku.

Saat aku dengan lembut nyentuh area di sekitar pintu masuk vaginanya, dia tersentak keras dan nyoba narik pinggulnya ke belakang.

Aku nggak niat biarin itu terjadi. Tangan yang nopang pinggangnya narik dia keras ke arahku.

Nyadar kalau dia kejebak di penjara yang nggak bisa kabur, Cheon Yeo-hwa mulai gemetar dikit, tapi aku nggak bakal ngasih ampun.

Basah— Pertama kali aku nyentuh memek Cheon Yeo-hwa, pintu masuknya udah licin sama cairannya. Basahnya nggak bisa dibandingin sama apa yang kurasain di ujung kepalaku tadi.

"Bukannya kau agak terlalu basah?"

"H-Hyun-woo, kau terus nyentuh aku..."

Pas kutunjukin jari-jariku yang lengket karena cairannya, dia terbata-bata yang nggak biasa banget dan ngehindarin tatapanku.

Ngelihat sisi dirinya yang ini buat pertama kalinya bikin hatiku berdebar.

"Yeo-hwa."

Tanpa mikir, aku ngecup pipi pucatnya.

Aroma manis yang nyapu hidungku ngerangsang aku sekali lagi.

"Kau cantik banget sekarang."

Hening sejenak, dan wajah Cheon Yeo-hwa langsung berubah jadi merah padam, kayak bunga camellia.

Aku dengan lembut ngebaringinya.


 

Bermandikan cahaya bulan, Cheon Yeo-hwa natap ke arahku, begitu cantik sampai nggak butuh kata-kata lagi.

Kulit pucat dan lembutnya, garis tubuhnya yang halus, payudara dan pantatnya yang besar dan kencang. Pinggang rampingnya, dan tentu saja, pinggul lebarnya yang kelihatannya bisa ngelahirin beberapa anakku.

"Kalau kau nggak nolak sekarang, kau mungkin bakal hamil anakku sebentar lagi. Nggak apa-apa?"

Aku nggak niat ngelepasin dia bahkan kalau dia bilang nggak, tapi aku nanya juga.

"...Aku nggak pernah niat buat nikah sama siapa pun. Wajar saja, aku juga nggak pernah kepikiran buat punya anak."

Cheon Yeo-hwa natapku dengan mata penuh emosi yang nggak bisa kunamain dengan pasti.

Tatapannya agak tajam, tapi sama sekali bukan perasaan yang nggak enak.

"Tapi pas aku mikirin anak yang lahir di antara kau dan aku, pikiran itu sama sekali nggak kerasa nggak enak sedikit pun."

Cheon Yeo-hwa ngebelai kontolku.

"Maukah kau ninggalin bukti kalau kau mencintaiku?"

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...