Otherworld Dating App - Chapter 3: Matching (3)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Itu adalah hari Festival Pendirian Peledeia, 200 tahun yang lalu.

"Yang Mulia."

"Resilia?"

Kanselir Resilia muncul di hadapan Iris, yang sedang begitu sibuk dengan jadwal Festival Pendirian sampai-sampai hampir tak punya waktu untuk bernapas.

"Anda terlihat sangat cantik hari ini."

"Astaga, tumben sekali kau memujiku, Resilia. Sepertinya kerja keras para dayang sejak pagi buta membuahkan hasil."

Mengenakan pakaian tradisional untuk festival, Iris tersenyum mendengar pujian langka dari Resilia.

"Tapi ada angin apa kau ke sini? Kudengar kau sibuk dengan persiapan festival."

"Saya sudah menyerahkan persiapan kepada pejabat di bawah komando saya."

"Hm?"

Iris bingung mendengar perkataannya. Resilia, dengan sifatnya yang teliti, biasanya tidak tahan kalau tidak mengawasi sendiri setiap detail kecil. Bagi dia mempercayakan sesuatu sepenting Festival Pendirian kepada orang lain?

"Ada masalah mendesak yang harus segera saya laporkan kepada Yang Mulia."

"Kepada saya?"

"Ya. Ini adalah sesuatu yang harus Anda ketahui sebelum festival berlangsung, jadi saya tidak punya pilihan selain mempercayakan persiapan kepada orang lain. Saya mohon ampunan Anda."

Melihat sikapnya yang jauh lebih serius dari biasanya, Iris membubarkan para dayangnya dan memimpin jalan ke ruangan terdekat.

"Saya sudah menambahkan dua sendok gula, persis seperti yang Anda suka."

"Hehe, terima kasih."

Iris menunjukkan ekspresi puas saat meminum teh hitam yang disiapkan Resilia untuknya. Namun, seiring cerita Resilia berlanjut, ekspresi Iris menjadi semakin suram.

"...Kekaisaran Utara sedang bersiap untuk perang?"

"Ya, informasi ini berasal dari sumber tepercaya."

Kata 'perang' membuat kepala Iris berdenyut.

"Target mereka bukan kita, kurasa... Siapa?"

"Kerajaan Santala."

"Kerajaan Santala?"

Itu tidak masuk akal. Saat ini, Kekaisaran Utara akan kehilangan lebih banyak daripada yang mereka dapatkan jika menyerang Kerajaan Santala.

"Sebuah tambang mithril baru saja ditemukan di dekat ibu kota Kerajaan Santala."

"Mithril..."

Mithril adalah logam berharga yang digunakan di banyak bidang, tapi rasanya tidak cukup untuk membenarkan sebuah perang. Namun, penemuan tambang mithril juga berarti ada kemungkinan besar adamantium terkubur di sana juga. Adamantium, bahan penting untuk membuat Relik Suci (Holy Relics), adalah hadiah yang cukup bagi Kaisar Berdarah Besi yang gila perang itu untuk mempertaruhkan sebuah perang.

"Apakah Kerajaan Santala sudah meminta bantuan?"

"Ya, permintaan itu disampaikan secara tidak resmi oleh utusan pagi ini."

Itu berarti Kerajaan Santala sudah yakin bahwa perang akan datang. Bagi mereka untuk meminta bantuan dari negara netral seperti Peledeia, Kekaisaran Utara pasti sedang mempersiapkan perang habis-habisan. Masalah seperti ini muncul tepat sebelum Festival Pendirian... Iris harus menelan desah napas yang berat.

"Tolak mereka."

"Tapi, Yang Mulia, Kekaisaran Utara adalah kekuatan militer yang tidak mengakui Kultus Dewi sebagai agama negara. Jika Kerajaan Santala jatuh ke tangan mereka, Kekaisaran Utara akan berbatasan langsung dengan kita."

"Meskipun begitu, kita tidak bisa. Jika kita mengirim bantuan, status kita sebagai negara netral akan terancam. Akan lebih tepat untuk membentuk perjanjian damai dengan Kekaisaran Utara melalui pembicaraan di masa depan."

"...Kaisar Berdarah Besi bukanlah orang yang bisa diajak bicara dengan akal sehat."

Iris bangkit dari kursinya dengan ekspresi tegas.

"Resilia, cukup sampai di sini mengenai masalah ini."

Setelah meninggalkan ruangan, Iris merasa pikirannya, yang sudah dipenuhi dengan persiapan festival, menjadi semakin kusut.

Kekaisaran Utara adalah salah satu kekuatan besar yang bersaing untuk hegemoni atas benua. Jika perang pecah antara kekaisaran seperti itu dan Kerajaan Santala, jumlah orang yang mati pasti tak terhitung banyaknya. Sungai dan ladang akan berlumuran darah, dan jumlah pengungsi yang tercipta akibat perang akan mustahil diperkirakan.

Iris punya sarana untuk mencegah tragedi semacam itu. Dia bisa mengirim bantuan ke Kerajaan Santala. Jika Kerajaan Peledeia mengirim dukungan, negara-negara lain yang memegang Kultus Dewi sebagai agama negara juga akan mengirim bantuan ke Santala atau mengutuk Kekaisaran Utara.

Tidak peduli seberapa kuat Kekaisaran Utara, menjadikan begitu banyak negara sebagai musuh akan menjadi beban berat. Kemungkinan besar skala perang akan berkurang, atau perang itu sendiri mungkin tidak akan terjadi.

Bahkan meski mengetahui ini, Iris tidak bisa memilih opsi itu. Status negara netral hanya bisa dipertahankan dengan tetap netral selamanya.

Untuk saat ini, ada banyak negara manusia yang menghormati elf dan telah mengadopsi Kultus Dewi sebagai agama negara mereka, tapi perjalanan waktu berbeda bagi manusia dan elf. Iris yakin bahwa di masa depan yang tidak terlalu jauh bagi seorang elf, pengaruh Kultus Dewi akan memudar, dan sebuah era akan datang di mana manusia tidak lagi memandang elf sebagai objek keimanan.

Dia harus mengabaikan permintaan bantuan Kerajaan Santala demi mempersiapkan diri menghadapi era itu. Untuk menghindari memberi alasan perang kepada mereka yang suatu hari nanti mungkin akan memamerkan taringnya pada Peledeia, dia harus bisa menutup mata, bahkan terhadap perang yang ditakdirkan berakhir mengerikan.

Sebab dia adalah Ratu Peledeia, pemimpin para elf yang dipilih oleh Pohon Dunia. Dia tidak punya pilihan selain menyelamatkan ribuan kaumnya di atas nyawa puluhan ribu manusia.

'Pilihanku tidak salah.'

Saat Iris naik ke keretanya, langkahnya terasa agak berat. Ketika kereta mendekati Tanah Suci, jalanan mulai dipadati oleh rakyat Peledeia.

-Lihat! Itu kereta Ratu!

-Yang Mulia!

-Aah!

-Terima kasih atas segalanya, Yang Mulia!

Mendengar suara ceria rakyatnya, Iris mengingatkan dirinya sendiri berulang kali, tepat sampai saat dia melangkah keluar dari kereta, bahwa dia tidak salah.

Iris melangkah hati-hati menuju Pohon Dunia—pohon kolosal yang begitu tinggi hingga dia tak bisa melihat puncaknya bahkan saat mendongak, ibu dari semua elf, dan satu-satunya dewa sejati mereka. Di altar Pohon Dunia, Iris berlutut dengan tenang.

Kemudian, ranting-ranting ramping memanjang dari Pohon Dunia, membentuk mahkota daun salam dan menempatkannya di atas kepalanya. Festival Pendirian Peledeia adalah upacara penting untuk berdoa kepada ibu dan satu-satunya dewa sejati mereka, Pohon Dunia, demi kemakmuran dan kedamaian tahun mendatang.

Pada hari terpenting di Peledeia ini, hari yang tak boleh diganggu oleh siapa pun, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

-A-Apa-apaan itu...?!

-Hah? Pohon Dunia sedang...??

-Tidak mungkin... Itu belum pernah terjadi sebelumnya!

-Apa ada yang salah??

-Yang Mulia Ratu...

Kerumunan itu, tanpa terkecuali, tidak bisa menyembunyikan kebingungan mereka, bergumam satu sama lain.

"P-Pohon Dunia...??"

Seolah-olah Pohon Dunia sedang mundur, menolak Iris. Sejak Iris naik takhta, Festival Pendirian telah diadakan sebanyak tiga kali, tapi tidak ada hal seperti ini yang pernah terjadi.

Seperti anak yang ditelantarkan, Iris mengulurkan tangan gemetar ke arah Pohon Dunia, tapi pohon itu hanya menarik ranting-rantingnya kembali, seakan masih enggan bersentuhan. Melihat pemandangan ini, gumaman kerumunan menjadi semakin keras.

Tepat saat para kesatria, yang tidak bisa menoleransi kekacauan lebih lanjut, bergerak untuk menenangkan massa, sebuah suara yang cukup keras untuk bergema di seluruh Tanah Suci terdengar.

"Dia adalah pendosa!"

Mendengar ucapan yang benar-benar menghujat yang ditujukan pada Ratu, pandangan semua orang beralih ke pembicara. Di dasar tangga menuju altar, cukup banyak orang terkejut melihat identitas wanita yang berdiri di sana. Dan Iris pun sama kagetnya.

"R-Resilia...?"

Resilia, kanselir kerajaan, berdiri dengan pedang terhunus, menatap tajam ke arah Iris.

"Rakyat Peledeia! Pohon Dunia sekarang sedang mengekspresikan kemurkaannya karena harus berhadapan dengan pendosa paling hina!"

Mendengar kemunculan tiba-tiba sang bangsawan, rakyat jelata secara naluriah menundukkan kepala. Dan para komandan kesatria, semuanya serempak, melepaskan killing intent (niat membunuh) mereka ke arah Resilia.

Killing intent yang memancar dari seorang kesatria yang telah mencapai ranah master adalah bilah tak kasatmata yang bisa membunuh. Namun Resilia, yang menerima kekuatan penuh dari killing intent para komandan secara langsung, tidak bergeming.

Para kesatria saling pandang dengan tidak percaya. Ini bukan kanselir, tapi pengkhianat. Bagaimana mungkin seorang pejabat sipil biasa bisa menahan killing intent yang dimaksudkan untuk mengakhiri hidupnya?

"Dasar wanita terkutuk, apa kau akhirnya sudah gila!"

"Kanselir! Berani-beraninya kau menunjukkan rasa tidak hormat seperti itu kepada Yang Mulia Ratu!"

"Jangan berani-berani menyalahartikan kehendak Pohon Dunia!"

Beberapa bangsawan tingkat tinggi meninggikan suara mereka, tapi Resilia tidak menggubris mereka. Sebaliknya, langkah tenangnya menuju Iris sudah cukup untuk membuat para kesatria naik pitam. Murka, para kesatria menghunus pedang mereka dan memblokir jalannya.

"Berhenti! Hanya Yang Mulia Ratu yang diizinkan melewati titik ini!"

"Berani-beraninya orang hina sepertimu mencoba menginjakkan kaki di Tanah Suci!"

"Pengkhianat!"

Aura kebiruan terbentuk pada pedang tiga komandan Kesatria Kerajaan yang melindungi keluarga kerajaan. Bahkan di hadapan bukti kekuatan super yang luar biasa ini, yang tidak akan pernah bisa dihadapi oleh orang biasa, Resilia tidak berkedip.

Sebaliknya, ekspresi yang mekar di bibirnya bukanlah senyum lembut yang biasanya dia tunjukkan pada pelayannya, melainkan sebuah seringaian meremehkan.

"Pfft. Ratu? Jangan bikin aku tertawa."

"K-Kau... Dasar kau makhluk penista!!!"

Wajah Komandan Kesatria Kerajaan Pertama, yang dikenal karena sifat lembutnya, berubah menjadi geraman iblis. Tepat saat pedangnya, yang diayunkan secepat kilat, hendak mencapai leher Resilia, seorang kesatria berjubah hitam muncul entah dari mana dan memblokir bilah sang komandan.

"Resilia! Kau akhirnya sudah gila! Berani-beraninya kau membawa orang luar ke Tanah Suci?!"

"Ternyata komandan kesatria bukan sesuatu yang istimewa."

"Dasar bajingan!!"

Komandan kesatria yang murka mulai bertukar serangan dengan sungguh-sungguh melawan kesatria tak dikenal itu. Saat kesatria lain bergerak untuk bergabung dalam pertempuran, lusinan sosok berjubah hitam lainnya muncul di hadapan mereka.

Para komandan kesatria terperangah melihat kemunculan mereka. Dari mana datangnya orang-orang ini? Kesatria Kerajaan adalah pasukan elit kecil. Setiap dari mereka adalah petarung terampil yang telah mencapai tahap kebangkitan dan mampu memproyeksikan aura mereka. Tapi musuh mereka memancarkan aura keberadaan yang setara dengan para kesatria itu.

Terlebih lagi, sekitar tiga dari mereka, termasuk pria yang bertarung melawan komandan, adalah master yang telah mencapai ranah yang sama dengan para komandan kesatria itu sendiri.

"Hentikan mereka."

"Baik."

Atas perintah Resilia, kelompok misterius itu menerjang ke arah para kesatria. Sekilas, jumlah dan kemampuan mereka tampak seimbang, tapi begitu mereka bentrok, kesenjangan itu menjadi nyata. Meskipun mereka memproyeksikan aura tingkat ahli, mereka tidak setara dengan Kesatria Kerajaan. Paling banter, mereka hanya bisa mengulur waktu.

Tentu saja, justru itulah tujuan Resilia. Sementara mereka menahan para kesatria, Resilia bergerak dengan ketangkasan tinggi, mencapai Iris dalam sekejap.

"Resilia!"

Iris menyayangi Resilia lebih dari siapa pun, tapi dia sekarang sudah melampaui batas yang bisa dimaafkan. Iris memang lembut, tapi dia adalah penguasa sebuah bangsa. Kebaikan hati saja tidak bisa memerintah negara. Menghukum bawahan yang telah melampaui batas dengan tegas juga merupakan kebajikan seorang penguasa. Meskipun dia bingung dengan reaksi Pohon Dunia, itu tidak cukup untuk membuatnya mengabaikan kejahatan Resilia.

"Jangan terlalu marah, Yang Mulia."

Bibirnya tersenyum, tapi matanya tidak. Memasang senyum yang mengerikan, Resilia tiba-tiba melakukan kekejaman yang tak pernah bisa diprediksi oleh siapa pun.

"Resilia!!"

Iris, para bangsawan, dan seluruh rakyat Peledeia yang memadati alun-alun—semua orang ngeri melihat apa yang terjadi selanjutnya.

"Jadi ini yang kau rasakan, Pohon Dunia."

Sebuah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya telah terjadi: seorang elf biasa, tak lebih dari ciptaan dewa, berani menyentuh langsung tubuh ilahi (divine body) Pohon Dunia. Itu adalah tindakan pengkhianatan tingkat tinggi di mana memusnahkan seluruh keluarga besarnya pun tak akan cukup sebagai hukuman, tapi situasinya tidak berhenti di situ. Kejadian yang lebih mencengangkan menyusul.

"P-Pohon Dunia sedang...?!"

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa... pada wanita seperti dia!!"

Kerumunan itu terdiam seribu bahasa saat ranting-ranting memanjang dari Pohon Dunia, melilit Resilia dalam sebuah pelukan.

"Anda diizinkan untuk marah sekarang, Lady Iris." 

Senyum jahat dan penuh firasat buruk mekar di wajah Resilia saat dia menatap Iris. 

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...