
Setelah kehilangan segalanya karena skema Tuan Muda Pertama, Cheon Yeo-hwa telah menderita penghinaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Namun, dia merasa amarah yang mendidih di dalam dirinya sekarang bahkan lebih besar daripada apa yang dia rasakan saat itu.
“Aku tanya apa cara yang kedua!!”
“Nngok…”
Dengan ekspresi murka, Cheon Yeo-hwa mengguncang Kang Hyun-woo bolak-balik. Tapi dia tidak mau bangun, seolah dia sudah meminum Bubuk Pemikat.
Cheon Yeo-hwa menatap Kang Hyun-woo dengan tajam, mendidih karena marah. Kalau dipikir-pikir lagi, jelas dia mengungkit topik aneh "cara membuat seseorang marah" cuma untuk menggodanya sejak awal.
“Berani-beraninya kau mempermainkanku dengan kata-kata seperti ini…!!”
Betapa kurang ajarnya! Sangat kurang ajar sampai aku tidak tahan lagi.
Pada akhirnya, Cheon Yeo-hwa memutuskan untuk menghukumnya. Sebelum dia diserang oleh racun ekstrem, dia dikenal sebagai Penyihir Roh Bulan (Moon Spirit Witch), seorang wanita yang telah menyebabkan korban tak terhitung jumlahnya tanpa membedakan antara Faksi Ortodoks dan Jahat. Sekarang, Tangan Ilahi Roh Bulan-nya turun ke atas Kang Hyun-woo.
“Huhu, betapa kurang ajarnya untuk seorang mesum.”
Uyel, uyel. Pipi Kang Hyun-woo berulang kali dipencet dan ditarik seperti tanah liat.
“Ugh…”
Astaga, mencengkeram pipi orang yang sedang tidur dan memainkannya seperti mainan. Kekejaman Penyihir Roh Bulan membuat bumi menangis dan surga berpaling.
Saat dia sedang bermain dengan pipi Kang Hyun-woo yang masih tertidur, wajah Cheon Yeo-hwa tiba-tiba memucat.
Plak! Rasa perih yang menyengat muncul dari pipinya yang memerah, akibat tamparan yang cukup keras.
'Bisa-bisanya aku menurunkan kewaspadaanku begitu banyak cuma gara-gara makanan dan tempat tidur.'
Dirinya di masa lalu tidak akan pernah menoleransi perilaku seperti itu. Parahnya lagi, dia bahkan berakhir tidur dengan pria asing yang baru dikenalnya sedikit lebih dari setengah hari.
“Hah…”
Bagaimana bisa jadi begini? Dia sudah menjadi sangat berbeda dari dirinya di masa lalu. Apa yang akan dikatakan dirinya di masa lalu dan mantan bawahannya jika mereka melihatnya begitu tidak waspada terhadap orang lain?
Lemah. Menyedihkan. Berubah.
Mereka pasti akan mengutuknya dengan kata-kata seperti itu. Tentu saja, setelah kalah dalam kontes suksesi, itu adalah fakta tak terbantahkan bahwa dia tidak akan pernah bisa kembali ke masa-masa itu. Jika memang begitu, apa masih perlu kembali menjadi orang itu?
'…Alasan yang murahan.'
Itu adalah pembenaran yang egois. Naluri yang melingkar di dalam dirinya sedang berbicara.
Bunuh dia sekarang. Tinggalkan tempat ini dan bangun kekuatanmu. Bahkan jika kau kehilangan segalanya, selama kau bertahan hidup, kau bisa mulai lagi.
Bahkan jika semua hewan yang minum dari danau mati, tujuan danau itu tidak akan hilang. Akhirnya, hewan-hewan baru akan datang ke danau untuk minum. Aku adalah danau. Danau besar yang akan memperkaya tanah tandus Sekte Ilahi yang luas.
Danau hanya perlu jernih dan murni. Membiarkan hal-hal kotor bercampur itu tidak perlu.
'Kalau aku membunuhnya sekarang…'
Apakah hati lemah yang ingin puas dengan masa kini ini akan menghilang juga? Tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri, Cheon Yeo-hwa menatap kosong ke kejauhan dengan mata hampa. Begitu tenggelam dalam pikirannya hingga dia bahkan tidak ingat kapan dia tertidur.
Cuit, cuit—
Ketika kicau burung yang nyaring memaksaku membuka kelopak mata yang berat, aku merasa kebingungan. Ini jelas pagi, dilihat dari cahaya yang menyaring melalui tenda, jadi kenapa aku masih di dunia ini?
[Sisa Waktu Matching: 13:51:34]
“Kenapa… aku masih punya 14 jam tersisa?”
Aku yakin saat dengan Iris, match pertama memberiku kelonggaran waktu sekitar delapan jam. Masuk akal untuk berasumsi aku bakal diberi waktu yang kurang lebih sama di dunia ini.
Aku tiba di sini sekitar jam 1 siang, dan aku tertidur sekitar jam 7 atau 8 malam. Tubuhku seharusnya kembali ke Bumi saat aku tidur. Aku tertidur dengan pemikiran itu.
Tapi bukan hanya aku masih di sini, aku punya sisa waktu matching sebanyak 14 jam.
'Kenapa?'
Tring—
[Tips. Saat matching dengan koneksi baru, waktu yang dihabiskan untuk tidur tidak dimasukkan dalam waktu matching.]
'Seriusan?'
Apa-apaan ini? Nggak mungkin aplikasinya sebaik ini.
Sesaat, aku curiga dengan kebaikan aplikasi yang berlebihan ini, tapi syaratnya terlalu manis untuk ditolak. Ini sebenarnya sesuatu yang kukhawatirkan. Kalau waktu yang kuhabiskan untuk tidur di dunia lain dihitung sebagai waktu matching, aku entah harus kembali ke Bumi setiap kali aku tidur atau menghabiskan banyak waktu.
Dan kalau aku kembali ke Bumi? Aku harus menunggu beberapa hari untuk match berikutnya.
Saat Tingkat Ikatanku dengan Iris masih 0, waktu matching hanya sedikit di atas delapan jam. Tapi saat naik ke Level 1, itu bertambah jadi 12 jam, dan setelah pertemuan terakhir kami, Tingkat Ikatanku mencapai 3.
'Tidak termasuk waktu aku tidur, aku sudah di sini sekitar setengah hari, jadi… apa itu berarti kasarnya 20 jam?'
Tampaknya sementara Tingkat Ikatan berlaku untuk setiap orang secara individual, peningkatan waktu matching yang dihasilkan mengikuti Tingkat Ikatan tertinggi yang dicapai.
'Aku nggak tahu kenapa aplikasinya jadi dermawan banget, tapi setidaknya aku nggak perlu khawatir kehabisan waktu buat setiap match… Tunggu, kenapa lenganku berat banget?'
Aku sudah merasakan beban yang tak teridentifikasi di lengan kananku sejak tadi. Penasaran apa itu, aku menoleh dan melihatnya.
“Mmm…”
“...?”
Itu Cheon Yeo-hwa, tidur nyenyak sambil pakai lenganku sebagai bantal.
'Pantesan lenganku kesemutan banget…'
Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, aku melihat sekeliling, tapi aku tidak bergerak satu inci pun dari tempatku tertidur semalam. Malahan, Cheon Yeo-hwa yang berguling ke arahku. Buktinya adalah ruang kosong yang cukup luas di belakang punggungnya.
“Kebiasaan tidurnya jelek juga.”
Apa dia benar-benar Nona Muda dari Sekte Iblis Surgawi? Aku sudah memikirkannya sejak kemarin, tapi tindakannya tampak agak canggung.
'Apa aku bangunin saja ya?'
Aku mempertimbangkannya sebentar tapi memutuskan untuk membiarkannya saja. Kalau dia bangun dalam keadaan begini, dia pasti bakal bikin ribut, manggil aku mesum dan nuduh aku nunjukin sifat asliku. Aku terlalu capek buat ngadepin kekacauan macam itu pagi-pagi buta.
Lenganku memang kesemutan, tapi kalau aku mengalirkan kekuatan sihirku, darahku bakal mengalir lancar juga. Dengan begitu, sedikit kesemutan bukan masalah.
“Tetap saja, dia cantik banget nggak ngotak.”
Kulitnya bersih dan semulus porselen, bulu matanya panjang dan tajam namun glamor. Kami berdua berambut hitam, tapi kalau rambutku kasar kayak bulu gagak, rambutnya kayak sutra. Kalau Iris berbau rumput harum, Cheon Yeo-hwa punya aroma parfum yang lembut tak berujung. Itu bukan parfum buatan yang biasanya dipakai wanita, melainkan aroma kontradiktif yang murni sekaligus merangsang.
Saat aku memperhatikannya tidur sejenak, aku teringat apa yang dia katakan padaku semalam.
—Kupikir kau ini pembunuh bayaran yang dikirim oleh Tuan Muda Pertama untuk membunuhku.
Satu kalimat itu membantuku memahami semua hal aneh yang kuperhatikan darinya.
Fakta bahwa Nona Muda Kedua dari Sekte Iblis Surgawi sedang mandi di tepi danau jauh di dalam hutan. Fakta bahwa dia memakai pakaian compang-camping yang kelihatannya sudah dipakai berbulan-bulan. Fakta bahwa dia berkeliaran di Shaanxi, sangat jauh dari Seratus Ribu Pegunungan Besar (Hundred Thousand Great Mountains), markas besar sekte.
Semuanya dijelaskan oleh satu kalimat yang dia ucapkan semalam.
'Perselisihan suksesi, semacam itu?'
Dilihat dari kepribadiannya yang unik, kupikir dia anak 'sendok berlian' yang menjalani hidupnya dengan menyuruh-nyuruh orang.
“…Sepertinya dia sudah melewati masa sulit dengan caranya sendiri.”
Aku punya penderitaanku sendiri sebagai yatim piatu korban perang, tapi setidaknya aku tidak pernah khawatir bakal dibunuh. Aku juga belum pernah hidup kayak gembel di tanah antah berantah yang butuh waktu setidaknya setengah tahun untuk ditempuh.
Pada titik ini, aku mulai merasa sedikit kasihan pada Cheon Yeo-hwa yang keras kepala itu.
'Tapi kenapa dia tidur dengan rambut masuk ke mulut?'
Melihatnya praktis memakan rambutnya sendiri, aku mencoba menariknya keluar tapi tidak sengaja menyentuh bibirnya. Rasanya sangat lembut dan lembap, memang enak sih, tapi…
“...?”
Sepertinya itu jadi pemicunya, karena Cheon Yeo-hwa terbangun.
“Oh, nyenyak tidurnya?”
“…Kau.”
Benar-benar mengabaikan sapaan pagiku yang ceria, suara berat dan penuh niat membunuh mengalir dari bibir Cheon Yeo-hwa.
“Apa kau ingat syarat yang kutetapkan untuk menemanimu?”
“…Jalan di depan, jawab pertanyaanmu dengan jujur, dan kasih kau cokelat?”
“Ingatanmu bagus. Kalau begitu, jawab pertanyaanku dengan jujur.”
Bangun dari lenganku, Cheon Yeo-hwa sekarang memegang sesuatu yang familier di tangan kirinya.
“Ditusuk atau ditebas. Mana yang kau pilih?”
Setelah keributan di dalam tenda, keduanya sekali lagi berjalan menembus hutan menuju Xi'an, ibu kota provinsi Shaanxi.
“…”
“…”
Mereka mempertahankan keheningan yang berat, tidak berbeda dari kemarin. Percakapan singkat yang mereka lakukan semalam pastinya telah membuat mereka sedikit lebih dekat.
Tapi selama lebih dari empat jam, tak ada satu patah kata pun yang terucap di antara mereka. Kang Hyun-woo diam karena kesal, Cheon Yeo-hwa karena malu.
Awalnya, dia mengira pria itu mencoba menempelkan tangan kotornya padanya saat dia sedang tidur. Tentu saja, tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari itu salah pahamnya, tapi saat itu, pria itu sudah babak belur karena sarung pedang yang dia ayunkan padanya.
Bahkan jika itu adalah bencana yang terjadi saat dia masih setengah sadar karena ngantuk, itu jelas salahnya. Sayangnya, Cheon Yeo-hwa tidak tahu cara meminta maaf kepada orang lain.
Dia tahu teorinya, tapi karena belum pernah sekalipun meminta maaf pada siapa pun, dia tidak tahu bagaimana memulainya atau bagaimana mengakhirinya.
Dalam hukum rimba, salah satu hukum Sekte Ilahi, permintaan maaf adalah permohonan hina yang dibuat oleh yang lemah kepada yang kuat. Bagi Cheon Yeo-hwa, yang akan menjadi penerus Pemimpin Sekte yang agung, meminta maaf tidak ada bedanya dengan tindakan rendah yang tidak boleh dilakukan. Begitulah dia diajari, begitulah dia belajar, dan begitulah kehidupan yang seharusnya dia jalani.
Sejak awal, Cheon Yeo-hwa tidak se-tidak kompeten itu sampai harus meminta maaf kepada orang lain. Penilaiannya selalu benar, dan bawahan yang gagal mengikuti perintahnya harus menundukkan kepala di hadapannya dan memohon ampun atas nyawa mereka dengan kedok permintaan maaf.
Namun, setelah jatuh ke dalam skema Tuan Muda Pertama, dia tidak bisa lagi yakin apa penilaian yang benar. Dia bahkan tidak yakin apakah meminta maaf padanya sekarang adalah hal yang benar untuk dilakukan.
'Memang benar ini salahku karena tidur di lengannya tanpa izin, dan karena salah paham lalu memukulnya pakai sarung pedang, tapi…'
Haruskah aku minta maaf? Lalu bagaimana aku harus melakukannya? Haruskah aku menundukkan kepalaku seperti yang dilakukan bawahanku?
Tak peduli seberapa banyak dia memikirkannya, itu sepertinya tidak benar. Lalu haruskah aku bilang maaf begitu saja?
'…Apa cuma itu yang diperlukan untuk minta maaf?'
Bukankah mencoba lolos begitu saja hanya dengan beberapa kata akan terlihat lebih kurang ajar? Kalau begitu, haruskah aku menawarkan hadiah yang akan menggodanya? Tapi yang kupunya sekarang cuma sebilah pedang dan jubah compang-camping ini…
Plak!
'A-Aku pasti sudah gila. Bisa-bisanya aku kepikiran menawarkan tubuhku!'
Cheon Yeo-hwa memarahi dirinya sendiri karena punya pemikiran seperti itu, bahkan walau hanya sesaat. Bahkan jika dia naik ke posisi Pemimpin Sekte, dia tidak punya niat untuk menikah dengan pria mana pun. Dia jelas tidak punya niat untuk menawarkan tubuhnya.
Tapi di sinilah dia, memiliki pemikiran memalukan seperti itu tentang pria yang baru dikenalnya sehari! Ini tidak ada bedanya dengan jadi pelacur!
“Wah, apaan tuh? Kenapa tiba-tiba nampar pipi sendiri??”
“…Itu cuma serangga.”
“Serangga?”
Seorang seniman bela diri menampar pipinya sendiri cukup keras sampai bunyi cuma gara-gara serangga? Kang Hyun-woo tidak bisa memahaminya, tapi karena dia bilang begitu, dia tidak mendesaknya lebih jauh.
Cheon Yeo-hwa menatap Kang Hyun-woo berjalan di depan lagi dengan ekspresi cuek, menggigit bibirnya. Dia merasa kalau dia tidak mengatakannya sekarang, dia tidak akan pernah mengatakannya.
“…Apa kau baik-baik saja?”
Satu kalimat, seberat Beban Seribu Jin (Thousand Jin Weight), berjuang melewati tenggorokannya dan akhirnya muncul ke dunia.
“Soal apa?”
“Apa kau tidak terluka karena aku mengayunkan sarung pedangku…”
Buktinya adalah memar di sana-sini di wajah Kang Hyun-woo. Bahkan bagi Cheon Yeo-hwa, Nona Muda dari Sekte Ilahi—tempat yang dipenuhi Manusia Iblis dan diatur oleh hukum rimba yang gila—dia sadar bahwa dia sudah keterlaluan kali ini. Bukan cuma dia telah menyelamatkannya, tapi dia juga telah memberinya makanan lezat dan tempat tidur yang hangat.
“A-Aku… rasa aku harus minta maaf padamu…”
Cheon Yeo-hwa tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan akhirnya menundukkan kepalanya sepenuhnya. Melihat ini, Kang Hyun-woo tertawa kecil.
“Apa? Jangan bilang kau diam terus dari tadi gara-gara itu?”
Cheon Yeo-hwa menganggukkan kepalanya yang tertunduk dalam-dalam. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang semerah tomat padanya. Dia pasti bakal ngejek aku lagi.
“Kau mengkhawatirkan hal-hal yang paling aneh. Kupikir kau nggak bakal peduli sama sekali soal hal-hal kayak gitu.”
Kang Hyun-woo merasa dia sedikit lebih memahami Cheon Yeo-hwa sekarang.
“Aku sudah melupakannya kok, jadi jangan khawatir.”
“…Benarkah?”
“Iya.”
Melihat sisi tak terduga darinya ini, Kang Hyun-woo menggelar tikar di dekatnya.
“Ayo makan siang.”
Hari itu, mata Cheon Yeo-hwa membelalak saat memakan pasta krim yang disajikan untuk makan siang, bikin heboh banget. Ternyata cewek suka pasta itu sama aja ya di dunia lain.
Sebuah ngarai di dekat Xi'an. Kehadiran Sekte Gunung Hua dan Southern Edge telah mengusir semua Faksi Jahat besar keluar dari Shaanxi, tapi kekuatan ketiga telah memantapkan dirinya di sini, tidak diketahui oleh siapa pun.
“Tuan Besar (Great Master).”
“Ada apa?”
“Kami telah menemukan mereka.”
Di masa lalu, setelah gagal menaklukkan Dataran Tengah pada dua kesempatan terpisah, Sekte Iblis Surgawi mengubah strateginya, memutuskan untuk mendirikan cabang rahasia di wilayah sekte dan keluarga bangsawan Faksi Ortodoks.
Risiko ketahuan meningkat, tapi itu semua untuk mencegah bajingan-bajingan itu bersatu di bawah nama Aliansi Bela Diri ketika saatnya tiba untuk penaklukan besar sekte tersebut. Bahkan jika Faksi Ortodoks menemukan lokasi sebuah cabang, itu tidak masalah. Lagipula tidak ada jejak Sekte Ilahi di sini. Kecuali Tuan Besar, tak satu pun anggota mempraktikkan seni iblis. Apa yang mereka pelajari adalah seni bela diri dari Faksi Jahat atau imitasi dari seni bela diri Ortodoks.
Ditempatkan di sini, di rumah ketiga cabang Shaanxi Sekte Iblis Surgawi, adalah mereka yang berada di bawah komando Tuan Muda Pertama. Misi mereka, bekerja sama dengan pasukan Tuan Muda Pertama di cabang-cabang lain, adalah mencari dan membunuh Nona Muda Kedua yang telah melarikan diri ke Dataran Tengah.
“Itu Serigala Putih (White Wolf).”
Mendengar laporan dari anggota yang berpakaian serba hitam, Tuan Besar tersenyum. Itu adalah senyum aneh di wajah yang dipenuhi bekas luka.