
Bahkan aku harus mengakui, inventaris adalah kemampuan yang overpowered. Meskipun dengan sihir penurun berat, tenda tetaplah tenda. Wujudnya besar, sehingga sulit membawa beberapa tenda dalam satu tas. Tapi dengan inventaris, aku bisa menyimpan berton-ton barang yang sama dalam satu slot.
Dengan kata lain, aku punya beberapa tenda untuk satu orang lagi di inventarisku. Mungkin kedengarannya banyak, tapi kalau soal cadangan, makin banyak makin bagus.
“Apa kau benar-benar laki-laki sampai tidak bisa mengalah memberikan tempat tidur untuk seorang wanita?”
Nggak bisa dipercaya.
“Sekarang panggil 'laki-laki'? Ke mana perginya orang yang baru saja manggil aku mesum tadi?”
“Ugh...!”
Sebagai catatan, aku bukan tipe pendendam atau picik. Perdebatan ini bukan semacam balas dendam kekanak-kanakan atas apa yang terjadi siang tadi. Aku cuma mau ngerjain Cheon Yeo-hwa, yang kelihatannya keras kepala banget. Kapan lagi aku dapat kesempatan buat godain dia? Biasanya dia bahkan nggak ngasih aku kesempatan buat ngomong.
“Kalau kau benar-benar mau tidur di tenda, kau bisa tidur bareng aku aja.”
“Jadi kau akhirnya menunjukkan sifat aslimu ya, dasar hidung belang!”
“Percaya deh sama aku, oke? Aku cuma bakal pegangan tangan kok.”
“Aku tidak punya kakak laki-laki sepertimu! Dan kau dan aku jelas tidak punya hubungan untuk pegangan tangan!”
“Sayang sekali.”
Lihat itu. Reaksinya lebih bagus dari dugaanku. Dia kayak boneka imut yang ngeluarin suara memuaskan pas dicubit, yang bikin godain dia jadi seru.
“Kalau gitu kau bisa tidur di luar.”
Tentu saja, kalau kau tanya apa aku nggak ngerasa apa-apa diperlakukan kayak orang mesum seharian, aku nggak bisa bilang aku sama sekali nggak terpengaruh. Tapi godain Cheon Yeo-hwa jauh lebih seru.
Dia pasti nggak nyangka aku bakal sekeras ini, karena aku hampir bisa denger suara otaknya yang lagi muter.
“...Apa yang kau inginkan?”
Sekarang mencoba membawaku ke meja perundingan, Cheon Yeo-hwa memasang ekspresi tekad yang suram. Saat dia mencengkeram kerah jubahnya erat-erat, itu menciptakan semacam pesona aneh, kontras imut yang kurang pas dengan identitasnya sebagai putri Sekte Iblis Surgawi.
“Yang kuinginkan? Aku sudah bilang.”
“T-Tidur bersama itu tidak mungkin!”
Wajah Cheon Yeo-hwa memerah padam, kelihatannya bakal meledak kapan saja. Apa sih yang dipikirin wanita ini?
“Tidur bareng?”
“Bukankah kau sendiri yang baru saja mengatakannya! Kalau kau cuma bakal p-pegang tanganku dan tidur...”
“Yang kubicarakan itu alasanmu pergi ke Xi'an. Aku sudah tanya tadi, tapi kau tidak pernah ngasih tahu.”
“...Apa?”
Detik itu juga, mata tajam Cheon Yeo-hwa membelalak.
“Bagian soal tidur bareng itu jelas cuma bercanda lah.”
Saat aku mengatakannya sambil bercanda dengan ekspresi polos, wajah Cheon Yeo-hwa langsung kusut.
“Hmph...!”
Entah ngambek karena apa, dia menatapku dengan niat membunuh, lalu berbalik dan menyerbu masuk ke dalam tenda. Dia kelihatan kayak kucing yang lagi ngeklaim tempatnya.
Dalam sekejap mata, aku kehilangan tendaku. Saat aku menatap kosong ke arah tenda, kayak pemilik kontrakan yang baru saja rumahnya dicuri penyewa, matahari terbenam benar-benar menghilang di balik pegunungan.
Tepat saat aku mikir mau ngeluarin tenda lain, perutku keroncongan, minta diisi. Kalau dipikir-pikir, aku belum makan apa pun sejak masuk ke dunia Murim. Setelah jalan seharian, nggak heran perutku lagi demo besar-besaran.
'Apa dia nggak lapar?'
Bahkan untuk seorang seniman bela diri, orang selevel Cheon Yeo-hwa mungkin nggak bisa sembarangan ngelewatin waktu makan. Pastinya dia nggak lagi diet, kan.
“Kau nggak mau makan malam?”
“...”
Cheon Yeo-hwa, yang sudah bikin sarang sendiri di dalam tenda, tidak menjawab. Sepertinya dia beneran ngambek berat.
'Apa aku terlalu kelewatan?'
Kalau dipikir-pikir lagi, kata-kataku mungkin terdengar agak tidak sopan bagi putri Sekte Iblis Surgawi. Kurasa aku mendekatinya dengan terlalu banyak kepekaan modern.
Tapi kalau soal mencoba membujuknya, aku sama sekali nggak tahu gimana cara menghibur wanita.
'Mungkin kalau aku masakin dia sesuatu yang enak, dia bakal sedikit ceria?'
Mengingat ekspresi bahagianya setiap kali makan cokelat, ide itu nggak sepenuhnya tanpa dasar. Pertanyaannya, aku harus bikin apa?
'Bahan apa saja yang kupunya sekarang?'
Sebagai referensi, waktu berhenti untuk bahan-bahan di dalam inventaris. Kalau aku pesan mi kacang hitam dan langsung memasukkannya ke inventaris, waktu akan membeku, dan aku bisa menikmati mi yang nggak lembek kapan saja. Tapi aku nggak mau menuhin inventarisku dengan makanan pesan-antar. Aku sudah sering banget makan itu selama tinggal sendirian sampai aku muak, dan pikiran buat makan itu tiga kali sehari di sini agak berlebihan.
Sebagai gantinya, aku sudah memborong daging sapi mahal dari supermarket yang biasanya nggak bakal kusentuh, bersama dengan berbagai bumbu dan mentega.
Tentu saja, punya lebih banyak jenis bahan berarti ruang inventarisku makin menipis, tapi ini semua demi makan enak. Aku nggak mau terlalu perhitungan soal apa yang kubawa. Saat ini, makanan di inventaris dan tasku sekitar 60% ransum darurat berkalori tinggi dan 40% bahan mahal dan sulit didapat kayak daging sapi. Sebagai catatan, sekitar 40% dari ransum darurat adalah makanan pesan-antar kemasan. Jujur saja, cuma sedikit pilihan makanan enak kalau cuma ngandelin ransum darurat murni.
Tetap saja, masak setiap hari itu repot, jadi aku enggan menambah proporsi bahan mentah. Bahkan kalau aku bosan makan hal yang sama, pada akhirnya, yang sudah akrab sering kali yang terbaik.
'Sudah kuputuskan.'
Menu untuk putri Sekte Iblis Surgawi malam ini adalah steak, dibuat dengan daging sapi Hanwoo 1++—khususnya, bagian sirloin strip, yang paling minim perdebatan. Tentu saja, aku belum pernah makan steak sebelumnya. Paling banter cuma makan daging bagian kaki depan buat sup. Secara alami, aku belum pernah masak steak juga.
Tapi aku tidak khawatir.
'Ini kan bukan restoran mewah. Aku cuma perlu melempar daging sapi yang sudah digarami ke atas wajan dengan minyak zaitun dan memasaknya.'
Aku sudah sering lihat videonya di internet.
Setelah cuci tangan kilat, aku menaruh wajan pemanggang besar di atas api. Sambil nunggu panas, aku ngeluarin sirloin untuk malam ini. Beratnya sekitar dua kilogram. Satu porsi steak biasa itu sekitar 300 gram, jadi ini harusnya lebih dari cukup. Kelihatannya banyak, tapi nafsu makanku meningkat sejak jadi mage, dan kupikir Cheon Yeo-hwa, karena dia seniman bela diri, bakal makan banyak juga.
Aku menaburkan garam di kedua sisi daging sapi di atas talenan. Aku sempat mikir mau nambahin lada, tapi kudengar dengan daging berkualitas bagus, lada kadang-kadang bisa ngerusak rasa, jadi aku lewati saja dulu. Setelah bumbu super simpel itu, aku biarkan dagingnya sebentar lalu menuangkan minyak zaitun secukupnya ke atas wajan yang sudah panas.
'Udah waktunya dimasukin.'
Aku meletakkan daging sapi ke wajan dengan hati-hati.
Cesss—
Suara daging digoreng dalam minyak menggema di hutan yang sunyi. Suara yang menggelitik telinga itu bikin perutku keroncongan lagi.
Dan nggak mungkin Cheon Yeo-hwa, seorang seniman bela diri dengan indra yang tajam, bisa melewatkan suara yang menyenangkan ini.
Itu adalah sensasi di mana pendengaran seakan menyiksa indra perasa. Cheon Yeo-hwa keras kepala menyumbat telinganya dan mencoba menahannya. Tapi tepat saat itu, Kang Hyun-woo mulai melelehkan mentega di wajan, dan sekarang indra penciumannya mulai menyiksa indra perasanya juga. Aroma gurih menggelitik hidungnya, dan Cheon Yeo-hwa tidak tahan lagi.
Seperti kesurupan, dia menyelinap keluar dari tenda dan mendekati api. Kang Hyun-woo melihatnya dan tersenyum cerah.
“Kau keluar?”
“...Ah.”
Wajahnya memerah saat dia akhirnya menyadari situasinya.
“Kau pasti lapar. Tunggu sebentar lagi, ini hampir matang.”
Entah dia tidak melihat reaksinya atau cuma pura-pura tidak melihat, Kang Hyun-woo membalikkan punggungnya lagi dan fokus memasak. Cheon Yeo-hwa merasakan sedikit rasa syukur untuk itu.
Tak lama kemudian, daging yang sudah diistirahatkan itu dipotong-potong seukuran sekali gigit dan diletakkan di piring. Hiasannya adalah salad yang kubeli dari kafe. Aku membawanya buat jaga-jaga, dan untung saja kubawa. Aku nggak terlalu butuh, tapi rasanya agak aneh cuma naruh sepotong daging di depan seorang wanita.
“Dari mana sebenarnya kau dapat daging seperti ini...? Apa ini juga sihir?”
“Semacam itulah.”
Cheon Yeo-hwa tersenyum kecil melihat Kang Hyun-woo mengangkat bahu.
“Aku nggak jamin rasanya, tapi cobalah. Kasih tahu kalau kurang.”
“...Terima kasih. Aku akan menikmatinya.”
Aromanya gurih, dan secara visual, dimasak dengan tingkat kematangan medium yang sempurna. Sebenarnya aku mau masak medium-rare, tapi kupikir Cheon Yeo-hwa, karena dia dari zaman dulu, mungkin bakal jijik ngelihatnya, jadi aku memasaknya sampai warna merahnya sesedikit mungkin.
Nyam. Aku memasukkan sepotong daging ke mulutku.
'Wah, apa-apaan ini? Enak banget anjing.'
Mungkin kedengarannya aku muji diri sendiri, tapi aku nggak melebih-lebihkan sedikit pun—ini beneran enak. Nggak ada bau prengusnya, dan nggak alot sama sekali. Sari dagingnya yang kaya dan teksturnya yang empuk itu nikmat banget dikunyah.
“Mm! Ini benar-benar enak! Aku tak pernah menyangka kau ini koki!”
“Bukan koki kok. Ini semua berkat bahannya.”
Cheon Yeo-hwa juga tampak puas dengan steak-nya. Dan begitulah, kami bisa menyelesaikan makan malam yang memuaskan dengan senyum di wajah kami. Kecuali pas dagingnya habis dan kami harus masak dua kilogram lagi.
Setelah beres-beres sebentar, akhirnya waktunya tidur. Mengingat kami bakal jalan seharian lagi besok, aku harusnya udah tidur dari tadi. Aku ini mage, bukan kesatria. Ada batas seberapa banyak aku bisa menggunakan sihir untuk menjaga staminaku, apalagi karena aku nggak tahu kapan pertarungan bakal pecah.
“Met tidur.”
“...Lalu kau mau tidur di mana?”
“Aku? Yah, aku...”
Kupikir kalau Cheon Yeo-hwa tahu aku punya tenda cadangan, dia mungkin bakal ngambek lagi. Rencanaku adalah menyuruhnya masuk tenda dulu, lalu mendirikan tendaku agak jauh dari situ.
“Pokoknya, jangan khawatirkan aku. Masuk saja dan tidurlah.”
Dengan perut kenyang dan tubuh lelah setelah jalan seharian, rasanya aku bisa tumbang kapan saja.
“T-Tunggu...!”
Cheon Yeo-hwa tiba-tiba mencengkeram lengan bajuku, memaksaku berhenti.
Ada apa sama dia?
“I-Itu...”
“Hah? Ada apa?”
Aneh melihat Cheon Yeo-hwa ragu-ragu, tidak bisa mengutarakan isi pikirannya. Aku belum lama mengenalnya, tapi dari apa yang kulihat, dia tipe yang bakal ngomong apa pun yang dia mau, blak-blakan dan jelas. Masalahnya adalah apa yang ingin dia katakan sering kali berisi komentar pedas tentang orang lain.
“Kalau nggak ada yang mau diomongin, boleh aku pergi? Aku udah ngantuk nih...”
“K-Kau juga!”
Memotong ucapanku, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Rona merah, lebih merah dan lebih cerah dari sebelumnya, mekar di pipinya.
“Tidakkah kau mau... tidur di tenda denganku juga?”
Hutan itu benar-benar sunyi di tengah malam. Mungkin karena musimnya, tapi aku bahkan tidak bisa mendengar suara jangkrik mengerik yang biasa ada. Berkat itu, suara napas kami terdengar semakin jelas di dalam tenda kecil itu seiring berjalannya waktu.
“...”
“...”
Aku sangat lelah sampai kupikir aku bakal langsung pingsan begitu rebahan, tapi sekarang karena kami berbaring saling punggungi di tenda sempit ini, aku nggak bisa tidur. Malahan, aku merasa makin melek setiap detiknya.
“...Kau sudah tidur?”
Sepertinya Cheon Yeo-hwa ngerasain hal yang sama.
“Belum.”
“Tapi kau bilang kau ngantuk tadi.”
“Iya, kah?”
Entah kenapa, rasa kantuknya nggak mau datang. Apa karena aku gugup? Sekuat tenaga aku mencoba menghindarinya, punggung kami kadang-kadang bersentuhan. Setiap kali bersentuhan, kehangatan dari kulit lembutnya rasanya bikin aku gila.
'Ah... Yang Mulia Surgawi Primordial...'
Aku belum pernah baca Tao Te Ching, tapi karena ada dua sekte Tao paling terkemuka di dekat sini, aku mencoba melihat apakah aku bisa dapat manfaat dari lokasi ini, kayak gimana doa di gereja rasanya beda sama doa di rumah. Tentu saja, nggak ada efeknya.
“...Terima kasih.”
“Hah?”
Suara yang sedikit gemetar terdengar dari belakangku.
“Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah tidur di tanah kotor lagi malam ini, kelaparan.”
Aku bertanya-tanya apa yang akan dia katakan, tapi topiknya jauh lebih berat dari yang kubayangkan.
“...Bukannya kau putri keluarga kaya ya?”
“Apa aku kelihatan kayak gitu?”
“Paling tidak tampangmu iya.”
“Heh, kau terlalu jujur sampai-sampai nggak sopan.”
Pakaiannya jelas terbuat dari kain berkualitas tinggi, tapi sudah usang dan robek di beberapa bagian. Dia pasti sudah memakainya cukup lama.
“Di matamu, aku pasti terlihat seperti wanita merepotkan, cuma luarnya aja yang mewah tapi penuh rahasia.”
“Aku nggak pernah mikir begitu sih.”
Jawabanku yang spontan, tanpa ragu sedetik pun, membuat Cheon Yeo-hwa tersentak sedikit.
“Terima kasih sudah bilang begitu, setidaknya.”
Suaranya anehnya ceria.
“Jujur saja, aku curiga padamu.”
“Aku?”
“Tepatnya, kupikir kau ini pembunuh bayaran yang dikirim oleh Tuan Muda Pertama untuk membunuhku.”
“'Pikir' itu bentuk lampau, jadi kau udah nggak mikir gitu lagi sekarang?”
“Untuk seorang pembunuh bayaran, kau terlalu sering melihat celahku. Dan juga...”
Terus apa? Tenda tiba-tiba menjadi sunyi. Kupikir dia mungkin sudah tidur dan berbalik, tapi napasnya masih nggak beraturan seperti sebelumnya, jadi sepertinya tidak.
Kenapa kau berhenti ngomong?
“...Tidak apa-apa.”
Ah, bangsat.
“Hei, kau mungkin nggak tahu ini, tapi kau tahu nggak dua cara buat bikin orang benar-benar kesal?”
“Hm? Apa itu?”
“Yang pertama adalah berhenti ngomong di tengah kalimat.”
“Dan yang kedua?”
Aku tiba-tiba ngantuk.
“Halo? Apa cara yang kedua?”
Sesaat yang lalu, ketegangan berbaring di tenda kecil bersama Cheon Yeo-hwa bikin aku melek, tapi sekarang setelah aku sedikit lebih rileks, kelelahan yang kutumpuk sepertinya menghantamku sekaligus.
“Kenapa kau berhenti ngomong?”
“Nngok...”
“Aku tanya apa cara yang kedua!”
“Mmm...”
“Hei!”