Otherworld Dating App - Chapter 24: Murim (1)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Tring—

[Matching telah berakhir.]

[Perubahan Tingkat Kesukaan (Favorability)]

[Iris Remeria Baiart Peledia 85 → 95]

[Perubahan Tingkat Ikatan (Bond Level)]

[Iris Remeria Baiart Peledia Lv.1 → Lv.3]

[Menghitung hadiah…]

[600 Love Coin telah diberikan.]

[Sisa Koin: 1.850]

[Nama: Iris Remeria Baiart Peledia]

[Umur: 524]

[Ras: High Elf]

[Afiliasi: EB-17]

[Pekerjaan: Archmage]

[Disposisi: Berbudi Luhur, Pasifis, Pengabdian, Vegetarian······]

[Waktu hingga match berikutnya: 143:59:45]

Begitu udara di sekitarku berubah, aku sudah kembali ke kamarku.

"Anjay, hadiahnya lumayan juga."

Ditambah lagi, mungkin karena Tingkat Ikatanku dengan Iris naik, waktu tunggu untuk match berikutnya berkurang dari seminggu menjadi enam hari. Aku tersenyum melihat layar-layar yang melayang di depan mataku, tapi ketegangan akibat menghadapi magical beast peringkat C+ beberapa saat lalu mendadak luntur saat aku kembali ke keamanan kamarku. Aku ambruk ke kasur.

"Ah, bangsat, perih... Mati aku, mati aku..."

Pakaian dan sepraiku ternoda darah dari luka robek di sekujur tubuhku, yang belum sempat kuobati dengan benar. Aku cuma ingin mandi dan tidur, tapi aku harus mengobati lukaku sebelum tambah parah.

Orang biasa akan pergi ke rumah sakit saat sakit, tapi beda ceritanya bagi orang berduit.

"Apa ada gereja dengan pendeta resmi di dekat sini...?"

Tentu saja tidak ada. Gereja yang kutemukan di aplikasi peta butuh waktu tiga puluh menit naik taksi. Aku menghela napas, sudah kesal memikirkan repotnya, tapi aku menempelkan perban dan plester seadanya, ganti baju, lalu keluar rumah. Taksi yang kupesan lewat aplikasi tiba tak lama kemudian.

"Ke Gereja Suci Pusat Seoul, ya, Pak."

"Siap."

Pendeta (Priest), yang menggunakan kekuatan ilahi yang terwujud melalui iman mereka kepada Tuhan, bisa melakukan mukjizat menyembuhkan luka orang lain. Kudengar para mage dulu meneliti sihir penyembuhan dengan sangat antusias karena sulit dicapai dengan metode mereka sendiri, tapi aku tidak tahu bagaimana situasinya sekarang.

Bagaimanapun juga, menjadi pendeta sama sulitnya dengan menjadi mage. Bakat itu sudah pasti, tapi harus didukung oleh iman yang tulus kepada Tuhan. Mereka yang terpilih kemudian harus menjalani pelatihan bertahun-tahun yang keras di Vatikan.

"Haha, sepertinya Anda terluka. Melihat anak muda seperti Anda pergi ke gereja, Anda pasti sukses ya? Andai saja anak saya bekerja sekeras Anda, dia malah malas-malasan di rumah seharian... Hah..."

Seperti kata sopir taksi itu, sekali pengobatan di gereja harganya mulai dari ratusan ribu won [sekitar jutaan rupiah], dan tagihannya bisa melonjak ke angka tak masuk akal tergantung kondisi pasien. Tetap saja, mengingat mereka bisa menyembuhkan luka luar tanpa meninggalkan satu bekas luka pun dan bahkan menyembuhkan penyakit kronis seperti kebotakan atau kanker, harganya tidak sepenuhnya tidak masuk akal.

Tentu saja, kudengar para bajingan 'sendok berlian' [terlahir sangat kaya] itu pergi ke gereja cuma gara-gara flu biasa.

"Totalnya 23.000 won."

"Terima kasih, Pak."

Begitu aku turun dari taksi, bangunan gereja yang megah mulai terlihat. Mustahil menebak berapa banyak uang yang dituangkan untuk membangunnya.

"Apa aku tukarkan barang-barangku dulu ya?"

Sebagai catatan, saldo bankku nol. Aku sudah menghabiskan semuanya buat beli tempat tidur dan barang-barang lain sebelum pergi menemui Iris.

Tapi aku tidak khawatir. Aku punya lima belas batu sihir dari dungeon. Dan itu bukan dari magical beast peringkat D+ biasa; semuanya dari spesimen elit. Menurut apa yang kulihat di forum, batu sihir dari spesimen elit lebih mahal daripada dari monster biasa dengan peringkat yang sama.

Dan tepat di sebelah gereja ini ada gedung Asosiasi Hunter.

"Nomor antrean 54."

Merasakan déjà vu, aku duduk di loket tempat nomorku ditampilkan. Sama seperti di Menara Sihir, karyawan wanita di sini cantiknya luar biasa.

'Kerjaan gaji tinggi mana lagi yang bikin kau gampang mati kayak hunter?'

Aku tidak boleh menggeneralisasi, tapi sejujurnya, untuk orang secantik itu, apa sih untungnya kerja di Asosiasi?

"Saya mau menukarkan beberapa batu sihir."

"Ya, silakan letakkan semuanya di sini."

Wajahnya yang cerah dan tersenyum jelas merupakan faktor yang bisa mengangkat mood siapa pun yang datang untuk urusan bisnis. Bahkan jika niatnya terlihat jelas, bukankah para hunter bakal menyukainya? Kalau aku baru saja pulang dari mati-matian grinding di Gate, aku rasa aku bakal senang juga kalau wanita cantik menyambutku dengan senyuman.

"Tunggu sebentar."

Aku mengeluarkan batu sihir dari tas yang kubawa dan meletakkannya di konter.

"Oh... ya ampun?"

"Semuanya peringkat D+. Dan ini dari spesimen elit."

Pemandangan wanita cantik dengan rahang menganga jelas bukan sesuatu yang bisa kau lihat setiap hari.

Tak lama kemudian, setelah aku meninggalkan Asosiasi Hunter, suara notifikasi kecil berbunyi dari ponselku.

[Bank S]

[Deposit: 31.200.000 KRW]

[Saldo: 31.275.420 KRW]

Harga batu sihir peringkat D+ adalah 1,3 juta won per buah. Karena ini dari spesimen elit, aku dapat bonus 60%, sehingga total depositnya 31,2 juta won.

"...Ini beneran bikin berburu jadi sangat layak."

Untuk saat ini, uang tunai jelas lebih baik daripada koin. Mungkin karena ada banyak hal yang bisa langsung kubeli dengannya.

"Aku mungkin harus pindah rumah segera, dan aku mau beli mobil yang lumayan... Hmm, aku harus nabung sedikit lagi buat itu."

Tiga puluh juta won itu sama sekali bukan uang kecil, tapi tidak cukup buat pindah rumah sekaligus beli mobil. Pada akhirnya, aku harus menyelesaikan salah satu dulu, dan tentu saja, harus rumah. Aku sudah sangat muak dengan apartemen studio bau dan nggak nyaman ini.


Kang Cheolho, manajer cabang ke-13 dari divisi Korea World Hunter Association. Dia adalah salah satu dari sepuluh tokoh paling kuat di seluruh Asia Timur, dan Hunter S-rank dengan tubuh yang cukup kuat untuk menahan rentetan rudal. Julukannya adalah Iron Man (Manusia Besi).

"Batu sihir sebanyak itu, dari satu pria berumur 21 tahun?"

Sesuai namanya, sang Iron Man jarang menunjukkan perubahan emosi, tapi saat ini, nada suaranya sangat berbeda. Itu perubahan halus yang hanya akan disadari ajudan terdekatnya, tapi dia jelas tercengang.

"Ya, dia baru saja menukarkannya di konter lantai satu dan pergi."

"Dia pasti menemukan Gate yang belum ditemukan."

Meskipun kemajuan teknologi memungkinkan kita mengetahui lokasi dan waktu pembuatan Gate, itu tidak 100% sempurna. Kadang-kadang, Gate dengan kemampuan penyembunyian akan menghindari jangkauan detektor, menunggu waktu sebelum menyebabkan Dungeon Break kejutan yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Gate semacam itu disebut Gate yang belum ditemukan (undiscovered Gates).

Sangat disarankan untuk melaporkannya ke kantor polisi atau Asosiasi Hunter terdekat segera setelah ditemukan, tapi seseorang juga bisa menyelesaikannya atas kebijaksanaan sendiri. Asalkan kau memegang lisensi Hunter atau Hero.

Tentu saja, bahkan jika orang tanpa lisensi yang menyelesaikannya, mereka tidak dihukum tanpa syarat. Gate yang belum ditemukan diklasifikasikan sebagai Gate khusus dan cukup sulit. Manusia super dengan kemampuan semacam itu adalah aset berharga yang harus diamankan negara, jadi tidak ada alasan untuk mencari gara-gara.

Berbeda dengan hukumnya, pada kenyataannya itu diizinkan secara diam-diam.

"Lima belas batu sihir elit peringkat D+... Apa itu Gate peringkat C?"

"Tim intelijen saat ini melacak pergerakan orang tersebut baru-baru ini. Kita harusnya dapat hasilnya segera."

"Tidak perlu terburu-buru. Tapi kau harus bergerak diam-diam supaya guild besar tidak curiga."

"Baik, Manajer Cabang."

Setelah karyawan itu selesai lapor dan keluar kantor, Kang Cheolho berjalan ke jendela. Dia diam-diam menatap keluar. Pandangannya melewati gedung-gedung tak terhitung jumlahnya, mencapai seorang pria yang jaraknya puluhan kilometer.

Rumah tradisional Korea di pinggiran Provinsi Gyeonggi, membanggakan fasad yang indah. Tempat ini, konon tempat tidur naga biru, adalah sarang pemimpin Blue Dragon, salah satu guild raksasa di Korea Selatan.

Pria itu tidak mempedulikan tatapan Kang Cheolho yang mengarah padanya dan mendecih.

"Manusia kurang ajar."


Dengan saldo bank penuh, aku langsung menuju gedung gereja. Area di sekitar gereja dipenuhi orang, tapi bagian dalamnya sepi. Dan sangat megah.

'Kalau begini, aku bisa dapat banyak duit sebagai pendeta alih-alih mage.'

Tentu saja, karena pendeta dilarang melakukan kontak dengan lawan jenis selama masa pelatihan mereka di Vatikan, aku tidak berniat menjadi pendeta, bahkan jika ada yang menawarkannya.

"Selamat datang, Saudara."

Saat aku melihat-lihat gereja, seorang pria yang tampak seperti pendeta mendekatiku.

"Saya ke sini mau berobat. Saya harus ke mana?"

"Ah, Anda datang untuk menerima rahmat Tuhan. Silakan ikuti saya."

Aku mengikutinya ke ruangan yang didekorasi seperti rumah sakit.

"Bisa tunjukkan luka Anda?"

Aku langsung melepas bajuku. Aku punya luka di kakiku juga, tapi aku sedang tidak mood striptease seluruh tubuh di depan pria lain.

"...Ini luka yang parah."

"Di kaki saya juga ada."

Pendeta itu mengangguk sekali, lalu meletakkan tangan di bahuku.

"Bapa kami, yang ada di surga."

Saat dia mulai merapal doa, cahaya keemasan menyelimuti tangannya. Cahaya itu mengalir turun dari bahuku, menyembuhkan luka-luka di tubuhku.

"Semoga rahmat-Mu turun ke atas kami. Amin."

Setelah doa singkat dua kalimat itu selesai, tubuhku benar-benar berubah. Tidak hanya luka robek di sekujur tubuhku hilang, tapi telinga kiriku, yang setengah putus, sembuh tanpa satu bekas luka pun.

'Gila banget.'

Jadi ini sebabnya berita selalu bilang guild menghabiskan miliaran won buat merekrut pendeta.

"Terima kasih atas kerja kerasnya."

Tentu saja, kekuatan ini bukan tanpa harga. Sebagai bayaran karena telah menyembuhkanku, pendeta itu berkeringat deras. Wajahnya juga lebih pucat dari sebelumnya. Kekuatan ilahi adalah hadiah dari Tuhan; itu bukan kekuatan mahakuasa yang bisa digunakan manusia seenaknya cuma bermodalkan iman.

"Biayanya jadi 9.410.420 won."

"..."

9,4 juta won untuk sekali berobat... Mending aku panggil tukang gali kubur saja lain kali aku terluka. Dan kalau ini "donasi", ngapain ada mesin gesek kartu kredit, anjing?

· · ·

[Apakah Anda ingin membeli Pedang Sihir Tentara Kekaisaran?]

[Y/N]

[Y]

[Anda telah membeli Pedang Sihir Tentara Kekaisaran.]

[Sisa Koin: 1.450]

Sesampainya di rumah, aku sibuk bersiap-siap untuk match berikutnya. Aku mengisi inventarisku dengan berbagai alat bertahan hidup, makanan darurat, dan sejumlah besar air minum yang kubeli dari Hunter Shop di perjalanan pulang. Berbeda dengan makanan, aku bisa menyimpan berton-ton air di satu slot inventaris.

Namun, ada banyak sekali macam alat bertahan hidup sehingga aku harus mengepaknya di tas terpisah. Lebih baik begitu, lagipula.

Survei matching bisa mempersempit hal-hal seperti penampilan atau hobi orang lain, tapi tidak bisa menentukan di dunia macam apa mereka tinggal. Misalnya, kalau aku memasukkan "ilmu hitam" sebagai hobi, tidak ada cara untuk tahu apakah aku akan berakhir di dunia lain dengan black mage sungguhan, atau dunia dengan gadis remaja edgy yang tersesat dalam halusinasinya soal ilmu hitam.

Itu berarti sangat mungkin untuk berakhir di dunia di mana aku tidak bisa pakai sihir.

Aku memang tidak jago pedang, tapi pedang sihir itu cukup bagus sampai orang sepertiku, yang tidak tahu banyak soal ilmu pedang, bisa menggunakannya.

[Pedang Sihir Tentara Kekaisaran]

[Grade: Rare]

[Mengalirinya dengan kekuatan sihir akan meningkatkan daya potongnya.]

"Apa ini bakal berguna di dungeon tadi ya."

Aku tidak yakin. Saat itu, aku terlalu sibuk menangani segalanya cuma pakai sihir. Ini peringatan keras tentang alasan langkanya magic swordsman.

Aku terus mengepak barang-barangku, bersiap dengan matang.

Tring—

[Apakah Anda ingin melanjutkan matching?]

[Y/N]

[Y]

[Terima kasih telah menggunakan aplikasi ini. Harap lengkapi survei sebelum melanjutkan match.]

[Preferensi Ras]

[Preferensi Gender]

[Preferensi Rentang Usia]

· · ·

Ras: Manusia, Gender: Wanita, Rentang Usia: 20-an. Aku mengisi sisanya untuk mendapatkan seseorang yang cukup normal.

[Terima kasih atas kerja sama Anda.]

[Matching akan segera dimulai.]

[Harap dicatat bahwa matching mungkin memakan waktu.]

Aku mengambil posisi di mana aku bisa mencabut pedang dan tongkat dari inventarisku kapan saja. Aku sudah memakai monocle dan cincin itu. Di balik bajuku, aku memakai zirah kulit ringan yang terbuat dari kulit magical beast.

[Matching selesai.]

[Memindahkan ke Planet AXZ-174.]

Pilar cahaya besar menyelimutiku.

Tolong, aku harap aku nggak terjun bebas tanpa parasut lagi kali ini.


Untungnya, match ini tidak dimulai dengan terjun payung tanpa parasut kayak kemarin. Melainkan.

"..."

"..."

[Kurikulum konsultasi kencan sekarang akan dimulai.]

[Menganalisis disposisi Cheon Yeo-hwa.]

[Menganalisis···]

[Analisis selesai.]

[Nama: Cheon Yeo-hwa]

[Umur: 20]

[Afiliasi: AXZ-174]

[Pekerjaan: Putri Kedua dari Sekte Iblis Surgawi (Heavenly Demonic Cult)]

[Disposisi: ??]

Sebuah danau kecil di dalam hutan. Di sana, mataku bertatapan dengan wanita telanjang.

"...Halo?"

Merespons sapaan malu-maluku, wanita itu menarik pedang entah dari mana dan mulai berjalan perlahan keluar dari danau. Dia memelototiku dengan mata penuh niat membunuh, seolah dia akan membunuhku.

Tanpa ragu sedikit pun, aku berbalik dan lari.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...