Otherworld Dating App - Chapter 23: Underground Dungeon (4)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

“Urk…!”

Jleb. Menggigit sepotong pakaianku, aku mencabut panah dari pahaku. Rasa sakit yang membakar mengikuti, seolah aku sedang mengalami siksaan api mendesis yang terkenal dari Dinasti Joseon.

Kalau panahnya cuma menancap di dagingku, aku bisa saja mencabutnya pelan-pelan. Tapi karena mata panahnya sudah menembus sampai ke sisi lain, ceritanya beda. Aku harus mematahkan panah itu jadi dua, lalu menarik mata panahnya melalui sisi lainnya. Berkat itu, aku merasa kesadaranku mulai pudar.

“…Apa ini racun?”

Lukanya mulai berdenyut. Awalnya, kupikir begini rasanya tertusuk panah, tapi ada yang aneh. Bagaimanapun juga, kalau kubiarkan lukanya begini saja, aku mungkin harus memilih antara keracunan, kehabisan darah, atau tetanus.

Aku tidak punya pilihan selain membuka aplikasi dan masuk ke shop. Aku cuma bisa berdoa mereka menjual sesuatu yang berguna.

[Item di Shop telah di-reset.]

[Antidote Tingkat Terendah: 200 Koin]

[Sweet Apple: 250 Koin]

[Pedang Sihir Tentara Kekaisaran: 400 Koin]

[Buku Etiket untuk Nona Memesona: 540 Koin]

[Random Scroll Tingkat Tinggi: 600 Koin]

· · ·

Syukurlah, shop sudah di-reset dan penawar racun (antidote) tersedia. Aku tidak tahu kapan reset-nya, tapi ini beneran anugerah Tuhan.

'Tunggu, ramuan kesehatan dan mana tingkat terendah masing-masing 600 koin, tapi ini cuma 200? Bukannya terlalu murah?'

Kebingunganku cuma sebentar. Setelah membaca deskripsi item, aku paham harganya.

[Antidote Tingkat Terendah]

[Grade: Normal]

[Meredakan gejala keracunan ringan.]

Bahkan tidak menyembuhkan keracunan sepenuhnya, cuma meredakan gejalanya. Ramuan setengah niat. Dilihat dari sini, 200 koin pun terasa mahal. Aku menghela napas, tapi karena aku yang lagi kepepet, aku tidak punya pilihan selain membelinya.

[Anda telah membeli Antidote Tingkat Terendah.]

Aku menenggak penawar racun itu dan mengecek sisa saldoku. Tinggal 400 koin.

Aku tidak berharap dapat hadiah untuk dua Kobold Warrior yang baru saja kuberhentikan karena itu bukan pembunuhan pertama (first kill), tapi mengejutkannya, aku dapat 50 koin untuk masing-masing.

'Tetap saja, masih jauh dari cukup.'

Ada batas berapa banyak monster yang bisa kuburu. First kill monster peringkat D+ adalah 100 koin, dan pembunuhan berulang (repeat kill) adalah 50. Tentu saja, kalau tiba harinya aku bisa meremukkan monster peringkat D+ kayak semut, maka hadiah koinnya bakal jadi kesepakatan yang menguntungkan. Tapi tidak ada jaminan 50 atau 100 koin sekarang akan punya nilai yang sama di masa depan.

"Sudah kuduga, penyelesaian (settlement) yang kudapat setelah match dengan Iris berakhir adalah yang paling dermawan."

Mengabaikan starter pack, yang merupakan kasus khusus, match itu memberiku penyelesaian 300 koin hanya dalam waktu lebih dari setengah hari. Aku mungkin bakal dapat lebih banyak koin saat kembali setelah match ini.

Kalau dipikir-pikir begitu, jawabannya sederhana. Setelah match ini selesai, aku perlu mencoba match baru. Ini bukan cuma soal koin. Sama seperti aku menjadi mage di dunia ini, aku mungkin bisa mendapatkan pengetahuan atau item di dunia lain yang bisa membantuku berkembang.

"Sudah diputuskan."

Sambil duduk berpikir, racunnya sepertinya sudah cukup mereda. Tubuhku masih terasa berat, tapi mana-ku sudah pulih sampai taraf tertentu. Waktunya menjelajahi dungeon lagi.

"Ayo incar pas 1.000 koin. Nggak kurang, nggak lebih."

Sisa waktuku delapan jam. Tujuanku adalah mengumpulkan 1.000 koin dari kombinasi hadiah first-kill dan repeat-kill dalam waktu itu lalu kembali.

Rencanaku untuk sementara ini sudah ditetapkan: dapatkan hadiah penyelesaian manis itu lalu mulai match baru.


Dungeon-nya masih luas, dan ada lebih dari cukup monster dan jebakan yang bikin aku muak.

[Anda telah mengalahkan Skeleton Warrior.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

[Anda telah mengalahkan Skeleton Warrior.] [Hadiah Repeat Kill: 50 Koin]

[Anda telah mengalahkan Skeleton Archer.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

Kadang-kadang, tiga skeleton muncul sekaligus.

[Anda telah mengalahkan Death Ghoul.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

Aku juga melawan ghoul raksasa yang ukurannya setidaknya peringkat C.

[Anda telah mengalahkan Tentaclipper.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

Makhluk aneh dengan banyak tentakel, seperti sesuatu yang keluar dari game hentai, juga muncul. Weakness Insight berguna banget buat yang satu itu. Aku kesusahan karena dia langsung sembuh di mana pun kuserang, tapi berkat Weakness Insight, aku bisa menemukan inti di ulu hatinya.

[Anda telah mengalahkan Devil Snake.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

Saat ular seukuran sedan menengah dan panjangnya lebih dari sepuluh meter muncul, yang bisa kulakukan cuma tertawa.

[Anda telah mengalahkan Blade Wolf.] [Hadiah First Kill: 100 Koin]

Singkat kata, bajingan ini ngeselin banget. Sesuai sifat serigalanya, dia lebih cepat dari Kobold Warrior, dan cakar bajanya bahkan lebih kuat dari kaki depan Poison Spider. Aku pasti sudah menghabiskan setidaknya dua setengah kali lebih banyak mana untuk perisaiku melawan benda ini daripada monster lain.

Untungnya, kelemahannya adalah ketahanan sihirnya yang sangat rendah. Pura-pura bikin kesalahan, aku menembakkan Thunderbolt ke mulutnya dan mengubahnya jadi daging panggang listrik. Orang biasanya bikin daging anjing jadi sup, tapi yang ini daging panggang listrik. Kalau kujual di food truck, kelompok tertentu mungkin bakal berbusa mulutnya.

[Anda telah mengalahkan Kobold Warrior.] [Hadiah Repeat Kill: 50 Koin]

[Anda telah mengalahkan Poison Spider x2.] [Hadiah Repeat Kill: 100 Koin]

[Anda telah mengalahkan Skeleton Warrior.] [Hadiah Repeat Kill: 50 Koin]

Monster yang sudah kubunuh sering muncul lagi, mengincar leherku. Perisaiku hancur puluhan kali saat aku terus maju, membakar monster dengan api dan menghantam mereka dengan petir.

Sampai pada titik di mana aku tidak tahu apakah darah yang menempel di sekujur tubuhku adalah darahku atau darah monsternya.

“Haa…”

Aku terengah-engah, jantungku berdegup kencang. Aku di ambang pingsan karena kehabisan mana. Setelah meminum penawar racun, aku bertarung dengan cara yang meminimalkan konsumsi mana di setiap momen untuk menghemat waktu sebanyak mungkin. Secara khusus, aku aktif menggunakan perisai modifikasi yang kukembangkan saat melawan dua Kobold Warrior untuk mengurangi biaya mana-nya.

Berkat ini, aku bisa memangkas waktu meditasi dan secara drastis mengurangi konsumsi mana-ku, tapi kelelahan mentalku terus menumpuk. Membuat perisai dengan ukuran sekecil mungkin tepat di titik tumbukan adalah aksi gila yang bahkan mage lini belakang pun tidak akan berani memimpikannya.

Kalau saja aku salah perhitungan titik tumbukannya sedikit saja, pedang atau panah pasti sudah tertancap di tubuhku. Kalau dipikir-pikir, itu bukan sesuatu yang bisa kulakukan kalau aku waras. Kenapa juga aku melakukan itu?

Tetap saja, setelah terus-menerus melakukannya, kurasa aku jadi terbiasa? Akhirnya, aku bisa memblokir serangan hampir tanpa kesalahan. Meskipun sekujur tubuhku dipenuhi luka robek dan salah satu telingaku setengah putus, itu hasil yang lumayan bagus. Luka seperti ini bisa disembuhkan nanti dengan memberikan donasi ke gereja.

Dan karena aku bahkan berhasil mempelajari Dual Casting, kemampuan menggunakan dua mantra sekaligus, luka-luka ini adalah harga yang pantas dibayar.

“Akhirnya terkumpul semua.”

[Sisa Koin: 1.250 Koin]

Dengan ini, aku sekarang mampu membeli item paling mahal di shop. Tentu saja, item yang dijual saat ini kurang bagus, jadi aku harus menunggu reset berikutnya, tapi ini tetap hal yang baik.

Ditambah lagi, aku sudah mengumpulkan batu sihir dari lima belas monster yang kubunuh sejauh ini. Karena mereka berasal dari monster peringkat D+, harganya pasti lumayan kan pas dijual? Kalau saja proses panennya nggak sebegitu menjijikkan dan kayak tai sampai bikin aku mau muntah.

[Sisa Waktu Match: 01:15:49]

Benar-benar tidak banyak waktu tersisa. Aku lega berhasil mencapai tujuanku sebelum waktunya habis.

“Apa aku harus balik dan pamitan sama Iris?”

Keputusan yang sulit diambil. Tapi pada akhirnya, aku condong untuk tidak pamit. Dari lokasiku sekarang, butuh waktu lebih dari sejam buat kembali ke tempat Iris, bakal mepet banget. Tidak ada jaminan aku nggak ketemu monster di jalan pulang juga. Lagipula, waktu di dunia ini bakal berhenti begitu aku kembali ke Bumi, jadi nggak perlu terlalu dipikirkan soal pamitan.

“Apa aku habiskan sisa waktu buat nyari gerbang ke Lantai 2 saja?”

Aku juga bisa mengumpulkan beberapa koin di jalan. Meskipun tujuanku sudah tercapai, makin banyak koin, makin bagus. Selain itu, kalau pertarungannya terlalu sulit, aku tinggal akhiri match-nya saja.

Dengan keputusan yang sudah dibuat, pertama-tama aku harus mengurus mana-ku yang terkuras, jadi aku masuk ke meditasi tiga puluh menit. Segera setelah aku mengizinkannya, mana dengan gembira menempel padaku, yang kemudian kuserap, kumurnikan, dan kusimpan di jantungku.

Merasakan mana-ku perlahan terisi kembali, aku mengeluarkan sisa salad dada ayamku dan memakannya.

'Aku beli ini buat Iris juga, tapi aku cuma sempat ngasih obat.'

Menyingkirkan rasa penyesalanku, aku memutuskan untuk berangkat. Mengingat sisa waktuku, aku tidak boleh buang-buang waktu.

Jalan di depanku adalah koridor yang tampak familier yang terus berlanjut. Satu-satunya sedikit perbedaan adalah persimpangan jalan, yang biasanya terus bermunculan, sekarang anehnya tidak ada.

Ini membuat pemetaan jadi jauh lebih mudah, tapi perubahan mendadak ini terasa janggal. Terlebih lagi, tidak ada monster atau jebakan yang muncul.

Tentu saja, baru tiga puluh menit berlalu, jadi ketiadaan monster bisa dimaklumi. Ketiadaan jebakan… yah, aku bisa menganggap itu sekadar keberuntungan. Rasa gelisah membuatku merasa tidak nyaman, tapi aku cuma punya sisa lima belas menit. Tidak ada lagi waktu untuk berpikir, tidak ada lagi waktu untuk menjelajah.

Apa aku terlalu serakah mencoba menemukan gerbang ke Lantai 2 di penjelajahan pertamaku? Tepat saat aku memutuskan tidak ada pilihan selain mengakhiri match di sini…

Wuss!

“?!”

Jauh di kejauhan, sesuatu melayang ke arahku dari balik kegelapan. Itu jauh lebih cepat dari panah dari Kobold Warrior yang kuhadapi sebelumnya.

Menyadari aku tidak punya waktu untuk merapal perisai seluruh tubuh, aku memperhitungkan titik tumbukan dan mengerahkan perisai modifikasi di tempat itu.

KRAAANG!!!

“Keuk?!”

Itu adalah perisai yang telah kuinvestasikan setengah dari sisa mana-ku, untuk jaga-jaga. Meskipun begitu, saat perisai itu memblokir serangannya, perisai itu hancur berkeping-keping.

Syukurlah, lintasan serangannya berbelok, jadi aku tidak terluka, tapi benturannya begitu besar hingga tubuhku terpelanting mundur beberapa meter. Aku nyaris tidak bisa menahan diri dan tetap berdiri.

Tertancap di tanah di depanku adalah sebuah tombak.

“Punya kekuatan sebesar ini dengan tombak yang dilempar dari jarak lebih dari lima puluh meter…”

Firasatku buruk soal ini. Beban menindas dari mana yang mendekat membuat insting bertahan hidupku berteriak untuk mengakhiri match sekarang juga.

Aku teringat apa yang dikatakan Pohon Dunia padaku sebelum masuk ke sini.

[Ada penjaga yang melindungi gerbang ke lantai berikutnya, jadi berhati-hatilah.]

“…Berhati-hati sih berhati-hati, tapi benda itu…”

Muncul dari kegelapan adalah seekor lizardman, seluruh tubuhnya tertutup sisik, dengan fisik berotot yang membuat Kobold Warrior terlihat tidak ada apa-apanya. Dan dia bukan sembarang lizardman. Dia adalah Lizard Warrior, yang dikenal sebagai spesimen elit di antara lizardman peringkat C.

Ini adalah lawan di level yang benar-benar berbeda dari Kobold Warrior. Tidak seperti Kobold Warrior, yang cuma umpan meriam baris depan, makhluk ini adalah prajurit terkuat sukunya, diakui oleh semua orang. Kecerdasannya juga diketahui jauh lebih unggul dari kobold.

'Jadi kau lempar satu tombak karena kau punya dua, ya?'

Makhluk itu memancarkan tekanan mengerikan saat dia menarik tombak lainnya dari punggungnya dan mengambil posisi. Aku tidak bisa menemukan satu pun celah. Weakness Insight kadang-kadang akan mengungkapkan titik lemah lawan, tapi sekarang, aku tidak melihat apa-apa.

Ini bukan monster bodoh yang cuma mengandalkan kekuatan fisiknya; dia prajurit sejati.

Grrrr…

Benda itu setidaknya C+. Aku mungkin masih bisa mengatasi C-, tapi ini di level yang berbeda.

“Tetap saja, cuma tahu kau penjaganya bikin perjalanan ini sepadan.”

Aku mengacungkan jari tengah ke makhluk itu saat dia mengeluarkan geraman rendah, memancarkan permusuhan dan niat membunuh tanpa akhir ke arahku.

“Aku bakal balik lagi segera, jadi tunggu saja kau.”

[Akhiri match?]

[Y/N]

   [Y]

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...