Otherworld Dating App - Chapter 19: Reunion (3)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Cairan cinta yang lengket menetes ke kulitnya, menodai kasur yang putih bersih. Gua gelap dan lembap adalah tempat yang mengerikan untuk pengalaman pertama, tapi itu tidak penting bagi Iris dan aku.

Kemaluanku yang telanjang tanpa kondom menekan vagina Iris yang tertutup rapat.

“Hngh...”

Iris mengeluarkan erangan samar, meskipun aku belum bergerak atau bahkan mendorong masuk. Awalnya cuma tebakan samar, tapi sekarang aku hampir yakin: Iris luar biasa sensitif.

Tentu saja, itu hal bagus bagiku. Artinya, bahkan pria yang kurang pengalaman sepertiku mungkin bisa memuaskannya.

'...Tapi seriusan, ini bakal masuk nggak sih?'

Aku sudah mengeluarkan kemaluanku dengan gagah berani, tapi sekarang, dihadapkan pada vagina sungguhan untuk pertama kali dalam hidupku, aku tidak bisa tidak bertanya-tanya, Ini beneran muat?

Di film porno, semua orang kelihatan begitu longgar sampai wajar saja kalau langsung meluncur masuk. Tapi Iris... dia seperti benteng tak tertembus, terkunci begitu rapat hingga sepertinya tidak akan pernah terbuka. Tentu saja, dia basah kuyup oleh cairan cinta, dan dia terlihat licin dan berkilauan.

'Mungkin karena ini pertama kalinya buat dia, kan?'

Aku ragu-ragu, tapi aku tahu kalau aku diam saja, Iris mungkin akan mati karena malu. Aku memutuskan untuk mencoba mendorong masuk perlahan.

Tekan—

Seolah menggali sedikit demi sedikit, aku membidik pintu masuk yang mungil dan mendorong pinggulku ke depan. Saat itu juga, aku langsung sadar. Tahanannya bukan main-main. Tidak mungkin bakal meluncur masuk dengan mulus seperti di bokep yang pernah kutonton.

'Apa aku butuh foreplay lebih banyak?'

Dia terlihat cukup basah di luar, tapi sepertinya dia belum siap untuk penetrasi. Aku tidak punya pilihan selain mulai menarik diri, tapi tepat saat itu...

“Hyun-woo, aku tidak apa-apa... Kau bisa memasukannya begitu saja.”

Iris memaksakan kata-kata itu dengan suara yang samar-samar gemetar, menatap mataku lurus-lurus sambil menautkan jemarinya dengan jemariku.

“Akan sakit kalau aku langsung dorong masuk...”

“Tidak apa-apa.”

Menatapku dengan mata penuh kasih sayang mendalam, Iris tersenyum tipis.

“Rasa sakit saat direnggut, air mata yang jatuh... semuanya akan menjadi bukti bahwa aku telah menjadi satu denganmu, Hyun-woo. Jadi aku bisa menerimanya dengan sukacita.”

Telapak tangannya yang menggenggamku basah oleh keringat.

“Tapi... bisakah kau menciumku seperti tadi...?”

Alih-alih menjawab permintaan wanitaku, yang begitu tegang tepat sebelum pengalaman pertamanya, aku hanya menempelkan bibirku ke bibirnya.

Mwah, cup... haah...

Air liur lengket meregang dan putus di antara kami lagi dan lagi. Di momen itu, saat tubuh dan hati kami melebur dalam kehangatan satu sama lain, aku dengan hati-hati mendorong pinggulku ke depan.

“Heuk...!”

Meskipun tubuh dan pikirannya rileks, jalan masuk Iris masih sempit, dan ukuranku agak berlebihan untuk pengalaman pertama seorang wanita. Meski begitu, Iris menerimaku.

Kemaluanku, menekan pintu masuk taman rahasianya seolah memaksa masuk, mulai menginvasi bagian dalam tempat berharganya. Begitu ujung kepala kemaluanku nyaris masuk, jadi sedikit lebih mudah.

“Hh, ngh...! H-Hyun-woo, t-tolong cium aku...”

Kewalahan oleh rasa sakit dari bawah, Iris menempel padaku seperti anak kecil. Aku menciumnya lagi, dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga mengalihkan perhatiannya.

Mendapat tamu tak diundang yang mendadak, vagina Iris mulai menyemburkan cairan cinta, kental dengan aroma nafsu. Berkat itu, kemaluanku, yang sekarang licin dengan campuran pre-cum dan cairannya, mampu meluncur ke dalam vaginanya.

Segera, aku melewati rintangan terbesar saat kepala kemaluanku masuk sepenuhnya. Lalu, aku menekan pinggulku ke depan agar sisa batang kemaluanku bisa masuk jauh ke dalam daging lembutnya.

“M-Masuk...”

Saat ujung kemaluanku, termasuk kepalanya, sedang masuk ke dalam dirinya, aku merasakan sesuatu menghalangi jalan. Itu selaput daranya.

Tentu saja, itu bukan jenis selaput yang kau lihat di fiksi yang memblokir jalan ke rahim sepenuhnya. Itu hanya jaringan yang terentang di sepanjang tepi bukaan vaginanya, tapi itu tidak diragukan lagi adalah bukti keperawanannya.

“Iris.”

Aku berhenti bergerak dan menarik napas dalam-dalam. Di bawah cahaya lembut, aku menatap mata Iris saat dia menatapku, wajahnya berlumuran keringat dan air mata. Matanya indah, seperti zamrud yang diukir oleh pengrajin ahli.

“Aku mencintaimu.”

“...Aku juga.”

Iris tersenyum lebih cerah dari sebelumnya.

“Aku juga mencintaimu, Hyun-woo.”

Robek— Kemaluanku merobek selaput daranya dan maju lebih dalam.

“Hnngh...!!”

Air mata mengalir di wajah Iris karena rasa sakit kehilangan keperawanan. Khawatir, aku berhenti bergerak dan menunduk menatapnya, tapi Iris memaksakan senyum saat dia membalas tatapanku.

“Aku tidak apa-apa... jadi tolong, lakukan apa pun yang kau mau, Hyun-woo...”

“Kau beneran tidak apa-apa?”

“Ya. Tentu saja, bohong kalau dibilang tidak sakit... tapi rasa sakit yang kurasakan sekarang ini adalah bukti bahwa aku terhubung denganmu, kan? Aku yakin sensasi ini akan menjadi tanda momen bahagia yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.”

Aku kehabisan kata-kata. Yang bisa kulakukan hanyalah memberinya kecupan ringan di bibir dan membelai pipinya dengan lembut. Keintiman layaknya kekasih itu tampaknya mengangkat semangatnya, dan dia tersenyum dengan rasa nyaman yang baru ditemukan.

“Um, Hyun-woo, boleh aku tanya satu hal?”

“Hm? Apa itu?”

Iris memasang ekspresi penuh rasa ingin tahu, persis seperti saat dia bicara soal sihir.

“Apa ini yang pertama kali juga buatmu, Hyun-woo?”

Saat mendengar pertanyaan itu, aku benar-benar tercengang. Kebanyakan pria ingin kekasih atau pasangan mereka perawan, tapi bagi wanita, kekasih atau pasangan perjaka tak lebih dari jantan inferior yang telah tersingkir dari persaingan reproduksi.

Apa yang salah dengannya sampai dia setua ini tanpa pernah berhubungan seks? Mungkin itu alur pemikiran yang wajar bagi seorang wanita.

Dalam hal itu, aku adalah perjaka yang luar biasa. Bahkan jika keperjakaan 21 tahunku baru saja pecah, sejarah itu tidak hilang begitu saja.

'...Apa aku kelihatan kayak perjaka?'

Apa aku terlalu canggung? Apa aku melewatkan langkah di suatu tempat? Kupikir aku sudah berusaha sebaik mungkin menyembunyikan ketidakpengalamanku menggunakan cerita dan tips yang kulihat di forum online.

Tapi apa itu terlihat jelas bagi Iris? Keringat dingin mulai menetes di punggungku. Aku tidak bisa menebak niat di balik pertanyaannya.

“...Ya, benar.”

Saat aku bergumam dengan suara sekecil semut merayap, Iris berseri-seri.

“Ini juga yang pertama kali buatku, jadi kita impas!”

Kata-kata selanjutnya adalah penyelamatku.

“Terima kasih. Aku sangat bahagia, jauh di lubuk hatiku, bisa menjadi wanita pertamamu.”

“...Aku juga. Aku juga bahagia pengalaman pertamaku bersamamu.”

Kami menempelkan bibir lagi, lidah kami saling membelit.

Jleb. Aku menggerakkan pinggulku lagi, mendorong kemaluanku sedikit lebih dalam.

“Hh, hngh... Haat...”

Dengan erangan aneh dan suara yang diwarnai rasa sakit, kemaluanku terhalang oleh sesuatu lagi. Sensasinya benar-benar berbeda dari selaput daranya, dan aku punya dugaan samar apa itu. Serviksnya (leher rahim).

'...Kalau aku keluar di dalam.'

Betapa bahagianya aku jika dia dan aku punya anak? Pikiran itu mengirimkan lonjakan kegembiraan melaluiku, tapi mengingat Iris masih kesakitan, bergerak dengan ganas sama sekali tidak mungkin.

Iris bilang dia tidak apa-apa, tapi aku tidak. Aku tidak punya pilihan selain tetap berada sepenuhnya di dalam dirinya tanpa bergerak. Aku fokus menciumnya, menunggunya terbiasa dengan rasa sakit itu, ketika tiba-tiba...

Tring—

Suara yang familier terdengar.

[Bbam-bba-ra-bam!]

[Selamat]

[Selamat atas pengalaman pertama pelanggan Kang Hyun-woo.]

[Versi dewasa dari Kurikulum Konsultasi Kencan sekarang terbuka.]

[Bahkan perjaka penyendiri 21 tahun yang putus asa dan tidak berpengalaman sepertimu bisa menjadi Casanova?!]

Perhatianku tertuju pada layar baru yang muncul, bersama dengan perasaan pengetahuan baru yang meresap ke dalam otakku.

[Sex Expert (Ahli Seks)]

[Grade: Rare (Tipe Pertumbuhan)]

[Memberikan bonus tambahan untuk semua tindakan yang berkaitan dengan hubungan seksual.]

Pikiranku kosong melihat skill yang ditambahkan tanpa izinku. Itu konyol, tapi situasiku saat ini tidak cukup santai untuk duduk dan mengeluh.

[Penetrasi terdeteksi.]

[Mengaktifkan skill Sex Expert.]

[Bonus Hubungan Seksual +100%]

“Hnngh?!!”

Saat layar baru muncul, erangan menggoda Iris menusuk telingaku, dan tekanan luar biasa dari vaginanya meremas kemaluanku. Tanpa berpikir, aku menyentakkan pinggulku ke depan.

Tekan—

Aku berakhir dalam posisi yang menekan keras serviksnya.

“Haaaangh!!”

Cengkeraman vaginanya yang tiba-tiba dan mendesak membuat Kang Hyun-woo kehilangan akal sehatnya. Tapi Iris juga kehilangan akal sehatnya.

'A-apa yang terjadi...??'

Baru saja, satu-satunya hal yang dia rasakan adalah kepuasan mental karena terhubung dengannya menjadi satu; tidak ada kenikmatan fisik tertentu. Tapi sekarang, situasinya berubah 180 derajat. Kenikmatan luar biasa datang tanpa peringatan apa pun.

“Ha, hah, nghh...”

Tekanan penis Kang Hyun-woo yang menekan pintu masuk tempat paling berharganya membuatnya merasa pusing.

Melihatnya seperti ini, Kang Hyun-woo merasakan kepuasan aneh. Hanya sedikit hal yang bisa menghancurkan harga diri pria lebih mudah daripada pasangannya menangis kesakitan atau tampak mati rasa saat berhubungan seks. Setiap kali melihat ekspresi Iris yang samar-samar kesakitan, Kang Hyun-woo merasa minder dan berkeringat dingin.

Tapi tidak lagi. Berkat berkah mendadak dari aplikasi, dia sekarang bisa membuat Iris merasa enak. Menyadari hal ini, percikan kepercayaan diri di dada Kang Hyun-woo menyala menjadi kobaran api.

“Aku akan mulai bergerak sekarang.”

“H-Hyun-woo?! T-tunggu sebentar. S-sekarang banget...?!!”

Teriakan putus asa Iris, menyadari ada yang tidak beres, tidak sampai ke telinga Kang Hyun-woo.

Sreeet—

“Hik, hieeeeeek?!!”

Dia tidak berdaya melawan kekerasan kenikmatan saat ular piton setebal pergelangan tangannya ditarik keluar, secara brutal menggesek daging bagian dalamnya. Menarik keluar cukup sampai kepalanya tidak lepas, Kang Hyun-woo membanting kemaluannya kembali masuk dengan kekuatan yang cukup untuk meremukkan pintu masuk serviksnya.

“Hnngh...?!!”

Bagi Iris, seks bukan untuk kesenangan tapi ritual suci untuk melahirkan anak. Dia mengira itu akan menyakitkan kalaupun ada rasanya; tidak mungkin rasanya enak kalau organ reproduksi pria dimasukkan ke lubang sesempit itu.

Dan memang, saat pertama kali menerima penis Kang Hyun-woo, dia hanya merasakan sakit kehilangan keperawanan dan kepuasan mental karena terhubung dengannya, bukan kenikmatan fisik tertentu.

Tapi tidak lagi.

Jleb, jleb.

“Haah, haht, nghaaat!!”

Tusukan ganas dan berulang membuat Iris merasa seperti melihat bintang. Begitu juga dengan Kang Hyun-woo. Kelembutan, panas, dan tekanan daging bagian dalam wanita, yang dia rasakan untuk pertama kali dalam hidupnya, tak terlukiskan. Fantasi lemahnya di masa lalu bahkan tidak bisa dibandingkan.

“Hngh, nngh, haaaah!!”

Dia tidak pernah membayangkan Iris bisa membuat suara seperti itu. Melihat wajahnya, yang benar-benar lepas kendali, nafsunya mulai mendidih gila-gilaan. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya ke pinggulnya.

Dia tidak punya teknik, tapi berkat skill itu, apa yang dia butuhkan sekarang bukanlah kemahiran yang lahir dari pengalaman. Melainkan stamina.

“H-Hyun-wooo...!! Hah, haaang...!!”

Kewalahan oleh kenikmatan ganas dari kemaluannya yang tanpa henti menumbuk vaginanya, Iris melingkarkan lengannya erat-erat di punggung Kang Hyun-woo. Dia takut jika ini terus berlanjut, dia tidak akan menjadi dirinya sendiri lagi.

Saat dia menggeliat karena kenikmatan yang terasa seperti dipalu langsung ke otaknya, Iris merasakan sesuatu menumpuk. Rasanya seperti sesuatu yang luar biasa akan datang, sesuatu yang tak tertandingi oleh apa pun yang pernah dia rasakan sebelumnya.

“H-Hyun-woo...! T-tunggu sebentar!!”

Iris tidak tahu apa itu orgasme. Belum pernah masturbasi, dia salah mengira sensasi yang dia rasakan sebagai keinginan untuk buang air kecil.

“A-Aku rasa ada yang mau keluar...!!”

Wajah Iris memucat dengan intuisi bahwa jika dia membiarkan ini terjadi, dia akan mengalami kecelakaan yang tak bisa diubah. Melihatnya seperti itu, Kang Hyun-woo tidak bisa menahan tawa.

“Heek?!”

Dan dia mulai menumbuknya lebih ganas lagi.

“H-Hyun-woo, jangan! Jangan! Aku beneran nggak bisa!!”

Melihat betapa serius khawatirnya Iris, aku memberinya ciuman ringan di pipi.

“Iris, apa kau tahu wanita bisa keluar (cum) sama seperti pria?”

“Apa...?”

“Jangan ditahan. Tidak apa-apa mengeluarkannya. Itu bukan pipis, jadi jangan khawatir.”

Dia menatapku, setengah percaya, setengah ragu, tapi kepercayaannya padaku begitu imut hingga aku mulai menusuk lagi, kali ini mengendalikan temponya.

“Dan saat itu terjadi, kau seharusnya bilang, ‘Aku mau keluar.’”

“Ngh, heuk, haaht...!!”

Aku memfokuskan seranganku pada dinding atas, titik yang tampaknya paling sensitif baginya. Saat tekanan vaginanya mengencang, aku secara naluriah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

“Hyun-woo...! A-Aku mau keluar...!!”

Aku memeluk Iris erat-erat. Saat itu, vaginanya meremas seolah menggigit kemaluanku, dan di saat yang sama...

Crot— Crooot—

Dia keluar, membasahi perut bawahku dengan cairannya. Tekanan kejang vaginanya membawaku ke batas.

“Kngh...!!”

“Haaah?!!”

Tidak mampu menahan keinginan untuk ejakulasi lebih lama lagi, aku menekan kemaluanku kuat-kuat ke serviksnya seolah ingin menghancurkannya dan melepaskan sensasi yang tertahan. Jumlah sperma yang sangat banyak memancar keluar menuju serviksnya.

Ejakulasi itu, dikirimkan dari jarak yang begitu dekat hingga tulang kemaluan kami bersentuhan, berlanjut selama lebih dari tiga puluh detik.

Setelah menumpahkan setiap tetes terakhir, aku secara alami menatap mata Iris dan menempelkan bibirku ke bibirnya. Iris, yang terengah-engah berat, merespons dengan sama, dan kami tetap menempel seperti itu untuk waktu yang lama.


“Apa ada yang sakit?”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

Setelah sukses menyelesaikan pengalaman pertama kami, kami berbaring di kasur, saling berpelukan. Kami basah kuyup oleh keringat, dan tubuh kami lengket, tapi itu tidak cukup untuk membuat kami melepaskan pelukan.

“Kudengar wanita mengalami nyeri otot setelah pertama kali, jadi aku membawakan obat pereda nyeri. Mau minum sekarang?”

“Hehe, suapin aku dong, Hyun-woo.”

“...Obatnya?”

Aku terkekeh saat dia membuka mulutnya dengan "aah" dan memasukkan pil ke dalamnya. Tentu saja, Iris duduk untuk minum air sendiri.

Setelah itu, kami menghabiskan waktu berbaring di kasur, mengobrol tentang ini dan itu. Setiap kali mata kami bertemu, kami akan berciuman atau aku akan menyentuh payudaranya, melanjutkan keintiman layaknya kekasih dan menjaga suasana tetap hidup.

Karena ini pengalaman pertama bagi kami berdua, kami begitu tegang hingga kami benar-benar kelelahan setelah keluar. Tapi sekarang, stamina kami perlahan kembali. Dan kemaluanku sudah keras lagi.

“...Iris.”

Aku memanggil namanya sambil meremas pantatnya.

“...Hyun-woo.”

Iris balas menatapku, matanya dipenuhi nafsu. Tanda-tanda ronde kedua sudah jelas.

Aku berpikir kami mungkin akan menghabiskan waktu cukup lama di kasur. Tepat saat aku mencondongkan tubuh untuk menciumnya...

DUAR!

Gempa bumi mengguncang seluruh gua.

“Iris!”

Aku segera menarik Iris ke dalam pelukanku dan mengerahkan sihirku. Formula mantra dibangun dan jalur sihir terhubung dalam sekejap. Perisai emas menyelimuti kami. Itu adalah Barrier (Perisai), salah satu mantra dasar yang dipelajari hampir setiap mage.

BUM! BUM!

Stalagmit, yang terguncang lepas oleh gempa, jatuh dari langit-langit, pecah menghantam perisai dan mengirim pecahannya terbang ke segala arah. Saat benturan berlanjut untuk beberapa waktu, aku memeluk Iris lebih erat lagi.

Sesaat kemudian, ketika keadaan menjadi tenang, aku dengan hati-hati menghilangkan perisai.

“Iris, kau baik-baik saja?”

“Ya, aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu, Hyun-woo?”

“Aku juga tidak apa-apa.”

Aku dengan hati-hati turun dari kasur dan menggunakan mantra baru.

Light.

Area di sekitar kami menjadi terang.

“Hyun-woo, ada sesuatu di sana.”

Aku mengikuti jari Iris ke danau di tengah gua. Tidak ada apa-apa di sana sebelumnya, tapi sekarang, sebuah bangunan yang tampak seperti reruntuhan telah muncul dari tengah danau.

'Apa gempa tadi efek samping dari kemunculan benda itu?'

Kebetulan sekali, tangga batu juga muncul di atas air, menuju ke reruntuhan itu. Seolah-olah benda itu memanggil kami untuk mendekat.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...