Otherworld Dating App - Chapter 17: Reunion (1)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Otak cerdas, tampang ganteng, ayah mantan jaksa yang jadi anggota dewan, dan ibu dari keluarga yang menimbun kekayaan luar biasa lewat real estate. Aku tumbuh tanpa kekurangan apa pun.

Saat mulai masuk SD, kabar tentangku pasti sudah menyebar di kalangan orang tua murid, karena setiap anak di kelasku setengah mati ingin jadi temanku. Begitu juga saat SMP dan SMA. Malah, sejak SMP, bahkan guru-guru pun tunduk padaku. Kapan pun aku berkelahi, mereka akan memihakku tanpa syarat.

Bahkan jika aku yang secara sepihak mem-bully atau menghajar seseorang, para guru akan serempak menutup-nutupi kejadian itu dan hanya dengan hati-hati menanyakan kabar orang tuaku.

Aku tidak ingat jelas, tapi kurasa aku tersenyum saat itu. Apa hidup benar-benar semudah ini?

Selama aku memberikan usaha minimal untuk mempertahankan nilai yang lumayan, aku tidak perlu melakukan apa pun lagi.

Teman? Hubungan? Aku selalu dikelilingi orang-orang idiot yang putus asa mencari muka padaku. Cewek-cewek cuma bimbo kepala kosong yang, terpikat oleh tampang dan uangku, bakal dengan mudah mengangkang. Preman sekolah yang sok jagoan? Aku menjebak mereka, mengumpulkan bukti, dan mengirim mereka ke penjara remaja atau memeras mereka agar jadi kacungku.

Kalau bosan, aku akan memilih pecundang di kelas untuk dijadikan mainan. Pertama, aku menyebarkan rumor kalau dia naksir pacar salah satu pentolan sekolah. Lalu, aku mencuri baju olahraga beberapa cewek dan menaruhnya di loker dia. Kesenanganku memuncak ketika, dalam proses mencari pelakunya, mereka membuka loker anak laki-laki dan setumpuk baju olahraga jatuh dari lokernya.

Pemandangan dia menangis dan berteriak kalau itu bukan dia sangat menyedihkan, aku hampir merasa tidak enak karena tidak bisa tertawa terbahak-bahak.

Namun, kekecewaanku saat mendengar dia drop out tak terlukiskan. Memang menjengkelkan kalau mainan yang kau mainkan rusak, tapi kalau mainan itu lari sendiri, itu konyol. Tetap saja, mencari mainan baru tidaklah sulit.

Dan hal yang sama terjadi di universitas. Aku masuk departemen itu dengan rencana cuma main-main dengan beberapa jalang kepala kosong, tapi ada beberapa cowok yang mendaftar tanpa tahu diri. Kudengar tahun lalu tidak ada mahasiswa baru laki-laki, jadi kenapa mereka muncul saat aku ada?

Jadi kali ini, aku memutuskan untuk tidak sekadar bermain-main dengan mereka. Aku mengatur panggung untuk membuat mereka hancur sendiri dan enyah dari sini.

Sama seperti di SMA, aku mencari cowok yang kelihatannya pecundang, seseorang yang bahkan tidak akan menggeliat saat aku menginjaknya. Lalu aku mulai perlahan-lahan mengucilkannya dari grup sambil membicarakannya di belakang dengan yang lain.

Dia bau. Cara dia melihat cewek itu menjijikkan. Aku lihat HP-nya kemarin, dan dia senyum-senyum lihat foto cewek aneh.

Semuanya bohong, tentu saja, tapi peduli amat? Kebenaran tidak pernah jadi hal penting bagi orang-orang. Apa yang terdengar masuk akal adalah yang paling penting.

Dan bukan cuma cewek-cewek yang kepala kosong; cowok-cowoknya juga. Hanya karena aku mentraktir beberapa makanan dan minuman murah, mereka merendahkan diri dan bertingkah seperti anjing.

Sekitar waktu sebagian besar mahasiswa tahun pertama mengibaskan ekor padaku, berdoa mati-matian agar tidak jadi target bully-ku berikutnya, seseorang mulai membuatku kesal. Kang Hyun-woo. Teman sekelas yang cuma tiang listrik kerempeng dengan wajah rata-rata. Tidak, saat dia cemberut, wajahnya sebenarnya cukup menyeramkan.

Jujur saja, aku tidak berencana mengganggu Kang Hyun-woo sejak awal. Kesan pertamaku tentangnya tidak buruk, dan kupikir dia akan berguna untuk mengintimidasi orang lain kalau aku menjaganya tetap dekat, jadi aku cuma berniat memanfaatkannya.

Tapi dia terus melakukan hal-hal yang membuatku kesal, seperti terus-menerus memelototiku dengan tatapan tidak setuju atau membolos pesta minum-minum yang kubayar. Jadi, aku memutuskan untuk menjadikannya contoh.

Aku sama sekali tidak peduli siapa yang disukai bajingan itu, tapi seorang pecundang yang pergi ke pesta minum-minum di mana aku tidak ada memberitahuku gadis mana yang ditaksir Kang Hyun-woo. Sebuah rencana terbentuk di benakku saat itu, dan hasilnya sukses besar.

Raut wajahnya yang terdistorsi saat MT sangat lucu sampai aku masih tertawa terbahak-bahak hanya dengan memikirkannya.

Tapi aku dipukul oleh orang seperti itu. Siapa? Aku?

PRANG!

Sebuah pot bunga menghantam dinding, hancur dan menyebarkan pecahannya ke segala arah.

“Bangsat!!”

Dikuasai amarah yang tak tertahankan, Jeon Hyeseong mulai melampiaskan kemarahannya, menghancurkan dan melempar perabot rumah satu per satu dengan tongkat golf.

“Bajingan yatim piatu itu...!!! Berani-beraninya dia... berani-beraninya dia...!!!”

Kertak— Suara penuh amarah, keluar dari tenggorokan dengan urat-urat menonjol, bergema di seluruh rumah. Tidak peduli berapa banyak yang dia hancurkan, amarahnya tidak surut.

“...Kang Hyun-woo.”

Kegilaan aneh berkedip di mata Jeon Hyeseong saat dia menatap kejauhan dengan tatapan dingin. Bagi Jeon Hyeseong, yang selalu berdiri di atas orang lain, kejadian hari ini adalah penghinaan fatal yang tak bisa dia lupakan maupun toleransi.

“Tunggu saja. Mulai semester depan, aku akan menyiksamu sampai kau drop out.”

Pertama, dia akan merekrut mahasiswi tahun pertama yang cocok dan menciptakan situasi di mana dia dan Kang Hyun-woo berduaan. Kemudian, dengan cara apa pun, dia akan berhasil mendapatkan sidik jari Kang Hyun-woo di tubuh gadis itu dan kemudian menyuruhnya melaporkan dia atas pelecehan seksual.

Negara macam apa ini? Ini adalah negara di mana air mata korban dianggap bukti. Sidik jari yang tertinggal di pakaian wanita dan air mata korban sudah lebih dari cukup untuk memastikan vonis bersalah. Dengan itu, drop out akan jadi masalah terkecilnya; dikeluarkan dari kampus (DO paksa) juga mungkin.

Tentu saja, tidak masalah jika tuduhan dibatalkan karena kurang bukti. Tuduhan palsu? Itu masalah gadis itu, tidak ada hubungannya dengan dia. Bahkan jika bajingan Kang Hyun-woo itu berhasil kembali ke kampus, itu akan lama setelah rumor dia sebagai penjahat kelamin menyebar ke seluruh kampus. Dia tidak akan bisa terus kuliah dalam situasi itu.

Memikirkannya membuat suasana hatinya yang seburuk tahi sedikit terangkat.

“Siapa yang harus kupanggil hari ini?”

Dia menggulir DM-nya, yang dibanjiri pesan, dan mengirim satu ke junior yang belum pernah dia tiduri. Sekitar waktu ini, cewek-cewek sangat mudah ditaklukkan hanya dengan beberapa foto hotel mahal sampai hampir tidak bisa dipercaya.

Baginya, wanita tak lebih dari mainan sempurna untuk dimainkan. Jeon Hyeseong tidak ragu bahwa akan selalu seperti itu. Bodohnya.

DOR! DOR!

“Apa-apaan?”

Mendengar suara seseorang menggedor pintu depannya seolah mau mendobraknya, wajah Jeon Hyeseong secara naluriah berkerut masam. Apa ada yang datang untuk mengeluh soal keributan aku menghancurkan barang-barang tadi?

'Hah, banyak sekali orang yang tidak tahu diri.'

Akan ada dua hal: entah dia akan membentak mereka dan mengusir mereka pergi, atau dia akan memukuli mereka dengan tongkat golf dan mengusir mereka pergi. Jika orang itu bisa mengerti bahasa manusia, dia bisa memilih yang pertama, tapi jika tidak...

'Sepertinya ketua departemen bakal punya malam yang panjang.'

Dia tinggal membayar uang damai dan menutup mulut mereka, seperti biasa. Tapi bertentangan dengan pikiran optimisnya, apa yang terjadi selanjutnya jauh di luar dugaan Jeon Hyeseong.

Krieeet—

“Bajingan mana yang menggedor pintu orang...”

BUK!

“Gahck!!”

Saat dia membuka pintu, sebuah tinju menghantam wajahnya, mengirim Jeon Hyeseong berguling memalukan melintasi lorong masuk.

“Kau, kau, siapa kau... A-Ayah...?!”

Orang yang memukulnya bukanlah tetangga gila yang dia asumsikan cari gara-gara minta dipenjara, melainkan orang yang paling dia takuti: ayahnya.

“Jeon Hyeseong!!”

Anggota Dewan Jeon Jinmuk, wajahnya merah dan terdistorsi karena amarah, menyerbu masuk, terlihat lebih murka daripada sebelumnya. Melihat itu, yang bisa dilakukan Jeon Hyeseong hanyalah mengelus pipinya sendiri, yang sekarang semerah remaja yang tersipu malu. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan.

“Apa yang kau lakukan di luar sana, hah?!!”

“Y-Ya...? Apa maksud Ayah...”

Bersyukur ayahnya tidak memegang tongkat golf, dia hanya bisa mengertakkan gigi.

PLAK! PLAK!

“Gara-gara kau! Semua ini! Semuanya hancur!!”

“Gack, ugh, ack...!!”

Tanpa ampun dan dengan kemudahan yang terlatih, Jeon Jinmuk menampar wajah putranya.

“Kau pikir aku memberimu uang saku bulanan, membayar deposit apartemenmu, dan bahkan sewa apartemenmu supaya kau melakukan ini?!!”

Saat memukuli putranya, Jeon Jinmuk teringat panggilan yang dia terima dari Menara Sihir tadi.

M-Mage-nim, apa yang Anda bicarakan?! Bagaimana bisa Anda mundur dari kerja sama kita sekarang?!

—Mohon maaf. Sepertinya ada insiden yang tidak menyenangkan antara salah satu mage kami dan putra Anda, Anggota Dewan. Seperti yang Anda tahu, bukan gaya kami untuk melanjutkan masalah tanpa mempertimbangkan perasaan sesama mage dari Menara kami. Saya sudah mendapat izin dari Tuan Menara.

—A-Apa?! Putraku?!! I-Itu tidak mungkin!

—Tidak ada lagi yang perlu saya katakan.

—Saya akan menyelesaikannya! Jadi tolong, saya mohon pertimbangkan kembali... Mage-nim?! Mage-nim!!

Itu adalah perjanjian kerja sama yang dia amankan hanya setelah bertahun-tahun menjilat pantat Menara Sihir sampai lecet. Berkat itu, pemilihan ulangnya hampir pasti terjamin. Tapi pemberitahuan mendadak Menara Sihir mengubah segalanya. Kalau begini terus, pemilihan ulangnya bakal gagal total.

'Ini tidak boleh terjadi... Aku harus cari cara...'

—Berikut berita terkini.

Suara TV, yang dibiarkan menyala, menarik perhatian Jeon Jinmuk.

—Bukti telah muncul yang mengguncang negara, mengungkap penyuapan, kecurangan pemilu, dan spekulasi real estat besar-besaran oleh mantan anggota dewan dan kandidat saat ini, Jeon Jinmuk.

Kriiing— Kriiing—

Telepon mulai berdering.

—Tampaknya itu berasal dari keluarga pasangannya, Lee Hyunsook, dan kontroversi lebih lanjut sedang terjadi karena bukti tambahan telah ditemukan yang menunjukkan keuntungan lebih dari beberapa ratus miliar won.

—Buktinya begitu kuat hingga bahkan sesama anggota partai menyerukan penyelidikan ketat.

Bruk—

Jeon Jinmuk ambruk ke lantai dan tidak bisa bangun untuk waktu yang lama.


Hari di mana aku menyerahkan formulir pengunduran diri ke universitas, aku membeli banyak makanan dan air kemasan dari toserba dan pulang ke rumah. Ada hal yang kukatakan pada Mage Choi Young-ok, tapi yang lebih penting, dalam satu minggu, aku akan bersatu kembali dengan Iris. Aku ingin melihat ekspresi terkejut di wajahnya.

Aku duduk bersila di lantai dan memejamkan mata. Apa yang kubutuhkan sekarang adalah tingkat konsentrasi yang tampaknya tidak berujung. Aku harus mencapai bagian terdalam dari pikiranku, sumber lingkaran mana, tempat tanpa bentuk fisik.

[Tingkat Perolehan Pengetahuan untuk semua Basic Magicology +1000%]

[Peningkatan Sensitivitas Mana +1000%]

[Peningkatan Kecepatan Asimilasi Diri Mana +10000%]

Ini adalah buff yang saat ini kuterima dari aplikasi. Aku tidak butuh tingkat perolehan pengetahuan sekarang. Yang kubutuhkan adalah buff sensitivitas mana dan kecepatan asimilasi diri. Berkat mereka, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa aku terus-menerus dihujani kasih sayang mana.

Tentu saja, aku biasanya memblokir mana agar tidak terserap ke dalam tubuhku. Transfusi darah adalah pengobatan jika dalam jumlah sedang, tapi terlalu banyak bisa menyebabkan komplikasi. Sama halnya dengan mana. Mencoba menyerap jumlah yang berlebihan bisa menyebabkan lingkaran seseorang runtuh, berujung pada kematian.

Meski demikian, aku membuka seluruh tubuhku dan menyerap mana alam yang sangat besar.

'Ghh...'

Saat gerbang dibuka, mana menyerbu masuk seolah berteriak, “Asyik!” dan rasanya seperti darahku mengalir terbalik. Jika aku kehilangan kesadaran di sini, aku dijamin setidaknya akan setengah lumpuh seumur hidup.

Di tengah rasa sakit yang luar biasa, aku mati-matian mempertahankan kesadaranku dan memandu aliran mana. Tangan, kaki, leher, tungkai. Tidak masalah dari mana mana masuk. Aku membuat semuanya mengalir menuju jantungku.

Tentu saja, menerima semua mana ini sama saja bunuh diri. Tepat sebelum mencapai jantung, aku menyaring sejumlah tertentu.

Jika aku adalah mage yang telah mencapai ranah lebih tinggi, aku tidak perlu melalui proses merepotkan seperti itu. Aku bisa saja menyaring mana di titik penyerapan. Tapi sayangnya, aku kurang pengalaman. Jadi, aku hanya bisa menggunakan insting bertahan hidupku untuk menyaringnya tepat di dekat jantung, salah satu titik paling vital di tubuhku.

'Hei, kalau kau tidak mau mati, sebaiknya kau saring mana ini.'

'...? Bajingan gila macam apa kau? Ini tubuhmu!'

'Emang aku peduli?'

Aku memadatkan mana yang telah kukumpulkan melalui penyaringan berulang ini. Seperti menggunakan mesin pres hidrolik untuk menghancurkan mobil menjadi lembaran logam setebal 1cm.

Aku tahu. Terdengar gila. Sebegitu sulitnya memperluas lingkaran mana seseorang. Seorang mage biasa bahkan tidak akan mencoba ini.

Dari apa yang Iris katakan padaku, proses bagi mage biasa untuk memajukan ranah mereka adalah menggunakan momen pencerahan, yang didapat setelah bertahun-tahun mengakumulasi mana dalam tubuh mereka, untuk berperan sebagai mesin pres hidrolik itu.

Tapi aku? Tidak ada pencerahan. Aku hanya memadatkan mana secara paksa dengan keahlian murni dalam menanganinya. Ini jelas jalan pintas, dan metode yang mungkin akan berhenti berhasil seiring kemajuan ranahku.

Tak perlu dikatakan lagi, risiko kehilangan nyawa sangat besar. Namun, hanya ada satu alasan aku terus maju.

'...Ini bisa dilakukan.'

Mana itu, dipadatkan hingga batas mutlaknya, mulai mengambil bentuk cincin yang berputar tanpa henti. Dan itu menetap di jantungku, tempat lingkaran mana seorang mage berkumpul.

“Hoo...”

Ketika aku membuka mata lagi, seminggu telah berlalu. Cih, aku bilang akan melakukannya dalam tiga hari. Kurasa itu membuatku jadi pembohong. Seperti dugaan, ponselku penuh dengan panggilan tak terjawab yang tak terhitung jumlahnya dari Choi Young-ok. Aku merasa tidak enak, tapi dia bukan prioritasku sekarang.

[Nama: Iris Remeria Baiart Peledia]

[Umur: 524]

[Ras: High Elf]

[Afiliasi: EB-17]

[Kelas: Archmage]

[Disposisi: Baik Hati, Pasifis, Pengabdian, Vegetarian······]

[Apakah Anda ingin rematch?]

[Y/N]

“Jangan tanya yang sudah jelas.”

Seminggu telah berlalu dalam sekejap mata, tapi aku merindukan Iris.

“...Ah, tunggu sebentar.”

Sebelum pergi menemui Iris, aku teringat sesuatu yang perlu kuurus, jadi aku cepat-cepat berlari keliling kota. Mungkin karena seluruh tubuhku meluap dengan mana akibat mencapai Lingkaran ke-2, kecepatan lariku sepertinya sekitar 30 km/jam. Dan itu bahkan bukan sprint penuh.

Siapa sih yang bilang mage itu kelas lini belakang?

Pokoknya, setelah menyelesaikan urusanku, aku pulang ke rumah, menjejalkan barang-barang ke dalam inventaris, dan menyalakan aplikasi lagi.

[Apakah Anda ingin rematch dengan Iris Remeria Baiart Peledia?]

[Y/N]

[Y]

Saat aku menerimanya, seberkas cahaya putih murni menyelimutiku, persis seperti terakhir kali. Aku memejamkan mata. Ketika aku merasakan aliran udara berubah dan membukanya lagi...

“S-Sebagai gantinya, lain kali, aku akan... aku akan... melakukannya sampai a...!”

Di sana berdirilah Iris, wajahnya begitu merah hingga terlihat akan meledak.

“Iris-ssi.”

“Aku akan melakukannya demi...!! Hah? H-Hyun-woo-ssi?”

Iris, yang sedari tadi bicara dengan mata terpejam erat seolah sedang monolog, mendongak kaget mendengar suaraku tepat di depannya.

Kau pikir aku tidak bakal dengar itu, ya?

Saat Iris berdiri di sana, bingung dan tergagap, aku membuka inventaris. Dan aku mengeluarkan Kotak Merah Ajaib (Magic Red Box) yang kubeli di toserba sebelum datang ke sini.

“Aku sudah kembali, jadi kali ini kita bakal full service, kan?”

Itu adalah kondom 0,001mm yang dibuat dengan rekayasa sihir.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...