Otherworld Dating App - Chapter 14: The Magic Tower (2)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

“Haaah…”

Choi Young-ok, profesor penuh di Menara Sihir Abu-abu, sedang memeras otaknya atas penelitiannya yang belakangan ini tidak menunjukkan banyak kemajuan. Kilas inspirasi dan keyakinan dalam karyanya yang dulu datang begitu mudah kini telah lenyap.

Itu adalah kondisi yang dikenal sebagai mannerism. Suatu keadaan kehilangan minat, orisinalitas, dan kesegaran akibat pengulangan kehidupan sehari-hari atau pekerjaan yang tidak bermakna. Hal ini umum di kalangan seniman, tetapi juga sering terjadi di antara mage, yang membutuhkan pengetahuan matematika sekaligus sensibilitas artistik.

Cara mengatasi mannerism itu sederhana. Keluar dari rutinitas harian yang membosankan dan temukan rangsangan baru.

Tapi itu bukan tugas mudah saat terkurung di Menara Sihir. Menara Sihir tidak diragukan lagi adalah utopia bagi para mage. Mage magang bisa menghadiri kuliah oleh profesor brilian, dan profesor bisa melakukan penelitian mereka dengan bebas berkat dukungan menara.

Dan itulah masalahnya. Kehidupan di Menara Sihir adalah rangkaian hari yang terus-menerus sama. Siapkan materi kuliah, berikan kuliah, lakukan penelitian. Selain detail-detail kecil lainnya, hidupnya tidak pernah menyimpang dari siklus tiga bagian itu.

Tentu saja, menyenangkan melihat siswa berbakat. Cucu perempuannya sendiri, misalnya, adalah seorang jenius yang sudah mencapai Lingkaran ke-3. Tapi mannerism-nya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda akan sembuh.

Kenapa? Apa aku berharap rangsangan yang lebih besar? Apa aku secara tidak sadar ingin melihat sesuatu yang lebih mengejutkan? Pertanyaan itu berulang di benaknya seperti refrain lagu selama berhari-hari, tapi tidak ada jawaban yang cocok muncul.

"Huu… Mungkin aku harus cari udara segar?"

Menghela napas berat lagi, Choi Young-ok meninggalkan bengkel kerjanya. Ketika sesuatu terasa tak terpecahkan, tidak ada yang mengalahkan jalan-jalan. Meskipun bukan solusi langsung, udara dingin membantu menjernihkan pikirannya yang rumit.

Namun, jalan-jalan ini pun tidak bisa lagi meringankan hatinya yang berat atau pikirannya yang kusut. Kekhawatirannya bukanlah jenis yang ringan. Dia hanya berjalan menyusuri koridor sunyi dengan langkah berat, ragu apakah harus pergi ke atap atau menuju kota.

Apa karena sedang liburan? Tidak ada orang di sini. Menara Sihir juga punya liburan. Selama liburan musim panas dan musim dingin, semua siswa akan meninggalkan menara, entah kembali ke kampung halaman atau bepergian mencari inspirasi baru.

Tentu saja, hanya karena siswanya pergi bukan berarti seluruh menara kosong. Berbagai mage, termasuk profesor penuh, profesor madya, asisten profesor, dan asisten pengajar, masih akan ada di sekitar.

Tapi lorong tetap sunyi. Apa memang begini sifat mage yang suka menyendiri? Tipe orang yang menganggap waktu makan pun buang-buang waktu dan cuma makan sesuatu yang sederhana di bengkel kerja mereka sepertinya tidak mungkin berkeliaran pada jam segini.

Kesunyian ini mungkin berguna untuk kontemplasi, tapi tidak membantunya saat ini. Akan lebih baik jika aula dipenuhi siswa yang berisik.

Apa karena dia sudah khawatir terlalu lama? Rasanya semakin sulit menghentikan pikirannya agar tidak berputar ke arah negatif. Sadarlah. Aku tidak bisa terus begini. Mungkin aku harus pergi belanja sebentar…

"Hei, kau dengar tidak?"

Tepat saat dia berbalik menuju lift untuk turun, dia mendengar suara-suara.

"Lobi baru saja menelepon. Ada cowok yang bahkan bukan chaebol generasi ketiga muncul mau daftar jadi mage."

"...Dia bukan penipu, kan?"

"Bro, kau pikir dia bakal coba nipu di Menara Sihir dari semua tempat?"

"Benar juga... Tapi kalau bukan chaebol, terus dia apa? Apa ada yang mengajarinya sihir secara privat? Kalau iya, kenapa baru daftar sekarang?"

"Mana kutahu? Pokoknya, aku mau cek ke sana. Kau mau ikut?"

"Jelas lah..."

Bruk— Pria itu kaget dan berputar saat sebuah tangan mencengkeram bahunya.

"Bisa ceritakan lebih lanjut soal itu?"


Mengikuti karyawan wanita yang kutemui di lobi, aku tiba di tempat yang terlihat seperti ruang resepsionis. Seluruh suasananya praktis berteriak, "Kami menghabiskan uang segudang buat tempat ini."

Aku tidak menunjukkannya, tapi ini pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini selama 21 tahun hidupku, jadi aku tidak bisa menahan rasa gugup. Tentu saja, terlepas dari perasaanku, karyawan yang membimbingku ke sini hanya menyuruhku menunggu sebentar lalu menghilang. Dingin banget.

Tanpa hal lain yang bisa dilakukan, aku memutuskan untuk tea time kecil-kecilan dengan camilan dan minuman yang tertata di meja.

...Boleh dimakan kan ini?

Sesaat aku ragu, tapi mereka tidak akan memarahi tamu karena makan beberapa camilan, kan? Lagipula, apa aku ini tamu?

"Woaah... Kenapa camilan ini enak banget?"

Rasa gurih, manis yang halus menempel di lidahku bagaikan kejutan setingkat meteor bagi orang sepertiku, yang cuma pernah makan keripik kentang kantongan seharga 1.500 won.

Penasaran semahal apa harganya sampai bisa seenak ini, aku mencarinya di ponsel. Harganya tidak sampai tak terjangkau, tapi lumayan mahal untuk ukuran camilan.

"...Ah, itu bukan harga satu kantong, tapi harga satu biji yang dibungkus terpisah?"

Ada dua belas biji di kantong yang kubuka... Oh, sial. Orang-orang di Menara Sihir ini pasti gila. Mereka menghabiskan uang sewa setengah tahunku cuma buat camilan? Aku tidak bisa memaafkan pemborosan semacam ini, tak peduli sekaya apa mereka.

Sambil menjejalkan camilan ke mulutku sebelum ada orang lain datang, aku berpikir dalam hati bahwa, faktanya, camilan ini memang enaknya keterlaluan.

"Apa sih yang mereka masukkan ke sini sampai rasanya seenak ini?"

Apa ada serbuk emasnya atau gimana?

"Itu dicampur dengan Bubuk Pistachio Sihir dari Kebun Raya Hwargal, Gate Rank-D."

"?!"

Aku langsung menoleh ke arah suara yang berbisik di telingaku.

"Oh astaga, maaf. Apa aku mengagetkanmu?"

Iya, bangsat, kau mengagetkanku.

Orang yang menjatuhkan permen manis itu ke telingaku adalah wanita paruh baya dengan garis senyum tipis. Rambut merahnya yang dikepang rapi dan mata yang senada sangat mencolok. Dilihat dari jubah yang dipakainya, dia jelas seorang mage.

"Senang bertemu denganmu, Kang Hyun-woo."

Dia menatap mataku dengan senyum lembut. Entah kenapa, jantungku tidak berdebar. Aura dan penampilannya tentu lebih mengesankan daripada aktris paruh baya yang terawat, tapi begitu aku melihat kerutan di wajahnya, dia jauh di luar zona sasaranku.

"Namaku Choi Young-ok. Aku ditugaskan sebagai pendampingmu hari ini."

Tidak penting bagaimana dia tahu namaku. Aku sudah mengisi semua informasi pribadiku di meja depan tadi.

"Senang bertemu dengan Anda."

Aku membungkuk sedikit.

"Hehe, kau bilang kau datang untuk mendaftar sebagai mage, benar?"

"Ya, dan kalau mungkin, saya ingin mendaftar masuk Menara Sihir. Apa itu mungkin?"

Masuk Menara Sihir adalah gelar yang dianggap masyarakat setara dengan, atau bahkan lebih baik daripada, memenangkan lotre dengan peluang yang sangat kecil. Seperti yang kusebutkan, Menara Sihir kebanjiran uang, jadi dukungan mereka untuk anggotanya sangat dermawan.

Aku bisa menerima dukungan biaya hidup sebelum mulai memasuki Gate, atau mungkin menemukan sesuatu yang bisa membantu Iris nantinya.

"Tentu saja. Kami selalu menyambut individu berbakat."

Bibir Choi Young-ok merekah menjadi senyuman yang penuh niat baik tulus, bukan sekadar basa-basi.

Itu wajar saja. Sejak dia memasuki ruang resepsionis, dia sudah merasakan bahwa Kang Hyun-woo bukan orang biasa.

...Ini benar-benar sulit dipercaya.

Seolah-olah semua mana di ruangan itu menempel padanya, berusaha merayunya. Menyerap mana yang ada di alam membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Begitu juga dengan proses asimilasi diri.

Tapi dia tampak mampu menyerap mana sambil bernapas dan berpikir seperti biasa. Tidak, itu pasti kenyataannya. Mana itu tidak masuk ke tubuhnya tapi bertahan di permukaan, jelas karena dia secara tidak sadar mencegah jumlah berlebihan terserap.

Itu adalah bakat luar biasa yang mustahil dijelaskan. Afinitasnya terhadap mana tak tertandingi oleh mage lain. Dari mana sebenarnya jenius seperti itu... tidak, monster seperti itu muncul?

Choi Young-ok yakin.

"Permisi, Hyun-woo? Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Hah? Yah, saya tidak keberatan."

Hanya melihatnya tumbuh saja sudah cukup untuk menariknya keluar dari mannerism-nya.

"Siapa yang mengajarimu sihir?"

Bisa dibilang, ini pertanyaan paling penting. Sihir adalah bidang studi—tidak, itu sesuatu di luar studi dan akal sehat—yang hampir mustahil dipelajari sendiri. Dia pasti punya seseorang yang bisa disebut guru.

Dari perspektif itu, kunjungannya ke Menara Sihir tidak bisa dipahami. Bagi mage, murid dengan bakat luar biasa adalah bantuan besar dalam memajukan sihir mereka sendiri. Mereka mempelajari sihir yang sama, namun melihat dan menafsirkannya dari perspektif yang sama sekali berbeda. Mereka bahkan bisa memberikan pencerahan kepada guru mereka melalui ide orisinal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Meskipun bakat bukan satu-satunya hal yang dicari mage saat memilih murid, adalah fakta tak terbantahkan bahwa seseorang akan merasa serakah saat melihat orang dengan bakat sebesar itu. Anak dengan afinitas mana setinggi itu seharusnya disembunyikan dan dibesarkan di suatu tempat yang tak terjangkau siapa pun.

"Uh..."

Kang Hyun-woo tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Choi Young-ok.

Kalau dia bilang, "Guruku adalah mantan ratu elf dari dunia lain!" dia bakal berakhir bukan di Menara Sihir, tapi di rumah sakit jiwa. Kalau dia mencoba mengarang guru fiktif, kebohongan seperti itu tidak akan bertahan lama di antara para mage, yang jumlahnya kurang dari 1% populasi dunia.

"...Itu rahasia."

Jadi, dia tidak punya pilihan selain bilang, "Bodo amat," dan merahasiakan kartunya.

"Ah... Kalau begitu sudah berapa lama sejak kau mulai belajar sihir...?"

Dia sangat ingin tahu siapa yang telah mengambil anak laki-laki seperti itu sebagai murid, tapi akan tidak sopan mendesak masalah itu ketika dia jelas tidak ingin membicarakannya, apalagi karena mereka baru saja bertemu.

"Sehari...?"

"......Maaf?"

Dia tidak berbohong. Berbohong itu tidak baik. Kalaupun ada, dia justru merendah dengan membulatkan dari setengah hari menjadi sehari penuh. Choi Young-ok tampak seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya, tidak bisa mempercayai jawabannya.

Tapi itu hanya sesaat. Sebagai mage veteran, dia memilih fokus pada kebenaran daripada keterkejutannya. Dengan mengalirkan kekuatan sihirnya, dia menjadi lebih peka terhadap perubahan situasi dan menatap Kang Hyun-woo sekali lagi.

Perubahan pada tubuh—pelebaran pupil, gerakan mata, keringat, denyut nadi, laju dan kecepatan pernapasan, tekanan darah—berfungsi sebagai bukti yang sangat baik apakah seseorang berbohong.

Sepertinya... dia tidak berbohong...

Tentu saja, itu tidak 100% akurat. Agen khusus terlatih bisa dengan terampil menyembunyikan hal-hal seperti itu. Tapi dari penampilannya, kemungkinan Kang Hyun-woo menjadi agen semacam itu sangat rendah. Selain itu, tidak ada agensi yang akan mencoba menyusupkan agen dengan cara ini.

Apa itu berarti dia benar-benar menciptakan lingkaran mana hanya setelah satu hari belajar sihir? Bahkan jika kau menulis novel seperti ini, kau akan dihujat karena tidak masuk akal.

Hanya segelintir anak dengan bakat terbukti yang diterima di Menara Sihir pada usia sepuluh tahun. Tentu saja, bahkan anak-anak itu melalui proses penyaringan lagi. Rata-rata, butuh waktu delapan hingga sembilan tahun bagi anak-anak itu untuk membentuk lingkaran mana. Cukup banyak dari mereka butuh waktu lebih lama, dan beberapa bahkan dikeluarkan.

Cucu perempuan Choi Young-ok, yang mempersingkat proses itu menjadi enam tahun, dipuja sebagai anak ajaib zaman ini, dan bahkan Tuan Menara Sihir Abu-abu konon butuh waktu tiga tahun.

Tentu saja, dunia ini luas, dan jenius itu banyak. Melihat kembali sejarah, bukannya tidak ada rekor yang melampaui Tuan Menara, dan kemungkinan jenius seperti itu muncul di masa depan cukup tinggi.

Tapi satu hari?

"Heh, hehe..."

Choi Young-ok tidak bisa menahan tawa. Dan dia dengan tenang memikirkan penawaran terbaik yang bisa dia berikan padanya.

"Hyun-woo?"

Dengan senyum paling ramah yang pernah dia tunjukkan, dia menggenggam tangan pria itu erat-erat.

"Apa kau mau bertemu cucu perempuanku?"

Lagipula, salah satu aturan investasi paling penting adalah beli saat harga rendah. Jika bakat luar biasa Kang Hyun-woo bertemu dengan darah keluarga Choi, bukan mustahil keluarganya akan diperhitungkan di antara keluarga sihir bergengsi terbesar di Korea, atau bahkan dunia.

"Uh..."

Tentu saja, dari sudut pandang Kang Hyun-woo, ini adalah situasi "Omong kosong apa ini?".

Cucu perempuan? Dia punya cucu perempuan dengan wajah itu? Dia bukan cuma tante-tante paruh baya, dia nenek-nenek?? Wow, kekuatan sihir benar-benar sesuatu yang lain.

Fakta bahwa dia punya cucu perempuan kurang penting dibandingkan fakta bahwa cucu perempuan tersebut cukup umur untuk dijodohkan dengan pria 21 tahun. Kalau dia bayi baru lahir, aku akan berasumsi dia langsung hamil, tapi kalau cucunya di atas dua puluh, berarti umurnya pasti...

Tanpa perlu berpikir lebih jauh, sihir benar-benar dewa. Saat aku sekali lagi merasakan kehebatan kekuatan sihir, pikiranku jadi rumit.

Dulu, aku pasti akan langsung mulai mempersiapkan pernikahan, tapi sekarang, kata "perjodohan" membuat wajah Iris muncul duluan di kepalaku. Apa benar bagiku pergi kencan buta sementara Iris menungguku tanpa henti di tempat gelap itu?

...Tapi bukannya waktu di dunianya juga berhenti?

Sama seperti waktu di Bumi hampir berhenti saat aku di dunia itu, masuk akal untuk berasumsi waktu di dunianya berhenti saat aku di Bumi. Berpikir begitu, rasa bersalahnya sepertinya berkurang sedikit...?

Apa maksudmu rasa bersalahnya berkurang, dasar bajingan gila? Kau mau menelantarkan Iris? Tentu saja tidak. Tidak akan pernah.

Kang Hyun-woo, pria sejati, sama penuh loyalitasnya seperti Iris yang penuh kasih sayang keibuan. Tidak mungkin aku tergoyahkan oleh kencan buta sekarang...

"Ini foto cucu perempuanku. Mau lihat?"

Di layar ponsel Choi Young-ok, yang tiba-tiba dia sodorkan padaku, ada mage cantik berambut merah yang seksi.

"...Haruskah aku memanggilmu Nenek?"

"Hehe, kalau begitu kurasa aku bisa memanggilmu cucu, menantuku."

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...