Otherworld Dating App - Chapter 13: The Magic Tower (1)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Setelah menenangkan tetangga bawahku dan menyuruhnya pergi, aku memutuskan untuk melihat lebih dekat skill bernama Weakness Insight (Wawasan Kelemahan).

Aku tidak khawatir soal cara menggunakannya. Saat aku mendapatkan skill itu, pengetahuan tentang cara menggunakannya langsung tertanam di kepalaku seolah-olah aku sudah mengetahuinya sejak lama.

Aku pergi ke cermin.

Weakness Insight.”

Segera setelah aku menggunakan skill itu, efek berkilauan muncul di seluruh bayanganku. Efek itu bersinar paling terang di kepala dan jantungku. Bagian tubuh lain juga bersinar, tapi tidak seintens dua titik itu.

“Ini bakal lebih berguna buat ngelawan magical beast daripada orang.”

Kelemahan manusia kurang lebih sama semua, tapi magical beast sering kali punya titik lemah yang tidak terduga, yang akan membuat Weakness Insight sangat berguna.

Kalau aku bisa berburu magical beast sambil bekerja sebagai wizard, bayarannya bakal lumayan banget, kan? Senyum otomatis mengembang di wajahku saat memikirkannya.

“Tinggal Golden Random Box yang tersisa.”

Aku tidak bisa menahan tawa saat mengatakannya. Dan kenapa tidak? Set peralatan pemula dan tiket perolehan skill saja sudah gila bagusnya, jauh melampaui ekspektasiku. Dan ini bukan sembarang kotak acak; ini Golden Random Box.

“Wah, gimana kalau aku dapat item grade Unique? Itu bakal terlalu broken.”

Saat ekspektasiku menembus langit dan menuju Mars, aku membuka kotak acak itu.

[Apakah Anda ingin membuka Golden Random Box?]

[Y/N]

[Y]

[Membuka…]

[TIPS. Apa saja bisa keluar dari random box.]

Aku menunggu kotak terbuka sambil membaca tips yang sebenarnya bukan tips.

[Golden Random Box telah dibuka.]

Secara real-time, bahkan belum lima detik, tapi rasanya seperti sepuluh menit telah berlalu. Ah, kalau dipikir-pikir, apakah waktu yang kuhabiskan di dunia lain itu berlaku juga di Bumi? Saat aku teralihkan oleh pikiran mendadak itu…

[Tada!]

[Anda telah menerima ‘Shop Item Random Exchange Ticket’.]

[Shop Item Random Exchange Ticket]

[Grade: ??]

[Anda bisa mendapatkan secara acak salah satu item yang saat ini terdaftar di shop. Grade item yang didapat akan ditingkatkan secara acak.]

[Sisa Waktu: 02:59]

“...Apa?”

Mendapatkan sesuatu yang bukan ampas tapi juga bukan hadiah utama membuat kepalaku pusing.


[Sisa Waktu: 02:13]

“Tunggu, tunggu… biar kupikir…”

Apa yang keluar dari Golden Random Box adalah tiket penukaran yang memungkinkanku mendapatkan secara acak salah satu item yang terdaftar di shop. Fakta bahwa itu bukan tiket selection (pemilihan) memang agak mengecewakan, tapi grade item yang di-upgrade membantu mengurangi kekecewaan itu.

Masalahnya adalah, semua yang ada di shop saat ini cuma kumpulan item grade rendah yang biasa-biasa saja.

“Hah… Shop-nya nggak bakal ke-refresh dalam dua menit ke depan, kan…?”

Bisa saja sih. Peluangnya kecil banget, bangsat. Tapi bagaimana kalau tidak? Aku cuma bakal menyia-nyiakan tiket penukaran itu.

“...Tetap saja, bukannya nggak ada yang layak diambil.”

Item yang ada di shop saat ini adalah: Pedang Besi 200 koin, Paket Alkimia Dasar 500 koin, Buku Ilmu Pedang Dasar 550 koin, Ramuan Kesehatan Tingkat Terendah 600 koin, Ramuan Mana Tingkat Terendah 600 koin, Tiket Cunnilingus Acak Aktris Top 800 koin, Pil Misteri 850 koin, Ramuan Peningkat Kekuatan 920 koin, dan akhirnya, Grimoire Terlarang 1.000 koin.

Jujur, semuanya kecuali Pedang Besi dan tiket cunnilingus itu lumayan. Mendapatkan Grimoire Terlarang bakal jadi hadiah terbaik.

“Tuhan, Buddha, Yesus, Allah, Bunda Maria, semua roh langit dan bumi, tolong, tolong, tolong…!!”

[Apakah Anda ingin menggunakan Shop Item Random Exchange Ticket?]

[Y/N]

[Y]

“LET’S GOOOOOO!!!!!”

Wuss! Layar baru muncul dengan kilatan cahaya putih.

[Terima kasih atas pembelian Anda untuk ‘Tiket Cunnilingus Acak Aktris Top’.]

“BAAAAAAANGSAT!!!!!!!”

Alam semesta sedang mempermainkanku.

DOR, DOR, DOR!

“Hei!! Bukannya sudah kubilang jangan berisik?! Kau tahu jam berapa sekarang?!”

˙

˙

˙

Bruk—

Setelah pertempuran lain dengan tetangga bawahku selesai, aku menyeret kaki kembali ke apartemen dan melempar diri ke kasur.

“...Dunia nggak bisa giniin aku.”

Tiket Cunnilingus Acak Aktris Top, dari sekian banyak hal. Bagaimana aku harus menggunakan item ranjau darat yang bisa memberiku nenek-nenek tua menjijikkan…

“...Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang?”

Aku belum mengecek di tengah kekacauan tadi, tapi pasti sekitar jam 8 malam saat aku match dengan Iris. Aku menghabiskan setengah hari ditambah 30 atau 40 menit bersamanya… jadi seharusnya hampir jam 3 pagi sekarang, kan?

Aku agak paham kenapa pak tua itu marah sekali. Tepat saat aku berpikir mungkin harus minta maaf padanya nanti, aku melihat layar ponselku dan tidak percaya dengan mataku sendiri.

[20:47]

“Apa ponselku… rusak?”

Tanggalnya juga belum berubah. Cuma… sama saja.

Memutar otak, sepertinya aku ingat waktu itu hampir jam 9 malam… Jika ingatanku benar, itu berarti waktu di Bumi hampir tidak bergerak selama aku bersama Iris.

“...Ini beneran nggak masuk akal.”

Ini seperti bawang; makin aku kupas, makin banyak lapisan yang kutemukan. Tentu saja, karena tidak ada yang merugikanku, aku tidak punya keluhan.

Satu-satunya masalah kecil adalah sementara waktu berhenti bagi orang lain, umurku sendiri terus berkurang. Tapi memperpanjang hidup adalah masalah yang bisa diselesaikan dengan naik tingkat sebagai wizard atau mengonsumsi elixir mahal. Selain itu, sulit dipercaya shop dari aplikasi overpowered konyol ini tidak menjual item yang memperpanjang umur pengguna.

Dengan kata lain, aku bisa menggunakan aplikasi tanpa rasa khawatir sedikit pun.

“Tiba-tiba perasaanku jadi jauh lebih baik.”

Suasana hatiku hancur setelah mendapatkan tiket cunnilingus sialan itu, tapi sekarang aku merasa agak lebih baik. Memang tertulis grade tiket akan di-upgrade, jadi mungkin setidaknya aku harus baca deskripsinya. Siapa tahu? Mungkin upgrade-nya mengubahnya dari random menjadi tiket selection.

Dengan hati-hati, aku membuka inventaris. Seolah tahu tempatnya, tiket itu teronggok di sudut. Aku mengetuknya dengan hati-hati.

[Tiket Seleksi Insersi Selebriti]

[Grade: Epic]

[Anda dapat memilih vagina atau anus selebriti yang Anda inginkan dan menikmatinya sesuka hati. Saat tiket digunakan, bagian tubuh yang dipilih dari aktris tersebut akan dipanggil, hanya terlihat oleh pengguna. Sensasinya terhubung dengan aktris itu sendiri. ※Tidak ada risiko kehamilan bahkan jika Anda ejakulasi di dalam, jadi silakan tuntaskan sesuka hati.]

Saat aku membaca deskripsi item, satu hal terlintas di benakku. Bukankah ini cuma onahole nirkabel yang dikendalikan jarak jauh?

“Bagus sih, tapi…”

Meskipun ini baru yang kedua, agak mengecewakan bahwa item grade Epic adalah untuk kepuasan seksual alih-alih sesuatu yang bisa membantu dalam pertempuran atau uang. Jujur, bisa menyetubuhi dan ejakulasi di dalam vagina selebriti mana pun yang kumau? Itu jelas tawaran menarik bagi pria mana pun.

Tapi setelah pertemuanku dengan Iris, tidak ada satu pun selebriti yang membuatku tertarik. Mengingat bagaimana rasanya meremas payudara besar Iris dan menciumnya dengan basah seperti bintang porno, lalu memikirkan aktris dan idol yang kulihat di TV… jujur saja, mereka semua terasa kurang dalam banyak hal.

“Kurasa kusimpan dulu saja.”

Aku mungkin bertemu wanita yang kusuka nanti, jadi aku memutuskan untuk menyimpannya sampai saat itu. Namun, tampaknya sementara peralatan bisa disimpan di luar, tiket insersi tidak bisa dikeluarkan dari inventaris untuk disimpan. Jika inventarisku, dengan 10 slotnya yang sedikit itu, mulai penuh, mungkin akan tiba saatnya aku harus menggunakannya dengan terpaksa.

Sampai saat itu, aku harus rajin menyusun daftar kandidat. Mungkin aku harus mengadakan Piala Dunia Tipe Ideal atau semacamnya. Kalau aku mengumpulkan semua selebriti wanita, aku mungkin bisa membuat bagan 512 orang. Pokoknya.

“Untuk sekarang, aku harus tidur. Aku capek banget, bangsat.”

Sekarang setelah aku melakukan semua yang kubisa, gelombang kantuk menyapuku. Wajar saja, mengingat aku menghabiskan setengah hari bersama Iris di dunia lain itu tanpa istirahat sedikit pun.

“Besok, aku akan pergi ke Menara Sihir (Magic Tower)… dan mengajukan pengunduran diri dari kampus…”

Sepertinya itu akan menjadi hari tersibuk dalam hidupku.


Menara Sihir berlokasi di ibu kota negara-negara maju di seluruh dunia. Mereka ada di negara berkembang juga, tapi standarnya tidak terlalu tinggi, dan mereka tidak dipandang baik.

Menara Sihir di Seoul, ibu kota Korea Selatan, disebut Menara Sihir Abu-abu (Gray Magic Tower), dan tuannya adalah Mage Lingkaran ke-7.

Aku tidak tahu kenapa menara Korea adalah Menara Sihir Abu-abu, tapi teori yang paling masuk akal adalah mereka dibangun sesuai selera pribadi Tuan Menara atau kecenderungan sihirnya, bukan karakteristik negaranya. Tentu saja, penampilan luar menara tidak ada hubungannya dengan warna abu-abu. Tampaknya benar bahwa mereka kaya raya mampus; itu jauh lebih bergaya dan lebih besar daripada landmark mana pun yang dibangun oleh perusahaan besar.

Kudengar mereka mengeruk uang dari setiap bisnis yang mereka jalankan, mungkin karena asosiasi itu terdiri dari personel tak tergantikan seperti wizard, tapi aku tidak pernah membayangkan skalanya akan sebesar ini.

Untuk menjadi anggota Menara Sihir seperti itu—lebih dari sekadar karyawan—seseorang harus memenuhi setidaknya satu dari syarat berikut:

Satu, menjadi seorang wizard. Dua, bakatnya diakui oleh wizard yang bersertifikat Menara Sihir. Tiga, lulus ujian Tuan Menara Sihir.

Itulah tiga caranya. Dan aku berencana bergabung dengan Menara Sihir dengan memenuhi syarat yang paling pertama.

Ding-dong—

“Nomor antrean 213.”

“Ya.”

Cabang Seoul dari Menara Sihir, Menara Sihir Abu-abu. Lobi lantai pertama gedung ini, dengan 110 lantai di atas tanah dan 10 di bawah, selalu ramai.

Hunter yang mencari wizard untuk party mereka, staf R&D dari perusahaan kecil dan menengah yang mencari bantuan pengembangan produk baru, dan berbagai orang lain dari semua lapisan masyarakat datang ke sini untuk meminta bantuan wizard.

“Terima kasih telah mengunjungi Menara Sihir Abu-abu. Ada yang bisa saya bantu hari ini?”

Wanita di loket nomor 2 di lantai pertama bernama Kim Hyerin, umur 27 tahun. Meskipun bukan wizard, dia lulusan program administrasi bisnis Universitas Hankuk dan, setahun yang lalu, cukup beruntung mendapatkan pekerjaan di Menara Sihir, tempat kerja impian bagi banyak pencari kerja.

Pekerjaannya adalah layanan pelanggan (customer service). Itu adalah peran yang ditakuti sebagian besar pekerja kantoran, tapi layanan pelanggan di Menara Sihir ada di level yang berbeda. Cukup banyak orang yang berakhir di rumah sakit setelah bertindak kasar di menara, jadi sebagian besar pengunjung cukup sopan.

Pekerjaannya melibatkan banyak hafalan, tapi sebagian besar tidak sulit. Ditambah lagi, tunjangan dan gajinya sebanding dengan perusahaan besar. Dia sering berpikir jika pekerjaan impian benar-benar ada, mungkin inilah tempatnya. Namun, bukan berarti tidak ada orang aneh sama sekali yang datang ke loketnya.

“Saya di sini untuk mendaftar sebagai wizard.”

“...Permisi?”

“Oh, benar. Saya juga ingin mendaftar di Menara Sihir. Apa ada formulir pendaftaran atau semacamnya?”

Karyawan itu meragukan telinganya. Apa kata orang ini barusan? Daftar sebagai wizard? Mendaftar di Menara Sihir? Dia kelihatan berusia awal dua puluhan… Apa dia sakit?

Bukan hal yang aneh bagi orang untuk ingin mendaftar sebagai wizard. Beberapa chaebol generasi ketiga mengambil les privat dan beruntung. Tapi orang-orang seperti itu tidak akan pernah mendaftar di loket umum seperti ini. Mereka biasanya diproses secara elektronik di lantai atas atau mendaftar setelah pertemuan pribadi dengan salah satu profesor menara.

“Mas? Anda terlihat masih muda, jadi saya beri tahu ini demi kebaikan Anda sendiri, tapi Anda tidak boleh bercanda di Menara Sihir. Terakhir kali, seorang klien yang tidak bisa mengendalikan amarahnya dan membuat keributan kena tuntutan hukum…”

Wuss—

Menganggapnya sebagai adik laki-laki, dia mencoba membujuknya untuk pergi dengan damai ketika itu terjadi.

“Apa ini cukup untuk meyakinkan Anda?”

Api menyala di telapak tangan pria itu.

“...Saya panggilkan supervisor.”

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...