Otherworld Dating App - Chapter 10: Initiation (4)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Ketika Iris langsung mengalirkan mana ke dalam tubuhku, vitalitas menyentak di sekujur tubuhku. Saking kuatnya sampai aku merasa bisa lari sprint 100 meter dalam waktu di bawah sembilan detik dengan mudah.

Itu saja sudah cukup mencengangkan sampai sulit dipercaya, tapi kejutan yang kuterima tidak berakhir di situ.

“Ini…”

Seiring vitalitas yang lebih kuat mengalir deras di tubuhku, aku bahkan merasakan sensasi samar kemahakuasaan. Hanya dengan mengepalkan tangan, cengkeramanku jauh lebih kuat dari sebelumnya. Pancaindraku, termasuk penglihatan dan pendengaran yang anehnya meningkat, semuanya mendukung hipotesis yang tiba-tiba muncul di kepalaku.

Jaga-jaga, aku memejamkan mata dan mengamati tubuhku sekali lagi. Lalu, aku merasakan sesuatu di dekat jantungku yang sebelumnya tidak ada. Dari bentuknya, secara naluriah aku tahu apa itu.

“Lingkaran mana…?”

“Selamat, Hyun-woo.”

Iris memasang ekspresi setengah gembira, setengah takjub. Pada titik ini, mudah menebak arti di balik ucapan selamatnya yang tiba-tiba.

“Apa aku… membentuk lingkaran mana?”

Ini lebih dari sekadar tercengang. Seorang mahasiswa yatim piatu korban perang menjadi mage dalam waktu kurang dari sehari? Bahkan untuk sebuah novel, itu adalah gelar yang bakal dihujani komentar kebencian karena plotnya penuh lubang.

Aku mencubit pipiku, bahkan menamparnya. Sakit dan perih, tapi rasa sakitnya cepat memudar. Itu bukan karena ini mimpi. Itu berkat kekuatan sihir yang membuncah dari jantungku.

“Jujur saja… meskipun aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku hampir tidak percaya.”

Iris terlihat imut dengan ekspresi terkejutnya. Aku tidak punya keinginan lain kalau saja aku bisa mencubit pipi itu sekali saja.

“Bahkan aku dipuji guruku karena membentuk lingkaran manaku dengan cepat, tapi itu pun butuh waktu sekitar dua bulan. Dan itu hanya mungkin karena aku hampir tidak tidur, berusaha sekuat tenaga berkomunikasi dengan mana. Tapi kau, Hyun-woo… bagaimana bisa…”

Aku juga terkejut. Aku masih tidak bisa mempercayainya.

Aku, semacam anak ajaib sekali dalam satu generasi yang membentuk lingkaran mana lebih cepat dari Iris? Pikiran itu membawa lebih banyak kegelisahan daripada kegembiraan.

Dulu di sekolah dasar, aku dinilai tidak punya bakat dalam tes kekuatan sihir nasional. Gara-gara itu, aku tidak bisa masuk Menara Sihir, dan aku tidak bisa menjadi mage. Tapi sekarang? Bakatku gila. Bukan hal yang aneh jika bakat mekar seiring bertambahnya usia, tapi ini sudah beda level.

Seorang archmage yang mencapai Lingkaran ke-8 seperti Iris butuh dua bulan, dan aku melakukannya dalam lima menit?

Aku tahu diri. Aku bukan jenius. Itu berarti ada campur tangan pihak ketiga.

Bukan Iris. Jika dia bisa menciptakan mage secara buatan, tidak mungkin para tetua itu akan mengikuti Resilia, bahkan jika dia mengkhianati Iris.

Lewat proses eliminasi, hanya satu kemungkinan yang tersisa. Aku berjalan dan mengambil ponselku, yang selama ini berfungsi sebagai sumber cahaya tidak langsung. Tepat seperti dugaanku, layar menampilkan persis apa yang sudah kuantisipasi.

[Terima kasih telah berpartisipasi dalam Kurikulum Konsultasi Kencan]

[Selamat atas pencapaian tujuan awal dari Proyek 'Menjadi Lawan Jenis yang Menarik!']

[Tercapai: 1st Circle Mage]

[Silakan cek kotak surat Anda untuk hadiah yang disiapkan sebagai Insentif Kencan]

Jadi itu kau. Kurikulum Konsultasi Kencan. Itulah hal yang membuat Iris yang tidak sadarkan diri memuntahkan masa lalunya yang gelap dan berat—apa yang bisa disebut traumanya—kepadaku tanpa ragu sedikit pun.

Aplikasi kencan dunia lain. Sejak saat ia menteleportasikanku ke dimensi lain, aku tahu itu bukan aplikasi biasa. Tapi aku tidak pernah membayangkan ia punya kekuatan untuk mengendalikan orang lain dan bahkan membantu secara langsung dalam pembentukan lingkaran mana.

Apa-apaan benda ini?

Ini hanya tebakan samar, tapi aku merasa ada seseorang di balik aplikasi ini. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dariku sampai memberiku aplikasi seperti ini, tapi tidak ada yang bisa kulakukan sekarang.

...Jadi aku seorang mage sekarang?

Jujur, aku masih linglung. Menjadi mage sudah menjadi impian seumur hidupku. Tentu saja, aku akan baik-baik saja dengan pekerjaan apa pun asalkan bayarannya bagus, tapi juga benar bahwa kerinduan menjadi mage tetap ada di sudut hatiku.

Menimbang pro dan kontra, pikiranku memutar ulang rentetan kejadian baru-baru ini dan sampai pada kesimpulan. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup.

Memang benar ada yang terasa janggal, tapi jika aku menggunakan kekuatan aplikasi ini dengan baik, tidak mungkin aku berakhir hanya sebagai mage Lingkaran ke-1. Bahkan Lingkaran ke-5, batas bagi mage biasa dan titik di mana seseorang disebut sorcerer, tampak dalam jangkauan. Mungkin bahkan mencapai Lingkaran ke-8, setara dengan Iris, tampak sepenuhnya mungkin.

Siapa peduli jika aplikasi ini dijalankan oleh iblis atau monster? Berjabat tangan dengan iblis tampak jauh lebih baik daripada berdoa kepada dewa yang tidak akan mendengarkan selama seratus, atau bahkan seribu hari.

Lagipula, ini adalah dunia di mana orang biasa tiba-tiba membangkitkan kemampuan khusus dan menjadi hunter atau hero. Sangat mungkin bahwa aplikasi ini hanyalah kemampuan yang telah kubangkitkan.

Baiklah, tidak usah terlalu dipikirkan lagi. Tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tidak bisa kupecahkan; itu hanya membuat segalanya lebih sulit bagiku.

Tujuanku sekarang sederhana: menjadi mage tingkat tinggi dan membebaskan Iris dari tempat ini.

“Ayo lanjutkan pelajarannya!”

“Ya!”

Kombinasi murid yang telah membangkitkan bakat luar biasa(?) dan guru yang bermotivasi tinggi dengan cepat meningkatkan tempo pelajaran.

Dasar Mistisisme, Alkimia Forelia, Teori Sintesis Elemen, dan seterusnya. Aku menghabiskan sebagian besar hari itu mempelajari dasar-dasar sihir.

Tentu saja, pelajarannya sulit. Kelas sihir, yang penuh dengan istilah teknis yang belum pernah kudengar sebelumnya, terasa seperti membuat otakku kelebihan beban. Tapi aplikasi kencan dunia lain itu menghempaskan semua kekhawatiranku.

[Pembelajaran dikonfirmasi untuk tujuan menengah dari Proyek 'Menjadi Lawan Jenis yang Menarik!']

[Tingkat Perolehan Pengetahuan Basic Magicology +1000%]

[Peningkatan Sensitivitas Mana +1000%]

[Peningkatan Kecepatan Asimilasi Diri Mana +10000%]

Aku bertanya-tanya apakah angkanya salah ketik, tapi efeknya lebih dari sekadar pasti—itu luar biasa. Aku menyerap pengetahuan seolah-olah itu diukir langsung ke otakku begitu mendengarnya. Tertulis +1000%, tapi rasanya jauh lebih dari itu.

Sebagai contoh yang sedikit berlebihan, itu seperti orang dewasa yang hanya lulusan SD bisa mendapat nilai sempurna dalam ujian masuk perguruan tinggi hanya setelah satu minggu belajar. Sebegitu konyolnya kemampuan ini.

Dan bukan itu saja. Mungkin karena sensitivitas manaku yang meningkat, mana yang melayang di udara praktis mengamuk sepanjang pelajaran, putus asa ingin masuk ke tubuhku. Melihat ini, Guru Iris menatapku dengan mata penuh kejutan dan emosi, tapi aku justru merasa itu membebani.

Bukan karena tatapan Iris, tapi karena mana-nya. Perasaan sensitivitas mana yang meningkat begitu kuat hingga rasanya mana itu sendiri sedang merayuku. Sensasi dicintai oleh energi tak berwujud dan tak berbentuk bukanlah sesuatu yang kusebut menyenangkan.

Pepatah 'sesuatu yang berlebihan itu tidak baik' ada karena suatu alasan. Sama seperti ada jumlah yang tepat untuk infus, menerima lebih banyak mana daripada yang bisa kutangani akan menghancurkanku.

Untungnya, ketika aku menolaknya dengan tulus, mana itu mundur diam-diam seolah punya kehendak sendiri. Aku bertanya-tanya apakah ini mungkin, tapi sekali lagi, dalam waktu kurang dari sehari, aku telah melakukan perjalanan ke dimensi lain, menyentuh dada elf yang cantiknya luar biasa, dan menjadi mage yang selalu aku impikan.

Itu lebih dari cukup pengalaman untuk membuatku sadar bahwa dalam hidup ini, apa pun bisa terjadi. Aku kembali fokus, dan pelajaran berlanjut.

“Hyun-woo, apa kau tahu kalau mage juga dikategorikan berdasarkan bidang studi mereka?”

“Ini pertama kalinya aku mendengarnya.”

“Elemental, Konseptual, Alkimia, Roh, Pemanggilan… mage disebut dengan hal berbeda tergantung jurusan mereka. Mage elemental disebut Elementalist, mage konseptual adalah Conceptualist, dan mage alkimia adalah Alchemist, dan seterusnya. Tentu saja, sah-sah saja memanggil mereka mage juga.”

Tentu saja, ini semua baru bagi Kang Hyun-woo. Aku pernah melihat media di Bumi bicara soal alkemis dan summoner, tapi dulu, aku cuma mengira itu gelar yang terdengar keren.

“Lalu kau masuk kategori yang mana, Iris?”

“Aku seorang spirit master. Roh tidak bisa mendekati Pohon Dunia, jadi aku tidak bisa menunjukkannya padamu sekarang, tapi aku punya kontrak dengan cukup banyak dari mereka.”

Elf dan roh, tentu saja. Pada titik ini, klise fantasi dari Bumi mungkin juga bisa dianggap informasi yang 100% dapat diandalkan.

Tapi itu memunculkan satu pertanyaan. Di Bumi, ada beast-kin, dragonfolk, dwarf, dan halfling, jadi kenapa tidak ada elf? Menurut apa yang kupelajari di kelas sejarah, ras lain selain manusia dan monster iblis bukan asli Bumi. Konon mereka mulai muncul dalam literatur berbagai negara pada suatu masa… tapi kenapa cuma elf yang hilang?

Ada yang aneh.

“...Hyun-woo?”

“Ah, maaf. Aku melamun sebentar…”

“Hehe, tidak apa-apa. Sudah enam jam sejak kita mulai. Kau mendengarkan tanpa istirahat sedikit pun, jadi kau pasti lelah. Kita sudahi dulu hari ini.”

Dia bilang tidak apa-apa, tapi mengingat kepribadian Iris yang baik, aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa dia hanya sedang pengertian padaku. Masih terasa tidak nyata, tapi aku diajar oleh seorang archmage—setara dengan satu dari hanya tiga orang di Bumi.

Haruskah aku minta maaf secara formal sekarang? Pikiranku jadi rumit dengan kekhawatiran yang belum pernah kumiliki sebelumnya, tapi aku memutuskan akan tidak sopan menolak perhatiannya. Aku hanya bertekad agar tidak membiarkannya terjadi lagi dan melanjutkannya.

“Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“Kau juga bekerja keras, Hyun-woo. Andai saja aku punya setidaknya setengah bakat guruku dalam membuat pelajaran menyenangkan.”

“Gurumu?”

“Ya, beliau adalah mantan raja Peledeia dan juga orang yang mengajariku sihir.”

Mungkin tenggelam dalam kenangan lama, tatapan Iris beralih ke langit-langit gelap seolah sedang mengenang masa lalu. Bagiku, aku tidak benar-benar bisa berempati dengan perasaannya terhadap mantan raja dan guru yang belum pernah kutemui, jadi aku diam saja.

Tepat saat itu, ketika aku sedang membungkuk, diam-diam melihat layar ponselku.

Tring—

Suara notifikasi yang familier berbunyi saat layar baru muncul di ponselku.

[Terima kasih telah menggunakan aplikasi kami]

[Selamat atas match pertama Anda. Hadiah tambahan telah dikirim ke kotak surat Anda. Silakan cek nanti]

[Ini adalah pemberitahuan bahwa match akan segera berakhir]

[Sisa Waktu: 14:59]

“Ini… ada batas waktunya?”

Sudah lebih dari setengah hari sejak aku tiba. Aku berharap sisa waktunya lima belas jam, bukan lima belas menit, tapi tak seberuntung itu. Mataku tertuju pada penghitung waktu saat angka itu langsung turun ke 14:40.

Tanpa ampun. Benar-benar tak punya hati. Seorang perjaka 21 tahun sedang di tengah-tengah menikmati kencan nyaman(?) dengan elf super cantik, dan benda itu harus merusak suasana. Rasanya ingin memberinya rating bintang satu.

Tetap saja, jika ada harapan, biasanya di aplikasi kencan pada umumnya, batas waktu seperti ini bisa diselesaikan dengan uang. Mustahil sekarang, tapi mungkin ada cara untuk menyelesaikannya begitu aku kembali ke Bumi.

Selain itu, aku sudah punya dua hadiah yang menumpuk di apa yang disebut kotak surat. Sudah saatnya aku menyelidiki aplikasi ini lebih dalam. Aku juga penasaran apa yang terjadi di luar.

Ditambah lagi, sekarang setelah aku membentuk lingkaran mana, meskipun baru Lingkaran ke-1, aku memenuhi syarat untuk masuk Menara Sihir. Dan di usia 21, aku juga tidak terlalu tua. Kudengar kau dapat subsidi dari pemerintah jika mendaftar sebagai mage. Itu saja sudah cukup menanggung biaya hidupku.

Berbagai hal lain terlintas di benakku, memberitahuku bahwa sudah waktunya kembali ke Bumi, tapi memikirkan Iris membuatku ingin tinggal di sini sedikit lebih lama. Karena itu, prioritas nomor satuku adalah mencari cara untuk kembali secepat mungkin.

“Um, Iris?”

“…”

Melihat punggungnya, tidak merespons panggilanku, sepertinya dia masih tenggelam dalam kenangannya. Aku merasa tidak enak mengganggu, tapi batas waktu mendesakku, jadi aku tidak punya pilihan. Kali ini, aku mengguncang bahunya pelan dan memanggil.

“Iris?”

“Ya?”

Iris berbalik, ekspresi sedikit kaget di wajahnya.

“Maaf.”

“Ah… tidak, tidak apa-apa. Aku cuma memikirkan masa lalu… Ada masalah?”

Kemerahan samar di sekitar matanya membuat hatiku sakit, tapi… aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa.

“Yah… kurasa aku harus kembali sekarang.”

Aku selesai menjelaskan bahwa aplikasi itu punya batas waktu dan aku akan kembali secepat mungkin, jadi dia tidak perlu khawatir, tapi tidak ada jawaban. Tepat saat aku bertanya-tanya kenapa...

“Apa kau akan meninggalkanku sendirian?”

“...Apa?”

Dugg—

Aku tersentak merasakan getaran yang seolah mengguncang seluruh gua. Gempa bumi? Saat aku melihat sekeliling.

Grep.

Aku menoleh merasakan sentuhan lembut yang mencengkeram pergelangan tanganku. Di sana, mata hijaunya, bersinar jauh lebih tajam dari sebelumnya, terpaku padaku.

“Jangan pergi.”

Iris tidak tersenyum.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...