Otherworld Dating App - Chapter 1: Matching (1)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Nama, Kang Hyun-woo. Umur, 21 tahun. Aku hanyalah mahasiswa biasa pada umumnya. Satu-satunya hal yang agak berbeda dariku adalah aku belum pernah punya pacar dan masih perjaka.

Tentu saja, menjadi perjaka di usia 21 tahun bukanlah hal yang langka. Bahkan ada cowok yang lebih tua dariku yang nasibnya sama.

“Hah. Pada akhirnya, aku cuma cari-cari alasan saja.”

Hanya karena ada banyak perjaka di luar sana, bukan berarti itu sesuatu yang patut dibanggakan. Faktanya, aku sudah menghabiskan lebih dari satu tahun di kampus, di jurusan yang didominasi perempuan, namun tetap saja belum berhasil mendapatkan pacar, atau bahkan sekadar teman wanita yang dekat. Itu jelas berarti ada yang salah denganku.

"Wajahku nggak jelek-jelek amat, kan..."

Wajah dan tubuhku cukup lumayan, setidaknya tidak akan memberikan kesan pertama yang buruk.

'Aku harus segera wajib militer, dan saat aku kembali nanti, aku akan diperlakukan lebih rendah dari manusia. Seorang mahasiswa yang tetap perjaka sampai lulus? Bahkan bukan anak SMA?'

Setidaknya saat SMA, itu masih wajar karena banyak teman lain yang juga masih polos. Tapi sekarang aku sudah dewasa. Menjadi perjaka sampai lulus kuliah adalah sesuatu yang tidak bisa aku terima sebagai seorang pria.

"Haaah, tapi kehilangan keperjakaan di rumah bordil itu pilihan terakhir yang mutlak..."

Gengsiku tidak mengizinkan pengalaman pertamaku terjadi di tempat seperti itu. Aku lebih memilih tetap perjaka sampai umur 30 dan berubah menjadi penyihir.

Krucuuuk—

"...Mungkin sebaiknya aku makan dulu baru mikir."

Aku merobek bungkus mi instan, seperti biasa. Belahan jiwa mahasiswa miskin yang tinggal sendirian.

Tiba-tiba terlintas di benakku, kalau aku punya pacar, aku pasti sedang makan pasta yang harganya lebih dari 20.000 won per piring, bukannya mi instan yang harganya kurang dari 1.000 won per bungkus. Dan aku juga harus membayar makanan pacarku, jadi 40.000 won akan melayang hanya untuk satu kali makan.

Hanya membayangkannya saja sudah membuat punggungku merinding, tak perlu AC lagi. Yap, dengan kondisi keuanganku saat ini, pacaran adalah kemewahan yang tak sanggup kubeli.

"Sepertinya sudah matang. Nah, cari alas di mana ya?"

Aku menggunakan buku diktat sebagai tatakan panci dan meletakkan panci panas itu di atasnya. Buku teks sialan yang tebalnya minta ampun ini. Aku membayarnya mahal-mahal dan bahkan menjilidnya, tapi dosen-dosen sialan itu cuma pakai PowerPoint untuk kuliah mereka.

Berkat mereka, aku cuma punya satu lagi tatakan panci mahal yang tak berguna. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau aku tidak suka... memangnya apa yang bisa kulakukan? Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mahasiswa biasa sepertiku. Sebaiknya aku makan mi saja.

Sluuurp—

Saat aku memasukkan suapan mi ke mulut dan menggulir NewTube, sebuah berita yang biasanya tak akan kulirik menarik perhatianku. Judulnya tidak biasa.

[Hunter S-Rank Baru Muncul di Jepang!]

"Makin panas saja situasinya."

Kalau ingatanku benar, ini membuat Jepang menjadi negara powerhouse monster dengan total sebelas Hunter S-Rank. Sebaliknya, negara kita cuma punya empat. Bagi kita, yang juga harus bertahan dari serangan magical beast yang turun dari utara, jumlah itu sangat menyedihkan.

"Yah, Korea Selatan itu... relatif aman, kurasa."

Rasanya agak berlebihan kalau mengeluh soal mendapat titik spawn yang buruk hanya karena ini bukan Amerika Selatan atau Asia Tenggara. Orang-orang terkadang mati karena monster, tapi setidaknya negara kita belum dikuasai oleh penjahat.

Saat aku tenggelam dalam pikiran, wanita yang baru saja menjadi S-Ranker di video itu berjalan naik ke atas panggung. Dia cantik banget, bangsat.

Perdana Menteri Jepang ada di panggung. Dia mengalungkan medali di leher wanita itu, dan mereka berdua tertawa serta berjabat tangan sambil dihujani kilatan kamera. Melihat itu, tiba-tiba selera makanku hilang. Aku melempar ponselku ke samping.

Aku iri sekali. Aku tidak perlu jadi Hunter S-Rank. Kalau saja aku bisa membangkitkan satu kemampuan badass, aku bisa berhenti hidup dengan mi instan dan mendapatkan pacar yang cantik.

Tentu saja, aku tahu betul itu tidak akan pernah terjadi, bahwa kehidupan seperti itu mustahil bagiku di kehidupan ini, jadi yang bisa kulakukan hanyalah tertawa hampa. Rasa pahit memenuhi mulutku. Meski begitu, rasanya sayang kalau tidak dihabiskan, jadi aku menyendok sisa mi ke mulut dan mengambil ponselku lagi, mencari sesuatu untuk menghibur diri.

Ting—

[Otherworld Dating App telah diinstal]

Tepat saat itu, sebuah notifikasi muncul.

"...?"

Itu adalah notifikasi yang memberitahukan bahwa sebuah aplikasi yang belum pernah kulihat sebelumnya telah terpasang.

“Apa-apaan...?”

Jelas-jelas aku tidak pernah menginstal yang beginian. Aku sedang nonton NewTube. Kapan aku sempat menginstalnya?

“Apa aku tidak sengaja memencet iklan waktu melempar ponsel tadi?”

Tidak ada penjelasan lain. Secanggih apa pun penipuan voice phishing sekarang, tidak mungkin aplikasi aneh tiba-tiba terinstal sendiri tanpa aku mengklik tautan atau membuka pesan teks.

“Lagipula, aplikasi kencan...”

Aku pernah mencoba aplikasi random chat beberapa kali sebelumnya. Tapi aku cepat-cepat berhenti karena setiap kali masuk room, orang-orang cuma minta 'pap?' untuk memastikan jenis kelamin. Tetap saja, ini pertama kalinya aku mencoba aplikasi kencan.

“Apa kucoba saja, ya?”

Sepertinya lumayan buat buang waktu. Dari desain ikonnya yang jelek sampai nama aneh 'Otherworld Dating App' (Aplikasi Kencan Dunia Lain), ini benar-benar berteriak 'dibuat asal-asalan oleh perusahaan kecil ecek-ecek yang mau cari untung cepat lalu kabur'.

Tapi aku memang tidak berniat bayar sepeser pun. Aplikasi semacam ini biasanya memberikan match pertama secara gratis. Satu-satunya masalah adalah pasangan match-mu kemungkinan besar adalah karyawan perusahaan itu sendiri.

Saat aku membuka aplikasi, desain yang benar-benar setengah niat menyambutku.

[Otherworld Dating App]

[Shop] [Match] [Profile]

“...Lihatlah desain layar utama yang menyedihkan ini.”

Kelihatannya seperti dibuat pakai MS Paint, bahkan bukan PowerPoint. Yah, terserahlah. Desain UI bukan yang terpenting. Selama bisa buat membunuh waktu, aku tidak peduli apakah itu karyawan perusahaan atau AI.

Setelah berpikir sejenak, aku masuk ke bagian profil dulu. Sesuai dugaan, itu tempat untuk memasukkan informasiku, tapi anehnya, ada kolom untuk ras juga.

“Jadi itu sebabnya namanya 'Otherworld Dating App', ya? Konsepnya cukup unik.”

Untuk saat ini, aku cuma memasukkan nama dan umur. Selanjutnya, aku mengecek Shop. Seperti kubilang, aku tidak akan beli apa-apa; aku cuma penasaran apa yang mereka jual.

[Fitur Shop saat ini terkunci]

"Hah?"

Apa ini? Kukira mereka mau cari untung cepat lalu kabur. Aku tidak paham kenapa fitur paling penting, Shop, malah dikunci.

"Kalau dipikir-pikir, aku juga nggak lihat banner iklan."

Apa benda ini punya model pendapatan? Kalau uang bukan tujuannya, apa aplikasi ini dibuat untuk mencuri informasi pribadi? Tapi ada cara yang jauh lebih mudah untuk itu. Lagipula, kudengar data pribadi harganya tidak seberapa.

"Yah... kalau mereka nggak mau cari duit, itu bukan urusanku."

Yang penting bagi aplikasi kencan adalah bisa menjodohkanmu dengan seseorang. Berharap AI-nya tidak sebobrok desainnya, aku menekan tombol match.

Ting—

[Match pertama dikonfirmasi] 

[Terima kasih telah menggunakan aplikasi ini. Harap lengkapi survei sebelum melanjutkan proses matching]

"Survei?"

[Preferensi Ras]

[Preferensi Gender]

[Preferensi Rentang Usia]

[Preferensi Hobi]

·

·

·

·

·

"Woaah..."

Sekarang aku paham. Ini bukan dibuat untuk memeras uang; ini cuma dibuat untuk iseng, kan? Kalau tidak, tidak mungkin mereka memasukkan 'ras' sebagai kategori atau secara terang-terangan memasukkan hal-hal seperti 'membedah mayat' di bawah preferensi hobi.

"Mereka benar-benar totalitas dengan konsepnya.“

Pada titik ini, mulai terasa cukup menarik. Aku tidak tahu siapa yang membuat survei ini, tapi jelas dibuat dengan sangat baik, dengan variasi pertanyaan yang luas. Sekitar lima puluh pertanyaan mungkin?

Karena terkesan, aku mulai mengisi pertanyaan-pertanyaan itu, setengah serius dan setengah iseng. Untuk preferensi ras, aku isi 'Elf'. Untuk gender, 'Wanita', jelas. Dan untuk umur, aku isi sekitar 500 tahun. Waktu berlalu begitu cepat saat aku terus mengisi pertanyaan-pertanyaan itu.

[Terima kasih atas kerja sama Anda] 

[Matching sekarang akan dimulai] 

[Harap dicatat bahwa matching mungkin memakan waktu]

Aku mulai sedikit bersemangat memikirkan bahwa pengembang aplikasi mungkin akan membalas chat dengan berakting sebagai elf berusia 500 tahun.

"...Lama juga ya."

Berbeda dari dugaanku, menemukan match tidak semudah yang kupikirkan. 'Apa karena ini sudah malam dan semua orang sudah pulang kerja? Tidak bisakah mereka setidaknya menjodohkanku dengan AI?'

Pada akhirnya, aku menghabiskan miku, tapi tetap belum ada match. Menunggu selama ini bukan gayaku, jadi aku melempar ponsel ke samping dan membereskan meja.

Waktu berlalu, dan aku hampir lupa kalau aku sudah memulai proses matching.

Ting—

Suara notifikasi yang anehnya melengking terdengar. Mendengarnya, aku mengambil ponselku.

[Match selesai]

"Oh, akhirnya."

Pengembang itu akhirnya melakukan pekerjaannya. Dengan rasa antisipasi yang aneh, aku cepat-cepat mengetuk layar.

Wuuussss—

"Hah?"

[Memindahkan ke Planet EB-17]

Cahaya luar biasa meledak dari layar dan menelanku bulat-bulat.


Jauh di bawah tanah, di bawah Pohon Dunia—dewa terakhir yang diketahui di bumi—terdapat gua luas yang tidak diketahui sebagian besar orang. Bahkan warga Peledeia, bangsa elf yang dibangun di sekitar Pohon Dunia, tidak menyadari keberadaannya.

Dan di tempat itu, seorang tahanan telah dikurung selama 200 tahun.

“...Resilia.”

Bahkan dalam kegelapan pekat, rambut emasnya berkilau, matanya bersinar hijau lembut, dan telinganya panjang serta runcing, tidak seperti manusia. Dia adalah seorang elf.

Dia begitu cantik hingga mustahil membayangkan dia telah melakukan kejahatan yang begitu keji sampai harus dikurung di jurang tak berdasar ini, tanpa secercah cahaya pun.

“Harus berapa lama lagi aku mendekam di sini...”

Ratapannya bergema hampa di seluruh gua, menghilang ke dalam kekosongan tanpa ada yang mendengar. Meskipun elf dikenal bisa hidup puluhan, atau bahkan ratusan kali lipat umur manusia, 200 tahun penahanan sama sekali bukan hal yang mudah.

Kesepian yang bagai neraka, tanpa satu pun pengunjung; fakta bahwa dia dipenjara di sini karena pengkhianatan bawahannya yang paling tepercaya sekaligus teman tercintanya—semua itu menggerogoti kewarasannya.

Yang tersisa baginya sekarang hanyalah campuran cinta dan benci untuk temannya itu, serta satu pertanyaan yang tak terjawab.

Kenapa kau mengkhianatiku? Apa yang begitu penting?

Di tempat di mana tak ada seorang pun yang bisa menjawab, bahkan pertanyaan itu bergema hampa sebelum memudar.

"...Aku sangat kesepian."

Iris, satu-satunya tahanan di gua bawah tanah itu, mulai lelah dengan kesepian yang terus meluas. Bisakah ada yang membayangkannya? Dia telah menghabiskan 200 tahun tanpa kontak dengan makhluk hidup lain.

Tidak ada percakapan, bahkan tidak ada satu pun pengunjung. Tidak ada penjaga, tidak ada tahanan lain. Hanya ada Iris.

Kekosongan yang tak terisi ini, kesepian ini, bukanlah sesuatu yang bisa ditanggung begitu saja. Bahkan baginya, seorang High Elf yang telah hidup selama berabad-abad, interaksi dengan orang lain adalah hal yang berharga.

"Mungkin akan lebih baik..."

Matanya, yang menatap tajam ke arah pecahan batu tajam di tanah, menjadi semakin gelap.

'Jika aku mengakhiri hidup yang menyedihkan ini, akankah aku akhirnya menemukan kedamaian...?'

Bahkan elf, yang dikenal bebas dari nafsu tidak seperti manusia, bisa memfitnah pengikut setia demi kekuasaan dan mengurung mereka di penjara bawah tanah selama 200 tahun. Dan mereka bisa melakukan dosa besar dengan mengambil nyawa yang diberikan oleh para dewa, hanya demi kedamaian.

Saat tangan rampingnya yang pucat dan gemetar menggenggam pecahan batu itu.

Wuuussss!

"Kyaa?!"

Di dalam kehampaan gelap di mana tak ada seberkas cahaya pun yang pernah masuk, seberkas cahaya dahsyat memancar seolah-olah terjadi ledakan. Menyipitkan mata karena kecerahan yang tiba-tiba, dia melihat sosok buram di dalam cahaya itu.

"U-Uwaaah!!! Baaangsat!!!"

"...Orang?"

Seseorang jatuh dari udara. Tanpa sempat bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, Iris secara naluriah mengerahkan sihirnya. Dia menggunakan sisa-sisa terakhir dari kekuatan sihirnya untuk merapal mantra.

Levitation.

Mantra itu aktif dengan sukses, dan Kang Hyun-woo, yang sedang terjun bebas secara real-time, mulai turun perlahan ke tanah seolah-olah dia telah membuka parasut.

Berkat dia, Kang Hyun-woo bisa mendarat dengan aman di atas kakinya. Jika bukan karena pemikiran cepat Iris, Kang Hyun-woo sekarang pasti sudah menjadi 'gumpalan daging yang dulunya manusia'.

Berusaha berdiri dengan kaki gemetar, Kang Hyun-woo menatap kosong pada wanita yang berdiri di hadapannya. 

"...Seorang elf?"

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...