[LN] Choppiri Ecchi na Sanshimai demo, Oyomesan ni Shitekuramasuka? Volume 1 - Chapter 5: Cara Berpesta Ala Hentai

  



Diterjemahkan Oleh: XER

Sudah tepat satu minggu sejak latihan bersama Tsukino.

Dan hari ini adalah hari pesta yang disebutkan Hajime-san. Kami menggunakan kereta dan taksi bergantian, dan akhirnya tiba di hotel tempat pesta diadakan.

"Wah... Hebat banget gedung ini..."

Hotel itu jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Areanya sendiri sangat luas, dan bangunannya menjulang tinggi ke langit sampai tidak bisa kuhitung ada berapa lantai.

"Eh, begitu? Bukannya ini biasa saja?"

"Kalau sering datang jadi terbiasa, ya~"

"Hotel yang dimiliki Ayah sedikit lebih besar dari ini, 'kan?"

Tak heran, Tsukino dan yang lain bersikap santai, berbeda denganku. Sepertinya mereka sering datang ke sini, dan ketiganya memang putri dari keluarga terpandang, mereka terlihat sangat cantik mengenakan cocktail dress berwarna cerah. Penampilan mereka dipenuhi pesona dewasa, bahkan aku sampai sedikit berdebar.

Tapi, tetap saja kekhawatiranku besar.

Menurut Hajime-san, pesta ini dihadiri oleh orang-orang dari keluarga terpandang. Di antara mereka, mungkin ada calon suami untuk ketiga saudari ini. Karena itu, perilaku tidak sopan sama sekali tidak diizinkan.

Jika sampai melakukan kesalahan besar, reputasi mereka, dan bahkan reputasi keluarga Jinguuji, akan jatuh. Calon perjodohan untuk ketiga saudari tidak akan datang lagi, dan aku pasti akan dipecat.

Karena itulah, aku sama sekali tidak boleh mencolok.

Terutama, realitas sangat H mereka tidak boleh diketahui.

"Hei, kalian semua... Tolong jangan membuat masalah aneh, ya...?"

"Ha, haa...? Masalah apa? Aku sama sekali gak paham..."

"Be, benar... Kami tidak akan melakukan hal aneh..."

"Ahaha... Ku, kurasa gakpapa..."

Di hadapan saudari yang lain, ketiganya membalas sambil sedikit pura-pura tidak tahu.

Dengan secercah kecemasan, aku masuk bersama ketiga saudari itu.

※        ※        ※

Ruang yang menjadi tempat pesta adalah ruangan yang sangat megah dan mewah, belum pernah kulihat sebelumnya.

Aula besar yang luas hingga bisa menampung hampir seribu orang. Karpet dengan warna indah dan elegan terhampar, dan di atasnya tergantung lampu gantung raksasa yang bersinar gemerlap. Di meja-meja berdiri yang disusun berjarak rapi, orang-orang dewasa kaya raya yang mengenakan setelan jas dan gaun tampak asyik mengobrol.

"Ruangannya, luar biasa..."

Dengan gugup aku melangkah ke dalam aula. Sebenarnya, ini bukan tempat yang pantas untuk orang miskin sepertiku. Aku merasa tidak pantas dan agak ciut.

"Jangan terlalu gugup. Memalukan sekali."

Mungkin karena aku terlalu kaku, Tsukino tidak tahan dan menyapaku.

"A, aa... Maaf. Aku baru pertama kali ke tempat seperti ini..."

Karena gugup, tenggorokanku kering. Aku meneguk teh yang diletakkan di atas meja.

"Bersikaplah natural. Kalau terlalu kaku, malah jadi aneh."

Tsukino sendiri memang bersikap natural. Tidak seperti aku, dia tidak tegang.

"Yah, aku juga tidak suka suasana seperti ini~. Kaku dan repot harus berkeliling menyapa. Tapi sebagian besar dilakukan mereka berdua."

Berkata begitu, Tsukino mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Semuanya, hari ini mohon bimbingannya."

"Lama tidak bertemu~. Hari ini juga tolong akur dengan kami, ya?"

Kulihat Yukine-san dan Karin sedang menyapa berbagai orang. Keduanya sudah sangat terbiasa, berbicara dengan orang dewasa kelas atas tanpa takut. Melihat mereka seperti ini, aku kembali disadarkan bahwa mereka benar-benar putri dari keluarga terpandang.

"Ngomong-ngomong, Tsukino gak ikutan?"

"Gak apa-apa. Mereka berdua lebih pintar berbicara dengan orang-orang seperti itu. Lagi pula, aku punya misi lain."

Tsukino bersemangat dan membuat wajah penuh tekad.

Ya. Sebenarnya, Tsukino punya satu tujuan dalam pesta ini.

Yaitu, berinteraksi dan berbicara dengan normal dengan pria seumurannya.

Seperti yang dikatakan Hajime-san, 'Tempat ini kadang menjadi ajang perjumpaan para putra keluarga terpandang', di sini tidak hanya ada orang dewasa, tetapi juga orang seumuran.

Dengan berinteraksi dengan mereka, Tsukino berlatih untuk pacaran normal.

Mencari pasangan yang baik, mendekatkan hubungan tanpa nafsu. Itulah tujuannya hari ini.

"Tapi, beneran gakpapa? Jangan memaksakan diri."

"Gak masalah. Kau pikir sudah berapa lama aku berusaha untuk hari ini."

Jika kebiasaan itu bisa diatasi, dia bisa pacaran dan tidak perlu khawatir dibenci saudara perempuannya. Untuk itu, setelah trial di arcade, Tsukino terus berus keras. Setiap hari berangkat dan pulang sekolah bersamaku, belajar bersamaku, dan berlatih membiasakan diri dengan cowok menggunakan diriku. Dia pasti ingin menguji hasilnya.

Kesempatan Tsukino yang dikenal sebagai pembenci cowok di sekolah untuk berinteraksi dengan cowok tanpa sungkan hanya ada dalam acara seperti ini.

"Hari ini aku akan berbicara dengan cowok dengan normal, dan menyembuhkan kebiasaanku..."

Tsukino melihat sekeliling, mencari cowok seumuran yang kira-kira bisa diajak akur.

Nah, kalau begitu... Aku juga akan mulai bekerja.

Tugasku hari ini adalah terus mengawasi mereka bertiga agar tidak melakukan hal aneh.

Sejauh ini, tidak ada yang mencolok. Keduanya hanya berkeliling menyapa dengan normal, dan Tsukino juga tampak baik-baik saja.

Tapi, tentu saja tidak bisa lengah. Terutama jika Tsukino mulai berbicara dengan cowok sesuai rencananya, harus waspada. Kalau sampai nafsu di sini, tidak akan bisa diperbaiki.

...Hadeh, jadi gugup lagi. Untuk mengalihkan perhatian, aku minum teh lagi.

Saat aku meminum teh yang entah gelas ke berapa.

"Tsukino-san! Lama tidak bertemu!"

Seorang pemuda berlari mendekati Tsukino.

"Ah, Ryouta-san... Lama tidak bertemu."

"Senang bisa bertemu denganmu lagi tahun ini. Aku sangat menantikan untuk melihat wajah Tsukino-san, lho?"

Sepertinya mereka kenal, pemuda itu berbicara dengan ramah pada Tsukino. Usianya mungkin awal dua puluhan. Tubuhnya tegap, dengan wajah tampan dan senyuman yang ramah.

Setelah bertukar beberapa kata dengan Tsukino, dia menyadari kehadiranku di dekatnya.

"Apa...? Kamu, baru pertama kali kulihat. Namamu?"

"A, erm... Ichijou Tenma..."

Aku membalas dengan sopan.

"Aku Takigawa Ryouta. Keluarga kami berteman baik dengan keluarga Tsukino-san. Ke depannya, mohon bimbingannya."

"A, ya. Sama-sama."

Aku mengambil tangan yang diulurkan Ryouta-san dan berjabat tangan erat.

Dari penampilannya, dia tampaknya pria baik yang sangat ramah. Dari caranya bicara, sepertinya dia sudah mengenal Tsukino sejak lama. Tsukino sendiri juga tidak terlalu tegang menghadapinya. Berbeda dari biasanya, dia bahkan menyunggingkan senyum pada Ryouta-san yang adalah cowok.

Jika Ryouta-san dan Tsukino pacaran, apakah dia akan bahagia? Aku tanpa sadar mulai memikirkannya.

Pacaran dengan Ryouta-san pasti bukan hal buruk bagi Tsukino. Ryouta-san jelas menyukai Tsukino, dan Tsukino juga tidak tampak keberatan diajak bicara.

Dan pria baik seperti dia, bahkan jika nanti mengetahui kebiasaan Tsukino, sepertinya akan menerimanya. Mereka juga berteman baik secara keluarga, dan jika Tsukino menikah dengan keluarga Ryouta-san, pasti akan disambut baik. Malah mungkin semuanya menguntungkan.

Bagiku, jalur pacaran dengan pria itu sepertinya pilihan terbaik untuk Tsukino.

Tsukino yang hingga beberapa hari lalu berlatih kencan denganku, akan pergi ke pelukan cowok lain. Aku agak merasa sedih seperti perasaan orang tua... Tapi jika itu menguntungkan baginya, tidak ada alasan untuk menentang. Aku hanya akan mendukung semampuku agar hubungan mereka tidak rusak.

Secara konkret, untuk sementara aku akan mengawasi agar kebiasaan Tsukino tidak keluar tanpa sengaja. Kalau sampai nafsu di sini, Ryouta-san mungkin akan menjauh.

Yukine-san dan Karin mungkin masih berkeliling menyapa, jadi aku akan fokus ke sini.

Tepat setelah aku berpikir begitu.

Seolah-olah sudah ditunggu-tunggu, aku diserang keinginan buang air kecil yang mendesak.

—Ugh... Apa tadi aku minum teh terlalu banyak...?

"Ano, maaf Tsukino... Aku mau ke toilet sebentar. Jangan memaksakan diri, ya?"

"Eh...? U, un. Oke."

Aku agak khawatir meninggalkan Tsukino sendirian, tapi memang tidak bisa melawan kebutuhan alamiah.

Aku segera menuju ke toilet dengan langkah cepat agar bisa cepat kembali ke tempat pesta.

※        ※        ※

"Haah... haah... Ini mana...? Tempatnya susah banget dicari..."

Setelah keluar dari tempat pesta mencari toilet. Aku tanpa sadar tersesat di dalam hotel.

Hotel ini, lorong-lorongnya berbelit-belit, sangat sulit menemukan rutenya. Petunjuk toilet juga minimal, jadi kadang aku bingung harus belok ke mana, dan akhirnya benar-benar tersesat.

"Haah... Jalan ini juga salah..."

Yang muncul di depanku adalah pintu tangga darurat. Sepertinya aku salah jalan lagi.

Aku harus cepat kembali, Tsukino mungkin jadi nafsu. Memikirkan itu, aku jadi panik.

Aku membelakangi pintu tangga darurat dan berusaha kembali melalui jalan yang tadi.

Saat itu, pintu di belakangku berbunyi gachari dan terbuka. Pasti ada karyawan hotel yang kebetulan lewat.

Kalau tanya orang ini, aku bisa tahu arahnya! Begitu pikirku, aku menoleh.

Karin, yang mengangkat cocktail dress-nya dengan kedua tangan dan menelanjangi bagian bawah tubuhnya, ada di sana.

"Buuuuuuuuuh?!"

Karena kaget, udara dari paru-paruku keluar dengan kekuatan yang dahsyat. Aku hampir kehabisan napas sesaat.

"Ah, Tenma-senpai. Lagi apa di tempat seperti ini?"

Dengan pandangan mata yang sudah sama sekali fly, Karin menanyaiku.

"Ah, itu harusnya pertanyaanku! Lagi apa di tempat seperti ini?!"

"Aha. Seperti yang kamu lihat. Aku sedang memamerkan penampilanku yang memalukan"

Dia terus mengangkat gaunnya, terus menerus menelanjangi bagian bawah tubuhnya. Di selangkangannya tertempel stiker berbentuk hati seperti dulu, dan dia tidak memakai celana dalam.

Dan di tangannya ada kamera digital yang mahal. Jangan-jangan, dengan gaya seperti ini dia berkeliaran di sekitar sambil merekam tubuhnya...?!

"Baka! Sudah kukatakan jangan lakukan hal aneh! Bagaimana kalau ketahuan?!"

"Gakpapa, tenang aja. Sekitar sini tidak ada orang hotel yang lewat. Dan juga, Karin juga sudah berkembang, lho?"

Berkembang? Apa yang berubah?

"Senpai, demi menahan perasaan H Karin, sudah berusaha sangat keras... Untuk membalas perasaan itu, hari ini Karin memakai bra!"

"Apaaa?!"

Karin memakai bra?! Apakah ini tanda perbaikan kebiasaannya?!

"Bagaimana?! Apa kamu menganggapku berbeda? Apa kamu jadi suka padaku?!"

"A, aa...! Hebat! Hebat, Karin! Memakai bra, hebat banget!"

"Yah, meski cuma bra tali, sih!"

Guuuh... Itu yang tingkat keterbukaannya tinggi...! Tapi, lebih baik daripada tidak memakai sama sekal—

Eh, tunggu. Itu kan normal? Memakai bra itu normal, 'kan? Aneh kalau memujinya untuk itu.

"Tapi, Tenma-senpai sampai repot-repot datang melihatku... Karin sangat senang. Pantas saja kamu partner Karin!"

"Ti, tidak! Aku gak sengaja datang untuk melihatmu! Aku hanya tersesat..."

"Eh? Benarkah? Sayang sekali... Tapi, penampilan mesum Karin sudah terekam dengan baik. Nanti Senpai juga lihat, ya♪"

Karin mengangkat kamera digitalnya dan berkata. Ternyata dia memang bersenang-senang dengan foto-foto mesum dirinya sendiri.

"Hah hah... Di pesta yang penuh banyak orang, hanya Karin yang telanjang... Sangat seru!"

Dengan gabatt dia mengangkat gaunnya, semakin memamerkan bagian bawah tubuhnya.

"Melakukan hal seperti ini pasti gak boleh... Tapi, aku tidak bisa menahan diri! Senpai, lihatlah Karin yang mesum! Aku ingin merasa lebih malu!"

Wajahnya memerah sampai merah padam, tubuhnya mendekat ke arahku.

"Cepat pakai celana dalam! Dan diam di tempat pesta!"

"Sayang sekali! Karin hari ini tidak membawa pakaian dalam!"

"Apa?!"

Berarti dari awal dia tidak pakai celana dalam?!

"Cih... Kalau sudah begini, tidak ada pilihan selain menggunakan jurus terakhir..."

Aku memasukkan tangan ke saku dan mengeluarkan selembar kain pink.

"Apaaa...! Itu, celana dalam Karin, bukan?!"

"Aku menyusup ke kamarmu sebelum berangkat dan menyitanya. Ayo, cepat pakai celana dalam!"

"Langsung melakukan tindakan bermasalah?! Ah, Senpai, jangan sentuh disana...!"

"Kalau begitu pakai sendiri!"

Aku memakaikan celana dalam pada Karin dan menghentikan aksi telanjang-nya.

※        ※        ※

Segera setelah menghentikan aksi Karin.

Setelah sekitar lima belas menit sejak keluar dari tempat pesta, akhirnya aku menemukan pintu toilet.

"Sial... Hanya untuk ke toilet saja butuh waktu segini..."

Karena tersesat dan Karin melakukan hal mesum, waktunya jadi lebih lama. Apa Tsukino baik-baik saja...? Apa dia tidak nafsu di depan semua orang dan menyebabkan masalah besar?

Aku memang khawatir padanya. Aku harus cepat selesai dan mengawasinya—

"Maaf menunggu, Master♪"

Saat masuk ke dalam toilet, Yukine-san menyapaku.

"Ah, kenapa kau ada di siniiiiiiii?!"

Di ruang yang luas, dia berdiri sendirian.

"Itu, ini toilet cowok, tahu?! Kenapa bisa kau masuk dengan sikap biasa aja?!"

"Tentu saja karena aku budak Master"

Dia berkata dengan suara cerah dan membungkuk dengan hormat.

"Tadi aku melihat Master menuju toilet, jadi aku menunggu di sini lebih dulu. Seorang budak harus selalu siap di samping Master dan melayani, 'kan? Jadi aku juga ingin membantu sesuatu."

"Gak usah! Aku belum pernah dengar bantuan ke toilet!"

"Misalnya, saat tisu toilet hampir habis, aku yang menyiapkannya..."

"Gak perlu! Ini hal kecil!"

Karin dan orang ini, tolong hentikan play di luar.

"Begini, Yukine-san! Aku bilang akan menemanimu dalam kebiasaanmu... Tapi tolong jangan di tempat umum! Beneran, sampai segitu mesum-nya?!"

"Aaan! Makian Tenma-kun, enak sekali!"

Tidak bisa, orang ini. Karena dia M, apa pun yang kukatakan diterimanya sebagai hadiah.

"Tapi, Master. Aku juga, tidak berarti tidak berubah, tahu? Aku juga mempertimbangkan perasaanmu... Hari ini! Aku tidak mengikat tubuhku!"

"Apaaa?! Benarkah?!"

Yukine-san yang dulu diikat kikkou shibari di depan semua siswa, menahan diri untuk tidak mengikat tubuhnya...?!

Ini harusnya kemajuan yang luar biasa! Akhirnya dia juga menjadi perempuan normal—

"Jadi, aku diizinkan melayani Master di toilet cowok, 'kan?"

—Andai saja dia menjadi normal...

"Tidak, bantuan atau apa pun benar-benar tidak perlu! Kembali saja ke tempat pesta!"

"Kalau begitu, aku akan mendukung Master yang sedang buang hajat! Semangat Semangat Tenma-kun♪"

"Malah jadi susah keluarnya! Cepat keluar!"

Kalau terlihat bersama di tempat seperti ini... Dan jika itu diketahui Hajime-san... Sangat menakutkan untuk dibayangkan.

Sebelum ada yang datang, Yukine-san harus keluar dari sini—

Tapi, toilet di sini susah dicari, ya

Benar sekali. Seharusnya petunjuknya lebih jelas

Suara dua pria terdengar dalam waktu yang paling buruk. Mereka jelas menuju ke sini.

"Sial! Yukine-san, sembunyi!"

Dengan panik aku membawa Yukine-san dan mengurung diri di bilik paling belakang.

Kalau sudah begini, tidak ada pilihan selain bersembunyi sampai orang di luar pergi. Ah, sial, kenapa jadi begini...

"Hah hah... Berdua dengan Master di ruang tertutup... Sepertinya aku akan diperlakukan dengan kasar..."

Dan, Yukine-san malah semakin bersemangat...

Dan juga, orang ini harus dibuat diam! Kalau ketahuan ada perempuan di dalam, itu sendiri bisa menyebabkan keributan. Harus memastikan tidak ketahuan sampai mati!

"Tidak ada jalan lain... Kalau begitu, puas dengan ini!"

Terpaksa, aku mengeluarkan alat yang kusiapkan dari saku.

Salah satu dari tujuh alat SM yang kusiapkan untuk memuaskan Yukine-san dalam keadaan darurat... Namanya ball gag. Alat SM yang cukup umum, digunakan untuk menutup mulut pemakainya.

Aku memasukkan bola seukuran bola golf ke mulut Yukine-san, dan mengikatnya padanya dengan tali kulit yang terpasang di kedua ujungnya. Dengan ini, mulut Yukine-san tertutup dan sekaligus memuaskan keinginan M-nya.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin menggunakan alat aneh seperti ini. Tidak ingin... Tapi untuk menahan Yukine-san saat ini, ini cara terbaik!

"Mmm! Mmm! (Hukuman dari Master... Ah. Senangnya~!)"

Dari ekspresinya yang sangat bersemangat, kira-kira bisa ditebak apa yang dia katakan. Jika dibiarkan sebentar, pasti dia akan puas. Ini juga berkat aku membaca 'Cara Memulai SM Play. Mulai Hari Ini Anda Juga Bisa Menjadi Budak M' yang diberikan Yukine-san sebelumnya, dan mempelajari seleranya. Aku yang tidak malas belajar, keren (menangis).

Tinggal menunggu kedua orang di luar pergi, dan keluar dari sini.

Aku menyiapkan telinga untuk suara di luar, dan menunggu dengan sabar sampai mereka pergi.

"Hei, gimana akhirnya? Dengan cewek tadi."

"Ah. Kayaknya udah pasti dapet? Soalnya dari awal udah kenal wajahnya, dan langsung cocok ngobrol."

"He~. Beneran? Iri, dah."

"Kayaknya sedikit pengalaman pacaran, jadi kalau dihadapi dengan biasa aja, pasti bakal suka sendiri."

Kedua pria itu tampaknya masih muda, dan yang satu sepertinya sedang membanggakan pengalamannya menaklukkan seorang perempuan.

"Yah, cewek itu pokoknya kalau diperlakukan baik, kebanyakan langsung jatuh cinta."

"Heh~. Emang jago banget, ya, Ryouta. Gua aja kagak bisa kayak gitu."

"?!"

Mendengar nama itu, bulu kudukku berdiri.

Eh...? Ryouta? Kalau begitu... cewek yang dibicarakan tadi...

"Terus, kali ini rencananya mau pacaran berapa lama?"

"U~un. Lumayan imut, jadi sekitar tiga bulan dulu. Setelah itu kalau masih bisa dimanfaatkan, dipertahankan. Kalau ribet, ya dibuang."

"Haha. Emang dasarnya gak bisa settle dengan satu orang, ya~"

Suara air keran yang digunakan untuk cuci tangan terdengar, dan mereka pergi sambil tertawa.

Aku buru-buru keluar dari bilik dan memandang punggung mereka dari kejauhan.

Itu, tanpa salah lagi, adalah sosok Takigawa Ryouta.

"Mmm, mmm! Mmm mmm?"

Tiba-tiba, Yukine-san yang tidak tahu situasi menanyainya dengan mata bingung.

Ah, iya... Aku lupa dia...

"Erm, aku tidak tahu apa yang kamu katakan."

Aku melepas ball gag dari mulutnya. Tampaknya perasaan M-nya sudah mereda.

"Puhah... Tenma-kun, ada apa? Wajahmu terlihat menyeramkan."

"Ti, tidak. Bukan apa-apa... Gak ada masalah."

Aku memanfaatkan celah di sekitarnya yang tidak ada orang, dan menyuruh Yukine-san keluar dari toilet.

※        ※        ※

Setelah selesai ke toilet, akhirnya aku bisa kembali ke tempat pesta.

Karin dan Yukine-san sepertinya sudah puas dengan kejadian tadi. Mereka segera bergabung kembali, dengan senyum suci seolah semua nafsu mereka telah hilang, mereka melanjutkan rangkaian sapa mereka.

Banyak orang memuji mereka.

"Kalian berdua memang cantik. Tidak ada gadis secantik dan elegan seperti kalian di tempat lain."

"Putri-putri keluarga Jinguuji seperti malaikat yang tidak ternoda."

Gak, salah! Semuanya tertipu! Mereka justru penuh noda sehari-harinya. Baru saja mereka tidak pakai celana dalam dan masuk toilet cowok.

Ah, tapi sekarang yang lebih penting adalah Tsukino. Aku melihat sekeliling, mencari dia. Dan di tempat yang sama tadi, Tsukino sedang mengobrol dengan Ryouta-san. Tidak ada suasana seperti dia nafsu. Sepertinya sejauh ini mereka baik-baik saja. Melihat itu, aku juga bisa lega.

—Seandainya aku tidak mendengar percakapan itu.

Ryouta itu tidak benar-benar menyukai Tsukino dan mendekatinya.

Dia hanya iseng menaklukkan perempuan, dan kebetulan menjadikan Tsukino sebagai target.

Aku jadi mengetahui fakta yang tidak menyenangkan. Baru tadi aku mendukung hubungan mereka berdua, tapi sekarang hanya ada perasaan tidak enak.

Tsukino sekarang sedang asyik berbicara dengannya. Tapi, bagaimana perasaannya jika tahu Ryouta berkata seperti itu di toilet? Memikirkannya saja sudah berat.

Saat itu.

Di panggung yang disiapkan di ujung tempat pesta, pertunjukan musik klasik dimulai.

Di dekat panggung, meja-meja dipindahkan, membuat ruang yang agak luas. Beberapa pria dan wanita datang ke sana, saling menggandeng tangan dengan gerakan elegan. Lalu mereka mulai menari mengikuti irama musik.

Aku tidak terlalu paham, tapi mungkin itu yang disebut tari sosial. Pasangan pria dan wanita saling menggandeng tangan, melakukan langkah-langkah yang sangat halus dan anggun.

"Tsukino-san. Kalau tidak keberatan, bolehkah kita menari?"

Suara Ryouta mengajak Tsukino terdengar.

"Eh...! Ya, ya! Silakan."

Setelah ragu sebentar, Tsukino menerima ajakan itu dengan penuh tekad. Jika mengingatnya dulu tidak mau mengambil foto di arcade, dia sudah cukup berkembang.

Tsukino digandeng tangan Ryouta dan pindah ke depan panggung.

Sebagai putri keluarga terpandang, pasti dia diajari. Tarian Tsukino dan yang lain, bahkan dibandingkan dengan orang di sekitarnya, tidak kalah. Dia menggerakkan kakinya dengan lincah, dan melakukan putaran yang indah. Dan selama itu, tentu saja dia tidak nafsu.

Hasilnya sangatlah indah.

Musik berhenti, orang yang menari tadi membungkuk. Tepuk tangan bergemuruh dari sekeliling.

Aku juga bertepuk tangan untuk Tsukino.

Melihat ke sekeliling, Ryouta sepertinya bertemu dengan kenalan lain dan diajak bicara. Di kesempatan itu, Tsukino menyadari kehadiranku dan berlari ke arahku.

"Hei Tenma, kau lihat?! Aku melakukannya, lho! Aku bisa menari dengan pria biasa!"

"A, aa. Aku lihat. Kamu berusaha keras, ya."

Sepertinya dia sangat senang, Tsukino bersemangat dengan level yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Aku berhasil, berhasil! Dengan ini aku bisa lepas dari si cabul!"

Berkhasiat latihannya, akhirnya dia sepertinya berhasil mengatasi fetish-nya.

"Ahaha! Akhirnya aku juga tidak perlu lagi menjauhkan pria! Aku juga bisa pacaran!"

Dia sangat bersukacita karena akhirnya menjadi gadis biasa yang selama ini diidamkannya. Bagiku, itu juga hal yang menyenangkan. Aku ingin memberinya selamat dengan tulus.

Namun, aku tidak bisa tidak memikirkannya. Tentang keberadaan Ryouta itu.

"Baguslah, Tsukino... Selamat ya."

Secara alami, nada suaraku terdengar agak suram.

"Eh~, cuma itu aja...? Lebih senang dong. Atau, kamu gak peduli?"

Menatapku yang seperti itu, Tsukino melayangkan pandangan tak puas.

"Ti, tidak. Aku juga senang kok.... Ngomong-ngomong, apa pacarmu nanti memang Ryouta-san?"

Tanpa kusadari, aku bertanya begitu. Aku sangat penasaran.

"Eh...? Umm, gak tahu. Aku belum memikirkan sampai segitanya juga."

"I, iya ya... Yah, memang begitu sih..."

Sepertinya untuk saat ini dia hanya bersukacita karena berhasil mengatasi fetish-nya. Aku sedikit lega.

Jujur, aku tidak ingin mengakui hubungan asmara dengan Ryouta. Aku tidak ingin menyerahkan dia kepada pria yang tampaknya hanya menganggapnya remeh.

Tapi, pria itu adalah putra dari keluarga yang menjadi rekan bisnis keluarga Jinguuji. Menyinggung perasaannya bisa berpotensi merugikan Hajime-san. Lagipula, bukankah Hajime-san sendiri bermaksud menikahkan Tsukino dengan pria berstatus seperti Ryouta? Jika aku mengganggu rencana itu, pasti akan membuatnya marah.

Jika hanya memikirkan urusan pekerjaan, seharusnya di sini aku mengantarnya dengan senyuman. Itulah pilihan terbaik sebagai orang yang dipekerjakan Hajime-san, dan sebagai orang yang melindungi keluarga.

Ya, aku paham itu di kepalaku, tapi—

"Kyaa!"

Di tengah pikiranku, terdengar teriakan tajam Tsukino. Secara reflek aku menoleh ke arahnya.

Rupanya tangannya tergelincir dan menjatuhkan gelas. Jus di dalamnya tumpah, membasahi baju Tsukino.

"Ma, maaf... Aku gak sengaja..."

"Oi oi, kau gakpapa? Hati-hati dong."

Aku mengulurkan saputangan ke Tsukino. Jika tidak segera dilap, bisa-bisa nodanya membesar.

Tsukino menerimanya dan mulai mengelap bagian yang basah. Tapi, di tengah jalan, dia berhenti bergerak.

"I, ini... Celana dalam Tenma...?"

"Eh...? Ah!"

Yang kugunakan untuk mengelap jus tadi adalah saputangan celana dalam yang dulu pernah dipakai. Item untuk mengalihkan perhatian Tsukino yang sedang birahi.

Aku bermaksud memberinya saputangan biasa, tapi tanpa sengaja menyerahkan yang itu.

Jika Tsukino yang dulu, dia pasti sudah birahi hanya karena memegang celana dalamku. Tapi untungnya, dia sudah mengatasi fetish-nya. Meski melihat celana dalam, seharusnya tidak ada masalah.

—Kelonggaran itulah yang menjadi bumerang.

"Te, celana dalam Tenma... Haah haah... Tenmaaa...!"

"!?"

Napas Tsukino mulai memburu, matanya berubah menjadi melamun. Pipinya memerah, ekspresinya terlihat mendamba seolah meminta sesuatu...

Gak mungkin, Tsukino...? Dia birahi karena celana dalamku...?

"Tenma...! Tenmaaa...! Tenmaaaah!"

Tsukino memanggil namaku dengan suara keras.

"Eh...? Anak itu, kenapa...?"

"Wah... Wajahnya sangat merah ya...?"

Suara mesumnya menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Ugh... Kenapa?! Kenapa kau?! Bukannya fetish-mu sudah sembuh?! Kenapa menari dengan Ryouta tidak apa-apa, tapi malah birahi karena celana dalamku?!

"Ada apa, Tsukino-san?"

Mendengar suara Tsukino, Ryouta berlari ke arah kami.

Dia merasakan perubahan pada Tsukino dan berusaha melihat wajahnya.

"Hahh...! Hahh...! Celana dalam Tenmaaa..."

Bahaya! Jangan sampai Ryouta melihat Tsukino dalam keadaan seperti ini!

Jika sekarang Tsukino menyerang Ryouta, fetish Tsukino akan langsung ketahuan. Orang-orang di sini berasal dari keluarga baik-baik. Itu akan menjadi pukulan besar bagi kehidupan Tsukino dan keluarga Jinguuji!

Untuk menyembunyikan Tsukino, aku memeluknya erat-erat. Dan menjauhkannya dari Ryouta.

"Eh...?"

Melihat tindakanku, Ryouta membuat wajah bingung.

"Kau, sedang apa...?"

"Ja, jangan mendekat?!"

Aku menolaknya dengan kata-kata jelas agar dia tidak menyentuh Tsukino.

Mendengar itu, ekspresi Ryouta berubah menjadi seram.

"Kau... tiba-tiba memeluk wanita seperti itu, kurasa tidak sopan..."

Mungkin dia tidak bisa membiarkan wanita yang hampir dia rangkul, dipeluk oleh pria lain. Dia berkata padaku dengan nada menuduh.

"Lepaskan dia sekarang. Orang-orang di sekitar juga lihat, tau? Tsukino-san pasti juga tidak suka dipeluk di depan umum—"

"Tenmaaa... Peluk aku lebih erat lagi...?"

Di saat yang paling buruk, Tsukino mengucapkan hal yang keterlaluan.

"Eh...? T, Tsukino-san...?"

Dengan suara yang nyaris terdengar olehku dan Ryouta, Tsukino mengucapkan kata-kata manis.

"Eh, eh...? Mustahil, Tsukino-san...? Dia sendiri yang menginginkan hal seperti ini...!?"

Bahaya! Jika dipikirkan lebih jauh, Tsukino akan ketahuan sebagai gadis mesum!

"A, aku tidak akan melepaskan Tsukino!"

Dengan suara keras aku mengganggu pikiran Ryouta, sekaligus mengarahkan kesadarannya padaku.

"Aku tidak akan menyerahkan Tsukino pada siapa pun! Terutama pada pria sepertimu!"



Secara alami, kata-kata seperti itu keluar dari mulutku.

"Ha...!? Apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan itu padaku?"

"Kau gak pantas untuk Tsukino! Karena itu, kau gak boleh mendekatinya!"

Saat ini, seharusnya aku mengucapkan kata-kata itu untuk menipu Ryouta... untuk menjauhkannya dari Tsukino yang sedang birahi. Tapi entah kenapa, perasaanku semakin memanas. Terbawa emosi, isi hatiku keluar dengan sendirinya.

"Kau, tadi bilang, kan? 'Tsukino sepertinya sedikit pengalaman pacaran, jadi nanti tinggal perlakukan dia biasa saja, pasti dia akan jatuh cinta sendiri.'"

"...!?"

Mendengar tuntutanku, wajah Ryouta berubah sebentar.

"Dan juga 'Tsukino lumayan cantik, jadi untuk sementara aku akan pacaran selama tiga bulan. Setelah itu, jika masih bisa dimanfaatkan, aku pertahankan. Jika merepotkan, ya aku buang.'"

"A, apa yang kau bicarakan? Aku tidak paham. Mungkin ada kesalahan?"

Dia segera berusaha tenang dan mencoba menghindar dari sebutanku.

"Tidak, tidak ada kesalahan. Aku mendengarnya jelas dengan telingaku sendiri."

Aku tidak menghindar darinya dan terus mendesak dengan sikap tegas.

"Orang dengan pemikiran seperti itu, tidak bisa kuberikan Tsukino. Jadi tolong, jangan dekati Tsukino lagi, ya?"

"Bo, bodoh... mana mungkin aku mengatakan hal seperti itu...?"

"Tidak. Kamu mengatakannya. Aku mendengarnya dengan jelas."

"Kalau begitu, ada buktinya?! Buktinya!"

Mendengar kata-kataku, akhirnya Ryouta membesarkan suaranya.

Memang, jika ditanya begitu, aku lemah. Aku hanya melihat dan mendengarnya langsung di tempat kejadian. Andai saja aku merekamnya dengan perekam, tapi tentu tidak semudah itu.

"Kalau begitu, aku juga mendengarnya, lho?"

Tanpa kusadari, Yukine-san yang sudah berada di dekatku tiba-tiba ikut berbicara.

"Ha...?"

"Lama tidak berjumpa, Ryouta-san. Sejak pesta tahun lalu, ya?"

Yukine-san menyapa dengan senyuman. Selain Tsukino, mungkin mereka juga mengenalnya.

Lalu, dia langsung menembaknya dengan kata-kata.

"Percakapan Ryouta-san, aku juga tadi tidak sengaja mendengarnya. Perkataan Tenma-kun itu benar, kan?"

Memang saat itu, Yukine-san juga bersamaku di ruang kecil. Dari ingatannya tentang percakapan saat itu dan isi pembicaraan sekarang, mungkin Yukine-san juga menyadari keadaannya.

Tapi, Yukine-san mengatakannya agak...

"Hahh...!? Kenapa kau tahu?! Waktu itu kami berbicara di toilet! Jangan-jangan kamu masuk toilet pria!?"

"Ah..."

Iya kan! Pasti mikir gitu kan!

Yukine-san membuat wajah "celaka" dan membeku. Kumohon, pikirkan dulu sebelum bicara!

"Ara~? Ryouta-san tadi bilang 'sedang berbicara'?"

Dan, tanpa disadari, Karin yang sudah berada di belakang Ryouta menimpali ucapannya.

"Artinya, kamu memang melakukan pembicaraan seperti itu ya~?"

"Ugh...!"

Ucapan Yukine-san, entah bagaimana jadi berfungsi dengan baik—!

"Ti, tidak... yang tadi itu..."

"Kamu tidak bisa mengelak, lho? Ucapan tadi, sudah aku rekam dengan jelas sebagai bukti."

Karin mengulurkan kamera digital tadi dan memutarnya untuk Ryouta.

Tapi...

"Ah, salah operasi."

Karena kesalahan operasi, rekaman selfie mesum tadi muncul di layar.

"O, oi!? Itu gambar apa?! Tadi sepertinya kelihatan wanita telanjang!?"

"Ti, ti ti ti ti tidak! Mana mungkin ada yang seperti itu! Lebih baik, lihat yang ini!"

Karin jelas-jelas panik dan seolah menutupinya, memutar ulang rekaman Ryouta. Di sana terlihat jelas wajahnya yang mengakui bahwa dia sendiri yang berbicara.

"Na, nah! Bagaimana ini?! Sekarang kamu mau mengaku, kan!?"

"Gh... Grr..."

Aku, Karin, dan Yukine-san bersama-sama menatap Ryouta. Tidak tahan dengan tatapan itu, dia tanpa sengaja menghindar.

Langsung setelah itu, dia meledak.

"Uu, berisik! Jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu!"

Dia berteriak seperti anak kecil sambil menahan air mata di matanya.

"Kalian pikir bisa menggangguku begitu saja?! Aku akan laporkan pada Papa, tahu!"

"Pa, Papa...?"

Dengan kata-kata menyedihkan yang tiba-tiba keluar, aku merasa agak kehilangan tensi.

Tapi, kata-kata setelahnya membuatku gemetar.

"Lagipula, kalian semua cabul, kan! Bawa gambar aneh-aneh, masuk toilet pria, berpelukan di tempat seperti ini! Dasar cabul! Aku tidak akan memaafkan kalian!"

"!?"

Bahu aku, Yukine-san, dan Karin bergetar hebat. Tsukino masih memelukku erat.

"Aku akan minta Papa menghancurkan kalian! Nanti kalian menyesal juga tidak akan kuampuni!"

Di hadapan banyak orang yang melihat, Ryouta pergi meninggalkan kami seperti kabur. Dengan meninggalkan ucapan menyeramkan.

Oi oi... Serius? Ketahuan kalau bertiga cabul oleh Ryouta. Lagipula, dari nada suaranya saat pergi, dia akan memberitahu orang tuanya. Pasti akan sampai ke telinga Hajime-san.

Yang beruntung adalah, orang-orang di sekitar yang menyaksikan belum mengetahuinya.

"Tiga bersaudari itu cabul...?"

"Tidak mungkin. Anak-anak itu lebih sopan daripada putri mana pun."

Mereka mungkin tidak percaya bahwa tiga bersaudari cantik ini adalah cabul. Mereka tidak percaya pada perkataan Ryouta.

Juga, para saudari sepertinya belum menyadari bahwa yang lain juga cabul.

"He, dia bilang hal aneh ya, orang itu~. Gambar Karin kan cuma kebetulan terekam karena salah operasi..."

"Be, benar juga~... Aku juga cuma kebetulan mendengar suaranya di depan toilet~..."

"Te, terlebih lagi! Ternyata Tsukino-oneechan dirayu orang seperti itu. Jangan-jangan, hampir saja pacaran?"

"Be, benar juga. Aku datang karena lihat keadaannya aneh, ternyata begini jadinya..."

Sambil membuat alasan yang buruk, keduanya tersenyum palsu dengan keringat dingin bercucuran. Mereka berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Sepertinya mereka terlalu sibuk menutupi diri sendiri, dan karena prasangka dari kepercayaan bahwa lawan bicara adalah saudari yang baik, mereka tidak saling mencurigai. Sungguh sebuah keajaiban. Bahkan dalam situasi ini tidak ketahuan. Mereka juga sepertinya tidak sempat menyebutkan Tsukino yang sedang memelukku.

Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Tsukino? Aku melihatnya yang masih kupeluk.

"Ternyata Ryouta itu orang yang menyedihkan ya... Maaf, Tenma? Aku membuatmu khawatir... Tapi, aku—aku suka sama celana dalam Tenma...? Haah haah..."

Tsukino yang sedang birahi bergumam seperti mengigau di dadaku.

Tidak baik. Aku harus menghentikan birahinya...!

"Maaf, kalian berdua! Aku pinjam Tsukino sebentar!"

"Eh? U, un..."

Agar fetish Tsukino tidak ketahuan, aku membawanya ke tempat sepi. Aku membawanya ke depan tangga darurat tadi, tempat aku bertemu Karin.

"Oi, Tsukino! Kumohon sadarlah!"

"Aku sadar kok, Tenma... Makanya, ayo kita melakukan hal mesum berdua?"

Grr... Dia sudah benar-benar birahi. Lagipula, dia sudah tidak puas hanya dengan saputangan. Tapi, tidak mungkin membiarkannya birahi di tempat umum...

"Ah—sudahlah! Hanya untuk kali ini, Tsukino!"

Aku meminta Tsukino membelakangi dan memastikan tidak ada orang. Lalu—

"Ini... gunakan ini untuk menahan diri...!"

"I, ini... Celana dalam Tenma...!?"

Dengan berat hati, aku memberikan celana dalam yang sedang kupakai kepada Tsukino.

"Haah haah... Aku senang... Kehangatan Tenma, aku senang...!"

Untungnya, ini sepertinya efektif. Tsukino bersemangat dan memeluk erat celana dalamku.

Dan setelah memuaskan hasrat mesum Tsukino dan dia kembali sadar, pesta akhirnya selesai.

※        ※        ※

Setelah pesta, aku langsung pulang dan menghela napas.

"Hah..."

Pada akhirnya ketahuan bahwa ketiga saudari itu adalah gadis mesum. Itu pun oleh orang dari dunia yang sama dengan Hajime-san.

Sudah begini, tidak ada pilihan bagiku selain dipecat. Hajime-san pasti akan segera mengetahuinya dan mengusirku dari rumah ini. Bahkan mungkin aku akan dihukum berat karena disebut-sebut telah hidup bersama ketiga saudari selama ini. Lagipula, sebagai orang luar, aku telah seenaknya menghancurkan hubungan asmara anak dari keluarga terpandang. Pasti aku akan disalahkan untuk hal itu juga.

Ah... Benar-benar tamat. Setelah berhenti dari pekerjaan ini, aku harus memikirkan bagaimana cara melunasi hutang...

Juga, sepertinya bukan hanya aku yang sedang bersedih.

"........"

Tsukino duduk di sofa ruang tamu, terdiam dan murung.

"Au... Tsukino-chan, bagaimana ini..."

Melihat keadaannya dari koridor, Yukine-san tampak khawatir.

"Tsukino-oneechan seperti itu, mungkin pertama kali Karin melihatnya..."

Yah, wajar saja dia murung. Baru saja dia pikir fetish-nya sudah teratasi, langsung birahi lagi. Itu pun di depan banyak orang.

Ngomong-ngomong, kedua orang yang tidak tahu fetish Tsukino mengira dia shock karena 'pria yang disukainya ternyata pria tidak berguna'.

"Bagaimana ini... Kata-kata apa yang harus diucapkan padanya..."

"Tsukino-oneechan... Gakpapa, kan...?"

Keduanya tampak bingung harus berbuat apa menghadapi murungnya Tsukino yang belum pernah dialami sebelumnya.

Karena mereka keluarga, karena mereka benar-benar peduli, mereka pasti serius memikirkannya, 'bagaimana ya, begini begitu'. Perasaan mereka yang memikirkan Tsukino terasa menyentuh.

Tapi, wajah mereka berdua juga sangat suram. Bukan hanya karena mengkhawatirkan Tsukino, mungkin mereka juga murung karena dalam hati mengira fetish mereka akan ketahuan Hajime-san.

Termasuk aku, semua orang masing-masing putus asa, situasinya benar-benar seperti suasana berkabung.

Tapi, tidak mungkin membiarkan keadaan seperti ini terus. Terutama keadaan Tsukino yang sangat murung, membiarkannya begitu saja pasti kejam.

Pertama-tama, seseorang harus menyapanya.

Jika Yukine-san dan yang lain tidak bisa, maka orang luar yang dalam arti tertentu berada dalam posisi lebih santai yang harus mengambil peran itu. Aku hanya suami sementara, pada dasarnya aku orang luar.

Lagipula, aku toh sebentar lagi akan dipecat. Kalau begitu, sebagai orang luar, biarlah aku menghiburnya dengan tidak bertanggung jawab. Seperti mengganggu hubungan asmara Ryouta tadi.

Aku melangkah mantap ke ruang tamu dan duduk di samping Tsukino.

"........ (geser)"

Tsukino menjauhkan jarak dengan santai. Oi. Aku agak tersinggung, lho.

"Tsukino... Bukannya itu keterlaluan?"

"Soalnya... Kalau mendekat, aku akan menyerangmu lagi, tahu? Kau..."

Ah. Ternyata dia sangat memikirkannya.

"A~... Yah, tidak usah terlalu dipikirkan. Selama latihan, hal serupa juga sering terjadi, kan."

"Benar. Tapi, latihan juga tidak perlu lagi. Toh aku akan tetap menjadi cabul selamanya."

Berkata demikian, Tsukino menunduk. Sepertinya dia tenggelam dalam lautan kebencian pada diri sendiri yang dalam.

"Orang seperti aku, tidak akan pernah berubah. Berusaha sekeras apa pun tetap seperti sekarang..."

Dengan masih menunduk, Tsukino berbicara seperti bergumam.

"Susah-susah fetish-nya sembuh, tapi entah kenapa malah birahi padamu... Pria yang akhirnya bisa diajak bicara ternyata pria tidak berguna... Sudah, benar-benar tidak ada hal baik. Pokoknya aku akan tetap menjadi cabul selamanya. Selamanya seperti ini, tidak bisa berubah..."

"Tidak apa-apa, kan. Meski tidak berubah."

Pada Tsukino yang murung, aku berkata dengan nada sangat santai.

Tsukino mengangkat wajah dan menatapku.

"Ha...?"

"Tidak, maksudku. Tidak apa-apa kalau tidak berubah, kan."

"Haa!? Kau, ngomong apa?! Mana mungkin gakpapa! Aku, sangat mesum, lho!? Aku ini mesum tanpa kelebihan!?"

Dengan semangat seperti akan menggigit, Tsukino menyerangku.

"Kelebihanmu kan banyak. Seperti perhatian pada saudari, sisi polos yang tak terduga, tidak jujur tapi sebenarnya baik hati, juga rasa tanggung jawab yang kuat. Ah, dan juga sisi pemalu yang cukup imut."

"Ah... Au...!?"

Mungkin karena tiba-tiba dipuji berturut-turut, Tsukino membeku dengan mulut setengah terbuka.

"Nah? Bahkan aku yang baru kenal beberapa minggu bisa langsung sebutkan segitu. Tsukino punya banyak kelebihan, kok."

"U, ungkapan seperti itu..."

"Ya, menjadi cabul mungkin jadi kekurangan. Tapi, siapa pun pasti punya satu dua kebiasaan aneh. Jadi, tidak perlu memaksakan diri untuk berubah. Tsukino baik-baik saja seperti sekarang."

"........!"

Sebenarnya, jika aku melanjutkan pekerjaan ini, fetish-nya yang tetap seperti itu pasti merepotkan. Pasti aku akan membujuknya untuk tidak menyerah dan kembali berlatih.

Tapi, pemecatanku sudah pasti. Justru karena itulah, aku mengucapkan isi hatiku yang tidak bisa kukatakan sebagai rekan kerja. Apa yang benar-benar kupikirkan tentang Tsukino.

"...Hei, Tenma. Kenapa kau memisahkan aku dan Ryouta?"

Tiba-tiba Tsukino melemparkan pertanyaan seperti itu.

"Kau tahu dia pria tidak berguna... Kau tahu dia pria paling buruk dan kekanak-kanakan, lalu memisahkannya dariku...? Kau menolongku...?"

"G, gak... Gak sampai segitunya, kok...?"

Tindakan itu hanyalah egoisku saja. Menolong, bukanlah tindakan yang bisa dipuji seperti itu.

"Hanya saja, aku tidak bisa menerima kalau pasangan Tsukino yang berusaha keras untuk pacaran biasa, adalah pria seperti itu. Saat kupikir begitu, mulutku bergerak sendiri."

Di masa depan, Tsukino seharusnya bersama orang yang baik yang bisa menerimanya beserta fetish-nya. Melihat sikap Ryouta hari ini, aku mulai merasakan hal itu.

"...Ja, jangan-jangan itu... Kau begitu serius memikirkanku...?"

"Dan juga... Meski tidak pacaran dengan pria seperti itu, meski tidak berubah dengan paksa, pasti nanti akan muncul orang yang menyukai Tsukino seperti sekarang. ...Eh? Kenapa, Tsukino...?"

"~~~~~~!"

Tsukino mengambil bantal dan menekannya ke tubuhku. Setelah itu, dia berteriak dengan wajah tertanam di bantal.

"~~~~! ~~~~~~!"

"Eh, Tsukino!? Apa?! Aku tidak paham!?"

Entah kenapa telinganya sampai memerah, Tsukino terus berteriak. Aku panik, jangan-jangan gagal menghiburnya.

Tapi, keadaannya berbeda dengan tadi, dia terlihat sangat bersemangat.

※        ※        ※

Nah, saat penghakiman tiba.

Tak lama setelah menghibur Tsukino, Hajime-san pulang ke rumah.

Sekembalinya, dia langsung memanggilku, dan sekarang kami duduk berhadapan seperti pertama kali aku datang ke sini.

"Tenma-kun. Pada hari pesta, terima kasih atas kerjamu."

"Ti, tidak... Bukan apa-apa..."

Hajime-san mulai bicara dengan nada yang sama seperti biasa. Dari suaranya, emosinya masih belum terbaca.

Tapi, kejadian di hotel pasti sudah sampai ke telinganya. Hajime-san mungkin sudah tahu cerita tentang ketiga saudari itu disebut cabul, dan marah padaku yang memisahkan Ryouta dan Tsukino. Bagaimanapun, dia pasti tidak bisa membiarkanku tinggal di rumah ini.

Aku pasti dipecat. Aku sudah siap mental untuk itu.

Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kukatakan pada Hajime-san.

"Ngomong-ngomong, Tenma-kun... tentang kejadian di pesta..."

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya!"

Lebih cepat dari Hajime-san yang akan masuk ke pokok pembicaraan, aku membungkuk dalam-dalam.

Cepat, untuk menghilangkan kesalahpahaman.

"Tapi! Untuk hal hari ini, ketiganya tidak bersalah! Karena yang salah... yang salah... adalah aku yang cabul!"

Yang cabul bukan ketiga saudari, tapi aku. Aku menyatakannya pada Hajime-san.

Tsukino memelukku, ada selfie Karin, Yukine-san ada di toilet pria, semua adalah rencanaku. Dengan membuatnya menilai begitu, untuk melindungi rahasia ketiganya.

Jika toh akan dipecat, aku akan melindungi ketiganya bahkan dengan mengorbankan diriku. Itulah pekerjaan terakhirku.

"Sebenarnya, akulah yang cabul! Akulah yang cabul dan melibatkan mereka!"

Turun dari sofa dan bersujud di tempat. Tanpa rasa malu dan harga diri, menggosokkan dahiku ke lantai.

"Karena itu, tolong jangan salah paham pada mereka bertiga! Semua kesalahan ada padaku!"

"Tenma-kun..."

Hajime-san memandangku yang seperti itu dengan wajah serius.

Ta, tidak berhasil...? Apa gak bisa ditipu? Rahasia ketiganya benar-benar terbongkar? Saat aku hampir putus asa, itu terjadi.

"Tunggu Papa! Jangan salah paham pada Tenma!"

Pintu terbuka, Tsukino berlari masuk ke kamar.

"T, Tsukino...!?"

Dia berdiri di sampingku dan menatap Hajime-san dengan tajam.

"Dia ini demi aku, menjauhkan pria menjijikkan itu! Jangan memecatnya! Lagipula, anggapan dia cabul juga salah!"

O, oi... Dia bicara apa? Kenapa membantah ucapanku?

Padahal aku dengan susah payah mau memikul semua dosa para cabul...!

"Awalnya aku juga menjauhkannya tapi... Tenma tetap serius menghadapiku! Dia benar-benar memikirkan aku, melakukan berbagai hal dengan mengorbankan dirinya! Sebagai teman serumah, tidak ada orang sebaik dia! Dia sama sekali gak cabul!"

Tsukino mati-matian membelaku. Tsukino yang dulu membenciku. Aku sangat senang akan hal itu.

Tapi jika kau membantah ucapanku, otomatis kalian ber—

"Benar! Tenma-senpai bukan cabul, dia bahkan selalu berusaha untuk kami!"

"Seperti kata mereka berdua. Tenma-kun lebih memikirkan kami daripada siapa pun."

Karin dan Yukine-san juga muncul di depanku, membelaku bersama Tsukino. Dengan wajah serius yang tidak terlihat seperti gadis mesum biasa, mereka membela ketidakbersalahanku.

Oi oi, berhenti...!

Perasaan itu sangat menyenangkan, tapi jika kalian mengatakan itu, rahasia kalian akan terbongkar!

"Yang cabul, bukan Tenma..."

Tsukino membuat tatapan seperti sudah bulat tekad. Mengikutinya, Yukine-san dan Karin juga.

"Benar... Tenma-kun bukan cabul."

"Senpai... Senpai berbeda..."

O, oi kalian... Mau bilang apa...? Berhenti. Kumohon berhenti!

"""Karena, yang benar-benar cabul itu—"""


 

Berhenti kalian—! Jangan lanjutkan—!

"—Kalian, dari tadi apa tidak salah paham?"

Sebelum ketiganya melanjutkan kata-kata, Hajime-san berbicara.

""""Eh...?""""

Mendengar kata-kata Hajime-san yang tidak terasa marah, kami berempat bersuara serentak dengan heran.

"Aku tidak pernah bermaksud memecat Tenma-kun atau menganggapnya cabul. Bahkan sebaliknya—aku ingin memujinya karena telah melakukan dengan baik."

""""Eh........?""""

Suara kami berempat kembali bersahutan. Kata-kata pujian yang tak terduga.

"Emm... Maksudnya bagaimana...?"

"Tidak ada maksud apa-apa. Katanya kamu menolong Tsukino, kan. Berkatmu, lalat pengganggu yang merepotkan putriku bisa diusir."

Lalat pengganggu...? Eh? Apa itu...?

"Tidak mengerti? Ini tentang kasus Ryouta Tachikawa."

Hajime-san menyebut nama itu dengan kesal.

"Aku juga hanya bertemu dengannya sekali, tapi secara kepribadian tidak cocok untuk Tsukino. Tapi dia lancang, sepertinya ingin menjadikan Tsukino sebagai teman main. Aku pusing memikirkan cara memisahkannya karena dia sangat membandel. Lagipula, keluarganya adalah keluarga terpandang."

Keluarga mereka dan Hajime-san memiliki hubungan bisnis. Saat ingin melindungi Tsukino dari Ryouta, dia juga harus mempertimbangkan hubungan kedua keluarga, jadi tidak bisa menolak dengan kasar...?

Di saat seperti itu, aku mengusirnya.

"Ta, tapi aku... seenaknya menghancurkan hubungan asmara Tsukino-san..."

"Tidak usah khawatir. Jika kamu menilai dia tidak pantas untuk putriku, berarti memang benar tidak pantas. Aku percaya padamu. Karena itulah aku menempatkanmu di samping putri-putriku."

Eh? Aku, dipercaya sampai segitunya...?

"Dan juga, meski tidak terlalu paham ceritanya... Tampaknya kamu juga berusaha keras melindungi putri-putriku sampai sekarang. Kamu ternyata orang yang lebih hebat dari yang kukira."

"Ti, tidak! Bukan apa-apa!"

Sepertinya poin baikku malah naik?!

"Pokoknya, berkat kepintaranmu, banyak yang tertolong. Aku mengira kamu minta maaf karena khawatir dengan komentar aneh Ryouta, tapi aku tidak percaya omongan pria seperti itu, jadi tenang saja. Dia memanggil putriku cabul, tapi sangat tidak tepat."

O, oh... Hebat sekali dia sebagai orang tua. Dari awal sama sekali tidak percaya.

Tapi orang ini, apa terlalu percaya padaku dan ketiga saudari? Meski sangat berterima kasih, levelnya sampai membuatku khawatir. Sebenarnya ketiganya memang cabul, lho?

"Aku ingin Tenma-kun terus melindungi putri-putriku sambil hidup bersama mereka. Agar mereka bisa memahami pria dan menjadi menantu yang baik."

Dari nada bicaranya... jangan-jangan, ini akan berakhir tanpa hukuman...?

Aku merasakan pembicaraan akan berakhir, dan dalam hati mulai gemetar kegirangan.

"Ya ya. Dan juga, satu hal lagi. Sebaiknya kusampaikan—"

"Ya, ya! Apa itu?"

"—Jika kau benar-benar cabul, akan kuhancurkan tubuhmu...?"

Di saat aku membeku dan tak bisa menjawab, Hajime-san meninggalkan ruangan.

...Ini, jika apa yang terjadi selama ini ketahuan, pasti nyawaku akan melayang...

Bagaimanapun, masalah kali ini sepertinya tidak ditindak. Aku berhasil menghindari pemecatan.

"Aa~~h! Baguslah aa~~h!!"

Ketegangan yang sangat tinggi langsung mengendap, aku terjatuh di tempat.

"Selamat, Tenma-senpai!"

"Tenma-kun, baguslah! Mulai sekarang kita bisa tetap hidup bersama!"

"Apa... Cuma kekhawatiran berlebihan... Aku rugi khawatir, tahu..."

Ketiga saudari juga lega dan senang seolah-olah itu urusan mereka sendiri.

Tapi... tadi benar-benar menyenangkan. Bukan hanya karena tidak dipecat, tapi karena ketiganya membelaku.

Tapi, kalau dipikir-pikir, tadi malah berbahaya... Jika ketiganya mengaku cabul, pasti aku juga tidak akan bisa tinggal di rumah ini...

Yah, meski begitu. Tetap saja perasaan mereka menyenangkan. Bahkan Tsukino yang itu, bergerak untukku.

"Semuanya... Terima kasih banyak."

Saat kukatakan, Yukine-san dan Karin memberiku senyuman cerah.

Dan Tsukino, dengan malu-malu memalingkan wajah. Sisi tidak jujurnya tidak berubah, tapi sepertinya sedikit lebih akrab.

Aku bisa melanjutkan pekerjaan di rumah ini lagi. Itu pun, setelah diakui oleh ketiganya.

"Ngomong-ngomong... Kalian tadi, mau bilang apa...?"

"!?"

Mungkin karena rasa ingin tahu yang polos, Karin menanyakan hal yang tidak perlu.

"Bi, biasa saja, aku tidak ada...? Hanya karena emosi, mau bilang sesuatu tanpa berpikir, mungkin..."

"A, aku juga! Karin gimana?"

"Eh!? Tidak, Karin juga cuma membaca situasi... Ahaha..."

Sambil menampilkan senyuman kering, ketiganya saling menutupi.

Melihat keadaan itu, aku mengeluarkan senyuman getir.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...