
Hari sudah siang, dengan matahari yang meninggi di langit. Setelah makan siang kilat, kami melanjutkan perjalanan menuju Xi'an. Menerobos semak belukar yang belum pernah diinjak orang, kami kelihatan kayak sepasang perintis jalan.
Benar sekali. Artinya kami menderita setengah mati.
“Boleh tanya sesuatu nggak?”
“Tidak.”
“Memangnya nggak ada jalan lain selain jalan hutan ini? Bakal lebih gampang jalan kalau setidaknya ada jejak orang lain.”
Bajuku tidak robek dan aku tidak terluka, tapi kadang-kadang aku tertusuk sesuatu, dan kadang menginjak benda yang tidak teridentifikasi. Benar-benar terasa seperti aku sengaja cari penyakit.
“Apa kau ingat apa yang kukatakan kemarin?”
“?”
“...Aku sempat curiga kau ini pembunuh bayaran. Sekarang sih tidak, tentu saja, tapi kalau kau bukan pembunuh bayaran, berarti pasti ada pembunuh bayaran yang disewa oleh Tuan Muda Pertama yang sedang mencariku di suatu tempat. Kalau kita lewat jalan yang sering dilalui orang, kita berisiko ketahuan oleh mereka.”
“Ah.”
Kupikir nggak mungkin ada pembunuh bayaran yang bakal nyerang aku pakai belati di siang bolong, tapi di sisi lain, di dunia tanpa CCTV, itu sangat mungkin terjadi. Jujur saja, kalau kau bunuh orang dan melempar mayatnya ke binatang buas, siapa yang bakal tahu siapa pelakunya?
“...Kau.”
Cheon Yeo-hwa menarik lengan bajuku.
“Aku tidak bisa menjelaskan situasinya secara rinci, tapi bepergian denganku akan menempatkanmu dalam bahaya juga. Aku bisa memberitahumu jalan ke Xi'an, jadi bagaimana kalau kita berpisah di sini?”
Suaranya, dan tangan yang mencengkeram lengan bajuku, sedikit gemetar.
“Meskipun pertemuan kita berawal dari kesalahpahaman, aku telah berhutang budi besar padamu dalam waktu singkat ini. Aku tidak bisa membiarkanmu...”
“Maaf ya, tapi aku nggak bisa.”
Aku menggenggam pergelangan tangannya.
Kalau kami memang mau pisah jalan, pasti sudah kami lakukan dari tadi. Aku tidak berniat mundur sekarang. Malahan, rasanya aku bisa botak mikirin alasan bagus supaya kami tetap bisa barengan setelah sampai di Xi'an.
“Arah jalanku itu parah banget. Meskipun kau kasih tahu jalannya, aku pasti bakal tersesat dan kemungkinan besar mati jatuh.”
Dia baru saja memberiku alasan sempurna buat bepergian dengannya. Aku bakal lebih bodoh dari lumba-lumba kalau nggak ngambil kesempatan ini. Aku bakal dapetin hadiah penyelesaian yang manis itu.
“...Terima kasih.”
Cheon Yeo-hwa merasa bersyukur atas jawaban cerianya, tapi di saat yang sama, dia merasakan sedikit rasa bersalah yang mencengkeram hatinya. Ini juga, adalah emosi yang belum pernah dirasakan Cheon Yeo-hwa selama menjadi Penyihir Roh Bulan.
Dia sudah menerima begitu banyak dari pria itu. Namun, dia tidak bisa membalas budinya sedikit pun, dan sekarang dia bahkan tidak sanggup mendorongnya menjauh dengan tegas saat pria itu menawarkan diri untuk menemaninya di jalan berbahaya ini.
Dia membenci pilihannya yang lemah ini, namun saat dia menatap punggung lebar pria yang berjalan di depannya itu, perasaan aneh menyapunya.
Sejak bertemu dengannya, dia mulai belajar emosi baru, satu per satu.
· · ·
Setelah berjalan dan beristirahat bergantian cukup lama, matahari mulai terbenam. Kalau kami nggak mau nyari tempat kemah di tengah malam, kami harus buru-buru. Untungnya, kami menemukan tempat terbuka yang cocok di dekat situ, di mana kami mendirikan tenda dan anglo sama seperti kemarin.
Saat kami buru-buru menyiapkan makan malam, matahari terbenam sepenuhnya, dan malam yang gelap tiba. Kalau kami telat sedikit saja, kami harus mendirikan anglo dan tenda dalam kegelapan pekat. Bakal jadi mimpi buruk.
Tentu saja, aku bisa saja menggunakan mantra Light, tapi aku nggak mau ngabisin kekuatan sihirku setelah kelelahan jalan seharian.
“Apa ini...?”
“Hamburger. Kalau susah makannya, tekan aja sedikit.”
Beberapa orang bilang makan kayak gini tuh aliran sesat, tapi emangnya kau bisa makan hamburger pakai pisau dan garpu? Pilihannya antara itu atau kau lepas engsel rahangmu.
“Baru kali ini aku melihat makanan seperti ini. Dari mana sebenarnya asalmu, sampai terus-terusan mengeluarkan benda-benda ini...?”
“Penasaran?”
Dia tidak menjawab. Mungkin Cheon Yeo-hwa, yang juga menyembunyikan banyak hal dariku, merasa tidak pantas mengorek identitasku.
“Kalau kau beneran pengen tahu, gimana kalau kita saling tanya jawab satu pertanyaan? Aku bahkan bakal kasih kau kesempatan buat mulai duluan.”
Sejujurnya, aku tidak terlalu penasaran soal Cheon Yeo-hwa. Aku sudah punya gambaran kasar tentang nama, umur, asal-usul, dan situasinya saat ini. Ini bukan sekadar bertukar informasi melainkan cara untuk jadi lebih dekat dengannya.
Tentu saja, aku nggak ngarep bisa jadi kekasih kayak sama Iris cuma gara-gara main truth or dare sekali. Itu namanya terlalu serakah. Tapi kalau kami jadi lebih dekat, bukankah bakal ada peluang yang muncul? Awalnya, aku cuma tertarik sama hadiah penyelesaiannya, tapi sekarang aku mulai tertarik pada Cheon Yeo-hwa sebagai individu. Kecantikannya, tentu saja, sudah pasti, dan soal sisanya...
'...Tapi lagi pula, kecantikannya begitu luar biasa, apa aku butuh alasan lain?'
Kepribadiannya memang kelihatan agak aneh di awal, tapi makin aku perhatikan, makin aku nemuin sisi imutnya. Kayak caranya ngunyah hamburger, nyam-nyam-nyam, mirip tupai. Dia punya tampang yang girl-crush banget, kayak pewaris chaebol generasi ketiga yang biasa kau lihat lagi belanja di Cheongdam-dong atau Gangnam.
“Namamu.”
“Hah?”
“Kita belum memperkenalkan diri dengan benar, kan?”
Kalau dipikir-pikir, cuma aku yang tahu namanya. Sudah hampir enam belas jam sejak kami bertemu, tapi dia belum tahu namaku. Bukankah lebih aneh kalau kami menghabiskan enam belas jam bersama tanpa tahu nama satu sama lain dan itu nggak terasa canggung sama sekali?
“Kang Hyun-woo.”
Hyun untuk ‘muncul’, dan Woo untuk ‘membantu’. Aku nggak tahu pasti apa artinya. Orang tuaku meninggal tanpa pernah ngasih tahu orang seperti apa yang mereka harapkan saat menamaiku.
“Kang Hyun-woo...”
Cheon Yeo-hwa mengulang namaku pelan, seolah meresapinya. Reaksinya terasa sedikit memalukan. Kalau diingat-ingat, orang yang pernah memanggil namaku seperti itu cuma kepala biarawati di panti asuhan, Iris, dan sekarang Cheon Yeo-hwa.
“Sekarang giliranku.”
Aku mutusin bakal mengunjungi panti asuhan setelah matching ini selesai.
“Siapa namamu?”
“...Cheon Yeo-hwa.”
“Nama yang bagus.”
Sehari sudah berlalu sejak kami bertemu, tepat sebelum hari kedua dimulai. Kami akhirnya mengetahui nama satu sama lain.
“Sekarang giliranmu. Apa kau tidak mau bertanya hal lain?”
“Cukup segitu.”
Kami sudah selesai makan malam dan pertanyaanku sudah dijawab, tapi Cheon Yeo-hwa sepertinya tidak berniat nanya apa-apa lagi.
“Kau... tidak, Hyun-woo. Kalau ada hal lain yang membuatmu penasaran, kau boleh bertanya.”
“...?”
Aku sedikit kaget dia tiba-tiba manggil namaku, tapi yang lebih bikin kaget adalah perubahan 180 derajat mood-nya. Kenapa kepribadiannya kayak melunak seiring waktu?
“Kalau begitu.”
Aku tahu apa yang mau kutanyakan. Siapa sebenarnya Tuan Muda Pertama yang dia sebutkan, kenapa dia diancam dibunuh, dan dari mana asalnya? Alasan aku nanya, padahal aku sudah tahu, itu sederhana. Biar makin dekat dengan berbagi rahasia.
Tapi pertanyaanku harus berakhir bahkan sebelum dimulai.
Bruk—
“Hah?”
Cheon Yeo-hwa, yang sedari tadi menghangatkan diri di dekat anglo, tiba-tiba ambruk.
“Cheon Yeo-hwa!”
Aku langsung lompat dan lari ke arahnya.
“Haa, haa, haa...”
Dia tergeletak di tanah, memegangi dadanya seolah kesakitan luar biasa. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin bercucuran tanpa henti. Dilihat sekilas pun, kondisinya terlihat sangat serius.
'Ada apa ini? Apa dia sakit? Tapi tadi dia baik-baik aja.'
Apapun itu, aku nggak bisa ninggalin dia begini saja. Aku langsung menggendongnya, lari ke tenda, dan membaringkannya pelan-pelan.
“Cheon Yeo-hwa! Sadarlah!”
“Ugh, ugh...”
Apa dia terlalu kesakitan sampai nggak bisa jawab?
“Aku harus gimana dalam situasi kayak gini...”
Apa aku gendong aja dia dan lari ke tempat itu, Xi'an? Tapi aku nggak tahu jalannya. Kalaupun aku tahu, dia mungkin nggak bakal bertahan sampai kami tiba di sana.
Meninggalkannya di sini juga masalah. Aku nggak tahu apa ini sesuatu yang bisa dia sembuhkan sendiri cuma dengan istirahat. Aku kan bukan dokter.
“Pasti ada cara... Ah!”
Saat itu, sebuah metode tiba-tiba terlintas di kepalaku.
“Weakness Insight.”
Weakness Insight adalah skill yang, sesuai namanya, menunjukkan kelemahan target. Buat manusia atau monster humanoid, kepala dan jantung biasanya yang paling terang. Tapi cuma karena bagian itu paling terang, bukan berarti manusia cuma punya dua titik vital. Kenyataannya, tempat manapun dengan pembuluh darah besar, konsentrasi saraf yang tinggi, tulang yang bisa patah, atau sendi yang bisa ditekuk adalah titik vital.
Jadi, gimana dengan orang sakit? Area yang terluka, organ yang melemah karena penyakit. Bukankah tempat-tempat itu bakal bersinar lebih terang dari yang lain, setelah kepala dan jantung?
“Ketemu.”
Saat aku menggunakan Weakness Insight pada Cheon Yeo-hwa, kepala, jantung, dan perut bagian bawahnya bersinar terang. Tepatnya, itu Danjeon-nya—tempat yang selalu ada di cerita dengan setting Wuxia.
“Warnanya kayak ada semburat ungunya... Apa mungkin racun?”
Aku tidak yakin, tapi itu teori paling masuk akal saat ini.
“Shop.”
Begitu aku mikir kalau itu mungkin racun, aku ingat ada item di shop. Tolong jangan sampai udah di-reset.
[Shop]
[Antidote Tingkat Terendah: Terjual Habis]
[Sweet Apple: 250 Koin]
[Pedang Sihir Tentara Kekaisaran: Terjual Habis]
[Buku Etiket untuk Nona Memesona: 540 Koin]
[Random Scroll Tingkat Tinggi: 600 Koin]
· · ·
“Ini dia!”
[Apakah Anda ingin membeli Sweet Apple?]
[Y/N]
[Y]
[Anda telah membeli Sweet Apple.]
[Sisa Koin: 1.200 Koin]
Sweet Apple. Ini adalah item yang muncul bareng Antidote Tingkat Terendah pas aku keracunan di dungeon dan nyari obat di shop.
[Sweet Apple]
[Grade: Rare]
[Memberikan efek positif saat dikonsumsi.]
Harganya lebih mahal 50 koin dari Antidote Tingkat Terendah, tapi grade-nya satu tingkat lebih tinggi. Bisa dibilang, beli ini mungkin kesepakatan yang lebih bagus, tapi yang kubutuhin saat itu adalah penawar dengan efek yang terjamin. Jadi aku cuma baca sekilas deskripsinya dan lanjut cari yang lain.
“Tapi dia nggak bisa makan apel dalam kondisinya sekarang, kan?”
Wanginya manis, tapi ukuran dan bentuknya sama kayak apel biasa. Gimana caranya orang yang hampir nggak sadar karena kesakitan bisa makan ini?
“...Selama dia mengkonsumsinya, harusnya bekerja kan?”
Aku buru-buru cuci tangan pakai air minum dan memegang apel itu.
“Tunggu sebentar. Aku bakal peras buatmu biar gampang dimakan.”
Tentu saja, ini lebih mirip diperas pakai tenaga dalam daripada diblender.
Crot— Cengkeramanku, yang diperkuat dengan kekuatan sihir, dengan mudah meremasnya seolah-olah apel itu dimasukkan ke dalam juicer.
Aroma yang luar biasa manis menguar dari jus apel yang mengalir ke cangkir.
“Segini harusnya cukup.”
Sekarang, aku dengan hati-hati menyuapkan sesendok penuh ke bibir Cheon Yeo-hwa.
“Ugh...”
“...Nggak bisa juga?”
Meskipun aku sudah memerasnya jadi cairan dan menyuapkannya pakai sendok, Cheon Yeo-hwa masih belum sadar, sepertinya terlalu kesakitan. Dalam keadaan begini, dia mungkin nggak bisa minum air sendiri.
Nggak ada pilihan lain.
“Aku nyelametin nyawamu, jadi jangan salahin aku nanti ya.”
Aku mengambil seteguk jus apel dan menempelkan bibirku ke bibirnya. Aku bahkan nggak sempat ngerasain sensasi lembut dan lembapnya sebelum aku dengan hati-hati membuka bibirnya dan membiarkan jusnya mengalir masuk.
Ini bukan ciuman buat muasin nafsuku sendiri, tapi aku nggak bisa nahan perasaan aneh dan mendebarkan yang menyapuku.
Setelah tiga kali ciuman berkedok upaya penyelamatan nyawa itu, wajah Cheon Yeo-hwa kelihatan jauh lebih mendingan.
Tring—
[Efek positif aktif dari konsumsi Sweet Apple.]
[Menguraikan Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus (Teratai Racun Bunga Yang Ekstrem Hati Surgawi).]
[Menguraikan...]
[Penguraian gagal.]
[Efek positif aktif.]
[Racun Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus mereda.]
[Sisa racun Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus meronta.]
[Efek positif aktif.]
[Sisa racun Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus tertidur.]
Di tengah malam, saat hewan-hewan buas pun tertidur.
“Ugh... hah...?”
Terbangun dari tidurnya, Cheon Yeo-hwa kebingungan melihat Kang Hyun-woo tertidur, memeluknya.
“Hyun-woo, kenapa kau...?”
Dia kelabakan. Menemukannya tidur sambil memeluknya itu satu hal, tapi dia sama sekali nggak bisa nginget gimana situasi ini bisa terjadi. Kepalanya yang berdenyut cuma nyimpen ingatan yang terpotong-potong.
Selain sakit kepala ringan, Cheon Yeo-hwa merasa jauh lebih baik dari biasanya, dan dia dengan cepat bisa merangkai apa yang terjadi dari potongan-potongan ingatannya.
'Apa racunnya kumat dan bikin aku pingsan...?'
Dia pernah ngalamin kejang kayak gini sebelumnya. Racunnya bakal tiba-tiba kumat, bikin dia kesakitan luar biasa, tapi dia selalu bisa tetap sadar dan menahannya. Baru kali ini dia sampai pingsan.
Seiring racunnya makin kuat, tenaga dalamnya makin merosot. Dia kemungkinan nggak punya kekuatan lagi buat nahan. Malahan, sebelum ketemu dengannya, dia udah setengah nyerah, mikir umurnya paling lama tinggal sebulan lagi.
“Padahal aku udah yakin banget... tapi apa ini...?”
Cheon Yeo-hwa memastikan kalau kekuatan Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus, yang selama ini ngincer Danjeon-nya, udah berkurang hampir delapan puluh persen. Bahkan sisa dua puluh persennya pun diam kayak tikus.
Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus adalah jenis Racun Penyebar (Scattering Poison) yang bawa energi yang yang kuat. Itu adalah pasangan paling buruk buatnya, yang penuh dengan energi yin, dan merupakan salah satu dari tiga racun mematikan dari Paviliun Racun Surgawi, yang kerja sama dengan Tuan Muda Pertama.
Penawarnya dianggap hampir mustahil ada. Dia pikir bahkan kepala keluarga Tang, yang dikenal sebagai master racun, atau dokter ilahi yang katanya bisa ngidupin orang mati pun bakal nganggap itu tugas yang sia-sia.
Tapi apa yang sebenarnya terjadi sampai kondisinya membaik se drastis ini?
Cheon Yeo-hwa mutusin buat nyoba nginget-nginget lagi. Sebagai ganti buat ngorek ingatannya, sakit kepalanya makin parah, tapi di sela-sela rasa sakit itu, dia ngelihat sekilas momen yang singkat dan intens.
“?!!”
Momen saat Kang Hyun-woo masukin sesuatu ke mulutnya lalu menciumnya.
'Ah, aaaaah...!!'
Jeritan yang nggak bisa dia keluarin menggema di kepalanya. Wajah Cheon Yeo-hwa memerah padam, seolah mau meledak.
'Itu ciuman pertamaku...'
Cheon Yeo-hwa nyentuh bibirnya sendiri pelan-pelan. Rasanya kehangatannya masih tertinggal di sana.
Lagipula, ciuman itu bukan satu-satunya yang dia lihat di potongan ingatan itu. Dilihat dari bayangan pria itu yang nyuapin sesuatu dari mulut ke mulutnya, nggak diraguin lagi kalau dialah yang netralisir racun yang hampir nyabut nyawanya.
Fakta kalau penawar buat Heavenly Heart Extreme Yang Flower Poison Lotus beneran ada aja udah bikin kaget, tapi yang lebih besar dari itu adalah rasa syukurnya pada pria itu karena udah nyelametin dia lagi.
Cheon Yeo-hwa keinget momen pas dia kena jaring besi bandit. Momen ketidakberdayaan pas qi dan darahnya dipelintir sama racun yang tiba-tiba ngamuk, bikin dia nggak bisa ngangkat satu jari pun.
Dirinya di masa lalu nggak bakal pernah kejebak penyergapan preman jalanan kayak gitu; dia pasti udah ngerasain kehadiran mereka dari jarak puluhan meter dan menggorok leher mereka.
Tapi kayak yang dia bilang sendiri, itu masa lalu. Masa lalu yang nggak bakal pernah kembali.
Kalau Kang Hyun-woo nggak nyelametin dia waktu itu, dia pasti udah diseret bandit-bandit itu tanpa bisa ngelawan. Tentu saja, dia bakal maksa tenaga dalamnya sampai batas dan ngebunuh bandit-bandit itu, meskipun itu berarti menderita Penyimpangan Qi (Qi Deviation). Dan sebagai bayarannya, dia bakal mati sendirian, batuk darah dengan menyedihkan.
Cheon Yeo-hwa diam-diam nyusup ke pelukan Kang Hyun-woo. Seolah itu tempat yang seharusnya buat dia.
Di momen itu, dia ngerasa nyesel banget karena pernah ngeraguin identitasnya.
'Apapun yang terjadi, aku nggak bakal pernah ngeraguin dia lagi...?!'
Remas—
“Eek?!”
Sebelum dia bisa nghentiinnya, tangan Kang Hyun-woo yang besar dan tebal ngeremas pantatnya.
“H-Hyun-woo...???”
“Mmm...”
Dia saking kagetnya sampai ngeluarin pekikan melengking dan bahkan manggil namanya, tapi Kang Hyun-woo cuma ngeluarin napas pelan, nggak nunjukin reaksi lain. Tangannya, bagaimanapun, nggak berhenti ngelus pantatnya.
“Ngigo macam apa ini...”
Sebenarnya apa yang dia mimpiin? Kang Hyun-woo meremas-remas pantat Cheon Yeo-hwa tanpa ampun.
Cheon Yeo-hwa nggak tahu harus gimana, seumur hidupnya belum pernah dilecehin secara seksual kayak gini. Kalau itu orang mesum, dia pasti udah motong pergelangan tangan dan kemaluannya tanpa ragu sedikit pun, tapi dia nggak bisa ngelakuin itu sekarang.
“Hngh, heuk... A-apa kau nggak terlalu keras ngeremasnya...?”
Meskipun dia ngeluh, Kang Hyun-woo terus meremas pantatnya sesuka hati, seolah itu tanah liat. Sentuhan kasarnya kadang bikin dagingnya meluber di sela-sela jarinya, dan di saat lain, dia nyiksa dia dengan ngelusnya lembut kayak orang mesum.
Dia mikir apa ini beneran bisa dilakuin orang tidur, tapi dia nggak tega buat curiga kalau pria itu pura-pura.
“Apa kau sebegitu menginginkan tubuhku...?”
Bisa dibilang, Cheon Yeo-hwa senang. Seumur hidupnya, dia nganggap laki-laki nggak lebih dari monyet dengan pikiran kotor di kepalanya. Tapi dalam dua puluh tahun hidupnya, satu-satunya pria yang pernah dia kasih hatinya cuma Kang Hyun-woo.
“H-Hyun-woo...”
Kalau itu kau... kalau kau menginginkannya...
“Aku bakal dengan senang hati...”
“...Iris.”
“.........Hah?”