
Aku sangat mencintai anime.
Tidak peduli seberapa sering orang menyebutku otaku atau apa pun itu, aku tidak bisa berhenti menyukainya. Memang begitulah adanya. Lagi pula, hampir semua orang di Korea Selatan pasti pernah merasakan percikan "wah, ini seru" saat menonton anime setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Namun sayangnya, masyarakat Korea memperlakukan anime seperti tontonan yang hanya kau nikmati sebentar saat masih kecil. Jika kau terus menontonnya saat SMP, SMA—atau bahkan saat sudah dewasa—mereka tidak akan ragu memberimu cap otaku. Benar-benar masyarakat yang menyebalkan.
Tapi, meski mereka memanggilku otaku, aku tetap mencintai anime. Ini bukan sekadar suka—aku bahkan bermimpi menciptakan anime yang akan membuat Amerika dan Jepang ketar-ketir. Itulah sebabnya, meskipun nilai-nilaiku cukup bagus untuk masuk universitas papan atas, aku tidak ragu untuk masuk ke program studi animasi empat tahun.
"...Harusnya dulu aku masuk teknik saja."
Pada akhirnya, aku berakhir terkurung di kamar sempit, bekerja bagai budak sebagai animator. Saat ini, aku bekerja sebagai key animator untuk adaptasi anime dari web novel terkenal Korea, SSS-Class Regressor Monopolizes the Academy.
Kedengarannya mungkin keren, seolah-olah aku berada di garis depan produksi anime Korea. Tapi kenyataannya, setelah platform besar Korea memberi lampu hijau untuk adaptasi tersebut, mereka melakukan outsourcing ke studio Jepang. Studio Jepang itu kemudian melemparnya (outsource) ke studio Korea. Dan studio Korea itu melemparnya lagi padaku, seorang freelancer.
Singkatnya, sub-sub-subkontraktor. Jika dibandingkan dengan sistem kasta di India, aku ini pada dasarnya adalah kaum Sudra yang tak tersentuh. Dan dalam praktiknya, memang seperti itulah mereka memperlakukanku.
📰 Berita Terkini Episode 7 SSS-Class Regressor Monopolizes the Academy hari ini kualitasnya hancur total wkwkwkwk
💬 Komentar
— Anonim Si protagonis nggak punya hidung di menit 14:12 anjir, apaan nih? Voldemort???
— Anonim ↳ Balasan Hidung orang ini luar biasa lho wkwk
— Anonim Inilah puncak K-anime dari negara adidaya kita yang menguasai dunia!!!
— Anonim Bendera di dadaku berkibar kencang (sarkas)
— Anonim Emang ada yang nonton sampah ini? Dungeon Chef lagi tayang di Jepang di jam yang sama lho???
— Anonim ↳ Balasan Asli, siapa pun yang nonton sampah ini di jam segitu pasti cinta banget sama negara kita wkwk. Naikkan pangkat mereka dua tingkat kalau mereka mati mendadak, terus kubur di taman makam pahlawan wkwkwk.
— Anonim Katanya semua orang yang nonton ini pembuluh darahnya pecah dan udah pada mati. Hapus postingannya ㅠㅠㅠ
— Anonim Korea mending berhenti bikin anime deh;; Bikin tai kucing gini terus ngeluh pasar anime kita kecil wkwk
Aku mengecek situs komunitas internet untuk berjaga-jaga, dan benar saja, mereka sedang habis-habisan menghujat Episode 7 SSS-Class Regressor Monopolizes the Academy yang baru saja tayang.
"..."
Sebenarnya aku sudah tahu. Bahwa anime yang kami buat itu sangat jauh tertinggal dibandingkan anime Jepang yang tayang di waktu yang sama. Ditambah lagi, kami bekerja dengan anggaran super tipis yang menyebabkan segala macam kesalahan produksi, sementara Dungeon Chef dari Jepang dibuat dengan anggaran mewah yang bikin melongo.
Pantas saja kami tidak bisa bersaing. Kalah itu sudah pasti. Tapi tadinya aku berpikir setidaknya kami bisa memberikan perlawanan yang layak—seperti, "kita kalah, tapi kita sudah berjuang dengan baik." Bukan dibantai secara sepihak sampai hancur lebur begini.
Aku bukan sutradaranya, tapi sebagai seseorang yang berkontribusi membuat anime itu, rasanya tidak enak di hati.
"Ah, tekanan darahku..."
Mood-ku benar-benar ampas. Baru beberapa tahun yang lalu saat masih kecil, aku bermimpi membuat anime yang keren. Tapi sebagai orang dewasa, di sinilah aku sekarang, terjebak di kamar sempit sambil menelan caci maki dari semua orang di internet. Rasanya sangat tidak adil.
Aku mematikan internet, menghempaskan tubuh ke kasur, dan membiarkan pikiranku melayang.
Bagaimana jika—ini cuma berandai-andai— di dunia di mana anime Jepang dan Amerika tidak begitu mendominasi, mungkin aku punya kesempatan nyata untuk membuat sesuatu yang bisa mengguncang dunia.
Sebagai orang Korea, menciptakan anime hebat rasanya hampir mustahil.
'Tuhan, jika aku mendapatkan kehidupan lain, tolong biarkan aku lahir di era di mana anime Amerika dan Jepang itu bukan siapa-siapa.'
Dan tepat pada saat itu. Aku pikir aku mendengar suara aneh berbisik "Diterima" di telingaku.
Aku tidur nyenyak, bangun, dan...
"Nngh."
"Ya ampun! Baron, bayinya laki-laki yang sehat. Selamat!"
Aku telah bereinkarnasi ke dunia fantasi di mana anime Amerika dan Jepang bukan sekadar 'bukan siapa-siapa'—mereka malah sama sekali tidak eksis.
"Nngh..."
Bukan, sialan. Ini sih sudah kelewatan batas, dasar Dewa brengsek.
◇◇◇◆◇◇◇
Di dunia baru ini, aku terlahir sebagai putra kedua dari keluarga Baron Tersion, bernama Raguna Tersion. Putra bungsu Baron. Dengan kata lain, seorang bangsawan.
Aku, yang di kehidupan sebelumnya adalah kaum tak tersentuh, sukses mendapatkan status bangsawan yang nyaman di dunia fantasi ini. Tentu saja, seorang baron berada di tingkatan paling bawah dalam masyarakat bangsawan—pada dasarnya cuma kacung resmi bagi para petinggi.
Namun yang mengejutkan, sebagai seorang bangsawan, aku memiliki satu bakat yang luar biasa.
'Bakat sihir.'
Benar sekali. Tubuh baru Raguna ini memiliki kecocokan sihir yang gila. Segila apa, kau tanya?
"...Sulit dipercaya. Afinitas dan potensimu terhadap mana dua-duanya sempurna. Kau adalah jenius yang muncul sekali dalam satu dekade—tidak, sekali dalam satu abad."
"Raguna! Tolong, jadilah murid Master Menara Sihir dan pimpin menara kami suatu hari nanti! Dengan bakatmu, kau bisa membuat kami menjadi yang teratas di benua ini!"
"Dengan bakatmu, kau bahkan mungkin bisa menguasai archmagic Tingkat 10 seperti Meteor Fall! Tidak, kau pasti bisa—jadi bagaimana kalau kita mulai belajar bersama besok?"
Pada dasarnya, semua orang tua bangka di Menara Sihir mengerumuniku, terobsesi. Tapi aku sama sekali tidak tertarik menjadi murid Master Menara Sihir atau memimpin tempat itu.
Kenapa? Aku sudah menghabiskan 16 tahun di kehidupan lamaku untuk belajar mati-matian dari SD sampai universitas. Tidak mungkin aku mau melakukan kerja rodi selevel mahasiswa pascasarjana di sini.
'Dan lagi pula, buat apa aku menggunakan Meteor Fall?'
Kecuali aku berencana memusnahkan semua dinosaurus—eh, naga—dan mengubah mereka jadi minyak bumi, tidak ada gunanya.
Jadi aku mengabaikan permohonan terus-menerus para penyihir itu dan hanya memilih mantra yang ingin kupelajari. Satu-satunya alasanku memutuskan untuk belajar sihir sejak awal itu sederhana. Untuk hidup senyaman mungkin di dunia ini, yang memiliki jauh lebih banyak ketidaknyamanan dibandingkan Bumi abad ke-21.
Setelah meninggalkan Menara Sihir dan kembali ke keluargaku, aku menyibukkan diri dengan kehidupan bangsawan: bermalas-malasan dan jadi beban keluarga. Keluarga kami tidak kaya raya, tapi sebagai rumah bangsawan, bukan masalah besar bagiku untuk hidup santai sendirian. Tentu saja, aku tidak lupa untuk maju dan pamer sedikit kapan pun mereka butuh penyihir.
Aku pikir aku akan menjalani hidup santai sebagai NEET total sampai aku mati. Tapi sayangnya, harapanku hancur berkeping-keping.
"Um, Raguna. Raguna!"
Berdiri di hadapanku saat ini adalah seorang wanita yang begitu cantik sampai-sampai dia nyaris tidak tampak seperti manusia. Rambut perak yang tergerai hingga ke pinggang, mata merah rubi. Wajahnya saja bisa meruntuhkan satu atau dua negara, dan statusnya tak tertandingi di kalangan bangsawan.
Kenapa? Dia adalah permata kesayangan dari salah satu dari empat keluarga Duke di kekaisaran.
'Serika El Grinebalt.'
Salah satu wanita tercantik di kekaisaran, dan selain anggota kerajaan, statusnya adalah yang tertinggi di sini. Dan wanita ini sedang menggenggam tanganku erat-erat, sambil berkata,
"Aku punya satu permintaan yang benar-benar ingin kuminta padamu... Kamu mau melakukannya, kan? Ya?"
Laki-laki mana pun dengan selera normal tidak akan bisa menolaknya. Sayangnya, aku harus menahan desahanku saat mendengarkannya. Karena aku punya firasat kuat tentang apa yang akan dia katakan.
"Anime yang kamu buat itu? Itu seru banget. Jadi, maksudku adalah..."
Mata Serika berbinar saat dia melanjutkan.
"Kamu bakal bikin Season 2, kan? Kalau iya, ada bayangan kapan rilisnya? Atau setidaknya, bisakah kamu kasih bocoran cerita kasarnya untuk Season 2...?"
"..."
Sialan. Harusnya aku tidak pernah mulai membuat anime di dunia ini.