Kakak beradik Jouguuji bertiga adalah gadis-gadis yang sangat luar biasa.
Yukine-san selalu baik dan mengabdi padaku yang seperti ini, Karin selalu manis dan manja padaku. Dan Tsukino yang mulutnya kasar dan bersikap tsun-tsun... ya... itu... dia juga imut... dan...
Pokoknya, mereka bertiga adalah gadis-gadis yang luar biasa.
『Haaa... Celana dalam Tenma... baunya enak...』
『Jadikan aku budakmu!』
『Lihatlah payudara kecil Karin!』
Kalau saja mereka tidak hentai.............
※ ※ ※
"Hei! Jangan terlalu dekat denganku?!"
Waktu pertemuan rutin seminggu sekali.
Di sampingku yang menunggu dimulainya pertemuan sambil membaca flashcard, Tsukino membesarkan suaranya.
"Barisan laki-laki di sana, kan? Jangan keluar lalu mengganggu."
"Wa, maaf... Jangan marah."
Pada para laki-laki yang mendekat karena barisan tidak teratur, Tsukino melontarkan kata-kata penuh duri.
Bagi yang melihat dari samping, pasti mengira itu hanya ledakan kebencian Tsukino pada laki-laki seperti biasa.
"Ugh, sial. Kena marah lagi. Tsukino-san guard-nya terlalu ketat, ya?"
"Tapi, justru itu yang bikin nilai plus, menurutku. Rasanya seperti dia gadis yang suci."
"Penampilannya cantik, tapi tidak terlihat seperti suka main-main, ya."
Teman-teman sekelas, meski mendapat perlakuan seperti itu, tidak kapok dan memuji Tsukino dengan suara pelan.
Ah... mereka tidak tahu apa-apa. Tentang gadis bernama Tsukino ini.
"Oi, Tenma, apa pendapatmu tentang Tsukino-san? Meski benci laki-laki, dia tetap imut, kan?"
"O, ou... kurasa begitu... dia imut..."
Bukan itu... Dia bukan benci laki-laki. Apalagi suci. Justru sebaliknya, dia hentai yang parah. Kalau didekati laki-laki, dia akan horny.
"Tsukino, tetap keras pada laki-laki, ya~. Jangan-jangan... kamu lebih suka perempuan?"
"Tidak, bukan. Aku hanya benci laki-laki biasa saja."
Sementara itu, yang bersangkutan menyangkal dengan nada kesal pada candaan teman perempuannya.
Saat berbicara dengan perempuan, karena didukung penampilannya yang bagus, dia terlihat seperti gadis genki yang bersinar. Tapi itu hanya penampilan saja.
"Tapi, sayang sekali, kan, padahal cantik? Kalau bersikap normal, pasti kamu populer."
"Aku tidak ingin populer atau apa. Tidak tertarik dengan hal seperti itu."
Bukan itu! Kau ini rill hentai! Sebelum memikirkan tentang populer, kau bahkan gak bisa disentuh laki-laki!
Saat memikirkan hal seperti itu, tiba-tiba pandanganku bertemu dengan pandangannya. Lalu, dia menatapku tajam.
"(Ngapain liat-liat...! Kalau berani bilang, kubunuh kau...!?)"
Dari sorot matanya yang tajam, pikirannya mudah terbaca.
Tidak perlu dikatakan, aku tidak berniat membocorkan rahasianya. Kalau fetish-nya ketahuan orang, hanya akan merugikanku. Siapa tahu bisa bocor sampai ke Hajime-san.
Saat itulah, mungkin karena kelas lain datang, seluruh barisan perempuan bergeser ke sisi kami.
Karena itu, Tsukino berada tepat di sampingku.
"…………!"
Sikap Tsukino jelas berubah. Begitu mendekatiku, tatapan tajamnya tadi berubah menjadi tatapan sendu.
Apa...? Dia hampir horny, hm...?
"Hm? Tsukino~? Ada apa~?"
"Ga... gak... gakpapa... Hanya sedikit kepanasan..."
Dengan susah payah mempertahankan kesadarannya, Tsukino membuat alasan pada temannya.
Dia memalingkan wajah dan menunduk agar tidak menyadari keberadaanku.
"Huu...! Huu...!"
Lalu, seolah menahan perasaan inferior, dia memeluk tubuhnya dengan kedua tangan.
O, oi! Berhenti! Tahan, Tsukino! Jangan terangsang di tempat seperti ini!?
"Ah! Tenma-senpaai! Halo~!"
Saat mengkhawatirkan Tsukino, suara yang familiar terdengar dari belakang. Menoleh, seperti dugaan, ada Karin. Sepertinya kelas mereka juga baru masuk ke gym.
"Senpai, lama tidak berjumpa~. Tapi, baru ketemu pagi ini, sih!"
Karin menyapaku dengan semangat.
Melihat pemandangan itu, teman-teman sekelas laki-laki memandangiku dengan mata berbinar.
"O, oi Tenma...! Kapan kau jadi akrab dengan Karin-chan!?"
"Bangsat kau! Kalau kenal dia, kenalkan dong!"
"G-gak...! Gak sampai segitu..."
Kudengar penggemar Karin banyak juga di kelas dua dan tiga. Mereka pasti juga menyukainya. Mereka serempak menunjukkan rasa cemburu dan benci padaku.
Dasar, bicara seenaknya! Aku direpotkan dan disusahkan oleh si hentai!
"Ahaha. Senpai sedang kesusahan, ya~."
"Itu karena kamu yang menyapa... Lalu, apa-apaan penampilanmu itu?"
Melihat penampilan Karin, seragamnya sangat tidak rapi. Pita dasinya longgar, kancing kemejanya yang atas terbuka.
"Kalau penampilan seperti itu, akan dipanggil guru Bimbingan Konseling. Cepat rapikan!"
"Eh~? Benarkah? Menurutku ini biasa saja."
"Tidak biasa. Itu hanya membuatmu terlihat ceroboh. Lagipula, itu menarik perhatian, jadi hentikan."
"Aha~. Tidak apa-apa kok, dilihat~."
Dari sudut yang hanya bisa kulihat, Karin membuka kemejanya. Oi!
"Ba...!? Oi, hentikan!"
Aku langsung memalingkan pandangan dari Karin. Bahaya! Dasar, dia sengaja tidak merapikan seragam agar dilihat!
Ya, itu pemikiran si exhibitionist! Soalnya dia yang melukis tubuhnya untuk berdiri telanjang di depanku. Ini hal biasa baginya. Penilaianku terlalu lunak.
Dan yang kulihat sekilas, dia sepertinya tidak memakai bra.
Eh...? Gak pakai bra...?
"Ka, Karin...! Kamu...!"
"Ehehe... Kelihatan? Mau lihat lebih banyak~? Haa haa"
Da-dasar bodoh! Ini bukan di rumah! Exhibitionist di sekolah, gila!
Kalau tiba-tiba ada pemeriksaan seragam, kamu tamat!
"Eh, Karin-chan. Sebentar? Apa hubunganmu dengan Tenma?"
Lalu, teman sekelas yang tadi hanya mengamati dari jauh, mendorongku dan berbicara dengan Karin.
O, oi! Bodoh! Jangan lihat Karin sekarang!
"Adik kelas di klub atau apa? Atau... jangan-jangan kalian pacaran?"
"Ah, itu yang ingin kau tahu~?"
Karin mendekati teman sekelas sambil menunjukkan senyum penuh arti.
AAAAA BODOH AAAAAAAAAA!
Jangan mendekati laki-laki lain dengan penampilan seperti itu! Kalau dadamu terlihat, bagaimana!
"Karin dan Tenma-senpai~. Hubungannya sangat dekat, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sederhana☆"
"He, heh... Hubungan dekat, ya...!"
"Oi, Tenma. Tanpa sepengetahuan kami, sepertinya kau sudah melakukan hal yang tidak baik."
Teman-teman sekelas meletakkan tangan di pundakku dan mengencangkannya seperti monkey wrench.
Sial! Kalian tidak tahu penderitaanku! Kalian memujinya, tapi dia itu hentai, tahu!? Pengalaman indah yang kalian bayangkan sama sekali gak ada!
Lagipula, situasi ini benar-benar berbahaya. Dengan penampilan Karin sekarang, tidak aneh kalau ketahuan tidak memakai bra. Karena kancing kemejanya terbuka, kalau Karin sedikit membungkuk, dadanya akan terlihat jelas, dan saat itu kalau pandangan teman-teman sekelas mengarah ke dadanya, tamatlah.
"Tidak apa-apa~. Karin sudah berhati-hati agar tidak ketahuan."
Karin berbisik di telingaku.
"Hanya menantang batas saja. Yang boleh melihat hanya Tenma-senpai~☆"
Sepertinya Karin juga mengerti bahwa akan bermasalah kalau ketahuan orang banyak. Tapi, melakukan hal berbahaya seperti itu untuk menikmati sensasinya, apa yang akan dia lakukan kalau benar-benar ketahuan!? Lagipula, memamerkannya padaku juga bermasalah.
Sepertinya, aku harus cepat memisahkannya!
"Semuanyaa~. Sudah waktunya~. Pertemuan akan segera dimulai~."
Tepat saat itu, suara jernih terdengar dari atas panggung. Waktu pertemuan telah tiba, dan Yukine-san meminta semua untuk berbaris.
"Ah, Onee-chan. Kalau begitu, Tenma-senpai, sampai nanti!"
Karin kembali ke barisan kelasnya, dan teman-teman sekelas juga kembali berbaris.
Huh... Sepertinya krisis telah berlalu... Dari pagi sudah dibuat lelah...!
"... Lho, apa ini?"
Smartphone-ku bergetar di saku. Terlihat ada pesan yang masuk. Pengirimnya Yukine-san.
"Sebelum pertemuan...? Ada perlu apa?"
Pesan darinya yang sedang berada di atas panggung. Penasaran, kubuka dan gambar terlampir ditampilkan.
Foto selfie Yukine-san telanjang dengan tubuh terikat.
"…………!"
Aku menutup mulut dan menahan suara dengan sekuat tenaga. Lalu, isi pesan muncul.
『Aku akan mengikuti pertemuan dengan penampilan seperti ini, dengan pengaturan bahwa Master yang memerintahkannya~♪』
Apa ini pernyataan tekad? Apa ini pernyataan tekad!?
"Sekarang, pertemuan seluruh sekolah akan dimulai. Pertama, sambutan dariku sebagai ketua OSIS."
Berdiri di atas panggung dengan wajah suci, Yukine-san menarik perhatian seluruh siswa. Mungkin di balik seragamnya itu ada tali yang mengikat tubuhnya seperti dalam foto.
Si M itu, permainan macam apa lagi ini! Self S&M di depan semua siswa, ini sudah bukan level hentai lagi!
"Belakangan ini, aku merasa kedisiplinan di sekolah semakin kacau. Nn... Memulai semester baru, ditambah cuaca musim semi yang cerah, wajar saja jika menjadi santai. Ahn. Tapi, jangan sampai berlebihan. Haa haa. Justru sekaranglah saatnya kita mengencangkan ikat pinggang, dan, hyan, instropeksi diri. Aah, tidak bisa~. Aku akan -Iku... Sebagai siswa SMA Seirin, ah ah! Jangan lakukan hal memalukan. Aaaaah! Jangan terlalu bersenang-senang. Aah────n!"
Tidak, itu kauu────────────! Itu dirimuu─────────!
Dia berbicara hal yang sangat wajar, tapi kaulah yang paling memalukan! Diikat tubuhnya sambil menjadi pusat perhatian, diam-diam dia merasa nikmat! Jangan mengerang karena terkena spot-spot-nya!
Tapi untungnya, volume erangannya hanya selevel suara gangguan. Hanya aku yang waspada dan tahu bahwa dia hentai, sehingga bisa menyadarinya. Sebagai buktinya, teman-teman sekelas membicarakannya tanpa tahu sifat mesumnya.
"Yukine-san memang cantik, ya."
"Ah, aku tahu. Dia baik, dan sangat anggun."
Mana ada! Mana anggunnya! Dia diikat shibari khas kinbaku di depan semua siswa!
Ah... Aku jadi iri pada mereka. Pada mereka yang tidak tahu apa-apa.
Setelah mengetahui rahasia ketiga saudari ini, aku harus selalu waspada terhadap tindakan hentai mereka. Kalau sampai ketahuan bahwa mereka bertiga hentai, Hajime-san mungkin akan mengusirku dari rumah. Kalau sudah begitu, pelunasan hutang akan sia-sia. Untuk melindungi keuangan keluarga Ichijou, aku harus memperhatikan tingkah laku mereka dengan sangat hati-hati.
Meski di sekolah, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang.
※ ※ ※
Setelah pertemuan, semua orang dari kelas kami berduyun-duyun kembali ke kelas.
Saat aku masuk ke kelas, Tsukino sudah ada di dalam.
"Hei, Tsukino~. Pulang sekolah, mau pergi karaoke? Sudah lama tidak mendengar 'itu'-mu."
"Eh~? Gimana ya. Boleh sih, tapi jangan minta traktiran~?"
Berbeda dengan saat bersamaku, Tsukino berbicara dengan teman-temannya sambil tersenyum. Sungguh, dilihat seperti ini, dia tampak seperti gadis genki yang cantik dan normal. Tidak ada yang akan mengira dia hentai.
Tapi kalau laki-laki mendekat secara berlebihan, sifat asli Tsukino akan terbongkar. Di sekolah, aku tidak bisa mendekatinya. Dan sepertinya aku juga harus memperhatikan agar laki-laki lain tidak mendekatinya.
Saat memikirkan itu, wali kelas kami yang masih muda datang. Lalu dia memulai absensi.
Ngomong-ngomong, tempat dudukku ada di dekat jendela dan paling belakang. Berkat itu, aku bisa melihat keadaan kelas dengan jelas. Aku juga bisa melihat dengan jelas Tsukino yang duduk di depan secara diagonal. Sepertinya dia sedang memeriksa make-up-nya, diam-diam mengintip cermin kecil.
"Um~. Ichijou-kun dan Jouguuji-san. Bisa tolong bantu sebentar?"
Lalu, setelah absensi selesai, guru memanggil kami berdua.
"Ada apa, Sensei?"
"Hari ini, kalian berdua piket, kan? Maaf, tapi bisakah kalian mengantar buku tugas ke ruang guru?"
Di sekolah kami, piket dilakukan berpasangan satu laki-laki dan satu perempuan. Tampaknya giliran itu jatuh pada aku dan Tsukino.
Tapi... baru saja aku berusaha menjaga jarak, dapat tugas seperti ini.
"Baik... Nanti akan segera kami antar."
"Terima kasih. Maaf, ya? Jouguuji-san juga tidak apa-apa?"
"…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Ya."
Sangat tidak suka berurusan denganku, ya.
"Ahaha... Maaf, ya? Kalau begitu, tolong...?"
Guru itu juga tersenyum masam melihat Tsukino yang diam sangat lama.
Setelah itu, setelah menyampaikan beberapa pengumuman singkat, guru itu keluar dari kelas.
"Yah, sudah... Akan kuantar cepat-cepat dan selesaikan."
"Hah... Benar-benar yang terburuk..."
Saat aku menunjuk tumpukan buku catatan di atas meja guru, Tsukino memandangku dengan kesal.
Tapi, dia bukan orang yang tidak bertanggung jawab sampai meninggalkan pekerjaan yang diberikan.
"Jangan mendekat, ha? Kalau menyentuh, akan kubunuh."
Dengan perasaan benar-benar terpaksa, Tsukino mengambil separuh buku catatan.
※ ※ ※
Dalam perjalanan ke ruang guru, aku berjalan beberapa langkah di belakang Tsukino dan mencoba mengajaknya bicara.
"Yah, tapi. Aku berharap bisa menebak hari piket. Hari giliran piket bikin semangat turun."
"Iya. Apalagi harus bersamamu, mulai sekarang lebih baik mati saja."
"Lagipula jadwal pelajaran hari ini aneh, cuma olahraga dan musik."
"Hah? Justru itu yang bikin semangat naik. Belajar terus, bodoh kali? Memang menjijikkan. Pulang saja ke rumahmu?"
"………… Cuaca hari ini bagus, ya, Tsukino."
"Kenapa harus diucapkan? Menurutku orang bodoh pun tahu. Ah, iya. Kau kan memang bodoh dalam pelajaran."
"Kata-katamu penuh duri!?"
Balasan Tsukino, sejak tadi terus menyakiti mentalku. Dingin. Dingin seratus persen. Meski aku mencoba berbagai topik untuk menjalin hubungan baik, jarak tidak juga berkurang. Dan jarak fisik juga ada. Karena aku berjalan beberapa langkah di belakangnya agar Tsukino tidak horny.
Mungkin karena dia memang menjauhkan laki-laki dan karena rahasianya diketahui, dia bersikap keras padaku.
Tapi, aku tidak bisa terus membiarkannya seperti ini. Mengingat posisiku yang bertugas 'membiasakan ketiga saudari dengan laki-laki', aku ingin sedikit akrab dengannya. Sambil berhati-hati agar fetish-nya tidak aktif, kami harus sedikit akrab.
Berpikir begitu, aku mencoba menyampaikan perasaannya secara langsung.
"Hei, Tsukino... Menurutku, kita seharusnya lebih bersahabat. Soalnya kita tinggal bersama, setidaknya sedikit, obrolan biasa..."
"Hah? Kenapa aku harus menemani obrolanmu? Aku tidak terlalu senggang, tahu?"
Perasaanku sama sekali tidak sampai padanya.
"Tapi, Tsukino juga harus terbiasa dengan laki-laki, kan? Seperti kata Hajime-san, dalam waktu dekat kamu harus menikah dengan keluarga terpandang. Sebagai putri keluarga Jouguuji."
"Hun... Dengan memiliki fetish seperti ini, aku tidak bisa bergaul normal dengan laki-laki. Jadi, tidak perlu berbicara dengan laki-laki. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara denganmu juga."
"Bilang begitu, tapi Tsukino juga akan kesulitan, kan? Fetish-nya juga harus diatasi, siapa tahu ketahuan orang..."
"Sudah kubilang gak perlu! Ngomong-ngomong, kau tidak memberitahu siapa pun tentang fetish-ku, kan? Terutama, pada Yuki-nee dan Karin..."
Dia menatapku tajam dan bertanya dengan nada mengancam.
"Ti-tidak... Aku tidak bilang. Tapi, kalau kedua orang itu, sepertinya tidak masalah kalau diceritakan. Lebih baik cerita pada mereka berdua, dan kita semua memikirkan cara mengatasi fetish-mu bersama?"
Dengan santai, aku mengucapkan usul seperti itu.
Lagi pula mereka bertiga juga hentai. Kalau sesama saudara saling mengetahui, mungkin mereka bisa bersama-sama memikirkan apa yang harus dilakukan dengan fetish mereka. Oh? Ini mungkin ide yang bagus...
Saat aku mulai berpikir begitu.
"Gak mungkin bisa!"
Tsukino berteriak dengan suara serius.
"Ke-kenapa...? Kalau saudara, tidak masalah, kan, kalau diceritakan...?"
"Mana mungkin! Justru karena saudara, gak bisa cerita...! Kalau sampai tahu saudara sendiri hentai seperti ini, pasti akan menyakiti mereka berdua. Dan, mereka akan membenciku...!"
Berkata begitu, matanya berkaca-kaca.
Saat itulah, aku akhirnya bisa memahami.
Yang paling ditakuti Tsukino adalah fetish-nya diketahui oleh kedua saudarinya lebih dari siapa pun. Dan dia paling takut dan khawatir dibenci oleh mereka berdua.
Intinya, dia sangat mencintai mereka berdua.
Kalau aku memberitahu ketiga saudari itu bahwa 'sebenarnya kalian bertiga hentai', apakah Tsukino akan merasa lega? Apakah kedua orang lainnya akan senang?
Tidak, tapi itu pasti tidak boleh. Hal yang berkaitan dengan fetish ini adalah rahasia terbesar mereka. Meskipun saudara, tidak boleh sembarangan membocorkannya.
Lagipula, dengan mengungkapkan fakta ini, belum tentu mereka senang. Bisa saja hubungan saudara mereka rusak karena saling mengungkapkan rahasia.
Terlebih lagi, setelah tahu bahwa mereka semua hentai, mungkin ketiganya akan membuka diri. Kalau mereka menjadi terbuka dan bersekongkol untuk menyerangku di rumah, situasinya akan lebih berbahaya dari sekarang.
Jadi, tidak boleh dikatakan.
Tapi, kalau tidak melakukan apa pun untuk Tsukino...
"Pokoknya! Gak perlu bicara denganmu!"
Saat aku memikirkan apa yang harus kulakukan, Tsukino kembali berteriak padaku.
"Lagipula, karena bersamamu, aku khawatir semua orang akan tahu berbagai hal! Baik tentang tinggal bersama, maupun tentang fetish-ku…………. Jadi jangan mendekatiku!"
"Ah, Tsukino!"
Dengan kesal, Tsukino melontarkan kata-kata itu dan lari menjauhiku. Baginya, aku adalah pemicu aktifnya fetish-nya. Aku paham perasaan ingin larinya.
Tapi, tempatnya tidak tepat. Saat akan menuruni tangga, dia terburu-buru dan salah langkah.
"Kyaa──!?"
"Bahaya!"
Aku melemparkan buku catatan yang kubawa dan buru-buru menerjang Tsukino. Aku memeluk tubuhnya dan berhasil menangkapnya, mencegahnya jatuh dari tangga.
Aku berhasil tepat waktu, dan kami berhenti di depan tangga. Di sekitar kami, buku catatan yang dilempar berantakan, menjadi seperti TKP.
"Ahー, bikin kaget... Hei, Tsukino. Kau gak apa-apa...?"
Aku mengkhawatirkannya dan mencoba menyapanya. Lalu...
"Haa... haa..."
Entah mengapa, keadaan Tsukino aneh.
Wajahnya agak memerah, dan napasnya memburu. Pemandangan yang sudah tidak asing.
"Hei, Tenma..."
Tsukino berbalik ke arahku dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo lakukan... ini?"
Lalu dia mengangkat kemeja seragamnya dan memperlihatkan dadanya. Payudaranya yang montok, terbungkus bra putih bersih.
DIA SUDAH HORNY, DASAR AAAAAAAAAAAAAAAAA!
HORNY DI SEKOLAH, GILAAAAAAAAAAAAAAAA!
Sial, sepertinya dengan memeluknya, aku memicu Tsukino.
Untungnya, di sini jauh dari gedung kelas, dan tidak ada yang melihat.
Tapi, kalau tidak segera diatasi, ada kemungkinan seseorang akan datang...
"Ts, Tsukino... Bisa tenang dulu? Tsukino sekarang tidak normal..."
Setidaknya, coba menenangkannya dulu.
"Aku normal tau? Haa haa... Jadi, ayo lakukan hal yang menyenangkan?"
Aaaaa! Matanya sudah berbentuk hati!
"Kalau malu, biar aku yang melakukannya."
Tiba-tiba Tsukino memasukkan tangannya ke dalam rok. Lalu dengan gerakan tanpa ragu, dia melepas celananya. Bra dan celana dalamnya sama-sama putih bersih. Dan dia, dengan tidak tahu malu, mengenakannya di kepalaku.
"Ts, Tsukino!? Apa yang kau lakukan!?"
"Sekarang, tidak bisa melihat apa pun, kan?"
Dengan mata tertutup celana dalamnya, pandanganku menjadi gelap.
Pada kesempatan itu, tubuhku mendapat pukulan kuat.
Mungkin dia mendorongku. Aku jatuh duduk di lorong, dan tubuhku ditindih. Sepertinya Tsukino naik ke atasku.
"Tenma diam saja, ya? Serahkan semuanya padaku?"
"NUWAAAAAAAAAAAAAH!? Hentikan! Tolong hentikan─────────!"
Suara gesper dilepas. Aku bisa merasakan Tsukino meraba-raba celanaku dan mencoba melepasnya. Kalau dibiarkan, keperjakaanku benar-benar akan hilang! Harus cepat minta tolong... Ah, tapi kalau minta tolong, akan ketahuan bahwa kami sedang melakukan hal mesum! Apa ini! Aku terjebak!
"Akan kubuat bagian Tenma di sini, merasa sangat nikmat..."
Mengabaikan konflikku, Tsukino bergumam dengan genit.
Dia meletakkan tangannya pada ritsleting celanaku, dan membuka 'jendela masyarakat'——
"Yah, anak-anak zaman sekarang memang merepotkan. Tidak punya motivasi, nilainya buruk──"
"Benar sekali. Dalam ujian saya beberapa waktu lalu──"
Saat itu, terdengar suara obrolan seseorang. Sepertinya dua orang guru sedang naik tangga dan menuju ke arah kami.
Mendengar suara itu, gerakan Tsukino tiba-tiba berhenti.
"………… A, aku, lagi...!?"
Bergumam begitu, dia dengan cepat mengambil celana dalam dari kepalaku. Lalu berteriak padaku.
"~~~~! Ini salahmu, baka!"
"Ah, Tsukino! Oi, tunggu!"
Dengan meninggalkan buku catatan yang berantakan, dia buru-buru melarikan diri.
※ ※ ※
"Hah... Harus gimana lagi..."
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku berjalan tertatih-tatih di jalanan yang sudah gelap.
Alasan kenapa sampai selewat ini, karena aku mencari buku di perpustakaan untuk mencari cara mengatasi fetish ketiganya. Menanggapi kejadian pagi ini di mana Tsukino horny, aku merencanakan tindakan pencegahan agar hal seperti itu tidak terulang.
Di sana, aku menemukan satu hal. Menurut seorang psikolog, penyebab fetish hentai terkait dengan stres pada masa kecil. Mungkin ketiga saudari ini dibesarkan dengan ketat sebagai putri dari keluarga terpandang. Sejak kecil, mereka juga dilarang bergaul dengan lawan jenis. Hasil dari pendidikan itulah, terbentuklah mereka yang hentai. Sungguh ironis.
Tapi meski tahu penyebabnya, cara menyembuhkan hentai masih tidak jelas. Buku seperti itu, tidak mudah ditemukan meski mencari di perpustakaan.
"Kalau sudah begini... tidak ada pilihan selain menghindari interaksi..."
Kalau aku berada di dekat mereka, ada kemungkinan memicu tindakan hentai. Kalau begitu, lebih baik aku menjaga jarak.
Alasanku tinggal bersama mereka adalah untuk memberi mereka kesempatan berinteraksi dengan laki-laki. Tapi Hajime-san juga bilang 'tidak perlu melakukan hal khusus, cukup tinggal bersama saja'. Artinya, sedikit menjaga jarak tidak masalah.
Untuk menghindari kebocoran tindakan hentai mereka pada Hajime-san, sebaiknya dari sekarang aku menjaga jarak sebisa mungkin. Di tengah itu, aku hanya bisa perlahan mencari cara menyembuhkan hentai-nya. Mendekatkan diri dengan Tsukino bisa dilakukan setelahnya.
"Oke... Aku tidak akan ikut campur lagi."
Saat memikirkan hal itu, aku sudah sampai di depan rumah.
Mereka mungkin sudah pulang. Setelah mempersiapkan hati, aku membuka pintu masuk. Lalu berjalan di lorong.
"Aku pulang..."
"Selamat datang! Tenma-kun!"
Yukine-san menyambutku di dapur. Penampilannya dengan apron berenda sangat imut. Senyumnya yang seperti bunga mekar sepertinya menyambut kepulanganku dengan tulus.
"Hm? Pulang terlambat, ada apa di sekolah?"
"Ah, ya. Sedang mencari sesuatu di perpustakaan..."
"Begitu! Hebat sekali, Tenma-kun. Selalu berusaha keras, hebat hebat."
Sambil menghibur dan memujiku, Yukine-san memelukku.
Disambut gadis imut saat pulang lelah. Secara umum, ini hal yang sangat membahagiakan, ya. Disambut pacar atau istri imut dengan 'Kamu lelah, ya. Mau mandi? Makan? Atau, a · ku?'——
"Tenma-kun, lelah, ya? Mau cambuk? Lilin? Atau, pe · nyik · saan?"
Yukine-san mengeluarkan cambuk, tali, dan banyak alat S&M lainnya dari saku apronnya dan membentangkannya.
"Aku, untuk Tenma-kun, bisa melakukan play apa pun? Silakan latih sesuka Master☆"
Wah, keluar keluar. Cepat sekali sifat aslinya keluar. Sifat M-nya.
"Tidak, itu... Aku tidak menginginkan hal seperti itu..."
Dengan halus aku menyangkal, dan menggeser alat-alat yang berjajar. Aku tidak boleh terbawa ritmenya. Harus cepat menjaga jarak.
"Lagipula, sekarang sedang masak, kan? Tidak usah pedulikan aku, fokus saja ke sana."
"Tidak apa-apa~. Menyambut Master adalah kewajiban sebagai budak."
"Jangan mengada-ada hubungan kita! Aku bukan Master!"
Sepertinya dia benar-benar ingin menjadi budakku, tapi aku akan meluruskannya.
"Masakannya, tunggu sebentar lagi, ya? Makanan Master akan segera jadi."
"Bukan Master! Cepat kembali memasak!"
"Siap. Master~☆"
Dia terlihat mendengarkan kata-kataku tapi benar-benar mengabaikannya, lalu berbalik untuk kembali memasak.
Saat itu, apronnya berkibar. Aku tanpa sadar melihat ujung apronnya...
Dan pada saat berikutnya, aku terdiam.
"……!?"
Yukine-san... di bawah apronnya, telanjang.
Dia tidak memakai pakaian, bahkan pakaian dalam sekalipun, selain apron. Karena itu, saat Yukine-san membelakangi, garis punggungnya yang tegap dan bokong besarnya yang montok terlihat jelas. Yang disebut naked apron.
"A... apa...!? Penampilan apa ini─────!?"
Tanpa sengaja lupa bahasa formal, aku berteriak.
Yukine-san, dengan pipi memerah, tersenyum dan berkata.
"Soalnya aku adalah budak Tenma-kun... Master. Sebagai budak, selain melakukan pekerjaan rumah, harus melayani secara seksual juga, kan?"
"Sudah kubilang bukan Master! Lagipula, kalau berpenampilan seperti itu di sini, akan ketahuan Tsukino dan Karin! Lebih baik hentikan!"
"Tidak apa-apa~. Sekarang waktunya mereka berdua belajar di kamar."
Cih...! Memang sebagai kakak, dia sepertinya sudah menguasai pola perilaku mereka berdua.
"Lagipula, ini sekaligus latihan sebagai calon istri, lho? Laki-laki biasanya suka naked apron, kan? Untuk masa depan, harus berlatih, tau?"
Berkata begitu, dia ingin melanjutkan memasak. Setiap kali dia sedikit bergerak, bokongnya yang dinamis bergoyang seolah menggoda. Apalagi, payudara besarnya mendorong apron, dari samping terlihat payudara samping yang sangat montok──
"Tidak, hal seperti ini tidak biasa!"
Meski disebut latihan kehidupan pernikahan, ini keterlaluan.
"Tolong pakai baju! Apa yang kau pikirkan!"
Dengan nada keras, aku memerintahkannya. Lalu, Yukine-san berkata pelan.
"Haa haa... Dimarahi Tenma-kun... Diomeli Master...!"
Apa? Orang ini, merasa senang...? Dimarahi, malah senang?
"Maaf, Master! Tolong hukum budak perempuan yang hina ini!"
Lagi-lagi Yukine-san mengeluarkan cambuk tadi. Ya. Tiba-tiba dan tidak bisa dimengerti.
"Soalnya aku budak Tenma-kun. Kalau budak melakukan kesalahan, harus menerima hukuman, kan? Jadi Tenma-kun── Master! Tolong hukum aku!"
... Orang ini, tidak bisa. Sudah tamat. M yang tidak terselamatkan.
"Begini... Sudah berulang kali kubilang, aku bukan Master. Play yang Yukine-san inginkan, aku tidak bisa menemaninya sama sekali? Jadi tolong menyerah."
"Jangan bilang begitu, Tenma-kun. Aku hanya punya kamu! Kalau tidak bersama Tenma-kun, tubuhku tidak bisa puas!"
"Jangan bicara yang menimbulkan salah paham! Lagipula, berdiri di depan semua siswa dengan diikat shibari juga cukup berani menurutku!"
"Itu pun aku sudah sangat menahan diri agar tidak ketahuan orang tau? Kalau aku lebih excited, mungkin aku akan berjalan-jalan di halaman sekolah telanjang dengan borgol tangan dan kaki. Tentu saja di depan semua orang."
Isi play-nya sungguh keterlaluan, tapi orang ini benar-benar akan melakukannya, itu yang menakutkan.
"Kalau perasaan H terus menumpuk, suatu saat aku mungkin akan melakukan hal yang keterlaluan... Jadi agar tidak begitu, Tenma-kun, latihlah aku?"
"Apa ancaman yang menakutkan itu! Gak bisa! Meski dikatakan begitu, tidak bisa!"
"Begitu... Ternyata memang tidak mau... Kalau begitu, aku juga punya rencana...?"
Berkata begitu, Yukine-san melepas apron dari bahunya dan memperlihatkan dadanya. FAAAAK!?
"AAAAAAAAAH!? Apa yang kau lakukan!?"
"Kalau Tenma-kun mau menjadikanku budak... payudara ini, boleh kau apakan sesukamu tau?"
Eh, apa yang dia bicarakan? Orang ini benar-benar ngomong apa?
"Perintah Master, tidak bisa dilawan. Hal H apa pun boleh? Boleh disentuh, diraba, digenggam, dijepit, dihisap. Gimana? Tidak ingin menjadikanku budak?"
Yukine-san mengangkat dadanya di depanku dan mulai mengayun-ayunkan, 'tayun tayun'. Payudaranya yang montok dan melimpah, mengikuti gerakan tangan, bergerak naik turun dengan keras, menambah kegenitannya.
"Su-sudah kubilang tidak bisa! Rayuan tidak akan mempan! Tolong jangan padaku!"
Aku menanggung kehidupan adik dan keluargaku. Meski dirayu, aku tidak akan jatuh!
"Dengan hentai sepertimu, aku gak mau! Tolong hentikan!"
"Haaan!"
Begitu aku menolaknya, Yukine-san langsung mengeluarkan suara yang sangat mesum.
"Eh……?"
Apa…? Apa yang terjadi…?
"M-Master… Bisakah kamu mengulangi apa yang baru saja kamu katakan…"
"Y-Yang tadi…?"
Yang tadi… Maksudnya apa yang baru saja kukatakan…?
"…… Dengan hentai sepertimu, aku gak mau……?"
"Haaaan!"
Sekali lagi dia mengeluarkan suara aneh, dan tubuh Yukine-san bereaksi.
"Ahh, tidak……! Jika ditolak sejelas itu…… itu sendiri makin terangsang!"
"Hah!?"
"Disebut 'Hentai' oleh Master…… Aku jadi merasa sangat enak……!"
Yukine-san memeluk tubuhnya sendiri dan meringkuk di tempat dengan ekspresi puas.
Sepertinya, dia merangsang dirinya sendiri dan menyelesaikannya sendiri.
Dilihat dari ekspresi Yukine-san yang penuh kepuasan, dia perlahan-lahan menjadi tenang.
"Fuuu… Berkat Tenma-kun, akhirnya aku bisa merasa sangat puas☆"
"I-Itu… Benarkah…?"
Yukine-san bangun sambil menunjukkan senyum suci nan murni bagai Santa Maria.
Ini… jangan-jangan.
Dengan melampiaskan hasrat seksualnya, dia kembali menjadi dirinya yang semula? Yukine-san yang baik dan normal.
"Terima kasih, Tenma-kun! Sebagai balasannya, aku akan memasak banyak makanan enak!"
"Y-ya…"
Dengan ekspresi tanpa sedikitpun nuansa mesum, Yukine-san kembali memasak.
Ternyata pemahamanku benar. Jika hasratnya terpenuhi dan dia merasa puas, Yukine-san akan kembali ke kondisi normal.
Mungkin hal yang sama berlaku untuk kedua orang lainnya. Sepertinya aku menemukan sedikit celah untuk menangani para mesum ini….
Sambil merasakan secercah harapan, aku kembali ke kamarku untuk sementara, sebelum dia mulai berulah lagi.
※ ※ ※
Setelah kembali ke kamar, aku melemparkan tas dan terjatuh di atas kasur.
"Tapi…… apa yang harus kulakukan ya…"
Jika kubiarkan mereka melampiaskan hasrat seksualnya, mungkin ketiga saudari itu akan kembali normal. Memang bagus sudah mengetahuinya, tapi untuk melakukannya, aku harus menuruti fetish seksual mereka.
Namun, karena perjanjian dengan Hajime-san, aku tidak bisa melakukan hal-hal mesum pada mereka.
Meski begitu, juga sulit untuk menjaga jarak seperti rencana awal. Karena Yukine-san sepertinya sudah tidak peduli setelah rahasianya ketahuan olehku, dia malah mendekatiku sambil menunjukkan sifat M-nya yang asli.
Dalam kondisi tinggal bersama si mesum ini, bagaimana seharusnya aku bersikap? Aku pun jadi serius memikirkannya.
"Untuk sementara, ganti baju dulu lah…"
Aku berdiri dan melepas ikat pinggang yang tidak nyaman. Aku melepas kemeja dan celanaku dengan sembarangan, lalu menuju lemari untuk mengambil baju rumah.
Tapi… Gatan! Terdengar suara sesuatu bergerak. Dari dalam lemari.
"…………"
Aku punya firasat buruk tentang ini.
Jujur saja, aku tidak ingin membukanya. Aku tidak ingin membukanya, tapi pakaian gantiku ada di dalam sini. Jika tidak kubuka, aku tidak bisa mengambilnya.
Dengan tekad bulat, aku membuka pintu lemari dengan hati-hati—
"Aha. Ketahuan♪"
Karinn yang telanjang bulat bersembunyi di dalam lemari.
"Uwaaaaaaaaaah!"
Aku kaget, jatuh terduduk dan mundur sekitar tiga meter.
Ya, kurasa aku agak bisa menebaknya. Baru-baru ini ada kejadian serupa, dan aku agak merasa dia mungkin ada di sana. Tapi…
"Tapi, gak usah telanjang juga lah! Kenapa harus telanjang!"
Aku menutup mata dan memalingkan wajah agar tidak melihat tubuh Karinn. Masuk ke kamar laki-laki dalam keadaan telanjang, bukankah ini jelas-jelas kasus kriminal!?
"Eh? Aku gak telanjang lho. Coba lihat Karinn lebih baik lagi."
"Eh…?"
Dengan setengah membuka mata, ragu-ragu, aku menatapnya.
Dan memang, dia tidak benar-benar telanjang. Soalnya, di bagian leher dan selangkangannya ditempel stiker berbentuk hati. Itu semacam nipple cover, kah? Berkat itu, bagian terpentingnya masih bisa tertutupi.
Meski begitu, tetap saja hampir telanjang. Meski putingnya tertutup, payudaranya yang kecil dan sedikit montok terlihat jelas, perut putihnya yang tampak kenyal, dan pinggangnya yang ingin dipeluk juga sama sekali tidak tertutupi.
"Haa haa… Tenma-senpai melihat Karin yang hampir telanjang…"
Dia keluar dari lemari dan memamerkan tubuhnya dengan penuh semangat.
Yah, tidak bisa. Dia sudah parah. Aku tidak boleh membuatnya lebih senang lagi.
"Hei Karin, cepat tutupi tubuhmu! Atau lebih tepatnya, kenapa kau ada di sini!?"
"Waktu bersembunyi di sini sebelumnya, Karin jadi sedikit 'terbangun'… Bersembunyi di tempat tanpa jalan keluar dengan pakaian yang mesum, bukankah itu sangat mendebarkan? Memikirkan apa yang akan terjadi jika ketahuan… ah… gemetaran ini membuatku bersemangat."
Sepertinya karena ulahku, fetishnya malah semakin menjadi-jadi. Anak ini, terlalu 'luar biasa'.
"Hei, Karin… Kumohon, pakai baju… Atau aku ingin kau kembali ke kamarmu."
"Eh? Kenapa? Tidakkah Senpai ingin melihat lebih banyak penampakan mesum dan memalukan Karin?"
"Siapa yang mau! Biasanya orang tidak senang dengan hal seperti ini! Dan, pokoknya pakai sesuatu!"
Aku mengambil selimut dari kasur dan melemparkannya ke arah Karinn.
"Wah!? Se-Serius…! Kau gak senang? Kalau seorang gadis menunjukkan kulitnya, biasanya cowok senang, kan!?"
"Itu hanya di manga atau anime… Dalam kenyataannya, jika seorang gadis tiba-tiba mulai telanjang di depan mata, biasanya cowok akan kaget dan kabur."
Bahkan jika itu adalah kekasihnya, jika tiba-tiba dia mulai telanjang, pasti akan sangat kaget.
"O-Oh begitu… Kalau begitu, Tenma-senpai juga lebih suka gadis seperti Onee-chan daripada Karin yang mesum…?"
"Ya, ya… Kurasa begitu…"
Ah, tapi di sini sama saja, kan? Dibandingkan dengan kakak-kakakmu, tingkat mesumnya sama saja.
"Uuu… Ternyata benar… Daripada Karin yang mesum, Senpai lebih memilih Onee-chan…"
Oh…? Apa ini? Ekspresi Karin berubah sedikit. Seperti ada bayangan yang menyelimutinya.
"Onee-chan itu, hebat sekali… Yukine-oneechan pandai dalam belajar, olahraga, memasak, bahkan pekerjaan OSIS, dan di atas semua itu, dia sangat baik. Tsukino-oneechan benar-benar seperti JK zaman sekarang, punya banyak teman, sangat paham fashion… Jadi keduanya populer di antara semua orang, mereka adalah kakak yang sempurna. Tapi, dibandingkan dengan mereka, Karin hanya si mesum… Rasanya, sedikit sedih…"
"Karin…"
Sepertinya anak ini memiliki kompleks terhadap kakak-kakaknya.
Karin biasanya ceria dan sangat akur dengan kedua kakaknya. Karena itu, sampai sekarang aku tidak menyadarinya. Karin yang tidak tahu wajah mesum kedua kakaknya, merasa inferior dibandingkan mereka.
"Menurutku, Karin juga cukup populer… Cowok di kelasku saja senang kalau melihatmu? Bukankah itu seperti idola?"
"Meski begitu, Onee-chan lebih hebat. Keduanya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa Karin lakukan."
Begitu katanya, Karin tersenyum kecut.
Dari sudut pandangku, ketiganya tidak terlihat memiliki perbedaan yang signifikan. Semuanya populer di sekolah, dan di atas itu, sifat aslinya mesum. Tapi, mungkin bagi dirinya sendiri ada banyak hal yang dirasakan.
Tunggu sebentar…? Jika aku memanfaatkan perasaan ini dengan baik, mungkin aku bisa menghilangkan fetish seksual Karin…!
"Hei, Karin. Jika kamu tidak mau kalah dari Yukine-san dan yang lainnya… bagaimana kalau berhenti menjadi mesum? Jangan melakukan hal-hal seperti ekshibisionisme ini, jadilah gadis normal—"
"Gak mau!"
Itu adalah jawaban yang tak terduga.
"Memang sebelumnya, Karin seharusnya mempertimbangkan hal itu juga. Karin gak suka kalah dari Onee-chan, dan fetish Karin juga berbahaya karena bisa dilihat oleh pria yang aneh. Karena itu sampai sekarang, Karin hampir tidak pernah melakukan aksi ekshibisionisme yang sesungguhnya. Tapi! Sekarang Karin punya Tenma-senpai!"
"Apaan coba!? Kenapa aku jadi alasannya!?"
"Karena Tenma-senpai itu serius. Karin juga tahu kalau Senpai bukan orang berbahaya. Dengan Tenma-senpai, Karin bisa dengan tenang menunjukkan tubuh telanjang Karin! Jadi, tidak perlu berhenti lagi! Ini berkat Tenma-senpai!"
Apa-apaan ini, rasa kepercayaan Yukine-san dan Karinn padaku. Aku tidak senang diperlakukan seperti ini!
"Tapi, Karin tetap tidak suka terus kalah dari Onee-chan… Karin ingin menang dengan cara tertentu…"
"Tidak, makanya berhentilah melakukan ekshibisionisme…"
"Ya! Karin dapat ide bagus!"
Ekspresi Karin tiba-tiba berseri. Ya. Aku cuma punya firasat buruk.
"Kalau sudah begini, Karin akan membuat Tenma-senpai jatuh cinta pada Karin!"
"Hah!?"
Apa itu!? Kenapa bisa begitu!?
"Soalnya, jika Senpai yang tinggal bersama Karin jadi lebih menyukai Karin daripada Onee-chan, itu artinya Karin menang, kan? Karena itu, Karin memutuskan untuk membuat Tenma-senpai jatuh cinta!"
"Kenapa alasannya begitu!? Jangan memanfaatkanku sebagai cara untuk mengalahkan mereka berdua!"
"Tentu saja, itu bukan satu-satunya tujuan! Secara pribadi, Karin juga menyukai Tenma-senpai, lho♪ Jika Karin bisa membuat Senpai jatuh cinta dengan tubuh Karin, Karin juga bisa melakukan ekshibisionisme, bukankah ini menguntungkan!"
"Oi, hentikan! Atau lebih tepatnya, bukankah karena kau selalu melakukan hal mesum seperti itulah kau tidak bisa menang dari kakak-kakakmu!?"
"Tapi, mau gimana lagi! Soalnya Karin ingin melakukan hal mesum! Karena itu, Karin akan menjalani jalan untuk mengalahkan Onee-chan sambil menjadi mesum!"
Di mata Karinn ada cahaya tekad yang kuat. Aku tidak ingin dia 'terbuka' ke arah seperti ini!
"Tenma-senpai! Karin akan meminta Senpai untuk lebih banyak bersamaku! Baik untuk memuaskan perasaan mesum, maupun untuk mengalahkan Onee-chan!"
Karin melepas selimut yang membungkusnya dan kembali menunjukkan tubuhnya.
"Uwaaah!?"
Aku langsung membelakangi Karin. Ugh, apa yang terjadi dengan rasa malunya ini!?
"Onee-chan memang hebat, tapi yang bisa telanjang seperti ini hanya Karin! Ayo, lihatlah baik-baik! Dan jatuh cintalah pada Karin!"
"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku tidak senang diperlakukan seperti itu!"
Anak ini, tombolnya benar-benar sudah tertekan. Dia semakin menjadi dan mendekapku dalam keadaan telanjang, menekankan dadanya yang kecil ke punggungku.
Sial! Ini benar-benar mengikuti ritme Karin. Aku harus segera melakukan sesuatu untuk menjauhkannya…!
Saat itulah. Suara terdengar dari luar kamar.
『Tenma-kuun. Makan malam sudah siap—?』
"!?"
Mendengar suara Yukine-san, Karin bereaksi. Dalam sekejap, dia membungkus diri dengan selimut dan menyelam ke kasurku.
Tepat setelah itu, Yukine-san membuka pintu.
"Tenma-kun, makanannya— Oh? Karin-chan juga ada di sini?"
"Ah. Yukinee-oneechan. Tadi Karin sedang bermain rahasia dengan Senpai."
"Eh—! Apa, apa? Main apa? Onee-chan juga mau ikut—"
"Aha. Gak boleh♪ Ini rahasia Karin dan Senpai."
A-Aku selamat… .
Beruntung Yukine-san datang, kali ini bisa selesai tanpa melampaui batas.
——Tapi, situasinya lebih buruk dari yang kuduga.
Baik Yukine-san maupun Karin, meskipun aku mencoba menjaga jarak, mereka malah mendekatiku dengan perilaku mesum. Dengan begini, tidak tahu kapan situasi seperti kemarin akan terulang dan ketahuan oleh Hajime-san.
Kalau sudah begini, tidak ada cara lain kecuali memutus akar penyebabnya. Aku harus menyembuhkan fetish seksual mereka, membuat mereka menjadi gadis yang normal. Selama si mesum ini tidak disembuhkan, tidak akan ada kedamaian di masa depanku.
"Aku akan melakukannya… Demi adik-adikku juga, aku pasti akan membuat mereka menjadi normal…!"
Aku memperbarui tekadku, dan memutuskan untuk mereformasi para mesum itu dengan sekuat tenaga.
※ ※ ※
Waktu makan malam relatif damai.
Meskipun ketiga saudari itu adalah orang-orang mesum yang luar biasa, mereka tidak tahu bahwa kedua orang lainnya juga mesum. Apalagi karena mereka menyembunyikannya, jadi dalam situasi ada orang lain, mereka tidak akan melakukan hal aneh.
Yukine-san paling-paling hanya memujiku dengan lembut, atau sering menambahkanku lauk, dan hanya berusaha melayaniku sepenuhnya. Karin juga paling-paling hanya menempel dan merajuk padaku. Satu-satunya masalah adalah Tsukino yang masih mengabaikanku. Dibandingkan dengan tindakan mesum, itu terasa seperti masalah yang lucu.
Dan setelah beberapa waktu berlalu setelah makan, tibalah waktunya untuk mandi.
Pertama, ketiga saudari itu masuk ke kamar mandi satu per satu dengan urutan yang sesuai, dan akhirnya giliranku.
Aku melepas pakaian di ruang ganti, dan melangkah ke kamar mandi yang masih luas.
Pertama, aku membasahi tubuhku dengan air hangat, lalu duduk di kursi plastik. Sambil mencuci tubuh, aku berpikir pelan-pelan. Tentu saja, tentang fetish seksual ketiganya.
Jika mereka mendekatiku lagi untuk melakukan hal mesum, bagaimana seharusnya aku menanganinya? Aku membayangkan caranya dan mensimulasikannya di kepalaku.
"Master. Maaf membuatmu menunggu."
Saat aku sedang berpikir, suara terdengar dari arah ruang ganti. Tanpa sengaja, aku menoleh ke sana.
"Eh……?"
Pintu ruang ganti terbuka perlahan, dan seorang wanita—Yukine-san muncul.
※ ※ ※
Pada saat itu, Tenma membelalakkan matanya hingga hampir melotot.
Pakaian Yukine adalah bikini yang tipis seperti tali. Pakaian renang yang paling mendekati telanjang, dengan bagian yang tertutup seminimal mungkin. Dan payudaranya yang tidak realistis dan sangat besar tidak bisa muat dalam bikini bertali. Talinya terentang hingga hampir putus, dan payudaranya hampir melompat keluar.
Pemandangan itu bahkan membuat Tenma tidak bisa menahan diri untuk tidak terpana—
※ ※ ※
Terkejut dengan pemandangan yang terlalu vulgar, tanpa sadar narasinya berubah menjadi orang ketiga.
"Yu-Yukine-san……!?"
Sial…! Cepat juga dia datang! Si cewek budak M!
Seorang gadis tiba-tiba muncul saat aku dalam keadaan tidak siap. Merasakan langsung kaget dan malu dalam situasi seperti itu, aku melilitkan handuk di pinggang untuk menutupi bagian bawah.
Berbeda denganku, Yukine-san mendekatiku dengan santai, seolah memamerkan tubuhnya.
"Maaf tiba-tiba? Aku mau mengganggu."
"Tidak, tunggu dulu! Kenapa kau masuk!?"
"Kenapa? Untuk membilas punggung Tenma-kun."
…………Apa?
"Aku adalah budak Tenma-kun. Membilas punggung Master adalah kewajiban sebagai budak, bukan?"
Orang ini, karena aku tidak mau ikut dalam 'permainan'-nya, dia memaksaku untuk terlibat.
"Aku tidak pernah mendengar kewajiban seperti itu… . Aku bisa membilas punggungku sendiri. Keluar dari sini sekarang!"
"Jangan sungkan. Tapi, laki-laki memang tubuhnya kekar, ya?"
"Hei! Jangan menatapku begitu!"
Aku mengerti… . Sepertinya dia tidak berniat untuk pergi… .
Tapi, aku juga tidak akan terus-terusan dibiarkan seperti ini! Kali ini aku punya strategi rahasia! Strategi untuk mengusir si mesum!
"Tidak apa-apa. Sebagai gantinya, aku akan menunjukkan tubuhku padamu. Atau jika mau, kau bisa menyentuhnya juga?"
Berkata begitu, Yukine-san kembali mengangkat payudaranya dan memamerkannya.
"Heh… . Boleh disentuh, ya?"
Aku menatapnya dan mengarahkan pandangan penuh nafsu.
Lalu tiba-tiba aku berdiri… dan menyerang tubuhnya!
"Eh, kyaa!"
Aku mendorong tubuhnya ke arah dinding, dan dengan keras menempelkan tanganku di dinding. Dengan posisi yang disebut 'wall slam'.
Lalu, sambil menatapnya yang kaget, aku berkata dengan suara terendah dan terjorok yang bisa kukeluarkan.
"Kalau begitu hari ini, biarkan aku menikmati tubuhmu sepuasnya?"
…Tentu saja, aku tidak sungguh-sungguh.
Strategi yang kurencanakan adalah berpura-pura menyerangnya.
Yukine-san dan Karin pasti mengira aku adalah pria tidak berbahaya yang tidak akan menyentuh wanita. Jika tidak, seberapa pun juga, mereka tidak mungkin berani telanjang atau masuk kamar mandi bersamaku.
Tapi, jika aku tiba-tiba menyerang dan membuatnya takut pada laki-laki.
Dia pasti akan belajar betapa berbahayanya tindakannya, dan akan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan mesum!
Aku sadar bahwa ini tidak baik terhadap Hajime-san. Tapi, untuk menyembuhkan fetish seksual mereka, ini diperlukan! Demikian kumotivasi diriku sendiri, dan berusaha mati-matian menahan malu dengan akting yang memalukan ini.
"Be-Beneran… . Tenma-kun……!"
Yukinee-san membasahi kedua matanya yang indah bagai permata.
Reaksi ini…! Sepertinya efeknya bagus—
"Akhirnya… kamu mau juga……!?"
Eh……?
"Terima kasih, Master! Sebagai budak Master, aku akan mengabdi sepenuhnya!"
Ha————!? Ti-Tidak tidak tidak! Salah salah!
Kenapa!? Kenapa dia malah bergairah!? Tadi aku benar-benar seperti serigala, kan? Biasanya gadis akan takut, kan!?
Sial, aku benar-benar meremehkan si M ini! Strategiku malah menjadi hadiah baginya!
"Kalau begitu, izinkan aku segera melayani Master dengan seluruh tubuhku☆"
"Ti-Tidak, salah! Yukine-san! Tadi itu bohong! Tolong hentikan!"
Meskipun aku membantah dengan putus asa, suara pengakuanku tidak sampai padanya yang sudah bergairah.
"Kalau begitu, kita mulai, ya?"
Yukine-san pindah ke sampingku untuk mengambil botol sabun mandi.
Saat itu, yokochichi-nya (payudara samping) masuk ke dalam pandanganku.
"!!!??"
Karena daya lindung bikininya rendah, ketika melihat Yukine-san dari samping, yokochichi-nya hampir seluruhnya terlihat. Payudara besar yang bentuknya bagus dan kencang. Si buah ajaib yang putih, mengilap, dan sepertinya kenyal.
Tidak, jangan! Jangan lihat! Ini adalah godaan iblis!
Aku segera memalingkan pandangan, menghapus bayangan payudara dari otakku.
Di tengah konflik batinku, Yukine-san mulai mengeluarkan sabun mandi.
Ke payudaranya sendiri.
"Eh……?"
Yukine-san menuangkan sabun ke payudara besarnya dengan suara dopyu, dopyu.
Cairan kental membungkus payudaranya dengan vulgar. Dan kemudian, dia meremas-remas payudaranya yang penuh sabun dengan tangannya sendiri.
"Nn… ah…!"
Apa yang sedang terjadi? Aku terpana melihat aksi misteriusnya.
Mengikuti gerakan tangan dan jarinya, dua tonjolan itu berubah bentuk dengan cara yang mesum. Payudara yang bergoyang bagai ombak dahsyat, terkadang bergerak naik turun, terkadang berputar seperti menggambar lingkaran, merebut pandanganku sepenuhnya.
Dan setelah sekitar sepuluh detik lebih, payudaranya terbungkus gelembung sabun yang banyak.
"Haa… haa… . Kalau begitu, aku mulai? Master♪"
"Uwa……!?"
Yukine-san menekankan payudaranya yang penuh gelembung ke punggungku. Melalui punggung, bisa kurasakan payudara besarnya yang 'kenyuuuush' dan lentur.
Dan dia menggerakkan payudaranya itu seolah menggesernya.
"Yoi sho, yoi sho…"
"Ugh!?"
Daging payudara yang lembut namun kencang mengamuk di punggungku. Kuchu, Nuchu, suara gelembung yang mesum, dan benda lembut berbentuk bulat mengelus punggungku dengan kuat.
A-Apa ini… . Apa-apaan sensasi ini…!
Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, tidak terlukiskan. Kekuatan dan kelembutan berpadu dengan indah, sekaligus menyembuhkan punggungku dengan cantik.
Jujur, ini agak berbahaya.
Berapapun kuatnya aku, tidak bisa tidak merasa inferior dengan situasi ini. Jika dibiarkan terus seperti ini, aku akan kehilangan akal sehat…!
Aku harus lari, sekarang juga…!
Tapi, meski ingin kabur, pintu ada tepat di belakangnya. Sudah pasti akan dihalanginya!
"Master, bagaimana? Enak…?"
Dengan suara berahi yang malu-malu, Yukine-san bertanya.
"Ti-Tidak! Tidak enak! Karena itu cepat menjauh dariku!"
"Masih kurang? Kalau begitu, yoi sho!"
Yukine-san merangkul tubuhku dari belakang dan mendekapku erat.
"Nuwah!!?"
Tingkat kedekatan meningkat, dan secara tidak langsung, payudara Yukine-san lebih kuat menekan daripada sebelumnya.
Elastisitas mewah payudaranya, kelembutan yang menyelimuti, dan sensasi licinnya, terasa lebih kuat daripada sebelumnya.
Dengan kondisi seperti itu, dia meningkatkan kecepatannya daripada sebelumnya, dan menggesek-gesekkan payudaranya shu shu. Karena ada tekanan, setiap kali payudaranya bergerak naik turun, bisa kulihat bentuknya berubah dengan cara yang sangat mesum.
"Haa… haa…"
Selanjutnya, napas Yukine-san yang semakin berat menambah sensualitas situasi. Napasnya menerpa leherku, membuat tubuhku gemetar.
T-Tidak… . Tubuhku jadi panas… . Panas di kamar mandi, suhu tubuhnya, dan yang paling penting, rasa malu ini… . Aku jadi merasa aneh………… . Kesadaranku juga agak berkunang-kunang……………… .
"Baik, berikutnya adalah bagian depan?"
"Ngaah!?"
Dengan satu kalimat itu, aku sadar kembali.
Yukine-san melepas payudara besarnya dari punggungku. Lalu, berusaha berputar ke depanku. Jangan-jangan orang ini, selain punggung, dia juga berniat mencuci bagian depanku dengan payudaranya!?
"Ja-Jangan! Sudah cukup, hentikan! Ini perintah! Perintah dari Master!"
"Hanya itu yang tidak bisa kuiikuti☆"
"Kenapa!? Selama ini kamu kan ingin menjadi budakku!"
Kalau sudah begini, tidak bisa banyak bicara lagi! Aku harus cepat-cepat kabur dari sini!
Aku mengambil celah saat Yukine-san menjauh dari pintu, buru-buru berdiri dan berusaha kabur.
Tapi, itu adalah kesalahan.
Lantai kamar mandi licin, apalagi sekarang sabun mandi bertebaran di mana-mana.
Seperti dugaan, kakiku menginjak sabun mandi dan terpeleset. Itu karena tergesa-gesa, aku terlambat sejenak memahami situasi. Tidak bisa mengembalikan keseimbangan, aku terjatuh dengan wajah terlebih dahulu.
"——!?"
"Ma-Master───────────!"
Dentuman keras. Lalu diikuti rasa sakit. Secara tidak sadar, aku memegangi hidungku.
"A-Aduh…"
"Kamu gakpapa!? Master—Tenma-kun!"
Akhirnya Yukine-san menghentikan 'permainannya' dan mengintip wajahku.
"Ah… hidungmu berdarah…! A-Aduh maaf, Tenma-kun! Sakit, kah? Tidak patah, kan?"
"T-Tidak apa-apa. Cuma segini, akan cepat berhenti."
Aku membersihkan darahnya dan menekan hidungku dengan ringan. Waktu jatuh memang kaget, tapi yang segini benar-benar tidak masalah.
Tapi Yukine-san tampak sangat menyesal.
"Karena aku terlalu bersemangat…! Maafkan aku! Tenma-kun!"
"Ti-Tidak… . Kau tidak perlu meminta maaf sebegitunya. Ini hanya kecelakaan kecil."
"Ta-Tapi! Ini sepenuhnya salahku…"
Yukine-san tampak gelisah, melupakan senyumnya dari tadi.
Sepertinya karena kejadian sesaat ini, dia jadi sangat sedih.
"Tenma-kun, maafkan aku! Tapi! Aku melakukan hal seperti ini bukan untuk mengganggu Tenma-kun! Hanya saja terlalu senang… . Aku sangat senang Tenma-kun datang ke rumah ini…"
"Se-Senang…? Kenapa…?"
Saat kutanya, Yukine-san terbata-bata.
Tapi mungkin karena merasa bersalah telah melukaiku, meski tampak sulit mengatakannya, dia tetap berbicara.
"Aku… . Selama ini hidup dengan menyembunyikan diriku sendiri… . Aku, kan, orang mesum yang M seperti ini…? Hal seperti itu, tidak mungkin bisa kukatakan pada siapa pun. Pada orang tua, teman, bahkan pada adik-adik yang sangat kusayangi… . Itu, sangat menyedihkan…"
Memang, wajar jika tidak bisa menceritakan rahasia seperti ini pada siapa pun.
"Tapi, setelah Tenma-kun datang… terutama setelah diriku yang sebenarnya ketahuan, hatiku jadi sangat lega. Akhirnya aku tidak harus menanggung semua ini sendirian. Mulai sekarang, aku bisa melayani dengan tubuhku sebagai budak Tenma-kun, atau diperintah…!"
…Apa ini. Seharusnya ini pembicaraan serius, tapi yang diomongkan sedikit-sedikit makin parah.
"Karena itu, Tenma-kun adalah orang yang sangat penting bagiku… . Aku senang bisa bersama Tenma-kun, dan tanpa sadar jadi terlalu bersemangat… . Tapi! Tapi, Tenma-kun!"
Dengan ekspresi serius, Yukine-san berkata padaku.
"Aku tahu ini sangat egois… . Tapi… jangan benci aku, ya…? Karena Tenma-kun adalah orang yang spesial… . Bagiku, orang yang mutlak diperlukan…"
"……"
"Karena itu, aku ingin kau terus berada di sampingku. Dan… dan… aku ingin kau menjadikanku budakmu!"
Aaa~~~… . Begitu rupanya… .
Pada akhirnya, ujung-ujungnya ke situ ya………… .
Tapi Yukine-san, rupanya dia lebih serius memikirkannya daripada yang kuduga… . Selama ini dia pasti banyak mengalami kesulitan karena tidak bisa berkonsultasi dengan siapa pun tentang fetish seksualnya. Melampiaskan nafsunya tanpa ketahuan juga pasti cukup sulit.
Di saat seperti itulah aku muncul. Satu-satunya orang yang bisa membantunya.
Aduh… . Kalau sudah menyampaikan perasaan seperti ini, aku juga tidak bisa begitu saja menolaknya.
Dia adalah rekan kerja penting. Jika ada hal yang hanya bisa kulakukan untuknya, aku tidak bisa mengabaikannya.
"Haa… . Tidak ada jalan lain ya…"
Aku juga harus memutuskan. Tekad untuk menemani si mesum ini.
"Yukine-san… . Aku ingin kamu menjadi 'kakak yang baik, suci, dan didambakan semua orang'. Seperti itulah semua orang di sekolah memandangmu."
Sisi baik Yukine-san adalah kebaikannya yang seperti dewi, tanpa memberi kesan noda. Orang yang tidak tahu rahasianya, semuanya mendambakan hal itu.
"Su-Sungguh…!? Orang seperti aku, tidak mungkin hebat seperti itu…?"
"Tidak, kupikir kamu adalah orang yang baik dan luar biasa. Tapi, jika perasaan mesum mengganggumu yang seperti itu… . Sampai fetish-mu sembuh, aku akan menemanimu untuk melampiaskan perasaan mesum dengan baik."
"Tenma-kun… . Kau memikirkanku sampai segitu…?"
Yukine-san membuat ekspresi seperti tersentuh.
"Hanya saja, ada batasannya! Aku tidak akan melakukan hal yang terlalu mesum, dan tidak akan melewati batas."
Jika dia terlalu menimbun hasrat seksual, dia mungkin melakukan 'permainan' berbahaya dan rahasianya terbuka di sekitar. Aku hanya akan menemani pelampiasan hasrat seksualnya dengan cara yang aman agar hal itu tidak terjadi.
Selain itu, jika hasrat seksualnya dilampiaskan, dia harusnya kembali menjadi kakak yang baik dan normal untuk sementara waktu. Seperti karakter di anime tertentu. Jika terus dilakukan, mungkin pada akhirnya dia akan puas dan menjadi manusia normal. Mungkin fetishnya bisa hilang.
Dia benar-benar sedang bermasalah, dan dengan menemaninya, ada kemungkinan dia menjadi serius. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain.
Tentu saja, perjanjian dengan Hajime-san juga penting. Aku tidak akan melewati batas terakhir, atau melakukan tindakan tidak senonoh yang tidak perlu. Tapi, orang yang tinggal bersamaku tanpa keraguan adalah Yukine-san. Perasaannya juga harus kuhargai sama pentingnya.
Demi Yukine-san, dan juga untuk melunasi hutang dengan selamat, aku akan membantunya sambil menghilangkan fetish seksualnya!
"Ahh, terima kasih! Master! Kalau begitu, segera—"
"Ah, tapi… . Kalau bisa, hari ini aku ingin berhenti…"
Dari tadi, mimisanku tidak berhenti-henti… . Ini, mungkin agak berat… .
"Ah!? Maaf! Aku akan segera mengobatinya!"
Setelah itu aku keluar dari kamar mandi, dan diobati oleh Yukine-san yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
※ ※ ※
Kemalaman aku mengalami hal yang luar biasa.
Tapi berkat itu, cara bergaul dengan Yukine-san sudah jelas. Aku akan menemani pelampiasan hasratnya agar rahasianya tidak ketahuan, sambil membuatnya menjadi manusia normal.
Dia juga sepertinya puas dengan kejadian kemarin, jadi untuk sementara dia tidak akan melakukan tindakan aneh… . Aku ingin percaya dia tidak akan melakukannya. Kumohon jangan lakukan hal aneh… .
Di perjalanan ke sekolah. Sambil menunggu kereta di peron stasiun, aku mengucapkan doa seperti itu dalam hati.
"Tenma-senpai, tidak apa-apa? Wajahmu tampak tidak bersemangat."
Lalu, ada suara yang menyapaku dari samping.
"Ah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. ... Eh, Karin!? Hah? Kenapa kau di sini?"
Hari ini aku tidak berangkat bersamanya. Bahkan, aku dan ketiga saudari itu selalu pergi ke sekolah secara terpisah. Karena Tsukino tidak mau pergi bersamaku. Jadi seharusnya tidak mungkin bertemu di peron stasiun...
"Aku bohong mau ke toilet, dan menunggu Senpai. Sesekali aku ingin pergi sekolah bersama."
"O, oh begitu... . Begitu rupanya."
Jadi hanya Karin yang ada di sini. Keduanya yang lain mungkin sudah pergi ke sekolah dengan kereta sebelumnya.
"Ehehe~ . Senpai... . Sudah lama tidak berduaan, ya...?"
Karin melirik ke atas dan berbisik dengan suara manis.
"Tidak, tidak. Di sekeliling kita banyak orang."
Sekarang adalah pagi hari weekday. Meskipun ini bukan stasiun besar, tetap ada banyak orang yang sedang menunggu kereta dalam perjalanan ke kantor atau sekolah dengan wajah mengantuk.
"Bukan itu maksudku. Maksudku, Onee-chan gak ada."
Dia mengembungkan pipinya dengan lucu.
"Di rumah selalu ada Onee-chan, dan jarang ada kesempatan seperti ini. Rasanya seperti sesuatu yang segar."
"Ah... . Ya, kurasa..."
Suaraku secara alami menjadi rendah. Ekspresi senang Karin ini mengingatkanku pada penampilannya saat melakukan ekshibisionisme. Ditambah dia berbohong pada keduanya untuk menungguku, aku jadi agak curiga.
"Um, Senpai... . Kenapa tampak sangat waspada? Aku jadi sakit hati, lho?"
"Eh? Tidak, aku tidak waspada..."
Sepertinya, Karin juga bisa merasakannya. Dia sedikit merajuk.
"Emangnya... . Menurut Senpai, Karin ini apaan? Apa Senpai mengira Karin adalah chijo yang menyerang pria?"
Ya. Jujur saja aku berpikir begitu. Aku juga sudah diperlakukan hampir sama.
"Karin ini, tetap saja, adalah JK bunga, lho? Tolong sedikit senang, dong."
"A, ah... . Maaf maaf..."
Memang, mungkin aku terlalu tegang. Berapapun mesumnya Karin, dia tidak akan telanjang di depan umum seperti ini. Dia menungguku juga pasti karena benar-benar ingin pergi sekolah bersamaku.
"Maaf? Sepertinya aku agak tegang."
"Hmph. Tenma-senpai juga, sebenarnya suka hal mesum. Kan Senpai punya manga seperti itu, dan lagipula namanya juga aneh. Agak mirip 'Tenga'."
"Jangan plesetkan nama orang dengan mainan dewasa! Ini Tenma! Bukan Tenga!"
"Eh? Denma?"
"Kupingmu rusak!? Jangan dipaksa dikaitkan dengan hal mesum!"
Jangan lakukan panggilan seperti itu, serius. Itu bukan nama panggilan yang bisa dibully.
"Lagipula, mari hentikan obrolan seperti ini... . Ini bukan topik untuk dibicarakan di luar..."
"Benar juga. Aku terlalu bersemangat."
Di sekeliling juga ada siswa dari sekolah yang sama. Jika terdengar, itu sangat berbahaya.
"Tapi, pergi sekolah berdua, ini hampir seperti kencan, kan? Karin selalu mendambakan hal seperti ini~"
"Kencan? Itu berlebihan. Ini hanya pergi sekolah bersama."
"Tidak begitu. Pergi dan pulang sekolah juga bisa menjadi kencan yang bagus, lho?"
Untuk beberapa waktu, kami berdua mengobrol tentang hal-hal sepele.
Lalu setelah beberapa saat, kereta lokal yang kami gunakan untuk sekolah meluncur masuk ke peron.
"Sudah datang. Senpai, ayo pergi♪"
"A, ah..."
Karin memegangi seragamku dan mendorongku masuk ke dalam kereta dengan tergesa-gesa.
Di dalam, mungkin karena kereta lokal, untuk jam sibuk ternyata sepi. Aku dan Karin pindah ke sudut pintu di seberang tempat kami masuk dan berdiam diri. Tak lama kemudian, kereta mulai bergerak perlahan.
Stasiun tujuan itu lima stasiun lagi. Sekitar sepuluh menit perjalanan.
"Fufu... . Tenma-senpaaai...♪"
Bersamaan dengan kereta yang mulai bergerak, Karin memanggil namaku. Aku mengalihkan pandanganku yang sedang melihat situasi dalam kereta, ke arahnya yang berada di samping.
Dan, aku membeku.
"Tolong lihat dengan baik, ya...?"
Karin menatapku sambil berusaha mengangkat roknya.
Dengan sudut yang sangat sempurna sehingga hanya aku yang bisa melihat, dia perlahan membuka roknya. Paha Karin yang montok, perlahan terbuka.
"Na...!? Ba...!"
Hampir saja berteriak kaget, aku berhasil menahan suaraku di ujung lidah.
Sebelum ada yang melihat, aku segera memegangi kedua tangan Karin.
"Unn♪ Senpai, tiba-tiba mau menyerang?"
"Ini waktunya bicara! Hentikan, dengar! Ini tempat umum! Itu tindak kriminal!"
Berapapun juga, ini keterlaluan! Anak ini memang bukan JK, tapi hanya chijo!
Tapi meski kuomeli dengan suara pelan, ekspresi Karin tetap sama.
"Tapi... Karin sudah tidak bisa menahan diri. Lagipula, Karin tidak akan memperlihatkannya pada orang lain. Hanya Senpai yang boleh melihat...?"
"Tidak, tetap saja tidak boleh! Itu terlalu berbahaya!"
Dengan putus asa aku menahan tangan Karin. Tapi, dengan begini, dari sudut pandang tertentu, aku yang akan terlihat seperti chikan!
Saat itulah. Kebetulan kereta tiba di stasiun berikutnya.
"Pas sekali... . Ayo cepat, Karin! Kita turun dulu!"
"Eh!? Ah, Senpai! Tunggu~!"
Aku menarik tangan Karinn dan turun di stasiun itu dengan paksa.
※ ※ ※
"Ok, bisa kau jelaskan? Kenapa kau melakukan hal seperti itu?"
Aku berdiri di ujung stasiun tempat kami turun dan menanyainya dengan ketat.
"Jika hanya menunjukkan tubuh di dalam rumah saja masih bisa dimaklumi... . Tadi itu benar-benar bisa ditangkap, lho?"
Karin seharusnya mengerti hal itu. Katanya dia belum pernah melakukan ekshibisionisme sungguhan sampai sekarang. Dia seharusnya waspada jika ada orang lain yang melihat.
"Itu, karena... . Karin pikir tidak apa-apa karena ada Senpai. Senpai menyembunyikan ekshibisionisme Karin, tapi hanya Senpai yang boleh melihat. Bukankah ini mendebarkan?"
"Mendebarkan pala mu!? Aku hanya ketakutan akan ketahuan!"
"Jangan marah seperti itu... . Lagipula, ini mutlak diperlukan untuk referensi, tau?"
"Referensi? Referensi apa?"
"Itu adalah——Referensi untuk ini!"
Sambil berkata begitu, Karinn menunjukkan layar ponselnya padaku. Itu adalah halaman posting Twitter. Terlihat semacam komik.
"Eh...? Ini..."
"Komik yang digambar Karin!"
Komik buatan sendiri...? Dia mempostingnya?
Wah, anak ini, tanpa kusadari, hebat juga. Dia bisa menggambar komik. Dari coretan tubuh sebelumnya dan sekarang, mungkin dia sebenarnya punya bakat di bidang seni.
Tapi apa hubungannya dengan tindakannya kali ini.
Aku menerima ponselnya dan melihat gambar yang sepertinya sampul komik dengan judul dan karakter utama.
"'Rekomendasi Ekshibisionisme Chapter 502 ~Perjalanan ke Sekolah Lupa Celana Dalam~'"
Sangat mencerminkan dirinya.
Dan karakter di sampul yang sedang mengangkat roknya, sangat mirip dengan Karin. Itu pasti memakai dirinya sendiri sebagai model. Dan ini, jumlah babnya terlalu banyak. Sudah lebih dari lima ratus chapter?
"Fetish Karin, kan, sulit dilakukan dalam kenyataan. Karena itu, jika ingin melakukan hal mesum, Karin akan menggambarnya di komik untuk memuaskan perasaan. Terutama sebelum Tenma-senpai datang."
"Begitu ya... . Itu memang cara melampiaskan yang aman."
"Kemudian, komik ini, sekalian saja Karin unggah ke internet, dan sejak beberapa waktu lalu mulai populer... . Sekarang Karin, sebagai penulis spesialis ekshibisionisme misterius, punya banyak penggemar."
"Wah, benar! Retweet-nya banyak sekali!?"
Ini yang disebut viral, ya...?
"Karin sangat senang... . Karin selalu kalah dari Onee-chan dalam berbagai hal, tapi dengan ini, Karin pikir mungkin bisa menang... . Karena itu, untuk menulis karya yang lebih realistis, Karin ingin melakukan 'permainan' yang sebenarnya!"
Ah, ya. Karin memang punya kompleks terhadap kakak-kakaknya. Untuk menghilangkan perasaan itu, dia juga berusaha dengan berbagai cara, begitu rupanya.
Jadi begitu... . Ternyata tindakan mesum itu juga ada maknanya...
"Jadi... Senpai, kumohon! Temani ekshibisionisme Karin! Untuk menenangkan perasaan mesum Karin, dan juga untuk mengalahkan Onee-chan, Tenma-senpai diperlukan!"
Wah wah wah... . Mendengar cerita seperti ini, jadi agak sulit menolak!
Dan... . Dengan kejadian bersama Yukine-san kemarin, aku juga sudah siap. Tekad untuk menemani pelampiasan hasrat mereka agar fetish seksual mereka tidak ketahuan.
"Ah~ sudah... . Baiklah... . Jika kau berkata sampai segitu, aku akan membantumu..."
"Benarkah!? Tenma-senpai!"
"Ya... . Karin memiliki bakat yang berharga. Suatu hari nanti, aku ingin kau memanfaatkannya untuk hal selain hal mesum. Untuk menyembuhkan kebiasaan ekshibisionisme... dan untuk mengurangi kadar mesum Karin, aku akan membantu melampiaskannya. Supaya suatu hari nanti kau bisa mengalahkan kakak-kakakmu dengan bangga."
Bagi Karin, menjadi ekshibisionis adalah faktor besar penyebab kompleksnya. Kali ini dia justru menjadikannya sebagai kepercayaan diri melalui komik, tapi suatu hari nanti dia perlu memiliki kepercayaan diri dari hal selain hal mesum. Karena tidak mungkin mengatakan pada orang sekitar bahwa dia adalah ekshibionis.
Demi dirinya dan juga diriku, aku ingin mencurahkan seluruh tenaga untuk menghilangkan hasrat seksualnya.
"Se-Senpai... . Kau memikirkan Karin sampai segitunya...?"
Karin membasahi matanya dengan penuh rasa haru.
"Hanya saja, yang di kereta tadi benar-benar tidak boleh. Itu benar-benar tindak kriminal."
"Kalau begitu, apa yang harus... . Karin ingin melakukan ekshibisionisme di depan banyak orang, dan dilihat Senpai!"
"Tidak, meski kau bilang begitu... . Kalau gitu, tunggu satu hari. Aku akan menyiapkannya. Situasi di mana kau bisa melakukan ekshibisionisme di depan semua orang dengan aman."
Berkata begitu, untuk sementara aku menenangkan Karin dan pergi ke sekolah berdua dengan normal.
※ ※ ※
Pagi hari setelah aku berjanji pada Karin. Kami berada di ruang tamu rumah.
Ruang tamu rumah ini memang seperti rumah mewah milik orang kaya, dinding yang menghadap sinar matahari seluruhnya terbuat dari kaca. Dan di jalan raya yang terlihat dari jendela melewati taman, banyak orang berlalu lalang. Karena orang menggunakan jalan ini untuk pergi kerja dan sekolah. Di antara mereka, ada juga orang yang penasaran dengan jendela besar dan mengarahkan pandangan.
Di depan orang-orang seperti itu, Karin sedang mengangkat roknya.
"Haa haa... . Di depan banyak orang seperti ini, Karin, memperlihatkan celana dalam...!"
Biasanya, kelakuan mesum Karin akan langsung terlihat dari luar. Orang yang menghadap ke jendela, pasti akan menyadari Karin yang sedang memperlihatkan celana dalamnya.
Tapi, sekarang tidak. Kenapa... .
Karena aku telah mengubah jendela kaca besar ini menjadi kaca ajaib.
"Senpai... . Benarkah tidak apa-apa...? Celana dalam Karin, tidak terlihat, kan...?"
"Ah. Tidak apa-apa. Pasti tidak akan ketahuan."
Sekarang, jika dilihat dari luar, kaca ini hanya akan memantulkan bayangan wajah mereka sendiri seperti cermin. Tapi jika dilihat dari dalam, keadaan luar bisa terlihat dengan jelas.
Kemarin setelah pulang, aku berpikir bagaimana cara memenuhi janjiku pada Karin.
Dia bilang ingin melakukan ekshibisionisme di depan banyak orang tanpa ketahuan, dan ingin aku melihatnya. Tapi tidak mungkin benar-benar melakukan ekshibisionisme di tempat umum. Untuk mewujudkannya dengan aman, diperlukan situasi di mana Karinn bisa melihat orang banyak, tapi sebaliknya mereka tidak bisa melihat Karin.
Bagaimana cara memungkinkannya. Setelah berpikir mati-matian, akhirnya aku teringat pada lembar penutup yang pernah dijual saat aku bekerja paruh waktu di toko bangunan. Lembaran ini bisa ditempel di jendela untuk membuat kaca ajaib.
Dulu, rekan kerjaku salah memesan dalam jumlah besar, dan aku berusaha mati-matian menjualnya.
Dan aku memutuskan untuk menggunakannya untuk membuatnya melakukan ekshibisionisme.
Pertama, membersihkan seluruh kaca yang luas, menghilangkan semua debu dan minyak. Lalu, dengan hati-hati menempelkan lembaran pada jendela agar tidak ada lipatan atau gelembung udara.
Menempelkan lembaran pada seluruh kaca besar itu adalah pekerjaan yang sangat sulit. Tapi untuk ekshibisionisme aman Karin, aku wajib mencurahkan seluruh tenaga. Akhirnya, dalam semalam, pekerjaan selesai.
Ya... . Aku tahu ini aneh. Aku sadar betul bahwa yang kulakukan ini bodoh.
Tapi, aku punya misi untuk melindungi keluargaku. Dan, aku punya harga diri karena tidak pernah lari dari pekerjaan apa pun. Karena itu, aku tidak boleh ragu-ragu di sini!
Berkat tekad itu, janjiku pada Karin akhirnya bisa terpenuhi. Dengan ini, dia bisa melakukan ekshibisionisme di depan orang lain tanpa ketahuan. Tsukino dan Yukine-san sudah pergi ke sekolah lebih dulu, jadi berapapun dia memperlihatkan celana dalamnya, hanya aku yang akan melihatnya.
"Bagaimana, Karin. Apa bisa jadi referensi untuk komikmu?"
"Y-Ya...! Pengalaman yang sangat menyenangkan seperti ini... Karin, pertama kali dalam hidup...!"
Tampaknya dia sangat bersemangat dengan aksi ekshibisionisme di depan umum untuk pertama kalinya. Wajahnya memerah seperti apel, dan napasnya menjadi berat.
"Tenma-senpai, lihatlah! Lihatlah Karin yang sedang melakukan hal memalukan! Lihatlah Karin yang mesum!"
Dengan rok yang masih terangkat, Karin melepas celana dalamnya. Lalu, menelanjangi bagian bawah tubuhnya ke arah jendela.
"......!"
Memang, tidak mungkin menatapnya langsung. Aku tidak bisa kabur untuknya, jadi hanya melihat keadaannya dengan sudut mata.
"Ahh... . Karin, melakukan hal yang sangat H... . Sekarang Karin, tidak pakai celana dalam... . Penampilan memalukan, dilihat Tenma-senpai...!"
Dengan begitu, dia membalikkan badan dan mendorong pantatnya ke arah luar. Pantat yang bulat dan cantik, seperti buah persik. Pantat kecil dan berkilau yang memberi kesan kekanak-kanakan.
"Ahh... ahhh...! Sudah tidak bisa! Senpai! Lihatlah seluruh tubuh Karin!"
Dengan mengarahkan bagian memalukannya ke luar, dia sepertinya semakin meningkatkan kenikmatannya. Karin akhirnya melepas roknya. Bahkan melepas jaket dan bra, dan akhirnya menjadi telanjang bulat di tempat. Lalu...
"Haa... haaa...! Sangat enak!"
Setelah puas menikmati aksi ekshibisionisme, tubuh kecil Karin bergetar hebat menikmati kenikmatannya.
※ ※ ※
"Senpai, terima kasih! Berkat itu, komikku juga bisa berkembang, dan juga sangat menyenangkan...!"
Setelah puas dengan aksinya dan sudah memakai pakaian dengan benar. Karin mengucapkan terima kasih.
"Ah. Jika kau puas, jerih payahku juga berarti. ... Sebagai gantinya, jangan lagi melakukan 'permainan' aneh di luar tanpa izin, oke?"
"Ya! Tentu saja! Untuk hal-hal H, Karin akan meminta pada Tenma-senpai!"
Pernyataan ini... . Sepertinya dia belum sepenuhnya puas dengan aksi ekshibisionisme... . Meski begitu, sekarang dia terlihat seperti kohai yang puas dan imut. Jika terus dilakukan, perlahan-lahan dia juga akan bosan dengan tindakan mesum dan menjadi gadis normal.
"Kenikmatan memalukan yang begitu hebat... pasti tidak bisa dinikmati sendirian. Benar juga, Tenma-senpai adalah orang yang sangat penting bagi Karin!"
"Seperti biasa, aku bingung harus bereaksi senang atau tidak..."
Aku juga pernah dikatakan hal seperti itu oleh Yukine-san, tapi kalau bisa, aku ingin disukai dengan alasan normal yang lain.
"Senpai, terima kasih banyak! Sudah berusaha keras untuk Karin... . Orang yang mau melakukan sampai segitunya, tidak ada selain Tenma-senpai! Mohon bimbingannya ke depannya!"
Dia sekali lagi membungkuk dalam-dalam. Senyumnya bagaikan malaikat.
"Ah, kalau boleh, tempelkan juga lembaran itu di jendela sekolah! Supaya bisa melakukan ekshibisionisme di mana saja."
"Untuk yang itu, kumohon menahan diri."
Sambil melepas lembaran di jendela, aku membantah dengan perasaan sungguh-sungguh.
※ ※ ※
Dengan Karin yang juga sudah tenang, cara bergaul dengan dua dari tiga saudari itu sudah jelas.
"Satu-satunya masalah tersisa... hanyalah Tsukino."
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku memikirkan cara bergaul dengan Tsukino yang tersisa.
Hari ini juga, Tsukino menghindariku sepanjang hari. Saat aku mendekatinya sedikit di kelas, saat bersimpangan di koridor, dia dengan jelas menjauh.
Yah, itu wajar. Aku adalah semacam tombol birahi bagi Tsukino. Beberapa hari lalu juga karena bersentuhan denganku, dia jadi birahi. Itu pun, di dalam gedung sekolah.
Waktu itu, Tsukino langsung birahi hanya karena kupegang sedikit. Dengan begitu, kapan saja dia bisa birahi pada siapa pun. Jika dia birahi di tempat umum, hidupnya bisa hancur...
Bagaimana cara menyembuhkan fetish seksualnya, dan bagaimana bergaul dengannya ke depannya, harus segera diputuskan.
"...Hm?"
Aku merasakan getaran di saku. Melihatnya, itu adalah panggilan dari Hajime-san.
Jangan-jangan, fetish ketiga saudari itu ketahuan!?
Dengan keringat dingin, dengan tangan gemetar aku menekan tombol telepon.
"Ha, halo... Ini Tenma..."
『Hai, Tenma-kun. Terima kasih sudah merawat putri-putriku』
Suara berwibawa seperti biasa terdengar dari telepon.
『Maaf tiba-tiba menelepon. Apakah kamu bisa bergaul baik dengan ketiganya?』
"Y, ya! Kami baik-baik saja! Tidak ada masalah!"
Dari nada suaranya, sepertinya dia tidak marah. Dalam hati, aku menghela napas lega.
『Bagus. Kalau begitu, sepertinya bisa kuminta tolong...』
"Eh?"
『Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kuminta kepadamu』
Hal yang ingin diminta...? Aku punya firasat buruk...?
『Akhir pekan seminggu lagi, bisakah kau pergi ke pesta bersama putri-putriku?』
"Pesta...?"
『Seperti perkumpulan keluarga terpandang yang diadakan setiap tahun. Biasanya aku yang mengajak putri-putriku, tapi tahun ini sepertinya tidak bisa karena pekerjaan. Karena itu, kuharap kau bisa menemani mereka sebagai penggantiku』
Pergi ke pesta para keluarga terpandang, bersama ketiga saudari itu...?
Itu artinya, Tsukino juga ikut...?
『Tidak, tidak perlu khawatir. Pada akhirnya hanya pesta berdiri. Alasan ingin kau ikut hanya karena khawatir jika putri-putriku sendirian. Kau tidak perlu melakukan hal khusus. Tentu saja, sebagai bagian dari pekerjaan, bagian ini akan kubayar terpisah』
Sebagai bagian dari pekerjaan. Jika sudah dikatakan begitu, aku tidak bisa menolak.
Untuk melunasi hutang, aku tidak boleh membuatnya tidak senang.
『Hanya saja, pesta ini juga sekaligus untuk memperkenalkan mereka pada putra-putra keluarga terpandang. Mungkin di antara mereka, ada yang akan menjadi suami putri-putriku di masa depan. Tolong jangan sampai melakukan hal yang tidak sopan. Bagaimana? Bisakah kau melakukannya?』
"Ya... . Tentu saja. Aku akan menerimanya."
『Aku lega mendengarnya. Detailnya akan kukirim via email nanti. Kalau begitu, kuserahkan padamu』
Percakapan pun berakhir.
Begitu rupanya... . Aku harus pergi ke pesta bersama ketiga saudari mesum itu. Itu pun, dengan perintah untuk tidak membuat masalah.
"Eh? Wah, gawat, ini gimana...?"
Jika Tsukino sampai birahi di tempat pesta dan ketahuan sebagai orang mesum, reputasi tiga saudari Jinguuji akan langsung jatuh. Tentu saja, aku akan dimintai tanggung jawab dan dipecat.
Dari ucapan Hajime-san, sepertinya Tsukino juga pernah beberapa kali ikut pesta, tapi tidak ada jaminan kali ini akan berjalan lancar. Ada kemungkinan terjadi kecelakaan seperti sebelumnya, dan dia menyerang seseorang.
Kedua orang lainnya tidak akan tiba-tiba lupa diri, tapi kebiasaan birahinya itu harus segera disembuhkan.
Pokoknya, pertama-tama aku harus akrab dengan Tsukino. Setelah itu, bersama-sama mencari cara untuk mengatasi fetish seksualnya. Demi kehidupan masa depan kami berdua.
Aku buru-buru pulang ke rumah dan melewati pintu depan yang masih belum sepenuhnya kuhafal. Lalu, menuju kamar Tsukino.
※ ※ ※
Itu adalah buku yang tebal.
Buku yang memiliki kesan berat seperti kamus itu, namun bukan buku yang sulit. Di sampulnya, tergambar ilustrasi gadis imut dengan sangat besar. Sebenarnya, buku apa itu? Dengan tangan gemetar seolah gugup, dia membuka sampulnya dan membaca halaman pertama—
Tepat sebelum itu, aku menyapanya.
"Hei, Tsukino. Lagi ngapain?"
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!"
Dengan gaya seperti di anime, dia melompat bersama kursinya dan langsung terjatuh ke lantai. Buku yang akan dibacanya juga ikut terlempar ke lantai.
"Wa...!? Kenapa kau ada di kamar!? Jangan masuk sembarangan!"
"Ti-Tidak... . Aku memanggilmu tapi tidak ada jawaban... . Dan, tidak perlu kaget segitunya..."
Reaksi ini, jelas bukan hal biasa. Sebenarnya Tsukino sedang membaca apa?
Rasa penasaranku muncul, dan mataku menatap buku yang jatuh di lantai.
『Skinship Payudara Besar! Pelajaran Mesum Bersama Pacar yang Montok☆』
"Kenapa Tsukino yang memegangnyaaaaaaaaa!?"
Ah, ya! Aku berniat mengembalikannya tapi karena risiko dibawa ke sekolah, jadi dibiarkan begitu saja!
Kaget, dan ditambah malu, kepalaku seperti mau mendidih.
Melihatku seperti itu, dia berkata dengan putus asa.
"Ya, benar! Ini buku mesum dari kamarmu!"
Dasar Tsukino, kapan dia mencurinya dari kamarku!?
Dan, kenapa Tsukino dan Karin tahu lokasi buku mesum? Apa-apaan ini? Apa baunya? Apa buku mesum punya aroma khusus?
Dan Tsukino... . Dia sampai mencuri dari kamarku yang tidak disukainya... .
"Jangan-jangan Tsukino, terlepas dari fetish-nya, dia memang orang yang suka hal mesum..."
"Eh...? Ah, bu-bukan! Aku membacanya bukan dengan tujuan seperti itu!"
Dengan gelisah mengibaskan kedua tangannya, Tsukino menyangkal dengan putus asa.
"Lalu dengan tujuan apa...? Ini buku mesum, kan? Tidak ada tujuan lain selain tujuan 'itu'."
"Ya, itu...! Diperlukan untuk menyembuhkan fetish-ku!"
Tsukino mulai mengatakan hal yang tidak masuk akal. Apa hubungannya fetish dengan buku mesum?
"Begini... . Fetish-ku kan, jika ada sesuatu yang mesum, aku tidak bisa mengendalikan diri...? Karena itu, dengan melihat hal-hal mesum seperti ini untuk membiasakan diri, mungkin akan sedikit membaik..."
"Ah──... . Begitu ya..."
"Tapi, tidak mungkin beli buku seperti ini sendiri! Karena itu, aku meminjamnya dari kamarmu... . Aku pikir mungkin ada."
Memang, dari kepribadian asli Tsukino, dia tidak punya ketahanan terhadap hal mesum. Mungkin dia pikir dengan membiasakan diri melalui manga mesum atau sejenisnya, dia bisa sedikit mengontrol kebiasaan birahinya.
Begitu rupanya. Beberapa waktu lalu dia bilang seperti menyerah, tapi jangan-jangan Tsukino juga sebenarnya ingin menyembuhkan fetish seksualnya? Atau, mungkin kecelakaan beberapa waktu lalu yang membuatnya berpikir begitu. Ini adalah tren yang sangat bagus.
"Tapi, kurasa tidak akan berhasil."
"Hah!? Kenapa!?"
Pemikirannya dibantah, Tsukino marah. Tolong jangan melotot, aku takut.
"Soalnya Tsukino, hanya kusentuh sedikit saja langsung birahi, kan? Untuk membangun ketahanan terhadap hal mesum, sambil membiasakan diri dengan pria sungguhan, kurasa fetish tidak bisa diatasi."
Karena tidak terbiasa dengan pria, mungkin Tsukino merasa aneh hanya dengan disentuh sedikit. Jika begitu, dia juga harus mengumpulkan pengalaman dengan pria.
"Yang begitu... . Dengan fetish seperti ini, apa aku harus mendekati pria...?"
Untuk mengatasi fetish karena tidak suka birahi, dia harus berinteraksi dengan pria yang menjadi penyebab birahi.
Mengetahui bahwa mengatasi fetish lebih sulit dari yang dibayangkan, Tsukino menundukkan bahunya dengan putus asa.
"Karena itu. Aku yang akan menemanimu."
Pada gadis seperti itu, kukatakan dengan semangat.
"Eh...?"
"Untuk membangun ketahanan terhadap pria, berinteraksi langsung adalah yang terbaik. Dalam hal ini, aku yang tinggal bersamamu bisa selalu dekat, kan? Lagipula, untuk itulah aku di sini."
Tugasku adalah membuat ketiga saudari itu terbiasa dengan kehidupan bersama pria.
Itu seharusnya bisa menjadi bantuan besar bagi Tsukino untuk mengatasi fetish seksualnya.
"Te-Tapi... . Berinteraksi, maksudnya gimana...? Aku, mungkin akan jadi seperti itu lagi..."
"Karena itu, kita biasakan sedikit demi sedikit. Pertama, pergi sekolah bersama, makan bersama, dan sebagainya. Lagipula, aku sudah tahu rahasiamu. Jika sampai birahi, aman, kan?"
Lebih baik birahi padaku daripada rahasianya ketahuan orang lain.
Meski begitu, Tsukino masih ragu-ragu.
"Tapi, mungkin aku akan melakukan hal memalukan lagi... . Bagian 'itu', tidak ingin diperlihatkan lagi..."
Dia berusaha memikirkan alasan untuk tidak melakukannya, mengucapkan kata-kata alasan.
Pada gadis seperti itu, kuucapkan kata-kata yang menasihati.
"Hei, Tsukino... . Kau ingin mengatasi fetish, kan? Jika begitu, suatu hari nanti kau harus berhadapan dengan pria yang tidak kausukai, bukan? Jika tidak, mungkin kau akan tetap seperti selamanya?"
Bagi dia yang selama ini menjauhkan diri dari pria, apa yang kukatakan mungkin memang sulit. Tapi, meski begitu. Aku pikir cobaan ini cukup penting sehingga tidak bisa dihindari. Demi aku bisa menyelesaikan kehidupan bersama ini dengan selamat. Dan yang paling penting, demi kehidupan masa depan Tsukino.
"Aku akan menjadi teman latihanmu. Mari berusaha bersama sedikit saja, oke?"
"…………!"
Tsukino menatap wajahku. Lalu, sepertinya perasaannya tersampaikan, cahaya muncul di matanya.
"Begitu... . Memang mungkin seperti yang kau katakan..."
Dia mengangguk sekali dengan kuat, seolah mengunyah tekadnya. Lalu menatap lurus ke mataku, dan dengan penuh perasaan berkata demikian.
"Baiklah. Jika begitu──── jelas gak mau!"
Sekejap, dia berusaha melompati sampingku dan kabur dari kamar.
Oi, tunggu!
"OI, Tsukino! Kenapa kau kabur!?"
Dengan panik aku mendahului pintu dan memblokir jalan keluar agar dia tidak bisa keluar.
"Gak mungkin! Intinya, itu berarti kencan denganmu, kan!? Aku gak mau!"
"Aku juga gak mau, tau! Lagipula, jika benar-benar kencan, itu berbahaya!"
"Kalau begitu berhenti saja! Kenapa mau melakukan hal seperti ini!?"
"Karena jika tidak, aku bisa dipecat! Dan Tsukino juga ingin mengatasi fetish-mu, kan!?"
"Tetap saja aku takut! Kau, pasti akan menyerangku, kan!?"
"Yang diserang kan aku!!"
Setelah itu, setelah dua jam berdebat, akhirnya aku berhasil membujuk Tsukino.

