Danshi Kinsei – Arc 1 – Chapter 13: Arc Akademi, Let’s GO!!

 


Diterjemahkan Oleh: EXEREN


 Ketika aku membuka mataku, karakter game bulat merah muda* tercermin dalam bidang penglihatan kaburku.


 [TLN: *Ya, itu Kirby]


 "Hei!! Bisakah kau berhenti melakukan 'Up-B'?! Aku akan sangat kesal jika kalah dengan hal seperti itu, tahu?!" [Salah satu Shadow Garden]

 "Aku menolak. Karena aku tahu jika aku terus menggunakan 'Up-B', orang lain akan merasa kesal." [Snow]


 Orang-orang ini… ngapain…?


 "Maid-san berambut putih ini benar-benar kuat dalam arti lain~! Dia benar-benar mengerti seberapa menjengkelkannya 'Up-B' Kirby." [Salah satu Shadow Garden]


 Kenapa sih orang-orang ini bermain Super Smash Bros di samping seseorang yang hampir mati karena kelelahan/kehabisan kekuatan sihir…?


 Dan jika kulihat lebih dekat, aku bisa melihat pemandangan dengan jelas. Adegan 12 elf bermain Super Smash Bros di aula. Terlebih lagi, maid berambut putih kami (yang akhirnya kukenal sebagai Snow) juga berpartisipasi dengan mereka, menjadikannya turnamen 13 orang…


 "…." [Hiiro]


 Di sebelahku, yang sedang tidur setelah hampir mati karena kelelahan kekuatan sihir.


 『Gegegegegegekko Gegegegekko gekkoga…』


 "…." [Hiiro]


 『Gegegegegekko Gegekko—』


 "Seperti yang kukatakan, bisakah kau berhenti berulang kali menekan B dan A di layar pemilihan karakter dan terus memicu suara karakter!!" [Salah satu Shadow Garden]

 "Aku menolak. Karena kutahu bahwa lawan akan terganggu oleh suara karakter pemicu berulang kali." [Snow]


 Di sebelah maid, yang meluncurkan serangan mental jahat ke lawannya, aku benar-benar sadar karena suara game milenial, mengatakan 『Gegegegegekko gegegegekko gekko ga…』.


 "Onii-sama…. Aku senang…" [Rei]


 Mungkin karena dia merawatku selama ini tanpa tidur, mata Rei sedikit bengkak, saat dia tersenyum sambil memegang tanganku.


 Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, matanya yang menatapku sedingin nol derajat, tapi... matanya sekarang menatapku dengan kehangatan seperti sinar matahari di musim semi.


 Dia benar-benar cocok disebut Yamato Nadeshiko dengan rambut hitam panjang dan wajah cantik. Dan gadis seperti itu menatapku dengan matanya yang basah.


 Dalam game, Sanjou Rei memiliki kesan menyendiri sampai dia ditaklukkan, tetapi tampaknya di depan kakaknya yang hampir mati, dia menjadi sangat lemah lembut.


 *Suuuu, Suuuu*


 Sementara itu, sambil bernapas dengan lembut, Lapis sedang tidur di kakiku. Tidak ada ujung bercabang yang terlihat dari rambut keemasannya yang tergerai di atas futon, bahkan bisa membuat orang melihatnya mengira sebagai karpet emas.

 Gadis cantik yang bergumam dalam tidurnya sambil menggunakan kakiku sebagai bantalnya mungkin bahkan bisa dipajang di museum begitu saja. Dan Rei bisa berdiri di samping Lapis seperti itu tanpa merasa rendah diri. Itu membuatku berpikir sekali lagi, seperti yang diharapkan dari seorang heroine.


 "Tentang Keluarga Sanjou… Maafkan aku…. Aku tidak pernah berniat untuk melibatkan Onii-sama…." [Rei]


 Ucap Rei sambil lalu.

 Sepertinya beberapa bagian tubuhku benar-benar tergores oleh tebasan itu. Dengan perban di tangan dan kakiku, aku mencoba mengangkat seluruh tubuhku, yang seberat timah—sampai Rei mendukungku dengan tergesa-gesa.


 "Kau melakukan itu untuk melindungiku, kan?" [Hiiro]


 Rei mengangkat wajahnya karena terkejut.

 Mundur, dia mengangguk.


 "Ini bukan pertama kalinya mereka makan malam begitu, kan? Ini mungkin telah diadakan berkali-kali sejak Snow mulai mengawasiku. Dan tujuan makan malam itu adalah untuk membahas 'Bagaimana cara menyingkirkan Sanjou Hiiro' di akademi.… Apa aku benar?" [Hiiro]

 "…Ya." [Rei]


 Sederhananya, mereka harus mendiskusikan tentang Hiiro sesegera mungkin karena hari penerimaan sudah dekat. Itulah intinya, kukira.

 Bahkan jika mereka ingin mengirim seorang pembunuh untuk membunuhku di tempat yang sempurna bernama akademi, persetujuan dari kepala keluarga berikutnya, Rei, masih diperlukan.  Karena jika mereka membunuhku tanpa izin Rei, mereka akan disalahkan karena membuat keputusan sesuka mereka, yang memperburuk posisi mereka di Keluarga Sanjou.


 Dengan kata lain, ini semua tentang berapa banyak 'Uang' dan 'Kekuatan' dari Keluarga Sanjou yang bisa mereka peroleh… Karena bahkan keluarga cabang berkonflik satu sama lain untuk meningkatkan distribusi mereka bahkan sedikit. Lagipula, tidak ada orang yang ingin tangannya kotor.

 Mungkin itu sebabnya mereka berencana membunuhku dengan persetujuan Rei, yang masih muda. Jika wanita-wanita tua seperti yakuza itu bergegas ke Rei dan berkata, 『Bunuh saudaramu』, tentu saja dia akan menangis. Karena bahkan di dalam game, Rei berusaha melindungi saudara laki-lakinya yang brengsek… si Hiiro.


 Di akhir rute Rei, Hiiro yang mengamuk mengubah semua orang menjadi musuhnya. Dan Rei membuat strategi untuk mengeluarkan Hiiro dari kesengsaraan, sehingga kakaknya setidaknya bisa mati sebagai manusia.

 Bahkan setelah itu, Rei menyesali apa yang telah dia lakukan dan menangis, sampai protagonis memeluknya dengan lembut.


 Ah sungguh, kisah yang menyedihkan… dan sangat menyehatkan.


 Omong-omong, mengenai pembunuhan Hiiro oleh Rei, karena dilakukan seperti Pythagoras Switch, itu disebut『Pembunuhan Tsume Shogi*』 (suara keseriusan diledakkan).


 [TLN: *Baca saja disini https://en.wikipedia.org/wiki/Tsume_shogi]


 "Maaf, karena aku, kamu…" [Hiiro]

 "O-Onii-sama tidak salah! I-itu karena aku tidak punya keberanian… Karena aku tidak bisa menghentikan nenek-nenek kita… itu sebabnya…!" [Rei]

 "Terima kasih, Rei." [Hiiro]


 Aku tersenyum padanya.


 "Tidak masalah. Serahkan sisanya padaku. Aku pasti akan membuatmu bahagia (karakter utama yang akan melakukannya)." [Hiiro]

 "Onii-sama…!" [Rei]


 Dengan air mata yang mengalir dari matanya, dia memelukku.

 Dan sambil tersenyum, aku…. menatap Lapis, yang memelototiku.


 "Lapis, kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah bangun, ayo gantian." [Hiiro]

 "Ha? Kenapa aku harus memelukmu?" [Lapis]

 "Apa yang kau bicarakan? Ini kebalikannya! Kau peluk Rei!! Bukankah itu sesuatu yang akan kau ketahui setelah berpikir secara normal ?!" [Hiiro]


 [TLN: Otak lu yang gak normal asw…]


 "A-aku tidak mengerti…" [Lapis]

 "Menyedihkan…" [Hiiro]


 Dengan Naginata di tangannya, Master datang di depanku dengan senyum di wajahnya.


 "Aku tak pernah berpikir aku akan dipanggil dan kemudian dipercayakan untuk pembersihan. Sepertinya Hiiro memiliki kecenderungan untuk meremehkan Masternya." [Astemil]


 Menempatkan Naginata-nya di tempat tidur, Master, yang duduk dengan indah dengan seiza, lalu dengan lembut membelai kepalaku.


 "Tapi, kamu melakukannya dengan baik. Aku bangga padamu. Kamu menjadi sedikit lebih kuat lagi." [Astemil]

 "Tidak, meskipun benar bahwa aku, yang mencoba menipu Master dengan mengatakan 『Ayo makan bersama!!』 sebelum pergi ke restoran itu salah… Bukankah Master, yang tidak membantuku sampai menit terakhir, juga mengerikan??" [Hiiro]

 "HAHAHA, apa yang kamu bicarakan ..." [Astemil]


 Wanita ini… meskipun dia mungkin dengan bersemangat menunggu untuk muncul di adegan paling keren sambil berpikir, 'Apa sekarang, Apa sekarang?'.


 "Selain itu, Hiiro juga menggunakanku, kan?" [Lapis]


 Lapis, yang menopang wajahnya dengan siku di atas futon, berkata sambil mengepakkan kakinya.


 "Bukankah Hiiro mencoba memberi tahu Keluarga Sanjou… bahwa Lapis Klue La Lumet ada di belakangmu? Itu sebabnya kau dengan sengaja mengatakan kepadaku untuk 『Jangan gunakan magic device-mu』, dan mencoba membuatku muncul di akhir tanpa membiarkanku berpartisipasi dalam pertempuran, kan? Seberapa jauh ke depan kau berpikir pada saat itu? Aku benar-benar tidak bisa membacamu." [Lapis]

 "HAHAHA, apa yang kau bicarakan ..." [Hiiro]


 Master dan aku kemudian saling memandang dan tertawa sambil meletakkan tangan kami di bahu satu sama lain.


 ""HAHAHAHAHAHA."" [Astemil dan Hiiro]

 "Master dan murid sialan ini... Tapi, yah." [Lapis]


 Lapis bergumam pelan.


 "Niatmu yang sebenarnya…. dengan meminta maaf kepadaku terlebih dahulu… adalah karena kau sebenarnya tidak ingin melibatkanku, kan…?" [Lapis]

 "Tidak, aku sangat berusaha melibatkanmu. Apa yang kau katakan dengan suara kecil seperti itu? Ayo, katakan dengan keras, dengan suara perutmu!" [Hiiro]

 "Kau seharusnya berpura-pura tidak mendengarnya, baka!!" [Lapis]


 Karena aku berencana untuk menendang bendera selain Yuri, aku menolak (kemauan yang keras).


 "Tapi yah, dengan ini, Keluarga Sanjou seharusnya tidak bisa melakukan sesuatu untuk sementara waktu." [Hiiro]


 Aku dengan lembut melepaskan Rei dan tersenyum.


 "Mari kita nikmati kehidupan sekolah kita. Terutama cinta. Kau tak perlu peduli tentang studi, cukup temukan orang yang kau cintai (Perempuan, lebih disukai jika itu protagonis) dan hidup dengan bahagia." [Hiiro]

 "Ah, y-ya..?" [Rei]

 "Master." [Snow]

 "Uwah!?" [Hiiro]


 Tiba-tiba, tanpa membuat suara apapun, maid yang berdiri di depanku… Snow membungkuk dalam-dalam.


 "Terima kasih… sangat… sungguh… terima kasih…" [Snow]


 Aku melambaikan tanganku ke suaranya yang menangis.


 "Aku bertindak hanya karena ada sesuatu yang ingin kulindungi. Tidak ada alasan bagimu untuk berterima kasih kepadaku. Sebelum membungkuk kepadaku, minta maaf kepada lawanmu yang merasa kesal karena kau berulang kali menekan tombol B dan A di layar pemilihan karakter." [Hiiro]


 Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut.


 "Hiiro-sa~n!! Ayo main smash bros bareng~!! Aku diajari teknik untuk mengganggu lawanku dengan berulang kali meraih tebing~!!" [Salah satu Shadow Garden]


 Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh salah satu bayangan, aku tertawa getir. Sepertinya sebelum aku sadar, aku sudah terbiasa dengan keributan ini.


 Setelah itu, beberapa waktu telah berlalu. Karena butuh waktu untuk pulih dari gejala kelelahan kekuatan sihir, pelatihanku dengan Master tetap ditangguhkan.

 Dan akhirnya, hari penerimaan telah tiba.



 Mengenakan seragam baruku, aku menatapnya di bawah pohon Sakura yang besar.

 Terbungkus dalam kelopak bunga Sakura yang menari, dia kembali menatapku sejenak.

 Dan kemudian dia dan aku—MC dan si menjengkelkan, saling menatap.


 "Ini…" [Hiiro]


 Seolah menyatakan padanya, kataku.


 "Ini adalah awal. Benar—" [Hiiro]


 Dan berbisik lembut.


 "—Tsukiori Sakura (MC)?" [Hiiro]


 Setelah tersenyum padaku sebentar—dia berbalik dan berjalan pergi.


 Sambil menatapnya saat dia berjalan pergi, aku tertawa di depan berkah bunga Sakura dan akademi sihir yang luas.


 Ya, akhirnya dimulai.


 Awal yang sebenarnya—dari cerita.






Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...