"Haah... haah... Tenma... Ini, celana dalam yang dipakai Tenma..."
Tsukino tidak menyadari aku membuka pintu, dan asyik mencium celana dalam, boxer-ku. Dengan kedua tangan, dia menempelkan celana dalam ke wajahnya, lalu su~, menarik napas dalam-dalam.
"Haaah... Celana dalam Tenma... baunya enak..."
Ya, aneh, kan? Ini aneh, kan?
Kenapa Tsukino melakukan hal seperti ini? Kenapa perempuan menyusup ke kamar cowok dan mencium aroma celana dalamnya?
Itu juga, si Tsukino yang benci cowok. Aku mengingat Tsukino yang ada dalam ingatanku sambil melihat pemandangan di depan mata.
"Bisa gak gak usah berisik bicara hal bodoh? Menjijikkan, tau~?"
"Ehe, ehehe... Baunya Tenma... Aku gak tahan lagi..."
"Nyebelin. Jangan lihat aku? Kalau aku hamil gimana?"
"Kunka kunka... Suhaa suhaa... Hebat... baunya yang sangat enak..."
"Hah? Mendengar itu mau apa? Jijik tau."
"Haah haah... Tenmaaa... Biarkan aku mencium lebih banyak..."
Gak, situasi apa sebenarnya ini!? Sama sekali gak bisa dibayangkan!
Ekspresinya meleleh dalam keadaan lemah dan tak sadar. Napasnya kasar, pipinya merah padam, dan tatapannya yang biasanya tajam dan dingin, telah dipenuhi panas yang mesum.
Benar-benar tidak bisa dimengerti. Kenapa dia begitu bersemangat dengan celana dalamku yang dibencinya? Aku hampir tersapu banjir 'kenapa?'.
Tapi, ada satu hal yang kupahami. Ini, pasti sesuatu yang tidak boleh dilihat.
Dengan satu keinginan untuk melarikan diri, aku mundur diam-diam dari tempat itu.
Tapi karena terlalu gugup, aku kehilangan keseimbangan. Kakiku oleng, dan membentur dinding di belakang dengan suara.
"Ah...!"
"Fue?"
Dengan suara dan suaraku itu, tentu saja Tsukino menoleh ke arah sini. Lalu, menyadari kehadiranku.
"Te... Tenma............!?"
"A... A..."
Tidak bisa, kata-kata tidak keluar dengan baik.
Situasi ini, apa yang harus kulakukan? Baginya, pasti ini situasi yang canggung. Jika aku berada di posisi sebaliknya, level sampai merasa hidupku berakhir.
Pura-pura tidak tahu dan pergi? Tidak, sudah tidak mungkin. Dia sudah tahu kalau aku melihat.
Sekarang tidak ada yang bisa kulakukan. Selain menunggu reaksinya.
"Nee, kau... Melihat, kan?"
Dia menjatuhkan celana dalam yang digenggamnya, dan menatapku dengan mata hampir menangis.
"Ti, tidak... Itu..."
Tidak bisa bilang melihat atau tidak melihat, aku sebentar kehabisan kata.
Tapi, di sini harus diselesaikan dengan baik. Untukku, dan juga untuk kedamaian Tsukino.
"Ma, maaf Tsukino! Aku salah! Tapi tenang? Aku tidak akan bilang pada siapa pun tentang hal tadi! Atau lebih tepatnya, akan segera kulupakan!"
"Begitu... Ternyata, kau melihat?"
Dia mendekat ke sini yura~. Wajahnya menunduk, sehingga ekspresinya tidak terlihat.
...Hm? Ini, bahaya? Tsukino, berniat menghilangkanku?
Orang yang mengetahui rahasia, dihilangkan untuk tutup mulut. Alur yang terlalu umum. Apa mungkin, aku juga akan dibunuh?
Saat aku merasa takut, Tsukino mendekat tepat di depanku. Lalu mengulurkan kedua tangannya ke arahku.
"Wah! Berhenti─────!"
"Tenma───────!"
Tsukino menerjangku, dan langsung memelukku erat. Eh? Memeluk?
"Tsu, Tsukino...?"
Yang dilakukan Tsukino bukanlah serangan, tapi pelukan. Dia menempel padaku yang seharusnya dibencinya, dan menggesekkan pipinya di dadaku surisuri. Sensasi dada yang lembut ditekan pada perutku.
"Haah haah...! Tenma asli, baunya enak...!"
Tsukino, di dadaku, menarik napas dalam-dalam berkali-kali. Apa? Apa ini dia mencium aromaku?
"Hey, hey... Tsukino? Dari tadi serius, ngapain...?"
"Soalnya... Tenma yang salah...? Membuatku, menjadi seperti ini...!"
Eh? Aku yang salah? Apa maksudnya? Kenapa ini jadi kesalahanku?
"Karena ciuman gak langsung dengan Tenma, jadi merasa aneh...? Jadi, tanggung jawab yang benar. Karena segini, masih belum cukup."
Apa yang dia bicarakan!? Aku benar-benar tidak mengerti situasinya! Kenapa bau celana dalam ku dicium, lalu dipeluk seperti ini? Itu juga oleh Tsukino yang seharusnya benci cowok!
Di tengah kebingunganku, Tsukino mengulurkan kedua tangannya ke sekitar pinggangku. Lalu meletakkan tangannya pada celanaku, dan mencoba melepasnya sekaligus GYAAAAAAAAAAAAAH!?
"Hei, Tsukino! He-hentikan! Serius tolong hentikan!"
"Sebagai hukuman... celana dalam Tenma, berikan padaku?"
"Jangan! Gak boleh! Lepaskan tangannnuu!"
Apa-apaan dia! Dia ngapain sih!!
Kenapa aku diserang oleh perempuan!? Dan lagi Tsukino, bukannya benci cowok!?
Refleks, aku menjauh dari Tsukino, melindungi celanaku dari tangan iblisnya.
"Kenapa lari? Apa mungkin, tidak boleh gratis...?"
Tsukino berpikir sebentar, lalu menatapku dengan mata basah,
"Kalau begitu...... Aku tukar dengan celanaku?"
Dia menawarkan tukar celana dalam.
"Apaaa...!?"
"Tenma, tunggu sebentar, ya? Nn..."
Berkata demikian, Tsukino mengangkat roknya, dan memasukkan kedua ibu jarinya ke celana dalamnya. Sekilas, pahanya yang berisi masuk ke pandanganku.
Lalu, shurutt dia melepas celana dalamnya.
"Tsukino─────────!?"
"Kuberikan celana dalamku... sebagai gantinya berikan celana dalam Tenma?"
Tsukino mengambil celana dalam putih bersih yang baru saja dilepas, dan membentangkannya ke arahku seperti bermain ayatori. Celana dalam yang baru saja menyentuh bagian mesumnya. Celana dalam yang terasa hangatnya.
"Nee, Tenma. Cepat lepas...? Aku ingin... celana dalam Tenma..."
Apa, kau mengatakannya dengan wajah serius?
"Hanya celana dalam tidak cukup? Kalau begitu... aku beri bra juga..."
"Tidak, bukan masalah itu! Aku gak bisa memberikan celana dalam pada orang!"
"Sudah! Jangan banyak maunya! Kalau gitu, gak ada pilihan selain merebut dengan paksa...?"
Ya, aneh aku yang dimarahi? Dan lagi, Tsukino. Matanya menakutkan.
Aku bersiap karena firasat buruk, tapi saat itu sudah terlambat. Tsukino mengambil lenganku, dan saat sadar, aku sudah didorong ke tempat tidur.
"Ehehe... Tenma, celana dalam seperti apa yang dipakai sekarang...?"
Tsukino meletakkan tangannya pada celanaku, gugu, dan memberikan tenaga ke bawah.
STOOOOP! NOOOO! Tolooong, seseorang bantu─────!
"Tunggu Tsukino! Serius jangan terburu-buru!"
"Jangan melawan...? Ini akan cepat selesai."
Semakin kasar napasnya, Tsukino mencoba melepas celanaku. Nggak berhenti... Dia, sama sekali gak berhenti!
"Hei, Tsukino! Kau kenapa sih!? Kau pasti bukan karakter seperti itu!"
"Cepat tunjukkan! Celana dalam Tenma!"
Tidak mendengarkan ucapanku, Tsukino terus menarik celanaku ke bawah.
Lalu, akhirnya celanaku melayang di udara.
"Wah... Celana dalam yang imut...?"
"TIDA────────K!"
TOLONG! SESEORANG──────────!
BAHAYA, ini! Celana dalam dilihat perempuan, rasanya sangat memalukan sampai mati!
"Kalau begitu, Tenma. ............ Aku lepaskan celana dalamnya juga?"
"Ah, hei! Jangan! Lebih dari itu──"
Tsukino tanpa ragu-ragu meletakkan tangannya pada celana dalamku.
Saat itu──
"Tenma-senpai~. Ada waktu sebentar~?"
Suara Karin terdengar dari koridor.
Sesaat, ekspresi Tsukino berubah. Wajah seperti menyadari sesuatu, seperti kesurupan. Wajah itu terlihat seperti ekspresinya yang biasa.
"............!"
Tsukino segera membuka jendela kamar. Lalu melalui balkon di depannya, dia melarikan diri ke kamarnya.
Lalu, Karin datang ke kamarku.
"Senpai, kerjakan PR Karin~♪ ...... Kamu ngapain?"
Melihatku berbaring di tempat tidur dengan celana yang terlepas, Karin membuat wajah heran.
"Beneran dah... ngapain, ya...?"
Dengan suara lemah, aku membalas seperti itu.
※ ※ ※
"Nee, Tenma~. Ayo lakukan hal baik bersamaku?"
Tak sengaja sadar, entah kenapa Tsukino ada di depanku.
Dia berada di atasku yang berbaring di tempat tidur dalam posisi duduk di atas pelana, dan matanya tertuju lurus pada tubuh bagian bawahku. Bukan wajah tanpa ekspresi seperti biasa, tapi ekspresi seperti mabuk.
"A, ah..."
Lalu, entah kenapa tubuhku tidak bisa bergerak. Seperti diikat dengan tali emas, aku tidak bisa melarikan diri dari atas tempat tidur. Dan juga, yang kupakai hanya sehelai celana dalam.
"Jangan takut? Ini akan cepat selesai. Hanya mengambil celana dalam."
Memanfaatkan celah yang tidak bisa melawan, Tsukino meletakkan kedua tangannya dengan lembut pada tubuh bagian bawahku. Nada suaranya juga, entah kenapa lebih lembut dari biasanya.
Lalu dia memegang ujung celana dalamku.
"A, a...!"
Aku berusaha menghentikan Tsukino, tapi tetap tidak bisa bergerak sedikit pun. Ditambah suara juga tidak keluar dengan baik, tidak ada cara untuk melawan.
Dia tetap memegang celana dalamku yang dijepit jarinya, perlahan mencoba menariknya ke bawah──
"A, ja, janga────"
Tooooolooong hentikaaaaaaaaaaaaaaaaaan!
Teriakan minta tolongku sia-sia menghilang ke angkasa──.
※ ※ ※
Saat celana dalamku akan dilepas Tsukino, aku terbangun di atas tempat tidur.
"Haah... haah... Bagus... Mimpi..."
Aku memastikan tanggal hari ini dengan jam yang diletakkan di atas tempat tidur, dan lega dengan realitas setelah bangun.
Tapi, pagi Minggu yang biasanya menyenangkan, menjadi rusak karena mimpi tadi. Aku berkeringat deras, dan celana dalamku basah kuyup. ──Ah! Celana dalam!
"............ Bagus. Celana dalam tidak dicuri."
Setelah memastikan isi celanaku, pakaian dalamku aman. Untungnya, bukan mimpi yang menjadi kenyataan.
"Tapi...... Apa itu kemarin...?"
Karena mimpi, aku mengingat kejadian saat itu.
Tsukino yang seharusnya benci cowok, menyusup ke kamar ini dan mencium aroma celana dalam. Ditambah, mencoba menyerangku... Masih gak bisa dipercaya.
"Tidak, salah... Pasti, itu juga mimpi buruk. Semuanya adalah khayalan yang kulihat."
Jadi, cepat lupakan.
Setelah ragu-ragu, aku memutuskan demikian. Tsukino itu, tidak mungkin menyerang cowok secara seksual. Itu adalah fiksi yang dibuat oleh mimpiku. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jinguji Tsukino yang asli.
Sambil mengubur semuanya dalam kegelapan pelupaan, aku tak sengaja melihat samping tempat tidur.
Di sana, berdiri Tsukino. Dengan bantal persegi diacungkan tinggi.
"Lupakan─────────────────!"
"Waaah!?"
Bantal itu diayunkan ke arah wajahku. Dengan reflek aku melompat dari tempat tidur, menghindari serangannya.
"Tsukino!? Tiba-tiba ngapain sih!?"
"Lupakan apa yang kau lihat kemarin! Atau lebih baik, biar aku yang membuatmu lupa!"
Dia mengacungkan bantalnya lagi, bersiap menyerangku.
Hmm. Hal kemarin yang dia maksud, apa saat dia menyerangku, hm?
Bahkan tanpa disuruh, aku sudah berusaha melupakannya! Aku sudah berusaha menganggapnya sebagai mimpi!
Justru karena Tsukino yang muncul, itu membuktikan bahwa itu nyata.
"Bersiaplah...... Aku akan membuatmu lupa, bahkan dengan memukulmu jika perlu......"
Dengan sorot mata yang bisa membuat anak kecil menangis ketakutan, Tsukino menatapku. Ini bukan ekspresi gadis biasa. Apa dia dibesarkan oleh geng atau apa?
"Hei, tenang dong! Kumohon! Hentikan kekerasan di dalam rumah!"
"Haah...... haah...... haah...... haah......"
Napas Tsukino yang terengah-engah, berbeda dengan kemarin. Hewan buas paling ganas pun mungkin tidak seperti ini.
"Haa... haa... haah haah... Tenmaaa......"
Eh...? Apa suasana berubah?
"Tenmaaa...... haah haah...... Tenma, Tenmaaa!"
"Oi oi tenang! Jangan buat ekspresi mesum seperti itu!"
Merasakan aura yang sama seperti kemarin, aku segera menjauh dari Tsukino.
"Ha...! Jangan ajak bicara! Si cabul!"
"Tidak, justru kau! Yang cabul itu pasti kau!"
Aku tidak mau dibilang cabul oleh seseorang yang mengobrak-abrik celana dalam orang.
Ah, tidak. Sekarang bukan waktunya bertengkar. Ada terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan.
"Ngomong-ngomong, dari kemarin sampai sekarang... Apa yang sebenarnya terjadi, Tsukino?"
Terutama amukannya kemarin, jelas itu bukan hal biasa. Aku penasaran apa itu.
Saat kuajukan pertanyaanku, Tsukino menggigit bibirnya "~~~!" dan terlihat sangat enggan bicara. Tapi sepertinya dia sadar dia harus mengatakannya, perlahan dia membuka mulutnya.
"............ ini."
"Eh...?"
Tidak bisa mendengarnya dengan jelas, aku mendekatkan telingaku ke dekatnya.
"............ sebenarnya, ini."
"Apa...?"
Masih tidak bisa mendengar, aku mendekat lebih lagi.
"Aku, sebenarnya, sangat mesum!!"
"Ugyapaa!?"
Telingaku! Telingaku ditinju oleh suara yang mengguntur!
"Aku, kalau disentuh laki-laki, atau dilihatkan bagian yang tidak tertutupi, lalu jadi sadar akan lawan jenis... Itu... jadi perasaan aneh... Dan lagi... tidak bisa dikendalikan......"
Wajahnya memerah hingga ke telinga, Tsukino berbicara dengan terbata-bata.
"Intinya... kalau memikirkan hal-hal mesum, aku jadi lupa diri dan menggila... Apa ini kebiasaan birahi...?"
O, oooh......
Jadi, itu dia? Jadi gadis ini, tipe yang tidak bisa menahan hasrat seksualnya meskipun merasa itu berbahaya?
Oi oi oi... Apa ini, Hajime-san! Apa maksudmu 'Anak-anakku dibesarkan menjadi wanita terhormat'!? Di mana sisi terhormatnya ini!? Ini cuma wanita cabul biasa!
"Yang kemarin juga, karena itu... Karena kemarin kamu menggunakan gelasku, jadi seperti indirect kiss, kan...? Karena itu, aku jadi merasa aneh......"
Begitu rupanya. Jadi saat itu Tsukino sedang birahi. Karena itulah dia mengobrak-abrik celanaku. Dan tadi, karena aku terlalu dekat, dia nyaris tidak bisa mengendalikan diri.
Tapi, dia bisa birahi hanya karena hal seperti itu...? Ambang batas untuk menyadari hal mesumnya rendah sekali!
"Jangan-jangan... selama ini menjaga jarak dari laki-laki juga..."
"Untuk menjaga rahasia ini... Ah, sudahlah! Sial! Benar-benar sial! Pada akhirnya ketahuan juga! Makanya aku tidak suka tinggal serumah!"
Sikap ketat Tsukino terhadap laki-laki ternyata sengaja untuk menjauhkan diri dari pria dan menjaga rahasianya...
"Jadi! Satu peringatan untukmu!"
Dengan gerakan tegas, Tsukino menunjukku.
"Selama di rumah ini, jangan mendekatiku sembarangan! Jangan masuk ke bidang pandangku! Jangan menghirup udara yang sama!"
"Tidak, permintaannya terlalu semena-mena! Setidaknya biarkan aku menghirup udara!"
"Pokoknya! Kalau kita hidup bersama, kamu harus hidup dengan hati-hati agar aku tidak menjadi seperti itu! Kalau tidak............ aku akan mendorongmu lagi."
Itu sangat merepotkan. Karena yang kemarin, benar-benar menakutkan.
"Dan, jangan beri tahu siapa pun tentang hal ini... Terutama, pada Yuki-nee dan Karin..."
"Eh...? Apa mereka berdua tidak tahu tentang ini?"
"Tentu saja! Masak aku bisa memberi tahu mereka tentang fetish seperti ini!?"
Memang fetish yang begitu mengejutkan ini, pasti akan disembunyikan mati-matian bahkan dari keluarga.
"Jadi, oke? Simpan rahasia ini. Kalau tidak, aku akan benar-benar minta Papa mengusirmu!?"
Setelah mengucapkan semuanya sekaligus, Tsukino berlari keluar dari kamar dengan suara berdebuk.
Tapi...... Tak kusangka Tsukino yang itu ternyata orang cabul.
Tapi, kalau begitu, bisa kumengerti kenapa dia bersikap buruk pada pria. Tsukino itu cantik. Kalau tidak bersikap seperti itu, pasti banyak pria yang akan mendekatinya.
Pasti dia, selama memiliki fetish itu, tidak akan mendekati pria atas kemauannya sendiri.
Hm? Tunggu? Itu bahaya, kan?
Berdasarkan perjanjianku dengan Hajime-san, kalau dia tidak bisa berinteraksi dengan pria tanpa masalah, bukannya utangku tidak akan dilunasi...?
"Eh? Apa ini, hidupku sudah tamat?"
Sendirian di kamar setelah kepergian Tsukino, aku diam-diam putus asa.
※ ※ ※
Sungguh, apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini...?
Dengan fetish seperti itu, mustahil Tsukino bisa berinteraksi dengan pria.
Dan jika Tsukino birahi lagi dan menyerangku... Lalu jika situasi itu dilihat Hajime-san, aku akan langsung dipecat.
Pertama-tama, apa Hajime-san tahu tentang fetish Tsukino? Sepertinya tidak. Tsukino juga terlihat menyembunyikannya, dan kalau tahu, rasanya dia tidak akan mengirimku ke rumah ini.
Kalau begitu, bagaimana harus menghadapi Tsukino? Bagaimana harus berinteraksi dengan Tsukino yang memiliki fetish seperti itu?
Masalah seperti ini, meskipun aku juara kelas, selalu mendapat nilai seratus dalam setiap ujian, bahkan ditakuti karena dianggap aneh, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
Sambil memutar otak sepenuhnya, aku turun ke lantai satu.
Setelah dipikir-pikir, aku jadi lapar. Untuk sementara, mari buat sesuatu untuk dimakan.
Begitu pikirku sambil menuju dapur, di sana berdiri Yukine-san.
"Yukine-san, selamat pagi."
"Ah, Tenma-kun. Sudah bangun?"
Yukine-san menatapku dengan wajah terkejut. Lalu,
"Bangun sendiri! Hebat hebat~"
"Mmgh!?"
Dia mendekapku erat, menyambut wajahku dengan dada besarnya. Kelembutan dan elastisitas seperti mochi yang baru dibuat membungkus wajahku. Tangan yang mengelus kepalaku dipenuhi dengan kelembutan yang hati-hati.
"Bagus bagus, Tenma-kun hebat ya~. Tapi gakpapa tau? Tidur lebih lama juga boleh. Aku yang akan membangunkanmu."
"Ti, tidak... Aku merasa tidak enak kalau dibangunkan setiap pagi..."
"Tidak apa-apa. Aku akan merawatmu seumur hidup, Tenma-kun♪"
Ga, gak boleh... Aku benar-benar akan rusak kalau bersama orang ini. Keibuan. Keibuan yang luar biasa. Bukankah dia sudah menjadi istri yang sempurna?
"Ah, iya. Makanan sudah siap, mau makan?"
"Ah, ya. Terima kasih."
Diundang, aku duduk di seberang Yukine-san.
Menu hari ini adalah roti panggang mentega, sup jagung, sosis, serta salad tomat dan selada.
"Semoga cocok dengan selera Tenma-kun."
"Pasti cocok. Dari melihatnya saja sudah kelihatan enak."
Aku menggunakan garpu yang sudah disediakan, menyuap sosis ke mulut.
"Bagaimana, Tenma-kun? Enak?"
"Ya! Sangat enak!"
"Syukur deh~. Kalau gitu, makanlah yang banyak, ya?"
Yukine-san tersenyum-senyum menatapku makan. Rasanya agak malu.
"Huhu. Tenma-kun, hebat ya~ mengunyah dengan baik."
Luar biasa orang ini. Hanya karena makan saja dia memujiku habis-habisan. Sepertinya sebentar lagi dia akan bilang, "Hee, hebat ya bisa napas!"
Sambil dipuji Yukine-san, aku menghabiskan makananku dalam sekejap.
"Nee, Tenma-kun. Apa ada yang ingin kau lakukan bersamaku setelah ini?"
Setelah makan, Yukine-san menanyakan sambil menopang pipinya dengan tangan.
"Aku akan melakukan apa pun untukmu. Mau main bersama? Atau mau aku kerjakan PR-mu?"
"Tidak, tidak usah repot-repot... Lagipula, PR harusnya dikerjakan sendiri."
"Sudahlah~. Kan kubilang? Tenma-kun tidak perlu melakukan apa-apa. Karena kamu adalah suamiku."
Yukine-san menunjukkan senyuman penuh kasih sayang.
"Kau bisa lebih banyak memanfaatkanku, lho?"
Ugh, gimana bisa... Betapa lembut hatinya...!
Pasti dia, sebagai bagian dari pelajaran menjadi istri, berusaha sepenuh hati untuk melayaniku.
Yukine-san adalah putri tertua keluarga Jinguji. Karena itu, di antara ketiganya, dialah yang paling menanggung tekanan sebagai putri Jinguji. Itulah sebabnya dia menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat.
Sebagai diriku, aku ingin membalas perasaannya.
Memang dari sudut pandang posisiku, sebaiknya tidak terlalu akrab dengannya. Tapi melihat usahanya, aku merasa harus membantunya semampuku. Aku ingin dia bisa melakukan simulasi kehidupan bersama dengan baik agar tidak kesulitan saat menikah nanti. Perasaan itu yang akhirnya menang.
Aku memikirkan hal-hal yang mungkin dilakukan bersama oleh pria dan wanita dalam kehidupan pernikahan. Lalu, kukatakan pada Yukine-san.
"Kalau begitu... Mau pergi ke luar bersama?"
※ ※ ※
Setelah itu, aku dan Yukine-san pergi ke pusat perbelanjaan dekat sini, berdua.
Aku mengajaknya sebagai bagian dari simulasi, berpikir bahwa setelah menikah pasti akan ada saatnya pergi berdua seperti ini.
Kami berada di area makanan. Dia bilang ingin membeli bahan makanan, jadi aku menemaninya.
"Nee, Tenma-kun. Untuk makan malam nanti, mau apa?"
"Um... Gimana ya......"
Jujur saja aku tidak masalah, tapi jawaban seperti itu pasti akan menyulitkan Yukine-san. Aku berpikir apa ada ide.
"Pagi tadi makanan Western... Bagaimana dengan Chinese?"
"Uhm, bagus. Kalau gitu, ayo kita pilih itu."
Yukine-san menjawab sambil tersenyum pada saranku.
"Huhu. Kalau begini, rasanya seperti suami istri beneran~."
"Ya, ya... Memang begitu."
Seperti kata Yukine-san, situasi 'pria wanita membeli bahan makanan berdua' terasa sangat seperti suami istri. Atau lebih tepatnya, secara pribadi seperti pengantin baru.
"Ngomong-ngomong, Tenma-kun juga bisa masak, kan? Lain kali mau masak sesuatu bersama?"
"Tidak, aku hanya bisa masak yang sederhana? Hanya sedikit masak untuk adikku. Tidak sepandai Yukine-san..."
"Tapi itu sudah hebat lho~. Demi adikmu, Tenma-kun memang hebat~."
"Ter, terima kasih......"
Yukine-san selalu memujiku jika ada kesempatan, sampai aku merasa malu.
Bicara tentang adik, si Aoi itu. Apa dia baik-baik saja tanpaku...? Kupikir dia pasti bisa mengatasinya, tapi jadi agak khawatir.
Sepertinya, bukan hanya aku yang memikirkannya.
"Ngomong-ngomong... Apa sebaiknya kita ajak Tsukino-chan dan Karin-chan juga? Mereka berdua juga calon istri Tenma-kun yang penting, kan?"
"Ah~, memang... Mungkin lebih baik begitu untuk pekerjaan......"
Ngomong-ngomong, sepertinya Tsukino mengurung diri di kamarnya setelah memperingatiku. Mungkin untuk menghindariku. Aku belum melihat Karin hari ini, mungkin masih tidur. Katanya dia tipe yang cukup berantakan.
"Nee, Tenma-kun... Dari sudut pandang pria, bagaimana pendapatmu tentang mereka berdua?"
"Eh?"
Yukine-san menatapku dengan mata penuh kekhawatiran.
"Karin-chan dan Tsukino-chan. Karin-chan manja, dan Tsukino-chan menghindari pria, kan? Jadi, aku khawatir apakah mereka bisa menikah dengan baik nanti..."
"Ahh~......"
Memang, melihat mereka berdua, wajar merasa sedikit khawatir.
Terutama Tsukino, karena fetish-nya dia menjauhkan diri dari semua pria. Rasanya mustahil dia bisa menikah.
"Pada akhirnya mereka berdua harus menikah dengan keluarga terpandang, jadi aku khawatir... Makanya, Tenma-kun, tolong ajari mereka berdua tentang pria, ya? Agar mereka bisa hidup dengan pria yang baik di masa depan."
"Tentu saja. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa."
Sikapnya yang mengkhawatirkan adik-adiknya terasa sangat seperti Yukine-san.
Dia sudah menjadi calon istri ideal pria: lembut, cantik, dan polos. Hanya untuknya, pelajaran menjadi pengantin tidak diperlukan. Gadis cantik yang suka melayani seperti ini, pasti akan baik-baik saja dengan pria mana pun. Itu terbukti dari sikapnya padaku dan adik-adikknya.
Lalu, tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul. Apa Yukine-san tahu tentang fetish Tsukino?
Aku ingin menanyakannya langsung. Tapi, jika dia tidak tahu, membicarakan topik ini akan membongkar rahasia Tsukino. Memikirkan itu, aku tidak bisa menanyakannya dengan mudah.
Pada akhirnya aku tidak menyentuh masalah itu, dan setelah mengobrol santai, kami menyelesaikan belanja dan keluar toko.
Di dalam tas yang kubawa, ada bahan-bahan Chinese seperti daging tumis pedas (huiguorou) dan tahu balado (mapo doufu).
"Tenma-kun, hebat sekali kuat membawa banyak. Bagus bagus."
Yukine-san berjalan di sampingku sambil mengelus kepalaku.
"Tapi, benar-benar gak apa-apa? Aku juga bawa satu..."
"Tidak apa-apa, cuman segini aja."
Aku tidak bisa membiarkan wanita melakukan pekerjaan berat. Aku tetap membawa barang-barang itu dan berjalan menuju rumah.
"Nee, Tenma-kun. Selain belanja, mau lakukan sesuatu bersama?"
Tiba-tiba Yukine-san berkata begitu.
"Eh?"
"Karena, kan kita sedang berdua? Tenma-kun, tidak ada lagi yang ingin dilakukan bersamaku?"
Dia menatapku dari bawah. Lalu mendekap lenganku, menekankan payudara besarnya yang luar biasa.
Eh?
"Tung, Yukine-san...!? Itu... da-dadamu......"
"Tidak apa-apa...? Karena aku sengaja melakukannya."
Sengaja!?
"Hal yang agak mesum juga boleh...? Apa ada yang ingin kau lakukan bersamaku?"
Gak, gak! Tunggu sebentar! Bukannya ini terlalu berani!?
Betapapun antusiasnya dia dengan kehidupan ini, biasanya dia tidak akan melakukan hal seperti ini pada pria yang baru dikenalnya... Tapi, kenapa dia begitu menempel padaku? Kalau dilihat Hajime-san, pasti langsung dipecat!
Saat pertanyaan itu muncul, ada sensasi dingin di hidungku.
"Hm...?"
Melihat ke atas, langit yang tadinya cerah sekarang sudah tertutup awan.
Kemudian, hujan turun dengan deras.
"Wah... Hujan tiba-tiba..."
"Yah, mau bagaimana... Tenma-kun, ayo kita cepat-cepat pulang."
Kami berdua tidak membawa payung, dan tidak ada tempat untuk berteduh.
Terpaksa, kami memutuskan untuk berlari pulang ke rumah sambil kehujanan.
※ ※ ※
Tepat saat kami tiba di depan rumah, hujan mereda dan berhenti.
Saat itu, kami sudah basah kuyup.
"Ehehe... Cukup basah, ya...?"
Sambil menyembunyikan tubuhnya, Yukine-san berkata dengan malu-malu. Kemeja basahnya menempel pada payudara besarnya, menciptakan daya hancur yang merusak.
"Emm... Sebaiknya ganti baju? Kalau terus begini bisa masuk angin..."
"Uhm, baiklah. Tenma-kun juga cepat ganti baju, ya?"
Berkata begitu, Yukine-san menuju kamarnya sambil menyembunyikan tubuhnya. Dari langkahnya yang cepat, bisa dilihat dia sedang malu.
Aku juga ingin mengganti setidaknya jaketku, tapi ada bahan makanan yang segar. Aku pindah ke dapur dulu untuk menyimpannya di kulkas.
"...Eh?"
Lalu, di sebelah wastafel, kutemukan sebuah buku. Itu adalah buku resep masakan, dan di sampulnya ada foto makanan yang kami makan pagi ini. Kalau begitu, ini milik Yukine-san. Sepertinya dia lupa meninggalkannya di sini setelah memasak.
Setelah menyimpan bahan makanan di kulkas, sambil menuju kamarku, aku pergi ke kamar Yukine-san membawa buku itu. Kamarnya adalah kamar pertama setelah naik tangga.
Di pintu kamarnya terpasang plakat. Sepertinya dia membalik plakatnya saat berganti pakaian atau belajar.
Dan sekarang sisi yang menunjukkan 'Boleh Masuk'. Sepertinya dia sudah selesai berganti pakaian.
Berpikir begitu, kubuka pintu kamar Yukine-san sambil memanggil.
"Yukine saan. Bisa bicara sebentar?"
"Eh......?"
Yukine-san menatap ke arahku yang memasuki kamarnya.
Dalam keadaan tanpa atasan, dan tubuhnya terikat shibari gaya kikko (cangkang kura-kura).
" "
Karena situasi yang terlalu mengejutkan, kepalaku menjadi kosong.
Yukine-san dalam keadaan berpakaian dalam, tubuhnya diikat dengan tali.
Yah. Aku tidak mengerti. Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin mengerti.
Dilihat dari situasinya, dia sedang dalam proses berganti pakaian. Pakaian basah yang tadi dikenakannya berantakan di lantai. Mungkin, dia baru saja melepas pakaiannya.
Artinya, tali yang mengikat tubuhnya sudah dipakai dari awal. Jadi, dia keluar rumah dalam keadaan terikat shibari kikko.
Eh? Apa-apaan ini? Sebenarnya apa ini?
"A...... a............"
Matanya perlahan membelalak, pipinya memerah. Matanya juga mulai berbinar-binar.
"Kenapa...? Plakat pintu..."
"Tidak, itu... Tadi menunjukkan sisi 'Boleh Masuk'..."
Dari reaksinya, sepertinya dia tidak sengaja lupa membalik plakatnya.
"Ga, gak mungkin...? Ketahuan Tenma-kun...? Keadaan seperti ini, oleh Tenma-kun... tidak......"
Yukine-san membuat suaranya gemetar seperti hampir menangis.
Wajar sih. Mana ada cewek yang tidak malu dilihat dalam keadaan seperti ini oleh cowok--
"Keadaan seperti ini... keadaan seperti ini... bikin merangsang!"
Dengan wajah imutnya, dia bilang apa barusan...?
Karena kalimat yang tak terduga, aku tertegun dan tanpa sengaja menjatuhkan buku masak yang kubawa. Lalu sampul bukunya terlepas, memperlihatkan sampul asli di dalamnya.
'Bisa Dilakukan Sendiri! Cara Bermain Shibari Kikko!'
Buku dengan judul yang sangat sesuatu itu, disamarkan dengan sampul buku masak.
"............"
Ini... sudah pasti. Orang ini, benar-benar orang 'itu'.
Yukine-san membuat ekspresi sangat mesum sambil menggigil karena bergairah. Dan karena diikat shibari kikko, payudaranya yang sudah besar jadi semakin menonjol.
"A, ano... Yukine-san. Kenapa melakukan hal seperti ini......?"
Menanyakan ini menakutkan, tapi lebih tidak suka jika situasi ini berlanjut. Dengan berani aku menantangnya.
"Emm... Tenma-kun, kamu tidak akan mundur kalau dengar, kan?"
Mungkin, tidak apa-apa. Karena, aku sudah mundur.
"Sebenarnya... aku, benar-benar sangat... Masokis..."
Ah, gimana... Gimana bisa begini...
Setelah Tsukino, ternyata Yukine-san juga memiliki fetish khusus.
"Kalau diperintah atau diikat oleh seseorang, jadi sangat, begini... terangsang. Makanya kadang-kadang, aku mengikat tubuhku sendiri... Dan juga, melayani Tenma-kun juga karena itu..."
Eh, kenapa namaku disebut? Gak mau. Bahaya. Agak menakutkan.
"Saat tahu akan tinggal bersama Tenma-kun, aku sangat senang! Akhirnya aku bisa melayani pria. Seperti budak dalam buku-buku itu, aku bisa melayani dengan hal-hal mesum."
Luar biasa, orang ini. Dengan santai mengucapkan kata-kata berbahaya.
Atau, benarkah? Jangan-jangan, semua perlakuan manjanya padaku, semua pelayanannya padaku, semuanya karena fetish? Dia senang hati melayaniku dalam hatinya...!
"Awal rencananya, aku akan menikmati ini diam-diam tanpa memberi tahu Tenma-kun. Wajar, kan? Kalau diberi tahu pasti akan dibenci, dan aku sembunyikan dari adik-adikku juga. Tapi, kalau sudah ketahuan, mau bagaimana lagi...? Kalau sudah begini, bagaimana kalau Tenma-kun menemaniku sepenuhnya?"
Pada diriku yang terguncang, dia tersenyum. Eh, kenapa? Kenapa mendekat ke sini?
"Nee, Tenma-kun. Tenma-kun suka dimanja, kan?"
"Eh, eh......?"
Saat aku waspada dan tidak bisa menyangkal, Yukine-san memegang kedua tanganku, dan dengan wajah berseri berkata:
"Aku akan selalu memanjakan Tenma-kun. Jadi... jadikan aku budakmu!"
"Haaah!?"
Permintaan aneh itu keluar tiba-tiba.
"Lagi pula, Tenma-kun senang dilayani, dan aku senang disuruh oleh Tenma-kun? Bukankah itu hubungan yang saling menguntungkan?"
"Gak, gak mungkin! Aku gak mau!"
Aku tidak memiliki fetish khusus yang senang menjadikan gadis sebagai budak. Jadi, dengan tegas kutolak.
Tapi--
"Aaan~! Ditolak dengan kasar juga membuat bergairah... Tenma-kun, ada bakat jadi S, ya?"
"Aku gak punya bakat seperti itu! Tolong jangan beri label aneh!"
"Aku, sebagai budak akan melakukan apa pun! Membangunkan dengan pakaian mesum, mengantar dengan pakaian mesum, memasak dengan pakaian mesum."
"Banyak banget mau pakai pakaian mesum!"
"Master! Kasih perintah mesum apa pun pada budak perempuan hina ini!"
"Bahasanya sudah berubah! Pokoknya, aku gak mau!"
"Ah, tunggu! Tenma-kun! Aku gak akan menyerah! Aku pasti akan menjadi budak Tenma-kun!"
Mengabaikan suara Yukine-san, aku kabur dari kamar secepat mungkin.
※ ※ ※
"Haa... haa... Kayaknya, aku lelah..."
Setelah itu, aku keluar dari rumah yang menyembunyikan fetish birahi dan masokis, dan kabur ke taman alam dekat sini.
Tidak hanya Tsukino, ternyata Yukine-san juga memiliki fetish seperti itu... Karena awalnya citranya lembut dan polos, kontrasnya lebih besar daripada saat mengetahui fetish Tsukino. Jujur, aku terkejut.
Dan, ini membuat Yukine-san juga harus dianggap sebagai orang yang perlu diwaspadai seperti Tsukino. Dengan fetish masokis yang masih ada, diragukan apakah dia bisa hidup normal dengan suaminya nanti. Dalam setahun ini, fetishnya juga harus diatasi.
Tapi, bagaimana caranya memperbaiki fetish...?
Bahkan jika dipikir, tidak mungkin tahu. Bagaimana caranya membuat orang yang berusaha melepas celana dalam pria atau keluar rumah dengan shibari kikko menjadi normal? Ini masalah yang terlalu sulit bagiku.
Bingung, aku berjalan tertatih-tatih di taman yang luas. Banyak pohon berjajar, berbagai bunga mekar, tempat ini sepertinya salah satu tempat favorit warga lokal untuk relaksasi. Tapi hatiku sama sekali tidak cerah. Karena keberadaan dua orang cabul.
"Seeenpaai! Lagi ngapain!?"
"!!?"
Tiba-tiba ada suara dari belakang, aku kaget dan menoleh.
"Ka, Karin......?"
"Ehehe. Senpai, lama tidak berjumpa! Terakhir kali kemarin malam, ya?"
Ngomong-ngomong, hari ini aku tidak melihat Karin di rumah. Kukira dia tidur di kamarnya, tapi rupanya tanpa kusadari dia keluar rumah. Dia sedang jalan-jalan mungkin, dengan hanya memakai camisole dan rok mini, pakaian yang cukup santai, dan berjalan tanpa membawa tas.
Aku mundur beberapa langkah, menjaga jarak yang cukup dari Karin.
"Senpai...? Ada apa?"
"Eh!? Ti, tidak... Tidak ada apa-apa?"
Tubuhku bergerak sendiri. Tapi, kurasa itu wajar. Kakak-kakaknya ternyata cabul. Secara reflek aku waspada, jangan-jangan Karin juga begitu.
"Sikapmu aneh... Lagi ngapain di tempat seperti ini?"
"Ah~... Tidak, tidak ngapa-ngapain. Hanya jalan-jalan sebentar..."
"Hmm~? Agak mencurigakan~? Ah! Senpai, jangan-jangan!"
Karin membelalakkan matanya.
"Senpai, sengaja mencari Karin?"
"Eh...? Tidak, bukan begitu..."
"Senpai datang untuk menggendong Karin, ya!?"
"Bukan begitu!"
Si Karin ini, menganggapku seperti tukang jasa atau apa.
"Wai! Kalau gitu bilang dong. Ayo, antar Karin balik~"
"Eh? Hei!"
Karin memegang siku tanganku dengan paksa. Lalu, menyandarkan lengannya erat.
"Hei, Karin... Posisi seperti ini agak..."
"Gak boleh. Karin gak bisa jalan sendiri."
Karin menempel padaku, berbisik dan merengek. Dia ingin kuantar seperti ini.
"Ah. Dan juga, Karin gak bisa bernapas sendiri. Tolong beri napas buatan♪"
"Gak, itu keterlaluan..."
Makhluk seperti itu, lebih baik mati saja.
Dan lagi, keadaan seperti ini di luar berbahaya. Kalau dilihat Hajime-san sedang menempel seperti ini, aku akan langsung dipecat. Aku harus segera melepaskannya--
"Huhu. Seperti kencan, ya?"
"Buh...!?"
Karena ucapan yang tiba-tiba mendalam, jantungku hampir berhenti.
"Senpai Tenma, senang? Disandari gadis imut seperti Karin."
"Jangan bilang diri sendiri imut... Lagipula, aku tidak senang..."
"Ehh? Gak jujur. Boleh lebih senang~?"
Tertawa riang, Karin menarik-narikku. Dasar si kecil ini, kekuatannya lebih dariku. Padahal bisa jalan sendiri.
Atau, kedekatan seperti ini... jangan-jangan dia juga sejenis dengan kedua kakaknya? Apa karena cabul dia melakukan hal seperti ini?
Tidak, tidak baik berprasangka begitu. Mungkin Karin hanya suka manja, terlepas dari hubungan itu.
Tapi perlu waspada. Agar tidak diserang cabul lagi dan dipecat.
"Senpai Tenma, dari tadi kenapa? Kayaknya lagi memikirkan sesuatu."
"Ga, gak apa-apa! Gak ada masalah, uhm!"
Sambil menutupi, aku menatap tubuh Karin. Jika dia cabul, mungkin seperti Yukine-san ada tali melilit tubuhnya, atau ada ciri khas lain. Aku mengamati seluruh tubuhnya, memeriksa apakah ada yang aneh.
"Senpai Tenma... Agak, kebanyakan lihat, hm?"
"Eh?"
Karin menjauh dariku, menatapku dengan mata 'tajam'.
"Dari tadi, terus melihat tubuh Karin, kan...?"
"Eh!? Ah......!"
Sial. Setelah dikatakan, baru sadar. Ini membuatku seperti cabul. Itu juga, jenis yang sangat menjijikkan.
"Dikira Karin gak sadar? Cewek tahu, lho, tatapan seperti itu?"
"So, sorry! Ada keadaan yang mendesak..."
"Alasannya membosankan~."
Berkata begitu, dia kembali menyandarkan lengannya. Lalu sengaja memberikan berat badannya, membuatku sulit berjalan.
"Ini hukuman karena mengamati tubuhku. Gendong Karin pulang~."
"Ugh... Oke... Antar sampai rumah, kan...?"
"Dan, setelah pulang main bersama Karin, ya? Ini juga hukuman untuk Senpai♪"
Berkata begitu, untungnya Karin tidak terlihat terlalu marah.
Agar tidak merusak moodnya, aku mengangguk dan menyetujui permintaannya.
※ ※ ※
Setelah pulang, sesuai janji, aku bermain dengan Karin.
Dia bilang akan ganti baju dulu lalu datang ke kamarku, jadi untuk sementara aku menunggunya sendirian.
Lalu, Karin datang membawa konsol game. Pakaiannya entah kenapa berbeda dengan tadi. Dia memakai tank top dan celana pendek.
"Maaf menunggu, Senpai Tenma. Ayo main game!"
Game yang dibawa Karin adalah game pertarungan populer dengan karakter dari berbagai seri. Aku juga tahu judulnya, tapi karena keluarga miskin, belum pernah memainkannya.
"Aku pemula, gak apa-apa kan? Karin, kayaknya sudah mahir game..."
"Gak apa-apa~. Karin yang akan mengajari. Langkah demi langkah dengan detail♪"
Sedikit nada bicara yang mesum. Sepertinya Karin ingin menggodaku.
"Kalau gitu, tolong siapkan game-nya~."
"Ya ya... Di sini juga manja..."
Menerima konsol dan semacam buku manual dari Karin, aku menghubungkannya ke TV kamar. Apa ini... Pertama sambungkan kabel ini ke sini...
"He~. Kamar Senpai, cukup rapi. Kirain lebih berantakan."
"Lagian ini rumah orang. Tidak baik kalau terlalu berantakan."
Emm, adaptor AC ini disambungkan ke listrik, ya? Lalu...
"Atau, Senpai sederhana, ya? Barang pribadinya hampir tidak ada."
"Karena dari awal keluarga miskin. Tidak bisa beli barang hiburan."
Lalu sambungkan sisi lain kabel ke TV... Oke, sepertinya sudah bisa--
"He~. Begitu ya. Kalau gitu Senpai. Buku ini apa?"
"Eh?"
Ditanya, aku melihat ke arah Karin. Ternyata dia mengangkat sebuah manga.
'Skin Contact dengan Payudara Besar! Pelajaran Mesum☆ dengan Pacar yang Seksi'
"Nuaaaaaaaa kqwsedrftgyfujiko lp@:!?"
Karin yang mengobrak-abrik kamarku menemukan manga dengan ekspos warna kulit yang tinggi.
Buku itu seingatku, adalah milik teman sekelasku yang dibawa ke sekolah. Salah satu dari mereka menyarankannya, dan aku menolak berkali-kali. Tapi tidak kusangka, diam-diam dia memasukkannya ke tasku...
"Bu, bukan seperti itu! Ini teman yang memasukkannya! Bukan barang pribadiku!"
"Ahah☆ Senpai, suka yang seperti ini~. Hentai~."
Melihat gadis berpayudara besar di sampul sambil tersenyum dan menggodaku. Ugh, dia sama sekali gak percaya!
"Sudah kubilang bukan milikku! Pokoknya, berikan buku mesum itu! Itu tidak boleh dilihat di bawah umur!"
"Kalau gitu Senpai juga, kan? ...Wah. Agak, lebih mesum dari yang kuduga..."
"Ja, jangan! Berhenti! Jangan lihat isinya, eeeeeehhhh!"
Dengan kejam Karin membalik halaman, memeriksa isi buku mesum itu. Aku gak tahu isinya apaan, tapi akan dikira itu seleraku...!
Aku mencoba merebut buku itu dengan paksa, tapi dia yang mungil dengan gesit menghindar.
"Wah... Payudara digunakan seperti ini...! Senpai, senang sendiri melihat ini, ya?"
"Bukan milikku! Sungguh! Sungguh bukan! Percayalah!"
Karin tersenyum kecil melihatku yang menyangkal dengan putus asa. Lalu mendekatiku, dan berbisik pelan di telingaku.
".................. mesumnya Senpai."
"Nuaaaaaaaaaaah! Percaya, dong, ooooooh!"
Aaaah, beneran pengen lari! Sekarang juga ingin masuk ke dalam futon dan berteriak "Waaaaaaah!"
"Atau, Senpai. Semua cewek di buku ini, payudaranya besar. Ternyata suka payudara besar~. Segitu ingin meremas payudara?"
"Bu, bukan..."
"Kalau yang kecil juga gak apa-apa, Karin boleh disentuh~."
"Nuaah!?"
"Nyahahah, bercanda☆."
Ini, beneran digoda... Digoda oleh anak yang lebih muda...
"Ahah. Tapi, ternyata cowok lebih suka payudara besar~. ...Hal ini, mau kukasih tahu pada Yukine-oneechan~?"
"!?"
S, si kecil ini... Usulan yang berbahaya!
Mungkin Karin hanya ingin mempermalukanku dengan membocorkan fetish-ku pada Yukine-san yang berpayudara besar. Tapi Yukine-san punya keinginan menjadi budak dan masokis. Kalau tahu aku suka payudara besar, pasti dia akan menggunakan itu dan melayaniku sepenuhnya.
Atau, apakah Karin tahu? Fetish kedua kakaknya...
"Kalau gak mau, kalahkan Karin dalam game. Kalau kalah, sebagai hukuman akan kukatakan."
"Ugh, baiklah..."
Ini harus menang bagaimanapun caranya. Posisiku harus membuat Yukine-san dan yang lain menjadi manusia normal. Aku harus mencegah tindakan cabul mereka.
"Kalau gitu, tiga ronde, ya? Yang menang dua kali dinyatakan menang."
"O, oke... Sesuai keinginanmu...!"
Duduk di depan TV dan memulai game. Kami cepat memilih karakter, mulai bertarung satu lawan satu. Karakter pilihanku adalah tukang ledeng yang selalu menyelamatkan putri. Dan karakter pilihan Karin adalah makhluk kecil bulat, yang dijuluki 'iblis merah muda'.
Pertarungan pertama, karena belum lancar mengoperasikan, kena kombo makhluk bulat itu dan kalah dengan mudah. Tapi di pertarungan kedua aku sudah sedikit paham cara operasinya. Meski kesulitan menghadapi gelombang kejut dan sebagainya, akhirnya berhasil memukul karakter lawan keluar arena dan menang.
"Muu... Senpai, cepat beradaptasi..."
Karin menggigit bibirnya dengan kesal. Skor menjadi satu-satu. Tidak ada jalan mundur lagi.
"Kalau sudah begini... Hiyah!"
"Eh? Wah!"
Tiba-tiba Karin duduk di atas pangkuanku yang sedang bersila. Kenapa!?
"Oi, Karin!? Tiba-tiba ngapain!?"
"Soalnya, lebih mudah main game kalau ada sandaran."
Sepertinya aku menjadi pengganti kursi. Punggungnya yang hangat bersandar padaku. Kepala Karin berada tepat di bawah wajahku, memperlihatkan ubun-ubunnya yang imut. Aroma harum gadis manis tercium, tanpa kusadari konsentrasiku terganggu.
"Ayo, mulai! Tenma-senpai!"
"Gah! Sial!"
Tidak sempat menurunkan Karin, pertarungan ketiga segera dimulai. Karakter yang dioperasikan Karin menghujankan kombo pada karakternya.
"Hiyah! Yah! Dor!"
"Kuh...!"
Ternyata dengan Karin di atas pangkuan, sangat sulit bertarung. Secara berat... dan secara seksual.
Karena, pantat Karin pas dengan selangkanganku. Terlebih lagi, sepertinya dia tipe yang menggerakkan tubuhnya saat main game. Setiap Karin menggerakkan karakternya, tubuhnya bergoyang keras, dan pantat kecilnya menggesek-gesek selangkanganku.
"Ayo, Tenma-senpai! Dor!"
"Guuh......!"
Lem... Lembut banget!
Sensasi kenikmatan indrawi yang langsung menusuk selangkangan, sepenuhnya menguasai otakku.
Gak, gak boleh! Jangan terbawa! Aku tidak boleh jadi cabul!
(Melafalkan Heart Sutra dalam hati: Bodhisattva Avalokiteshvara, dengan melakukan Prajna Paramita yang mendalam...)
Aku mati-matian melafalkan Heart Sutra dalam hati, berusaha menekan gejolak nafsuku.
Tentu saja, dalam keadaan seperti itu tidak mungkin bisa bertanding dengan baik. Karakterku dengan mudah terlempar keluar arena. Pertandingan berakhir dengan cepat.
"Yay, hore! Menang!"
Berdiri dari pangkuanku, Karin mengangkat kedua tangan gembira.
"Nah. Tenma-senpai, hukuman~. Aku akan kasih tahu onee-chan tentang buku mesum~."
"Si, sial..."
Benar... Kalau kalah, akan dibocorkan pada Yukine-san bahwa aku suka payudara besar...
Ini mungkin akan membuat si cabul itu semakin semangat. Memikirkan itu, hatiku jadi berat.
"Yaah. Cuma bercanda, Tenma-senpai."
"Eh?"
"Masa iya dikasih tahu. Aku cuma menggodamu♪"
Karin melonggarkan pipinya sambil tersenyum. Eh...? Bercanda? Benarkah...?
"Ah,... Jangan bikin kaget..."
"Soalnya, kalau ada taruhannya, game jadi lebih seru~."
Karin tertawa tanpa rasa bersalah. Anak ini, benar-benar suka menggodai orang...
Tapi syukur... Karin ternyata gadis yang punya hati nurani.
Aku sempat waspada jangan-jangan dia cabul, tapi melihat senyum polosnya, sepertinya dia hanya gadis biasa yang suka manja dan menggodai, seperti anak kecil.
Kalau dipikir, di antara tiga bersaudari, Karin yang paling normal. Memang kadang terlalu manja, tapi dibandingkan dengan para cabul itu, masih bisa dibilang imut. Syukur dia tidak terpengaruh kedua kakaknya dan tumbuh normal.
"Fuu... Agak jadi serius. Tadi terlalu bersemangat."
Karin mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengipasi tubuhnya yang kepanasan.
Sepertinya dia sangat konsentrasi. Di tubuhnya muncul keringat tipis.
"............Hm?"
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu yang aneh. Tubuhnya... bukan, bajunya ada yang tidak beres. Apa ini... Sablon bajunya kok seperti bergeser...
Penasaran, aku mendekatinya. Lalu, melihat tubuhnya dengan seksama.
──Pakaiannya, meleleh.
"............Hwa?"
Tidak, ini bukan pakaian... Kulihat keringat mengalir di tubuhnya, lalu di sana berwarna kulit. Seperti cat yang mengelupas. Artinya, ini...
Menggambar pakaian di tubuhnya?
"Wuaaah!?"
Karena shock mental yang terlalu besar, aku berteriak dengan suara melengking.
Dia, mungkin tidak pakai baju. Yang kukira pakaian, ternyata cat yang langsung digambar di kulit. Sepertinya dia masih memakai celana dalam dan bra, tapi itu juga dicat sehingga tidak terlihat seperti pakaian dalam.
Apa, apa yang terjadi? Apa yang sedang kulihat?
"...............Eh? Senpai, aku ketahuan?"
Dari reaksiku, sepertinya Karin juga menyadari.
"Ehehe... Ternyata, ketahuan. Rahasia Karin yang sangat memalukan..."
Dia membuat ekspresi tersenyum, dan berkata sambil melihatku.
"Ya? Karin sekarang tidak pakai baju. Ini body paint♪"
Mengumumkan, Karin berputar di tempat.
Pakaiannya──catnya, karena keringat, di beberapa tempat meleleh. Sedikit lembah payudara, pinggang ramping yang agak melengkung. Pantat bawah yang keluar dari celana dalam, hingga paha yang berisi, sedikit terlihat kulitnya.
Tapi dia tidak berusaha menyembunyikan tubuhnya, malah dengan bangga memamerkannya.
"Ahah. Tenma-senpai, melihat tubuh Karin. Padahal Karin, cuma pakai pakaian dalam... Tubuh Karin, terlihat..."
Memeluk tubuhnya sendiri, dia menggigil karena kenikmatan. Yah, sudah ku duga... Entah bagaimana, aku bisa menebak. Soalnya itu. Yang ketiga.
"Sebenarnya, Karin sudah menyembunyikan dari onee-chan... Tapi situasi seperti ini, sangat merangsang! Tubuh sendiri atau penampilan mesum dilihat cowok, atau hampir terlihat..."
Dari mulut mereka selalu keluar kata-kata tidak moral.
Dengan agak segan, kutanyakan padanya.
"Itu... Intinya, exhibitionis, ya...?"
"Jangan bilang begitu. Karin murni hanya ingin diperlihatkan penampilan memalukan pada cowok."
Beneran exhibitionis!
Begitu... Aku pikir hanya Karin, tapi ternyata kau juga ke sana...
Atau, bertiga semua cabul, betapa miripnya saudari ini! Kalau saudari sendiri, meski ketahuan pasti tidak masalah! Malah sepenuhnya teman seperjuangan!
"Dari tadi, sangat sulit menahan diri~. Karin, sebenarnya cuma pakai pakaian dalam, tapi dilihat Senpai, disentuh Senpai... Ahn... Sangat enak♪"
Yah, tolong berhenti. Jangan birahi di sini.
Atau, demi bergairah sampai pakai body paint, betapa rumitnya permainannya. Pertama, dari mana dapat keterampilan itu? Dalam waktu singkat setelah pulang bisa menggambar pakaian di tubuhnya, gimana caranya?
"Um, bersikap manja padaku dengan penampilan seperti itu..."
"Ya. Karena merangsang♪"
Ternyata dia bersikap manja dengan pakaian mesum untuk memamerkannya padaku.
"Dan juga, tadi di luar juga merangsang. Sebenarnya Karin, saat ketemu Tenma-senpai, sedang tidak pakai bra dan celana dalam~?"
Tolong jangan sembarangan membocorkan informasi yang tidak kudengar.
"Haaa... Kalau ingat, jadi merasa terangsang lagi...! Sudah gak bisa! Gak tahan lagi!"
"Ma...!"
Tiba-tiba Karin melepas benteng terakhirnya... bra dan celana dalamnya.
"Oi, oi!?"
Aku segera menutup mata, memalingkan wajah.
Hanya melihat sesaat, tapi sepertinya di bawah pakaian dalamnya tidak dicat. Karena itu warna kulitnya sangat mencolok. Payudaranya yang kecil namun montok, serta bagian bawah tubuhnya yang putih dan cantik, terpateri di retina dan tidak bisa hilang.
Lebih lanjut, dalam keadaan telanjang, dia mendekat ke depanku.
"Haa haa... Senpai, lihat...! Lihat payudara kecil Karin!"
"Ka, Karin, tenang! Jauh dariku! Dan pakai baju sekarang!"
"Gak mau! Yang tahu rahasia Karin, cuma Tenma-senpai! Jadi, Senpai wajib melihat!"
"Gak, gak perlu! Sama sekali gak perlu! Kumohon kembalilah ke kamar dan pakai baju!"
"Jangan sungkan. Senpai juga senang, kan? Bisa melihat tubuh telanjang cewek."
"Diserang cabul tidak ada senangnya! Pokoknya minggir!"
Dan lagi, kalau ada yang melihat pemandangan ini dan salah paham, akan merepotkan. Di rumah ini ada Tsukino dan Yukine-san. Dan, yang paling bermasalah adalah...
"Kalau sampai dilihat Hajime-san, akan jadi masalah besar...!"
"Tidak apa-apa. Papa jarang pulang karena kerja."
'Aku Pulang. Sudah lama tidak pulang~'
Dia pulang, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!
Suara Hajime-san dari pintu masuk. Timing-nya kenapa tepat seperti ini!
'Ah, selamat datang Papa.'
'Lama tidak bertemu~. Hari ini kerja sudah selesai?'
Suara Tsukino dan Yukine-san menyambut ayah mereka juga terdengar dari bawah.
"Be, beneran pulang... INI BERBAHAYA! Karena Senpai bilang hal aneh!"
"Tidak, jangan bilang seperti itu salahku!"
Lalu, sebuah pertanyaan muncul di kepalaku.
"Ne... Apa Hajime-san tahu tentang fetish Karin...?"
"Masa iya tahu! Kalau tahu, mana mungkin mengizinkan Senpai tinggal di rumah ini."
Benar! Sudah kuduga! Pasti dia juga tidak tahu fetish Tsukino dan yang lain!
Kalau tahu, mana mungkin dia bilang mereka 'wanita terhormat'!
Artinya, kalau sampai pemandangan ini dilihat Hajime-san, nyawaku dalam bahaya.
Tidak, bukan hanya aku. Kalau sampai aku dipecat karena itu, nyawa keluargaku juga terancam.
Biaya hidup. Utang. Sepuluh juta. Dalam otakku, beberapa lembar uang sepuluh ribu tumbuh sayap dan terbang.
Kalau aku kehilangan pekerjaan, tidak akan bisa menutupi itu semua, dan keuangan keluarga akan runtuh sekaligus. Terutama utang sebesar itu, mustahil bisa dilunasi tanpa bantuan Hajime-san.
Keluargaku akan terlantar, dan adikku yang manis juga harus bekerja dengan ijazah SMP. Bisa-bisa, bekerja di bisnis hiburan malam--
Aaaaaah! Tidak! Tidak boleh──!
Pokoknya, di sini harus segera mengembalikan Karin ke kamarnya dan menghilangkan bukti. Begitu diputuskan, harus segera──
'Iya. Aku mau bicara dengan Tenma-kun.'
Sebelum aku sempat bertindak, terdengar suara langkah naik tangga.
"SIAL! Dia datang ke sini!"
Kamarku ada di ujung lorong setelah naik tangga. Kalau sekarang mencoba melarikan Karin, kemungkinan terburuk Hajime-san akan melihat Karin telanjang.
"Gi, gimana ini...!? Karin juga gak mau ketahuan orang lain selain Senpai!"
Si cabul pun kali ini panik bukan main.
Body paint-nya sudah terkelupas sepertiga. Kalau Karin sekarang dilihat, tidak mungkin bisa ditutupi. Dan lagi, dia gak pakai bra dan celana dalam!
Sekarang, bagaimana caranya melarikannya...
Seperti yang dilakukan Tsukino dulu, bisa menggunakan balkon untuk pindah ke kamar sebelah. Tapi kalau sampai penampilan Karin dilihat tetangga, itu justru jadi masalah.
'Tenma-kun. Ada di kamar? Aku mau bicara...'
Hajime-san mengetuk kamar. Ini benar-benar kehabisan waktu.
"Kuh...!"
"Awa wa wa wa...! P, PUNCAK! Puncak terbesar dalam sejarah Karin────!"
Karin panik, berlari-lari berputar dalam kamar. Kalau begini, benar-benar akan ketahuan!
Kalau sudah begini, hanya ada satu cara terakhir.
"Hei, Karin. Kumohon, diamlah?"
"Eh? Tenma-senpai, mau apa── Kyah!"
Mendorong Karin dan berdiri, langsung menggenggam tangannya.
Lalu, mengurungnya di dalam lemari.
※ ※ ※
"Hajime-san... Lama tidak berjumpa..."
Setelah buru-buru menyembunyikan Karin, aku menyambut Hajime-san dengan wajah tidak bersalah.
"Ah. Lama tidak berjumpa. Tapi, baru beberapa hari."
"Ahaha, iya ya... Ngomong-ngomong, ada perlu apa...?"
Dengan satu keinginan agar dia cepat pergi, aku mempercepat pembicaraan. Di lemari sebelah ada bom yang luar biasa...
"Ah. Aku mau tanya kabar. Bagaimana, Tenma-kun. Keadaan putri-putriku?"
"Ya, itu! Lebih imut dan luar biasa dari yang kubayangkan."
Lebih cabul dan mesum dari yang kubayangkan.
"Ini kesempatan yang tidak akan bisa kudapatkan untuk berinteraksi dengan gadis seperti mereka."
Ini kesempatan yang seharusnya tidak perlu kudapatkan...
"Benar! Mereka gadis-gadis yang sangat hebat!"
Gadis-gadis yang sangat mesum!
"Begitu, bagus. Ngomong-ngomong... kau tidak macam-macam dengan putri-putriku, kan?"
"Pa, pasti! Aku tidak melakukan hal aneh!"
Aku tidak.
"Begitu, kalau tidak ada masalah. Aku lega. Aku tidak perlu memotong testismu."
Eh? Dikebiri? Aku, akan dimusnahkan sebagai pria?
Pandanganku secara alami tertarik ke lemari di samping. Semoga berhasil, Karin. Masa depan keuangan keluarga dan selangkanganku tergantung pada apakah aku bisa menyembunyikanmu.
"Lalu bagaimana, kehidupan dengan putri-putriku. Apakah berjalan lancar?"
"E, ee! Itu! Mereka juga sedikit demi sedikit mulai terbiasa denganku!"
"Ooh, begitu. Kamu sudah mulai akrab dengan putri-putriku."
"Ya! Hanya Tsukino-san yang masih tampak tidak nyaman, tapi itu hanya masalah waktu! Seperti kata Hajime-san, ketiganya wanita terhormat yang luar biasa, jadi kami bisa cepat akur!"
"Begitu, begitu. Ternyata putri-putriku juga bisa menjalani hidup dengan pria tanpa masalah."
Memuji putrinya, Hajime-san tertawa riang. Dia gak tahu penderitaanku...!
Tapi untuk melunasi utang, masalah tidak boleh ketahuan. Di sini, hanya mengatakan hal-hal baik dan menutupinya, harus cepat mengakhiri pembicaraan!
"Mulai sekarang, serahkan ketiganya padaku! Akan kubuat mereka cepat terbiasa dengan pria!"
"Uhm, baik. Aku percaya... Ngomong-ngomong, yang jatuh di bawah sana apa?"
"Eh......?"
Mengikuti pandangan Hajime-san, aku melihat ke bawah kakiku.
Ada pakaian dalam yang dilepas Karin.
(Faaaaaaaa────────────────────────────!!!!???)
Itu adalah benda yang seharusnya tidak ada di kamar cowok. Kalau sampai diketahui itu bra dan celana dalam, apalagi kalau tahu itu milik Karin, aku akan dianggap apa? Pasti pencuri pakaian dalam.
Cepat sembunyikan! Sembunyikan, aku! Hanya bisa menyembunyikan dan pura-pura tidak tahu! Cepat sembunyikan dan tutupi!
Tapi sebelum sempat bergerak, Hajime-san berbicara.
"Ini... kelihatannya pakaian dalam wanita...?"
A...!
"Kenapa ada di kamarmu...? Dan warnanya? Seperti dicat...?"
Menyadari itu pakaian dalam yang dicat, dia menatapku heran.
Bahaya. Dicurigai. Harus ditutupi. Kalau tidak segera membuat alasan, akan dicurigai sebagai hasil kecurigaan, dan dianggap pencuri pakaian dalam. Akan dianggap orang aneh yang menikmati pakaian dalam curian dengan cat aneh.
Aku butuh alasan... alasan ada pakaian dalam wanita di kamarku!
"Ce, celana dalam ini............ sebenarnya milikku!"
Keluarlah kata-kata yang keterlaluan.
"Me, milikmu......?"
Sepertinya bahkan Hajime-san tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Aku langsung menyesuaikan dengan kata-kata yang terucap, sambil memikirkan alasan di tempat.
"Ya! Itu... itu! Aku yang membuatnya! Untuk tugas praktek rumah tangga! Lihat, kan keluargaku miskin! Jadi untuk adikku! Adikku suka warna aneh!"
Aku mengambil celana dalam Karin, merabanya dan memeriksa teksturnya. Seperti pengrajin di bidang itu memeriksa hasil kerjanya.
"Wah, menurutku sendiri bagus sekali. Warnanya juga pas, teksturnya tidak bisa diungkapkan. Elastisitas karetnya juga maksimal! Aku sendiri ingin memakainya!"
"O, begitu rupanya. Jangan bikin kaget. Kukira kau mencuri pakaian dalam putriku, lalu mengecatnya dengan warna aneh untuk kesenanganmu."
BAHAYA────────! Hampir saja──────────!
"Tapi, kau memang pekerja keras yang serius. Membuat pakaian sendiri untuk adik dan keuangan keluarga. Aku menilai tinggi hal itu darimu."
"Ya, ya... Terima kasih..."
"Teruskan seperti itu untuk putri-putriku... Ya. Apa kau tahu di mana Karin? Tsukino dan Yukine ada di bawah, tapi anak itu tidak kelihatan."
"Ti, tidak... Tidak tahu... Mungkin di kamarnya...?"
Berkeringat dingin tingkat banjir. Ingin cepat-cepat kabur dari sini.
"Begitu... Kalau gitu, nanti akan kutemui. Karena hari ini sepertinya bisa santai di rumah setelah lama tidak pulang. Aku juga ingin melihat langsung kehidupan kalian."
Berkata begitu, Hajime-san berbalik.
O, oke... Kalau begini, tidak akan ketahuan! Syukurlah! Benar-benar bahaya tadi! Hampir saja!
'Hachiii!' ← Suara Karin bersin keras.
"Hm...? Apa tadi?"
Kaa rii──────────i──────────in────────!
Apa yang kau lakukan, aaaaaaaaa────────────!
Tidak, tapi memang tidak bisa disalahkan! Telanjang, pasti dingin dan membuat bersin! Tapi setidaknya bisa tahan tiga detik lagi, kan, Karin!?
"Apa ada sesuatu di lemari?"
Bahaya, perhatian Hajime-san tertuju ke lemari!
"Ti, tidak! Bukan apa-apa! Pasti alien liar atau sesuatu yang menyusup!?"
"Begitukah...? Akan kuperiksa sebentar."
"Tidak tidak tidak tidak! Lebih baik jangan! Pasti akan menggigit!"
Ini sulit. Kalau lemari ini dibuka, Karin telanjang akan keluar. Kalau sudah begitu, tidak ada ruang untuk pembelaan, dan akan dianggap perbuatanku.
Lalu dengan sukses aku dipecat. Keuangan keluarga benar-benar runtuh, dan testisku meledak.
Bahaya, INI! Benar-benar bahaya! Pintu ini harus dipertahankan sampai mati, ooooooh!
Tiro riro riro riro rin♪ Tiro riro riro riro rin♪
Saat itu, suara elektronik riang bergema di kamar.
"Hm? Telepon, ya."
Hajime-san mengambil ponsel dari saku dan mulai berbicara. Setelah bertukar beberapa kata, dia bilang "segera ke sana" dan menutup telepon.
"Kebetulan telepon dari Karin. Dia bilang ada di depan stasiun dan minta dijemput. Sungguh, gadis yang merepotkan."
"Eh!? Be, begitu... Selamat jalan."
"Jadi, aku akan keluar sebentar. Aku percayakan Tsukino dan Yukine padamu."
Lupa tentang lemari, Hajime-san buru-buru keluar rumah. Dari ekspresinya yang senang, sepertinya dia sangat senang diminta tolong Karin. Dasar orang tua yang sangat menyayangi anaknya.
"...Haaaah~~~. Selamat~~~~~............"
Kekuatanku terkuras, aku terjatuh di tempat. Kukira jantungku benar-benar berhenti...
"Fuu~. Akhirnya bisa ditutupi. Karin juga deg-degan."
Karin keluar dari lemari sambil memegang ponsel.
"...Ne. Telanjang, tapi bawa ponsel di mana?"
"Untuk jaga-jaga, aku selipkan di pakaian dalam. Setelah melepas, aku pegang di tangan."
Begitu rupanya... Kukira dia melepas tanpa berpikir, ternyata dia sudah menyiapkan tindakan pencegahan.
"Tapi, Senpai memegang celana dalam Karin... Jadi sedikit terangsang."
Dalam situasi apa pun bisa merasakan kenikmatan seksual. Aku sedikit iri pada ketangguhan si cabul itu.

