[LN] Choppiri Ecchi na Sanshimai demo, Oyomesan ni Shitekuramasuka? Volume 1 - Chapter 1: Tinggal Bersama Tiga Saudari

 



Diterjemahkan Oleh: XER

Ada pepatah yang bilang "Miskin itu Sibuk," dan menurutku itu benar sekali.

Pagiku, Ichijou Tenma, selalu dimulai lebih awal. Untuk pekerjaan mengantar koran, aku harus bangun jam 2 pagi dan pergi ke kantor. Setelah itu, butuh sekitar tiga jam untuk memisahkan koran yang masih terbungkus, menyelipkan selebaran, dan benar-benar mengantarkannya. Pulangnya antara jam 5 sampai 6 pagi. Baru setelah itu aku bisa sarapan dan menyiapkan berbagai hal, lalu berangkat sekolah jam setengah 8. Lalu aku mengikuti pelajaran seperti biasa, dan malam harinya aku harus belajar dengan rajin supaya nilai tidak jatuh. Jujur saja, jadwal ini melelahkan sampai mati.

Alasan kenapa aku hidup seperti ini adalah karena keluargaku tidak punya uang.

Ayahku meninggal karena sakit saat aku dan adik perempuanku masih kecil. Karena itu, sumber keuangan hanya bergantung pada penghasilan paruh waktu ibuku, dan itu sangat sedikit. Untuk kehidupan yang stabil, aku juga harus bekerja.

Tapi, aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku bersyukur pada ibuku yang membesarkanku sendirian, dan yang terpenting, aku bekerja juga untuk adik perempuanku yang imut.

"Ah. Selamat datang, Onii-chan."

Jam 6 pagi. Begitu pulang setelah mengantar koran, adik perempuanku, Aoi, menyambutku.

Dia memiliki poni pendek yang imut dan wajah yang masih terlihat kekanak-kanakan. Selain itu, tinggi badannya hanya 140-an cm, memberikan kesan gadis yang masih sangat muda. Sebenarnya dia sudah kelas 2 SMP, tapi penampilannya bisa disangka anak SD, sangat memancing rasa ingin melindungi.

"Selamat datang, Aoi. Hari ini jarang-jarang bangun pagi, ya."

"Ekk...! N-nggak juga! Biasa aja! Aku sama sekali nggak berniat menyambut Onii-chan atau semacamnya!"

Wajah Aoi memerah sambil menyangkal sesuatu yang tidak ditanyakan. Sepertinya dia berusaha keras bangun pagi dan menungguku pulang. Dasar anak bandel, padahal lemah bangun pagi.

"Maaf, telat banget. Capek, ya, nunggunya?"

"Hah!? Pa-Padahal aku bilang aku nggak nungguin! Lagian, aku laper, jadi cepatlah masak nasi!"

Aoi mendorong tubuhku seolah ingin menutupi rasa malunya.

"Oke, oke. Aku bikin sekarang, jadi tunggu sebentar."

"Udah, bacotnya! Dasar, baka! Jangan salah paham, deh, menjijikan!"

Sambil menerima hinaan dari adik yang kusayangi, aku buru-buru cuci tangan dan menuju dapur.

Pagi hari biasanya hanya berdua dengan Aoi. Ibu berangkat kerja sekitar jam 5, jadi kami tidak sarapan bersama. Lagipula, karena kemampuan masak adikku itu bersifat merusak, akulah yang harus membuatkan sarapan dan bekal untuknya.

Tapi, yang bisa kumasak hanyalah hidangan sederhana. Bekalnya juga mayoritas makanan beku.

Untuk sarapan, karena ada salmon di kulkas, aku memutuskan masak hidangan Jepang. Salmonnya dibakar, kubuat miso shiru, alpukat dan tomat dipotong seadanya untuk salad. Lalu nasi putih sisa semalam dipanaskan.

Jujur saja, masak sarapan setelah bekerja itu sangat menyebalkan dan melelahkan. Kalau bisa, pengen pakai makanan instan saja. Tapi, demi menghemat dan juga untuk mengatur kesehatan adikku, aku tidak boleh bermalas-malasan.

Dengan tubuh yang lelah, aku memaksakan diri dan memasak dengan kecepatan super.

"Oi, Aoi. Sudah selesai."

"Hmph! Aku nggak akan bilang makasih! Thankyou!"

Dia tetap mengucapkannya. Dia tetap bilang terima kasih.

Adikku memang tidak jujur, tapi dia payah menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia selalu bersikap seperti setan pengganggu, tapi perasaan aslinya mudah terbaca dari ucapan dan ekspresinya. Dia gadis yang sangat sederhana.

Aoi mengambil sumpitnya, mengucap 'itadakimasu', lalu menyeruput miso shiru buatanku.

"Wah! Miso shiru ini apa-apaan!? Benar-benar tidak enak! Cara mengambil kaldunya aneh banget!"

Aoi menatapku dan memarahiku.

"Ini, karena pakai kaldu ikan bonito dan kaldu rumput laut, rasanya jadi berlipat ganda, kan! Kenapa sih masak yang kayak profesional gini? Onii-chan ini edan, ya!?"

Sambil berkata begitu, Aoi menghabiskan miso shirunya dalam sekejap. Tidak ada setetes pun tersisa di mangkuknya.

"Ikannya juga dibakar harum dengan mentega dan kecap, kulit atasnya juga renyah! Ini jurus apa! Dibakar gimana bisa jadi kayak ini!?"

Dia melahap makanannya dan menghabiskannya dalam sekejap. Hanya butuh 0,2 detik.

"Onii-chan selalu ngeluarin tenaga di hal-hal aneh! Yang lihat aja jadi capek."

Sambil menggerutu, Aoi meminum teh dengan gelas yang sama denganku. Gelas bergambar hati yang seharusnya untuk pasangan kekasih itu dibeli oleh Aoi.

"Terus, menunya juga isinya cuma yang aku suka. Apa mungkin ini, Onii-chan lagi mencoba mengambil hati imouto-nya? Aku nggak percaya, apaan coba!"

Entah kenapa, Aoi selalu duduk di sebelahku setiap hari. Biasanya kan harusnya di seberang, hm?

"Beneran. Masakannya aneh-aneh, terus selalu berusaha supaya disukai. Onii-chan benar-benar gak guna. Onii-chan kayak gini, aku benci!"

Nggak mungkin, dia pasti sangat menyukaiku.

Dia pasti 100% terlalu suka sama Onii-chan-nya. Cintanya meluap dari setiap tindakannya.

Meski mulutnya selalu berkata kasar, tindakannya sama sekali tidak bisa lepas dari kakaknya. Malahan, dia selalu nempel setiap hari sampai level yang bikin pasangan kekasih lain malu. Begitulah imouto di rumahku.



"Ah, iya. Onii-chan, ini, ada pesan dari Mama."

Saat membereskan piring, Aoi memberikan selembar kertas memo yang diletakkan di meja.

"Dari Ibu...? Eh, apa ini? Peta suatu tempat?"

Di memo itu tergambar peta sederhana dengan tanda di suatu tempat.

"Kayaknya, Mama punya kenalan yang sedang mencari tenaga kerja. Terus, waktu Mama merekomendasikan Onii-chan, sepertinya pihak sana tertarik. Jadi, Mama meyuruh Onii-chan untuk pergi sepulang sekolah nanti."

"Eeh... Jadi dia mencarikan pekerjaan lagi tanpa bilang-bilang...?"

Ibu itu, kadang-kadang memberiku pekerjaan tanpa berkonsultasi dulu. Lagipula, sebagian besar pekerjaannya itu black (buruk).

"Setiap kali tanpa konsultasi... Ngomong-ngomong, katanya kerjaannya apa?"

"Aku tidak dengar detailnya... Tapi kayaknya cuma ngobrol dengan cewek, bisa dapat puluhan ribu yen per hari?"

"ITU BAU-BAUNYA PEKERJAAN BERBAHAYA!"

Itu kerjaan gelap dari mana coba? Itu pasti pekerjaan dari dunia bawah.

"Lagipula pekerjaan ngobrol sama cewek... Aku, cuma bisa ngobrol sama Aoi, lho? Kalau pekerjaannya kayak host, itu benar-benar impossible game..."

"Umm, gak mungkin, kan? Soalnya ini kan, Onii-chan, jelas gak mungkin, ya?"

Menurutku respons itu keterlaluan banget.

"Tapi, semoga benar-benar dapat uang banyak. Mungkin hutangnya bisa lunas."

Hutang... Dengan kata itu, aku diingatkan pada kenyataan.

Alasan rumah kami miskin bukan cuma karena tidak ada ayah. Ada hutang sekitar 10 juta yen yang dibuat ayah dulu saat berbisnis. Karena itu, seberapa keras pun kami bekerja, kami terpaksa hidup miskin. Bahkan sampai sulit bagiku dan Aoi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Tapi, kalau hutangnya hilang, hidup pasti akan jauh lebih mudah. Kami tidak perlu berpikir berhemat berlebihan, dan tidak perlu memaksa Aoi hidup susah.

"Ya... Kalau hutangnya bisa hilang, mau kerja apa pun harus dilakukan."

Untuk melindungi masa depan adikku, melunasi hutang adalah hal yang mutlak diperlukan. Untuk itu, tidak ada cara lain selain aku yang bekerja.

"Ya, akan kucoba sebisa mungkin."

Aku menyimpan memo yang ada petanya dan melanjutkan makan.

※        ※        ※

Di SMA Seirin tempatku bersekolah, ada pertemuan seluruh sekolah sekali seminggu.

Aku membuka buku kosakata ukuran saku yang kusembunyikan di saku dalam, menunggu pertemuan dimulai.

"Hei, Ichijou~. Belajar lagi di saat kayak gini? Rajin banget luh."

"Memang sih kutu buku. Berbeda ya sama si jenius peringkat satu."

Teman sekelasku menepuk bahuku sambil tertawa.

"Berisik lu. Gak usah ganggu. Lagi belajar buat persiapan pelajaran."

Tanpa mengalihkan pandangan dari buku kosakata, aku membalas dengan nada kesal.

Untuk melindungi keluargaku, aku harus mendapatkan pekerjaan yang bagus sedikit demi sedikit. Untuk itu, masuk ke universitas yang bagus adalah suatu keharusan. Waktu belajarku sudah sedikit karena bekerja, jadi aku tidak bisa menyia-nyiakan waktu luang ini.

Tapi, teman sekelasku seolah tidak peduli dengan keadaanku dan tetap mengajakku bicara.

"Dasar membosankan~. Ayo ngobrol dikit~?"

"Ngomong-ngomong, heran deh bisa belajar terus. Kalau aku sih kepalanya udah pecah."

"Hei, biarin aja Ichijou. Lebih baik liat tuh. Ada cewek yang wow banget."

Salah satu dari mereka menunjuk ke arah junior yang berbaris di samping.

Mengikuti mereka, semua orang melihat ke arah yang sama, dan di sana ada satu siswi yang sangat mencolok. Seorang gadis dengan ciri khas rambut pendek coklat muda dan mata yang besar dan bulat.

"Itu tuh, anak yang sering dibicarain, kan? Itu lho, yang disebut paling imut di tahun pertama."

Kecuali aku, para cowok suka topik kayak gini. Mereka jadi heboh begitu menemukan cewek idola sekolah.

Lalu, pada saat itu. Si junior itu menyadari pandangan kami. Dia menoleh ke arah kami. Lalu,

"────♪"

Dia melambai pada kami dengan wajah tersenyum.

"Wooooooh! Gile! Imut! Lu liat tadi!?"

"Iya! Dia melambai padaku!"

"Hah!? Bukan lu! Itu buat gue!"

Bodoh sekali, kalian ini. Terlalu heboh untuk hal segitu.

Pertama-tama, aku tidak terlalu tertarik pada cewek. Aku tidak peduli dengan idola sekolah, dan lebih baik menatap buku pelajaran daripada punya waktu untuk mengagumi mereka.

"Oi! Ichijou, kau juga ngerasa itu anak imut, kan? Iya kan?"

"Ngapain nanya gua, dasar lolicon. Gua gak peduli sama cewek."

"Jangan bilang gitu, coba liat baik-baik. Cewek junior kayak gini cuma bisa diamati dengan tenang di saat kayak gini, lho?"

"Iya, iya. Setidaknya ikutin obrolan dong."

Beneran, kalian ini nyebelin banget... Jadi nggak bisa konsentrasi belajar.

Ya sudah. Seperti kata mereka, aku akan ikut obrolan sebentar...

"Oke, oke. Iya, dia imut. Poin plusnya karena dia pendek."

"Iya, kan? Rill. Pengen punya pacar kayak gitu."

"Iya. Atau jadiin adik perempuan dan dimanja seharian."

Agar obrolan cepat selesai, aku mengucapkan kata-kata biasa dan berpura-pura setuju.

"...Jijik."

Lalu, suara itu terdengar dari belakang.

"Bisa nggak sih jangan ngobrol kayak orang bodoh dengan suara keras? Bikin jijik, tau!"

Aku menoleh, dan siswi dari kelasku menatapku dengan pandangan penuh jijik. Seorang gadis gyaru yang berdandan dan berpenampilan mencolok.

Namanya... siapa ya? Sepertinya Tsukino atau semacamnya...

Apa dia dengar ucapanku tadi?

"Ti-tidak! Itu cuma bercanda—"

"Nyebelin. Bener-bener ganggu."

Dengan itu, gadis itu membalikkan badan dan menghadap ke arah lain. Buruk. Aku dibenci karena kesalahpahaman.

Suasana tidak nyaman tertinggal di antara para cowok.

"...Memang serem sih, si Tsukino itu."

"Iya. Padahal kalau normal, dia cantik banget."

"Dia benci semua cowok, kan? Katanya dia nolak kapten klub basket..."

Teman sekelas berbisik-bisik agar tidak terdengar. Jujur, aku juga agak takut.

Memang benar, tidak ada untungnya bergaul dengan cewek. Lebih bermakna dan berguna diam dan belajar. Orang seperti itu pada dasarnya adalah tipe orang yang tidak ada hubungannya denganku.

Tapi, tunggu... Ngomong-ngomong, pekerjaan berikutnya adalah pekerjaan yang berhubungan dengan cewek, kan... Aku jadi agak khawatir. Tidak percaya diri bisa ngobrol dengan lancar.

"Semuanya, harap tenang—. Kita akan mulai pertemuan—?"

Saat sedang berpikir, ketua OSIS berdiri di atas panggung.

"Oh, Yukine-senpai! Memang selalu cantik sih—"

"Woah! Pengen pacaran sekali aja! Gua coba nembak, deh!"

"Bodoh, dia itu idola sekolah tau? Gak mungkin bakal diterima, hah?"

Teman di sampingku mulai mengobrol hal yang tidak penting lagi. Apaan sih idola sekolah? Aku tidak suka, tau.

Tapi, obrolan itu juga cepat berakhir. Atas seruan ketua OSIS, suara dari aula olahraga yang tadinya ramai perlahan menghilang.

Melihat itu, sang senior perlahan membuka mulutnya.

"Kalau begitu, selamat pagi. Pertemuan seluruh sekolah akan dimulai."

Ketua OSIS mulai berbicara sambil tersenyum lembut.

Aku mendengarkan suaranya dengan setengah hati, lalu menghela napas dan menunduk.

Sungguh, pekerjaan apa yang akan dibebankan padaku kali ini... Setidaknya semoga cewek yang menjadi rekan kerjaku bukan tipe yang galak seperti si Tsukino tadi...

Aku berdoa dalam hati agar pekerjaannya tidak merepotkan.

※        ※        ※

Sekolah usai, saat langit berwarna jingga.

Lima menit sebelum waktu yang dijanjikan, aku tiba di tempat yang ada di peta.

"Tapi... gila banget, ini..."

Yang berdiri di sana adalah sebuah rumah besar. Dinding putih yang berkesan mewah, dengan jendela kembar yang dipasang secara berjarak sama. Mengingatkanku pada arsitektur Barat, layak disebut rumah mewah.

Mungkin masuk akal kalau bayarannya puluhan ribu yen per hari. Tinggal menunggu isi pekerjaannya...

Dengan takut-takut, aku menekan bel pintu. Sekitar tiga puluh detik kemudian, seorang pria keluar dari dalam.

Dia berjanggut dan berbicara padaku dengan nada tenang.

"Oh, selamat datang. Akhirnya datang juga. Kau putra dari Kaori-san, kan?"

"Iya. Ichijou Tenma."

Kaori adalah nama ibuku. Jadi orang ini kenalan ibu, ya.

"Yah, silakan masuk. Kita bicara di dalam."

Aku dipersilakan masuk ke dalam rumah dan berjalan menyusuri koridor panjang. Melihat lukisan besar yang digantung di dinding dan vas yang dipajang, sepertinya dia lebih kaya dari perkiraanku.

Akhirnya dia masuk ke ruangan yang kelihatannya ruang tamu, dan menyuruhku duduk di sofa.

"Selamat datang, Tenma-kun. Namaku Jinguji Hajime. Aku adalah presiden Grup ZG."

"Grup ZG...!?"

Aku membelalakkan mata mendengar nama yang tiba-tiba disebut.

Grup ZG adalah perusahaan besar terkenal yang menangani berbagai macam produk, mulai dari makanan, buku, elektronik, barang-barang umum, hingga pakaian. Sebagai presidennya, pastilah orang yang cukup terkenal.

"Kenapa ibu saya bisa kenal orang hebat seperti itu...!?"

"Aku bukan orang yang hebat. Dan, aku kenal Kaori-san sejak kecil."

Aku belum pernah mendengar cerita seperti itu dari ibu. Agak sulit dipercaya.

"Um... Kalau begitu, tentang pekerjaan yang ingin Bapak percayakan padaku? Kudengar ini berhubungan dengan perempuan..."

Pekerjaan yang diminta presiden perusahaan besar terkenal pada orang sepertiku... Apa yang harus kulakukan?

"Ya, benar. Yang ingin kupercayakan padamu adalah pekerjaan yang berhubungan dengan perempuan. Dan itu sangat penting."

Dengan ucapan yang serius itu, rasa tegangku semakin meningkat. Tanganku berkeringat deras.

"Pekerjaan ini tidak boleh gagal. Karena itulah, harap lakukan dengan serius."

"Ka-kalau begitu... Pekerjaannya adalah...?"

Merasa udara semakin tegang, aku menelan ludah.

Dalam keheningan yang terasa abadi, Hajime-san akhirnya membuka mulutnya.

"Kuharap kau... mau menjadi suami untuk putriku."

"………………Hah?"

Mendengar kata-kata yang jauh di luar perkiraan, aku tak sadar lupa bicara sopan.

A-apa itu...? Apa maksudnya...? Aku tidak mengerti.

Eh? Itu artinya—

"Artinya, saya harus menikahi putri Bapak...?"

"SIAPA YANG BILANG BEGITU HAAAAAA!?"

"EEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHH!?"

Kenapa dia marah? Aku beneran gak paham!

"Oop... Maaf, aku agak kalap. Sepertinya kata-kataku kurang lengkap."

Hajime-san berdehem dan menambahkan penjelasan.

"Jadi begini. Kuharap kau mau tinggal serumah dengan putriku di rumah ini. Sebagai suami sementara."

"Suami sementara...?"

Melihat ekspresiku yang bingung, Hajime-san melanjutkan.

"Keluargaku adalah keluarga terpandang. Aku sudah membesarkan putri-putriku sekeras mungkin agar menjadi anak yang tidak mencoreng nama keluarga. Khususnya tentang pergaulan dengan lawan jenis, sampai sekarang aku melarangnya dengan ketat."

"Hah..."

"Tapi, sebagai putri keluarga Jinguji, mereka harus menikah dengan keluarga terpandang lain suatu saat nanti. Kalau sampai tidak tahu cara bergaul dengan pria, itu bisa memalukan keluarga. Apalagi, putriku sendiri juga akan kesulitan."

Memang, kalau menikah tanpa pengalaman bergaul dengan lawan jenis, sepertinya akan banyak kebingungan.

"Karena itulah, aku ingin membuat putriku tinggal serumah dengan seorang pria sebagai pasangan suami-istri sementara, agar mereka terbiasa dengan pria."

"Begitu ya... Jadi pekerjaanku adalah peran sebagai suami..."

Artinya, meski disebut suami, itu hanya suami sementara. Hanya memerankan peran suami.

"Tapi, tunggu... Apa perlu sampai segitunya hanya agar terbiasa dengan lawan jenis...? Tanpa harus tinggal serumah, bukankah cukup dengan membiarkan mereka berteman dengan cowok di sekolah..."

"Seperti katamu, biasanya memang begitu. Tapi aku tidak tahu keadaan mereka di sekolah. Agar aku bisa mengetahui keadaan putri-putriku dengan benar, dan agar tidak terjadi kesalahpahaman, aku ingin mereka memperdalam pertemanan di dalam rumah di mana aku bisa mengawasi. Lagipula, tinggal serumah dengan pria juga bisa menjadi semacam latihan menjadi mempelai bagi putriku. Bagi mereka yang akan menikah dengan keluarga terpandang, ini adalah pengalaman penting. Karena itulah aku memilih metode ini."

"Hah... Begitu, ya..."

Pokoknya, aku mengerti bahwa Hajime-san punya pemikiran sendiri dan memilih metode ini.

"Sebenarnya aku berencana meminta tolong pada orang dekat yang bisa dipercaya... Tapi sayangnya, tidak ada kandidat yang cocok. Saat sedang bingung, aku mendengar tentang dirimu dari Kaori-san, dan ingin meminta tolong."

"Eh...? Kenapa saya?"

Maksudku, aku sama sekali tidak punya pengalaman dengan cewek. Menurutku pemilihannya salah...

"Aku memilihmu karena kau kelihatan bisa dipercaya. Bagiku juga, aku tidak tenang menitipkan putriku pada pria yang tidak dikenal. Meski kuminta memerankan suami, aku tidak mau kau macam-macam pada mereka."

Itu wajar. Bagi Hajime-san, itu pasti hal yang paling dikhawatirkan.

"Tapi, berdasarkan hasil penyelidikanku melalui lembaga tertentu, kau ternyata sangat jujur dan serius. Kudengar kau bekerja setiap hari untuk menghidupi keluargamu? Itu pun sambil mempertahankan nilai terbaik di sekolah. Jika pria yang begitu lurus, kupikir kau bisa dipercaya."

"Ha, hah... Terima kasih..."

Sepertinya ada alasan yang jelas kenapa aku dipilih. Aku merasa senang diakui oleh presiden perusahaan besar.

"Lagipula, aku juga tahu kau adalah anak laki-laki yang tidak akan macam-macam pada putriku, memiliki hati yang sehat (dalam artian perjaka cupu). Dengan ini, kau pasti tidak akan macam-macam pada putriku."

"Tunggu dulu. Barusan saya dengar suara tambahan yang tidak sopan."

Menurutku terlalu tidak sopan untuk orang yang baru pertama ketemu. Lagipula, dengan metode apa dia menyelidikiku?

"Yah, meski disebut pasangan suami-istri sementara, kau tidak perlu melakukan hal khusus. Tujuannya tetap agar putri-putriku terbiasa dengan pria. Kau cukup tinggal bersama mereka."

"Be-begitu, ya...? Kalau begitu sepertinya bisa kulakukan..."

"Ngomong-ngomong, kalau kau menerima, gaji bulanannya segini."

Dia menulis angka di memo dan menunjukkannya. Apa ini, nol satu, dua, tiga, empat, lima, enam...

"Satu juta──────────────!?"

Eh, eh? Benarkah? Beneran satu juta!? Satuannya yen!? Bukan kesalahan!?

"Dan, kudengar keluargamu punya hutang dari almarhum ayahmu? Jika kau bisa hidup bersama putriku tanpa masalah selama satu tahun, selain gaji ini, hutang itu akan kulunasi juga."

"!!?"

Sungguh tawaran yang menarik...! Jika hutangnya hilang, aku bisa langsung lepas dari kemiskinan. Aoi juga bisa hidup lebih mudah. Bahkan, dengan gaji bulanan ini, aku bisa membelikannya berbagai hal. Game baru, set lengkap manga yang sudah lama ingin dibacanya...

"Baik! Saya terima pekerjaan ini!"

Dengan bayangan wajah senang adikku di kepalaku, tanpa kusadari aku menyetujui.

Hanya dengan tinggal bersama putrinya, aku bisa mendapatkan bayaran yang luar biasa. Tidak mungkin ada pekerjaan dengan kondisi sebaik ini. Masa depanku terasa cerah dan suaraku pun tanpa sadar bersemangat.

"Begitu, kau mau menerimanya. Bagus, bagus. Sekarang aku tenang."

Setelah semuanya diputuskan, Hajime-san menunjukkan ekspresi yang tenang.

Dia berdiri perlahan, lalu berjalan ke arahku dengan langkah santai.

"Tapi, maaf. Meminta tolong pekerjaan yang aneh. Aku merasa bersalah."

"Ti-tidak! Kelihatannya sangat berarti, dan akan saya lakukan sebaik mungkin!"

"Ya, kuharap begitu. —Ah, iya. Dan, akan kukatakan dengan jelas."

Dia meletakkan tangannya di bahuku dari belakang. Lalu, dengan senyum lembut bagaikan sinar matahari musim semi, dia berkata:

"Kalau kau macam-macam pada putriku──── gimana kalau kau mati?"

Ston! Sebuah pisau menancap di meja. Tepat di depan tempatku duduk.

Eh?

"Seandainya. Seandainya saja... Jika kau sampai bernafsu pada putriku yang super cute dan merenggut keperawanannya... *GUBRAAAK* TENMAAAA! AKU AKAN MENGHANCURKANMUUUUUUU!"

Eeeeeeeeeeh!

Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!?

Apa-apaan coba, om-om ini!? Apa-apaan!?

Tiba-tiba emosi! Citra sebelumnya langsung menghilang!

"Boleh dibilang, putriku tumbuh menjadi gadis terbaik! Imut, cantik, dan menawan! Putri terbaik tanpa cela! Jika kau berani... berniat tidak suci pada putri seperti itu............! AKU AKAN MENENGGELAMKANMU KE LAUT RUSIAAAAAAAAA!"

"Ha... haii!"

Dengan tekanan itu, aku refleks mengangguk dan menjawab.

"Haa... haa... Kalau mengerti, baik... Oops... Sepertinya waktu sudah cukup lama. Kalau begitu, karena kau menerima, mari kita perkenalkan putriku."

Hajime-san kembali normal dan ingin melanjutkan pembicaraan. Orang ini menyeramkan. Dia punya dua kepribadian.

Lalu, pada saat itu. Bunyi elektronik yang riang terdengar dari suatu tempat.

"Oops, maaf. —Halo, ini saya."

Hajime-san mengambil ponselnya dan mulai menelepon. Beberapa puluh detik kemudian, dia memutuskan telepon dengan wajah panik.

"Maaf... Ada pekerjaan mendadak yang harus segera kukerjakan. Putriku ada di ruang dalam, jadi maaf, tolong sapa sendiri. Tentu saja, aku sudah memberitahukan tentang dirimu."

"Eh...!? Ba-baik..."

Tidak enak bertemu gadis sendirian untuk pertama kali, tapi tidak bisa menahannya karena ini pekerjaan.

"Ah. Kalau begitu, kapan saya harus mulai tinggal di sini?"

"Hm? Kaori-san tidak memberitahumu? Rencananya mulai hari ini."

"Hari ini!?"

Ibu... Sama sekali tidak memberitahuku hal penting...!

"Ngomong-ngomong, tentang pekerjaan mengantar koran yang sedang kau jalani sekarang, tidak perlu khawatir. Aku akan mengaturnya agar tidak masalah meski kau keluar."

Kalau Hajime-san yang mengatur, sepertinya tempat kerjaku sekarang juga di bawah Grup ZG.

"Begini? Aku ini orang yang sibuk. Sayangnya aku sering keluar rumah. Tapi tentu saja aku akan datang untuk melihat keadaannya. Tolong jangan macam-macam pada malaikat kecilku."

Dia menatapku dengan pandangan tajam, dan si om-om kasar itu akhirnya keluar dari ruangan.

※        ※        ※

Pururururururu. Pururururururu──── gacha.

Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak bisa menerima telepon. Coba setelah bunyi—

"Hei, Ibu. Jangan main-main."

Sambil menuju ruangan tempat putrinya berada, aku menelepon ibuku. Tentu saja, untuk mengomel.

Ah, ketahuan? Halo. Apa kabar?

Ibu berbicara dengan suara santai seperti biasa, diselingi candaan. Sepertinya Hajime-san mempercayai orang aneh ini, tapi mungkin orang aneh cocok dengan orang aneh?

Ada apa? Ada keperluan?

"Bukan 'ada keperluan?'! Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak dengar harus kerja tinggal di rumah mulai hari ini?"

Ah~. Maaf, maaf. Tapi, katanya tidak bisa dihindari. Sebenarnya seminggu lalu sudah mau bilang, tapi ribet jadi kubatalkan saja.

Tidak bisa dihindari sama sekali. Lagipula, niatnya untuk beralasan nol, ya.

"Pertama-tama, Ibu... Hubungan seperti apa dengan orang itu?"

Ah~, Hajime itu teman sejak SD~. Saat masih pelajar, aku yang mengajarinya belajar dan mengurusinya berbagai hal. Lalu, dengan membanggakan hal itu, aku berhasil mendapatkan pekerjaan ini. Jadi jangan gagal, ya~?

"Kalau begitu, beri tahuku isi pekerjaannya sebelumnya! Tinggal serumah dengan cewek yang baru pertama ketemu, normalnya tidak mungkin, kan!"

Gapapa, gapapa! Bagi kamu, bisa tinggal dengan cewek sambil dapat uang, kan? Cuma hal-hal bagus. Win-win, kan.

"Bukan begitu. Ini pekerjaan, lho? Tidak bisa bersikap santai begitu."

Meski lawannya cewek, aku tidak akan bersenang-senang. Karena dapat bayaran tinggi, aku hanya akan melakukan pekerjaanku dengan serius.

Jangan pikirkan hal sulit begitu, sambil kerja coba cari pacar. Lalu buat anak juga.

Oi, efek suaranya aneh. Imajinasinya ke arah mesum.

Tapi, kalau berhasil mungkin hutangnya bisa lunas. Kau sangat bisa diandalkan, putraku! Ah, barang-barangmu nanti akan kukirim. Lalu, ada yang mau—

Ah, Mama! Apa itu Onii-chan!?

Dari seberang telepon, terdengar suara adik perempuanku yang lucu. Sepertinya dia bersama ibu di rumah. Kudengar suara ibu memberikan ponselnya pada Aoi.

Hei, Onii-chan! Apa maksudnya!? Kau gak bisa pulang untuk sementara!?

Sepertinya dia sudah dengar tentang pekerjaan dari ibu. Suara sedih terdengar dari seberang telepon.

"A, aa... Maaf, Aoi. Karena pekerjaan, aku harus tinggal di rumah orang lain untuk sementara."

Be-beneran... Aku gak suka. Kalau Onii-chan, kalau Onii-chan gak ada—

Begitu... Tentu saja, dia merasa kesepian kalau aku tidak ada...

Siapa yang akan masak sarapan untukku!? Aku, sama sekali gak bisa masak!

Untuk hal itu, berusahalah sendiri...!

Lagipula Onii-chan, kan janji pulang cepat sepulang sekolah untuk main denganku! Onii-chan baka! Pembohong! Baka-baka-baka!

Wah, dia marah banget.

"Ma-maaf... Tapi, ini juga untuk Aoi! Jadi, jangan merasa kesepian."

A-aku, sama sekali gak kesepian! Cuma sedikit memikirkan Onii-chan setiap dua menit, pengen belajar bareng, main game, dan tidur bareng!

Ya, dia pasti sangat kesepian.

Anak ini, apa gak terlalu kebangetan suka sama aku? Aku agak khawatir dengan masa depannya.

Hmph! Aku gak peduli lagi dengan Onii-chan! Onii-chan, Onii-chan... jaga kesehatan!

Marah tapi masih memperhatikan keadaanku, Aoi memutuskan telepon dengan kasar. Anak ini, sangat baik...

Meski ini pekerjaan, mungkin agak kasihan tiba-tiba menghilang. Yah, dari sini ke rumah tidak butuh waktu lama, besok atau lusa akan kukunjungi dan menemaninya.

Saat itu—aku sampai di ujung koridor. Ada pintu yang dihias, dan menurut Hajime-san, putrinya ada di ruangan sebelah.

Sebagai permulaan, aku mengetuk pintu dengan jari tengah. Tapi meski ditunggu, tidak ada jawaban. Mungkin tidak terdengar.

Kalau begitu, tidak ada cara lain selain membuka pintu dari sini.

Seperti apa orang yang akan tinggal serumah denganku? Aku menarik napas dalam untuk menenangkan dadaku yang berdebar karena tegang.

Lalu, aku perlahan membuka pintu itu.

"—Ooh..."

Yang terbentang di balik pintu adalah ruangan yang sangat mewah.

Di dalam ruangan yang luas, ada sofa yang stylish, meja kaca, TV berukuran besar, dan lain-lain. Perabotan dan peralatan rumah tangga yang tampak mewah tertata rapi, dan pencahayaan tidak langsung menerangi seluruh ruangan dengan elegan. Tanaman hias di sudut ruangan juga menciptakan suasana yang bagus.

Jelas ini kamar orang kaya. Ada semacam aura kebangsawanan, udaranya berbeda dengan rumahku. Aku akan tinggal di rumah ini mulai hari ini... Memikirkannya saja, aku jadi agak gentar.

"Wah, enak!"

Tertekan oleh kemewahan rumah dan gemetar akan rasa hormat pada orang kaya.

Suara gadis terdengar di telingaku.

"Onee-chan, ini benar-benar buatan sendiri? Lebih enak dari yang di toko!"

"Fufu, bagus. Yang hari ini agak percaya diri~?"

"Kadang-kadang Karin juga coba bikin? Yang segini, ternyata mudah."

"Eh~. Gak mau. Karin spesialisasi makan."

Pemilik suara itu adalah tiga gadis cantik yang duduk di sofa.

Di meja yang mereka kelilingi, tersedia set teh yang berkelas, dan di rak teh sore seperti yang sering dilihat di film, ada kue, makaron, scone, dan lain-lain, camilan mahal yang tertata indah.

Tiga gadis cantik itu sedang menikmati pesta teh dengan elegan.

"...Eh? Tiga orang?"

Kenapa ada tiga cewek? Teman? Tidak, bukan. Barusan kudengar kata 'onee-chan'. Itu artinya, jangan-jangan ketiganya...?

Penasaran, aku menatap mereka. Kok rasanya wajah mereka mirip. Dan ketiganya seperti putri keluarga terpandang, menyatu dengan rumah mewah ini. Berbeda dengan cewek-cewek yang kulihat di sekolah—

Lalu, aku tidak sengaja membeku.

"Eh...?"

Ada cewek yang kukenal.

Dari ketiganya, gadis di tengah yang sedang makan makaron. Wajahnya itu, sangat familiar...

"Ah, iya. Aku, ambil ponsel dulu............ eh?"

Gadis itu berdiri dan menghadap ke arah pintu tempatku berdiri.

Tentu saja, pandangan kami bertemu. Pada saat itu, keraguanku berubah menjadi keyakinan.

Kami saling memandang wajah masing-masing dan membeku karena terlalu terkejut. Lalu—

A─────────────────!

Kami berteriak bersama.

Cewek itu adalah cewek yang baru saja menggangguku hari ini.

Teman sekelas yang terkenal benci cowok, Tsukino atau apalah namanya.

※        ※        ※

"Eto... Mulai hari ini saya akan tinggal bersama kalian, Ichijou Tenma. Mohon bimbingannya."

Sambil membungkuk sopan pada ketiganya yang duduk di sofa, aku memperkenalkan diri secara singkat.

Ternyata mereka yang sedang pesta teh tadi adalah putri-putri Hajime-san. Artinya, rekan kerja langsungku adalah ketiganya.

Artinya, aku harus hidup sebagai suami-istri dengan ketiga saudari ini? Itu aneh! Itu poligami! Aku tidak dengar soal tiga saudari!

"Sama-sama, silakan, Tenma-kun."

Saat aku berteriak dalam hati, salah satu dari ketiga saudari itu tersenyum padaku.

"Aku yang sulung, Jinguji Yukine. Siswa kelas 3 SMA Seirin yang sama dengan Tenma-kun, dan ketua OSIS. Mari berteman baik."

Yukine-san memperkenalkan diri secara singkat. Lalu sambil menggoyangkan rambut panjangnya yang sampai pinggang dan payudara besarnya, dia membungkuk dengan sangat sopan. Dari ekspresi dan sikapnya, terasa suasana khas kakak sulung yang anggun dan baik.

"Aha. Tinggal serumah dengan cowok, agak deg-degan."

Tanpa kusadari, gadis lain sudah mendekat ke sampingku. Posisinya sangat dekat, hampir seperti mau dipeluk.

Gadis yang jauh lebih pendek dariku, berambut pendek.

"Aku kelas 1, namaku Karin. Di sini Karin yang paling kecil, jadi mohon sayangi aku? Senpai♪"

"A, ya. Mengerti..."

Karin-san tersenyum cerah dan ceria, berbicara sambil melirik ke atas. Aku agak terkejut dengan jarak yang sangat dekat itu.

Apa karena dia gadis yang suka bercanda sampai langsung memanjakanku seperti ini? Matanya yang bulat dan besar juga terlihat menunjukkan keceriaan dan keluguan.

"Aku tidak akan menerimanya. Tinggal serumah dengan orang seperti ini."

Lalu, kebetulan cewek yang kukenal—Jinguji Tsukino menolakku.

Dari tadi dia sama sekali tidak mau mendekatiku, malah berusaha mengusirku.

"Sudah kuduga akan begini, makanya aku selalu menentang. Latihan hidup berumah tangga... Papa bilang 'akan mengirimkan manusia pria sejati yang pasti tidak akan macam-macam pada kalian,' jadi dengan setengah hati aku menerima pembicaraannya. Tinggal serumah dengan cowok sekelas, normalnya gak mungkin."

Sambil memainkan rambut semi-panjangnya yang pirang, dia meringis dengan wajah imutnya yang tidak senang. Dia memakai lipstik dan eyeshadow tipis, khas JK zaman sekarang, dan jika dia melotot, sebagai orang yang tidak terbiasa dengan cewek, aku jadi ciut. Ini sangat sulit didekati.

Tapi, ini sangat buruk. Jika Tsukino menentang tinggal serumah, pembicaraan pekerjaan ini bisa dibatalkan. Kalau begitu, pelunasan hutang hanya akan jadi mimpi. Malahan, keuangan rumah tangga bisa runtuh!

"Hei, tunggu dulu. Sepertinya ada kesalahan, tapi aku tidak punya niat melakukan hal-hal tidak senonoh, lho? Aku tinggal di sini untuk pekerjaan yang diminta. Jadi tolong tenang."

Tujuanku hanya untuk biaya hidup dan melunasi hutang. Meski ketiganya adalah gadis cantik populer di sekolah, aku tidak berniat macam-macam. Aku menyampaikan itu dengan jelas.

"Bisa jadi. Kamu, tadi waktu pertemuan bilang hal-hal menjijikan. Ingin menjadikan Karin sebagai adik... Jika tinggal serumah dengan orang seperti itu, keselamatan kami bisa terancam."

"Ug...!"

Waktu pertemuan... Si junior tadi, jangan-jangan itu Karin? Kalau begitu, wajar Tsukino marah. Lagipula dia memang dikenal benci cowok, dan jika adiknya dipandangi dengan mata aneh, pasti gak nyaman.

"Eh~. Tenma-senpai, diam-diam bilang begitu~?"

Karin mengintip wajahku sambil menyeringai. Anak ini mungkin hanya iseng.

"Bu-bukan! Itu hanya menyesuaikan pembicaraan dengan orang sekitar... Bukan berarti aku benar-benar menginginkannya!"

"Ucapan kayak gitu nggak bisa dipercaya. Aku telepon Papa, suruh larang kamu masuk~"

"Uh...!?"


 

Buruk! Jika itu terjadi, aku akan jadi pengangguran!

"Hm, jangan jahat, Tsukino-chan~?"

Lalu, Yukine-san menghentikan Tsukino.

"Tenma-kun juga bilang tidak akan melakukan hal aneh, setidaknya percayai dia sedikit."

"Dengarkan, Yuki-nee terlalu baik. Orang ini, pasti bohong untuk mengambil hati kita. Penjahat biasanya begitu."

Jadi, aku tiba-tiba jadi penjahat nih.

"Tinggal serumah sebagai suami-istri dengan cowok seperti ini gak mungkin. Hei, Karin. Kamu juga tidak suka, kan?"

Tsukino melihat adiknya, Karin, untuk menambah sekutu. Tapi, dia menjawab dengan tenang.

"Eh? Karin gak apa-apa? Orang ini kelihatan menarik. Pengen coba tinggal bersama~"

"Hah!? Serius!?"

"Dan, Tsukino-oneechan juga sebenarnya senang, kan? Di rak buku oneechan ada manga shoujo sedikit mesum tentang tinggal serumah dengan cowok—"

"Ka~~~ri~~~n!?"

Tsukino menarik pipi Karin.

"Hiyaaa… hiya. Owneechyan, hiya..."

"Aku gak punya buku seperti itu! Lagian, manga itu fiksi!"

Tsukino yang jadi minoritas dengan dua lawan satu, tanpa sadar tergelincir mulutnya.

Lalu, Yukine-san menimpali.

"Tsukino-chan. Papa sudah susah payah membawanya, jangan bilang hal tidak sopan. Kalau Tsukino-chan terlalu menentang, Papa juga akan sedih?"

"I-itu..."

Seperti kena titik sakit, Tsukino bergumam dengan kesal. Dia juga tidak ingin terlalu memaksa ayahnya. Dia menatapku dengan wajah seperti ingin bilang 'gununu'.

Lalu, setelah beberapa puluh detik, akhirnya dia membuka mulut dengan kesal.

"…………Oke. Tinggal serumah denganmu, sangat gak ku suka, tapi aku setuju..."

"Benarkah!? Bagus... Terima kasih!"

"Hah? Nyebelin. Jangan lihat aku. Kalau sampai hamil gimana?"

Meski menyetujui tinggal serumah, sepertinya dia tidak akan mengubah sikap buruknya.

"Dan, jika ada masalah, aku akan hubungi Papa secepatnya."

"O, oke... Akan kuingat baik-baik..."

Tsukino melotot dengan mata tajamnya yang semakin runcing. Buruk. Ini tatapan sungguhan.

"Kalau begitu, sekali lagi... Mari berteman baik, Tenma-kun."

Yukine-san memberikan senyum dewi padaku. Sesuai sebagai kakak sulung, aura kakak perempuannya tidak main-main. Itu juga sangat baik.

"Kau sudah dengar, tapi tolong temani 'Latihan Menikah' kami. Selama satu tahun ini, kami akan menganggapmu sebagai suami sungguhan dan berusaha memberikan yang terbaik. Jadi Tenma-kun juga, anggaplah kami sebagai istri sungguhan."

"Ya, ya! Akan kulakukan sebaik mungkin agar bisa berguna bagi kalian bertiga!"

Sebagai rekan kerja, aku ingin membangun hubungan baik dengan mereka. Dengan perasaan itu, aku membungkuk.

"Tenma-senpai. Ajari Karin juga berbagai hal tentang cowok, ya?"

"Ya! Eto... Karin-san."

"Panggil biasa saja~. Meski ini pekerjaan, jangan terlalu kaku."

"Ah, kalau begitu... Karin. Mari bergaul."

"Ya. Mohon bimbingannya♪"

Karin mengendurkan pipinya dengan polos.

Seperti kata Hajime-san, mereka tampaknya adalah gadis-gadis terpandang yang imut, cantik, dan menawan.

Aku kembali merasa tekanan dengan kehidupan serumah bersama mereka. Tapi, untuk keluarga, tidak ada pilihan lain. Aku akan menyelesaikan kehidupan suami-istri sementara dengan selamat dan melunasi hutang!

"Tsukino-san juga, mari bergaul!"

"Hah?"

Saat aku menyapa dengan tekad bulat, dia melotot dengan pandangan tajam. Ah, buruk. Ini sangat menakutkan.

"Tsukino-chan. Harus menyapa yang benar."

Yukine-san menenangkannya dengan lembut.

Tsukino juga sepertinya lemah terhadap kakaknya, dia mengangguk dengan enggan, "Oke..." Lalu, dia menyapa kembali.

"Maaf. Mari bergaul. ...Sebagai orang asing."

Niat untuk bergaul nol, ya.

"Juga, panggil aku biasa saja. Panggil -san sama teman sekelas, aneh."

"A, aa... Oke... Akan kulakukan."

Demikianlah kehidupan serumah dengan tiga saudari keluarga Jinguji dimulai.

※        ※        ※

Setelah menyapa mereka, Yukine-san mengajakku berkeliling rumah, lalu aku mandi untuk menyembuhkan lelah seharian. Kamar mandi rumah ini besar sekali, tidak bisa dibandingkan dengan rumahku. Berkat itu, aku bisa seperti di pemandian umum dan menyembuhkan lelah dengan tenang.

Lalu setelah itu, makan malam berempat.

Saat aku naik dari kamar mandi dan pergi ke ruang makan, ketiganya sudah lengkap. Tsukino dan Karin sudah duduk, Yukine-san membawa makanan ke meja.

"Maaf, Tenma-kun. Hari ini bahannya tidak banyak, jadi cuma bisa bikin ini."

Yang dibuat Yukine-san adalah paella, spare rib teriyaki, roll kubis, gratin, dan lain-lain, semuanya masakan rumit yang tidak pernah terlihat di rumahku.

"Ti-tidak... Ini saja sudah cukup..."

Aku baru pertama kali melihat hidangan mewah seperti ini dalam hidupku. Sepertinya kemampuan masak Yukine-san sudah sampai level yang tidak perlu latihan menikah.

Aku duduk bersama Yukine-san. Susunan tempat duduknya, di depanku ada Yukine-san, di samping Karin, dan di seberang secara diagonal Tsukino.

Lalu kami berempat mengucap 'itadakimasu', dan aku menyendok paella yang sudah dibagi di depanku.

"Woh!? Apa ini, enak banget!"

Karena terlalu enak, aku tidak sengaja berteriak.

Rasa seafood seperti udang dan kerang meresap ke dalam nasi, dan rasa umami langsung memenuhi mulut.

Dan karena ada ketumbar yang dicampur dengan jus lemon, ada rasa segar yang ditambahkan dan menjadi aksen yang bagus. Ini pasti yang paling enak dari yang pernah kumakan!

"Fufuun. Hebat, kan? Setiap hari Yukine-oneechan yang masak untuk kami?"

Karin berkata dengan wajah bangga. Memang hebat, tapi kenapa Karin yang membusungkan dada?

"Fufu. Mungkin karena aku berusaha keras membuatnya untuk Tenma-kun?"

Yukine-san yang duduk di seberang tersenyum seperti istri sungguhan. Maksudku memuji, tapi balasannya malah membuatku senang. Kemampuan bicara yang pasti mendukung pria. Benar-benar hebat.

"Masih ada tambahan, jadi silakan makan banyak?"

Tambahan...? Aku masih bisa menikmati makanan enak ini dalam jumlah besar?

Hidup bisa makan hidangan mewah sekenyang-kenyangnya. Betapa aku menginginkannya selama hidup miskin... Kalau bisa merasakan hal enak seperti ini, tinggal serumah dengan cewek mungkin tidak buruk...

Tidak, tidak boleh! Tidak boleh bersenang-senang! Aku di sini untuk bekerja! Tidak boleh lupa dan bersenang-senang.

Pekerjaanku adalah tinggal serumah dengan mereka dan membuat mereka terbiasa dengan pria. Untuk itu, perlu berteman baik dengan mereka sampai batas tertentu. Harus menambah obrolan dan mendekatkan jarak hati.

"Yukine-san, masakannya sangat enak. Apa belajar atau semacamnya?"

"U~un, tidak ada hal khusus? Hanya karena masak biasanya aku yang melakukan, sambil memikirkan menu, variasinya jadi bertambah."

"Hebat... Aku juga tidak pernah masak seperti ini."

"Tenma-senpai, biasanya masak?"

"Ya, sedikit. Kalau Karin gimana?"

"Kalau Karin masak, kenapa ya bahannya jadi abu semua. Jadi, aku spesialisasi makan!"

"Ya ampun. Karin-chan harus belajar sedikit."

Mereka berdua tertawa riang.

Bagus, bagus. Aku bisa mengobrol dengan baik dengan Yukine-san dan Karin. Untuk orang tanpa pengalaman dengan cewek sepertiku, ini bisa dibilang hasil bagus.

Masalahnya, satu orang lagi...

Tsukino yang tampaknya tidak tertarik padaku, menatap TV.

"Hei, Karin. Ambilkan remot. Drama sebentar lagi mulai."

"Eh~. Karin juga ada acara yang mau ditonton nanti~."

"Itu pasti acara komedi aneh, kan? Rekam saja. Aku harus bertukar pendapat dengan semua orang nanti."

"Karin juga mau cepat nonton. Dari pagi sudah nunggu."

"Gak boleh. Perintah kakak. Cepat berikan remotnya."

"Jahat! Penyalahgunaan wewenang!"

"Ah. Sebentar, ada spesial hewan, kalo gak salah~?"

"Ugh, ya sudah. Kalau begitu nih."

Tsukino dan Karin yang bertengkar akur, dan Yukine-san yang berhasil mendamaikan mereka.

Ah, ini buruk? Obrolan antar saudari dimulai, dan aku jadi sendirian.

Tidak boleh begini. Harus segera membuat tempat untukku di antara ketiga saudari ini.

Meski dibenci Tsukino—tidak, justru karena dibenci—harus aktif masuk dalam obrolan dan mendekatkan jarak hati!

"A, ah! Tsukino lagi nonton drama apa?"

"………………"

Atas kataku, Tsukino membalas dengan diam.

"Kenapa cuma aku yang diabaikan!?"

Ini perundungan! Perundungan aseli!

"Ah? Kamu ada? Maaf~. Sama sekali gak sadar. Maaf, tapi bisa keluar? Ini rumah untuk manusia."

"Aku gak dianggap manusia!? Kau terlalu benci padaku!"

"Berisik. Ngomong-ngomong, jangan ajak bicara. Kamu kan cuma perlu tinggal serumah, kan? Kalau begitu jangan terlibat tanpa arti."

"Guh... Itu sih iya tapi..."

Memang Hajime-san bilang tidak perlu melakukan hal khusus. Tapi jika hubungan tetap buruk dan hidup tanpa campur tangan, keberadaanku tidak ada artinya. Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin mereka bisa terbiasa dengan pria.

"Hei Tsukino-chan. Kalau terlalu dibenci, kasihan Tenma-kun."

"Soalnya dia menjijikan. Hari ini juga lihat Karin dengan mata mesum."

Meski Yukine-san membantu dengan lembut, Tsukino melotot padaku dengan tidak suka. Mungkin karena memang benci cowok, dia sangat jijik padaku.

"Pokoknya, jangan pedulikan aku. Aku juga akan menganggapmu tidak ada."

Berkata begitu, Tsukino mulai makan.

Sampai makan selesai, Tsukino benar-benar tidak mau berinteraksi denganku. Dia hanya bicara pada Yukine-san atau Karin. Lalu setelah makannya selesai, dia cepat-cepat kembali ke kamarnya. Mungkin dia sangat tidak suka berada di ruangan yang sama dengan cowok.

"Tenma-kun, maaf? Sepertinya Tsukino-chan lagi bad mood..."

"Tapi, Senpai. Tidak perlu dipikirkan? Dengan cowok lain juga begitu."

"Be-begitu... Dengan cowok lain juga..."

Tampaknya kedua saudarinya juga mengakui bahwa Tsukino benci cowok.

Tapi bagiku, justru itu yang merepotkan.

Jika Tsukino benci semua cowok, secara posisi aku harus melakukan sesuatu. Jika setelah tinggal bersamaku Tsukino tetap benci cowok, Hajime-san akan meragukan arti keberadaanku. Bahkan urusan pelunasan hutang bisa dibatalkan, dan itu harus dihindari.

Tapi bagaimana caranya berteman baik dengan Tsukino yang tidak bisa didekati...

Dalam situasi yang penuh rintangan, aku menghela napas panjang.

※        ※        ※

Setelah makan malam, aku langsung berbaring di kamarku yang sudah ditunjukkan.

Kamarku di keluarga Jinguji ini dua kali lebih luas dari kamarku di rumah. Ada tempat tidur mewah yang besar, sofa, TV, bahkan komputer dan konsol game lengkap.

Khususnya tempat tidurnya sangat nyaman. Aku belum pernah menggunakan sprei dan selimut yang begitu empuk. Selain itu, karena hari ini tiba-tiba mulai hidup serumah, aku lelah. Berkat itu, meski pertama kali di lingkungan baru, sambil memikirkan cara berteman dengan Tsukino, aku tertidur lelap.

Lalu pagi berikutnya. Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang aneh.

"…………Hm? Apa...?"

Entah kenapa, agak susah bernapas. Merasa aneh, aku mengarahkan pandangan ke bagian bawah tubuh. Lalu—

"Ah, sudah bangun. Tenma-kun."

Yukine-san sedang duduk di atas pinggangku.

"Eh...?"

"Selamat pagi, Tenma-kun. Pagi yang indah."

Yukine-san dengan pakaian santai memandang wajahku dari atas dan menyapa pagi dengan senyum.

Dia mengambil posisi duduk mengangkang di atas pinggangku. Bobotnya diberikan dengan pas, dan kehangatan pahanya serta sensasi berdaging yang padat terasa melalui selimut.

"Eto... Yukine-san, sedang apa?"

"Apa lagi, membangunkanmu~. Cowok, kan, ingin dibangunkan cewek di pagi hari?"

Ah, begitu... Jadi ingat, aku di sini untuk latihan hidup berumah tangga mereka. Yukine-san segera berperan sebagai istriku dan datang membangunkanku.

Tapi, tunggu sebentar.

Kalau membangunkan seperti ini, biasanya duduk di perut, kan?

Kenapa dia duduk di selangkanganku seperti posisi naik kuda...?

"Ayo ayo~. Cepat bangun~"

"!!?"

Dia bahkan menggoyangkan tubuhnya, mencoba membangunkanku.

Saat itu, payudara besarnya yang mendorong baju, bergoyang purun, purun mengikuti gerakannya. Selain itu, selangkangan Yukine-san bergesekan dengan selangkanganku—

"Yu, Yukine-san! Tolong berhenti! Aku sudah bangun! Aku sudah bangun!"

Sebelum terjadi hal buruk, aku menghentikan gerakannya.

"Benarkah? Kalau begitu, silakan~"

Yukine-san mengulurkan tangannya. Mungkin maksudnya "akan kubantu bangun."

Dengan canggung, aku mengambil tangannya dan bangun.

Lalu, dengan momentum yang sama, aku dipeluk.

"Wafu!?"

"Bagus, sudah bangun~. Hebat, hebat♪"

Wajahku dibenamkan ke dalam payudaranya yang montok, dan Yukine-san membelai kepalaku. Jari-jari ramping Yukine-san membelai belakang kepalaku dengan lembut.

"Tenma-kun, hebat bisa bangun pagi. Good boy."

Di mana ada tenaga di lengan kecilnya ini, aku dipeluk erat-erat, tubuhku menempel pada Yukine-san. Aroma gadis yang mengingatkan pada buah manis menggelitik hidungku, wajahku semakin tenggelam ke dalam payudaranya...

"Su-sudah, Yukine-san! Kenapa tiba-tiba begini!?"

Sadar kembali, aku lolos dari pelukannya.

"Eh? Karena Tenma-kun bisa bangun dengan baik, kupikir harus dipuji."

"Tidak, cuma bangun pagi saja dipuji... Terlalu manja..."

Anak SD pun tidak akan dipuji untuk hal seperti itu.

"Tapi aku sudah belajar banyak, lho? Pria suka cewek yang memanjakannya, kan?"

"Eh...?"

"Karena itu, aku ingin banyak memperhatikan Tenma-kun, banyak memanjakannya. Soalnya sekarang, aku istri Tenma-kun."

"...!"

Senyum lembut penuh keibuan. Apa dia serius akan berperan sebagai istriku selama hidup bersama ini?

Tapi, ini tidak boleh. Sangat tidak boleh.

Aku sudah diperingatkan dengan keras oleh Hajime-san untuk tidak melakukan hal tidak senonoh. Yang diizinkan bagiku hanyalah tinggal serumah secara normal. Kontak fisik tidak diizinkan sama sekali.

Lagipula cara membangunkannya tadi jelas termasuk kategori terlarang. Jika ketahuan melakukan hal seperti itu, aku pasti dipecat.

Harus berbicara baik-baik dengannya dan menghentikan perilaku berlebihan.

"Yukine-san... Meski disebut suami-istri sementara, yang tadi sudah keterlaluan. Tolong hindari skin-ship berlebihan seperti itu."

"Begitukah? Menurutku biasa. Lagipula aku ingin berlatih dengan baik. Agar saat menikah nanti, bisa memuaskan pasangan."

Yukine-san menatapku dengan mata penuh tekad.

"Aku ingin menjadi istri sempurna yang bisa membuat suami senang! Karena itu juga aku akan memanjakan Tenma-kun sepenuhnya! Jadi... Tenma-kun juga, manjakan aku?"

"!"

Yukine-san mendekatkan wajahnya dan membisik dengan suara manis.

Mendengar suaranya yang menggoda, hatiku tidak sengaja berdebar.

"Kalau begitu, aku siapkan makanan. Tenma-kun juga turun setelah ganti baju, ya?"

Berkata begitu, dia keluar kamar dengan senyum.

"Ah. Sekalian tolong ajak Karin-chan. Hari ini libur, jadi mungkin masih tidur di kamar."

Aku tidak bisa menjawab ucapannya dan hanya berdiri di tempat untuk beberapa lama.

※        ※        ※

Setelah ganti baju, aku menuju ruang makan seperti yang dikatakan Yukine-san.

"Uh, ngagetin... Aku beneran terkejut..."

Aku tidak menyangka Yukine-san akan memperlakukan ku seperti itu, dibangunkan dengan cara aneh dan dipeluk.

Hal seperti itu, secara posisiku pasti tidak boleh dilakukan. Jika ketahuan Hajime-san, pasti langsung dipecat. Harus introspeksi dengan baik, dan berhati-hati agar tidak terjadi situasi mencurigakan.

Tapi, dia lebih berani dari yang kuduga. Baik cara membangunkannya, maupun memelukku, skin-ship-nya terasa kuat. Untuk putri keluarga terhormat, agak terasa tidak cocok.

Pasti, itu menunjukkan betapa seriusnya dia dalam latihan kehidupan pernikahan. Yukine-san juga, memikirkan untuk menikah dengan keluarga terhormat di masa depan, dan berusaha agar disukai pria pasangannya.

Tapi secara posisiku, tidak bisa terlalu terlibat. Ada kemungkinan ketahuan Hajime-san, lain kali harus kutolak dengan tegas.

"...Oh, iya. Harus membangunkan Karin."

Teringat permintaan Yukine-san, aku melihat kamar di sudut koridor. Seperti yang diajarkan kemarin, itu adalah kamar Karin.

Pintu kamarnya terbuka lebar tanpa ditutup. Aku berusaha tidak melihat ke dalam, dan memanggil Karin dari luar.

"Hei, Karin. Apa kau sudah bangun?"

Tapi tidak ada jawaban. Seperti kata Yukine-san, sepertinya dia masih tidur.

"Karin~! Yukine-san memanggilmu~!"

Berkata demikian, aku memanggil Karin berulang kali. Tapi, tidak ada tanda-tanda dia bangun.

"Apa harus kubangunkan langsung?"

Aku ragu memasuki kamar perempuan, tapi karena dari luar tidak ada tanda-tanda dia bangun. Aku berpikir sebentar apa yang harus kulakukan.

Tapi, karena Yukine-san memintaku, mungkin tidak masalah masuk ke kamarnya. Lagipula pintunya terbuka, dan asal tidak melihat kamarnya dengan tajam, seharusnya tidak akan disalahkan.

Dengan kesimpulan itu, meski ragu-ragu, aku melewati pintu dan memasuki kamarnya.

"Hei, Karin. Sudah waktunya bangun~?"

Sambil memanggil Karin, aku menuju tempat tidur di dalam.

"Suyaa... suyaa..."

Di sana, Karin tidur sambil menendang selimutnya. Pakaiannya adalah negligee model terbuka depan. Yang berwarna krem itu mengilap, dan pita di dadanya sangat imut.

Tapi, ada yang lebih menarik perhatian.

Itu adalah──celana dalam yang terlihat sepenuhnya.

Mungkin karena bergerak saat tidur, negligee-nya terangkat, dan celana dalamnya terlihat sepenuhnya. Celana dalam merah muda imut dengan hiasan frill membungkus pantatnya yang kecil.

Karena melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat, pikiranku membeku.

Tepat pada saat itu, dengan timing terburuk, dia terbangun.

"Fua~a... Ah, Tenma-senpai. Selamat pagi~..."

Karin menyapa pagi dengan suara yang masih mengantuk. Dia tidak terlihat malu, dalam posisi celana dalamnya terlihat, dia memberiku senyum yang masih mengantuk.

Melihat penampilannya, aku memalingkan muka dan tanpa sadar menunjuk.

"Ka, Karin! Baju! Bajumu terangkat!"

"Fuhe...? Kyah!?"

Dengan ucapanku, dia juga menyadari keadaannya. Buru-buru memperbaiki ujung nemaki-nya, dan menatapku dengan wajah merah.

"............Tenma-senpai. Apa kau melihatnya?"

"Etto, itu............ Sedikit saja..."

Bohong pun tidak ada gunanya. Atau lebih tepatnya, sejak aku menunjuk, sudah pasti aku melihat celana dalamnya. Aku memberitahunya fakta yang jujur.

"Mengintip kamar perempuan, dan melihat celana dalamnya saat tidur... Tenma-senpai, hentai, ya?"

"Ti, tidak! Salah paham! Aku hanya ingin membangunkan Karin──"

"Apa? Itu alasan? Sudah melihat celana dalam orang."

"Ti, tidak... Maafkan aku..."

Memang, melihat celana dalamnya adalah fakta. Harus aku minta maaf untuk itu.

Karin melihatku membungkuk, lalu menghela napas, "Haa...".

"Ya sudah. Karin berhati luas. Sebagai gantinya── ini. Tolong."

"?"

Karin yang masih berbaring di tempat tidur, mengulurkan kedua tangannya ke arah sini. Aku bengong tidak mengerti.

"Tidak mengerti? Tolong bantu Karin bangun."

"Haa!?"

Tiba-tiba Karin mengucapkan permintaan misterius.

"Karin, sangat lemah di pagi hari. Tidak bisa bangun sendiri, jadi Senpai yang membangunkanku, ya?"

Dengan senyum nakal, Karin berkata dengan imut.

"Kuberi tahu, Senpai tidak punya hak menolak? Ini hukuman karena melihat celana dalam. Lagipula, bagi Senpai ini juga bagian dari pekerjaan."

"Pe, pekerjaan...?"

Mengapa membangunkan Karin menjadi pekerjaanku...?

"Soalnya Karin sudah menyelidiki? Cowok, kan, suka perempuan yang bertingkah manja? Artinya! Untuk menjadi istri yang baik, harus memanjakan pria sepenuhnya!"

Karin mengeluarkan pendapat ekstrem. Tapi, entah kenapa tidak bisa disangkal secara umum. Kebanyakan cowok senang jika dimanja gadis imut...

"Jadi, Karin akan banyak memanjakan Tenma-senpai♪ Senpai juga punya kewajiban menerimanya sebagai bagian pekerjaan."

"Apa-apaan teori ngawur itu!?"

Dia ini, mengeluarkan pendapat yang sangat keterlaluan.

Logikanya, bisa dibilang versi kebalikan dari Yukine-san.

Karin, dengan manja padaku, berusaha menyenangkan pria. Meski terkesan hanya ingin bersantai, mungkin itu tujuannya. Baik Yukine-san maupun Karin, dalam kehidupan ini, berniat tidak hanya terbiasa dengan pria, tapi juga berusaha menjadi istri yang baik.

Itu artinya, risiko aku dipecat meningkat.

"Ayo, Tenma-senpai. Cepat bangunkan aku~."

"Ah, sudah... Hanya kali ini, ya...?"

Sebenarnya ingin menolak, tapi sekarang ada rasa bersalah karena melihat celananya. Lagipula, bukan melakukan hal yang tidak senonoh, hanya membangunkannya saja.

Aku menggenggam kedua tangannya, dan menariknya dengan kuat.

Karin berdiri karena momentum, lalu langsung menyelam ke dadaku.

"Eiii!"

"Wawa!"

Dia menyembunyikan wajah kecilnya di dadaku.

"Aha. Tenma-senpai, hangat ya~♪"

Benar-benar kebalikan dari situasi dengan Yukine-san tadi.

Yukine-san memanjakanku, sedangkan Karin manja padaku. Yang sama dari keduanya adalah skin-ship-nya yang kuat. Jika terus seperti ini, aku akan sangat kewalahan.

"Ga, gak boleh! Menjauh, Karin!"

"Eh~? Gak mau. Bawa aku seperti ini~."

Dia ini, benar-benar berniat manja sepenuhnya.

"Tidak, kumohon jalanlah sendiri! Kau benar-benar manusia tidak berguna!"

"Eh~? Tidak apa-apa, kan? Karin ingin diperlakukan seperti putri. Ah, pertama bawa aku ke toilet. Lalu, suapi aku makan. Setelah itu, sikat gigi dan set gaya rambut dan persiapan sekolah dan login bonus game dan..., urusan mencari kerja juga kerjakan ya♪"

"Sama sekali gak ada niat melakukan sendiri!"

"Kalau begitu, setidaknya pergilah ke sekolah menggantikan Karin~?"

"Permintaannya terlalu tinggi untuk diawali dengan 'setidaknya'!"

Akhirnya, aku menggendongnya yang merajuk dan membawanya ke ruang makan.

※        ※        ※

Rumah dua lantai ini, lantai dua adalah kamar aku dan ketiga bersaudari, lantai satu adalah ruang bersama.

Saat aku turun ke lantai satu bersama Karin, Yukine-san sedang menyiapkan makanan di dapur. Suara dan aroma telur dan bacon yang digoreng sampai ke ruang makan.

"Selamat pagi, Karin-chan. Sebentar lagi makanan siap~."

"Yay! Terima kasih, Yukine-oneechan!"

Yukine-san menyapa adiknya dengan lembut. Karin menjauh dariku dan langsung duduk di kursinya.

"Tenma-senpai, cepat cepat. Duduk di sebelah Karin."

"A, aa. Oke."

Seperti yang dikatakan, aku duduk di kursi di sebelahnya. Lalu, meminum jus yang sudah disiapkan.

"Tenma-kun juga, tunggu sebentar lagi, ya?"

"Ah, ya. Terima kasih."

Bagiku yang selalu memasak untuk adik perempuanku setelah mengantar koran, bangun pagi dan makanan sudah siap adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku tahu ini pekerjaan, tapi aku hampir lupa dan menikmatinya.

"Fuwa~aa... Selamat pa~gi."

"Ah, selamat pagi Tsukino-chan."

"Selamat pagi~."

Menoleh ke arah suara, Tsukino datang dengan wajah mengantuk. Tapi sebaliknya, area mulutnya lembab dengan lipstik, dan bulu matanya rapi dan cantik. Sepertinya dia merias wajah dengan baik di kamarnya sebelum datang.

"Se... Selamat pagi, Tsukino."

Karena sikapnya kemarin, agak canggung tapi aku menyapa.

"Eek. Kau masih ada?"

Lalu, dia berkata dengan wajah sangat jijik. Yang itu sedikit menyakiti hatiku.

"Tentu ada... Aku tinggal di sini selama setahun."

"Fu~un. Begitu. Tidak apa? Toh sama saja ada atau tidak."

Dia ini, berniat sungguh-sungguh memperlakukan ku seperti tidak ada seperti yang dikatakan kemarin...?

Lalu, Yukine-san yang datang dari dapur, melihat wajah Tsukino dan menyadari sesuatu.

"Eh? Tsukino-chan, lipstik itu sangat cantik? Beli di toko dekat stasiun?"

"Ah, kamu tahu? Iya betul. Barang terbatas waktu itu. Mau pinjam?"

"Benarkah? Makasih~! Aku juga agak pengen~."

"Ah, curang! Karin juga pengen pake itu~!"

"Boleh... Tapi Karin, kemarin memakai seragam olahragaku, kan? Kembalikan dulu."

"Ah, ketahuan? Seragam Karin lupa dicuci."

"Beneran deh, gak boleh pakai sembarangan. Cuci hari ini, ya? Kan minggu depan ada olahraga."

Dengan kedatangan Tsukino, ketiga saudari itu mengobrol dengan riang.

Guh... Aku lagi-lagi gak diajak bicara. Jika dibiarkan, akan lahir seorang yang sendirian di dalam keluarga.

Skin-ship berlebihan seperti tadi juga merepotkan, tapi jika diabaikan juga tidak bisa bekerja. Untuk melakukan pekerjaan membiasakan ketiga bersaudari dengan pria tanpa dipecat, perlu jarak yang tepat.

Di sini, harus memaksakan diri untuk ikut bicara!

"Ah, nee! Tsukino! Berbicara tentang olahraga, perempuan ngapain? Cowok sepak bola──"

"Hah? Mendengar itu mau apa? Jijik tau."

Ya. Memang, akan begitu. Memaksakan bicara pun akan dianggap mengganggu dan permainan berakhir.

"Nee Yuki-nee. Aku, makan nanti saja. Aku makan setelah kalian selesai."

"Eh? Tapi sebentar lagi selesai?"

"Gakpapa. Aku gak pengen makan bersama orang ini."

Tsukino menunjukku dengan jari yang diberi nail art.

...Sepertinya aku benar-benar dihindarinya.

"Ngomong-ngomong, lebih baik kau yang menggeser waktunya. Kan kau orang luar."

Berkata demikian, Tsukino mengambil gelas yang ada di meja.

...Tunggu. Itu gelas...

"Ah, Tsukino-chan...!"

"Eh, apa? Kenapa?"

Meski Yukine-san bersuara, terlambat.

Tsukino menyentuhkan mulutnya pada gelasku, dan menghabiskan sisa jusnya.

"Ah...!?"

Tak sengaja suara aneh keluar dari tenggorokanku. Aku membeku dengan mulut setengah terbuka, masih menatap Tsukino.

"Hah? Apa?"

Menyadari pandanganku, Tsukino menatapku.

Yukine-san berkata dengan ragu-ragu.

"Etto, Tsukino-chan... Gelas itu, yang digunakan Tenma-kun..."

"Nn...?"

Ditegur, setelah beberapa detik.

Wajah Tsukino berubah merah padam.

"Eh...? Eh...! E──────h!?"

"Ma, maaf... Karena tidak beli untuk Tenma-kun, jadi pakai bekas Tsukino-chan..."

Meski Yukine-san meminta maaf, sepertinya Tsukino tidak mendengarnya.

Tsukino, apa bakal marah padaku, dengan wajah masih merah seperti terbakar, tubuhnya gemetar puru puru. Lalu──

"Aha. Onee-chanIndirect kiss dengan Senpai, ya~."

Dengan satu kata dari Karin, dia meledak.

"~~~~~~~~h!"

Dan! Dododododododo! Gacha! Batan!

Dia meletakkan gelas dengan kuat di meja, berlari menaiki tangga, dan kembali ke kamarnya.

"............"

Etto, ini... Artinya dia sangat tidak suka...? Ya. Cukup shock. Dari awal sudah sangat dibenci, bisakah benar-benar tinggal bersama...?

"A, ahaha... Entah, maaf? Tenma-kun..."

"Tenma-senpai. Semangat!"

Yukine-san meminta maaf dan Karin memberiku semangat misterius.

Ternyata, akrab dengan Tsukino adalah hal yang sangat sulit. Dalam interaksi singkat dengannya, aku kembali menyadari kesulitan misiku.

※        ※        ※

"Sepertinya, hanya Tsukino yang bermasalah..."

Setelah sarapan, sambil menuju kamarku, aku memikirkan strategi untuk Tsukino.

Meski baru memulai tinggal bersama, hubungan dengannya tidak bisa tidak dianggap bermasalah.

Yukine-san dan Karin mungkin tidak masalah. Meski skin-ship keduanya agak kuat, mungkin bisa akur.

Tapi, hanya Tsukino yang sulit. Jika tidak berusaha mendekat, bahkan melanjutkan kehidupan ini bisa menjadi sulit.

Lagipula pekerjaanku adalah membiasakan mereka dengan pria selama satu tahun tinggal bersama. Jika tidak akrab dengan Tsukino, mungkin tugas itu tidak tercapai.

"Tidak apa... Aku akan coba bicara sekali."

Untuk mendekatkan jarak dengannya, pertama-tama aku ingin berbicara berdua.

Tapi, bicara tentang apa? Jujur berkata 'Ayo berteman!' pun, kurasa tidak akan didengarkan. Malah, apa pun yang kubicarakan akan disambut dengan makian. Memikirkannya saja, secara mental sangat berat.

Tapi, pekerjaanku menyangkut kehidupan keluarga. Untuk adik perempuanku, aku tidak bisa lari. Harus memikirkan cara untuk akrab.

Sambil berpikir demikian, aku naik tangga dan sampai di lantai dua. Aku berjalan di koridor, dan membuka pintu kamarku.

Pada saat itu, waktu berhenti.

Tubuhku benar-benar berhenti bergerak. Dalam posisi membuka pintu, napasku membeku, bahkan jantungku lupa berdetak.

Kenapa? ......Karena aku melihatnya. Pemandangan yang sangat tidak bisa dipercaya di dalam kamar.

Tsukino menggenggam celana dalamku yang disimpan di laci, dan mencium aromanya.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...