"Mi-chan, bisa sebentar~?"
Sewaktu Mizuki sedang menggerakkan penanya di kamar, suara ibunya melayang dari lantai satu.
Ia menuruni tangga, lalu menyembulkan wajahnya di ruang keluarga. Ayahnya sedang memangku adik perempuannya yang paling kecil, bermain dengannya. Ayahnya yang berotot kekar, dengan ringan mengangkat adiknya dan menggantungkannya di lengan.
Melewati sampingnya, melangkahi adik perempuan keduanya yang berbaring di lantai sambil memainkan ponsel, ia menuju dapur.
"Ibu, apa?"
Meja makan yang penuh dengan dokumen dan mainan berserakan. Begitu ia duduk di kursi, di hadapannya, ibunya duduk.
"Ibu sudah bicara dengan Ayah. Kamu juga sudah kelas dua SMA, kan? Tahun depan sudah lulus. Kira-kira, mau bagaimana selanjutnya?"
"Itu masih jauh..."
"Tapi, beberapa waktu lalu, Ibu ketemu teman di supermarket. Katanya, anaknya sudah dimasukkan tempat les. Sudah ada universitas yang diinginkan, dan lagi giat belajar."
Mizuki melihat ujung kukunya tanpa minat.
Rumah orang lain ya rumah orang lain, rumah kami ya rumah kami. Mendengar urusan keluarga lain, tidak begitu nyambung.
"Jadi, kamu sendiri, mau bagaimana? Universitas? Sekolah khusus? Kerja?"
"Aku belum memutuskan."
"Nggak ada yang kamu inginkan di masa depan?"
"Sekarang, nggak ada."
Atas jawaban Mizuki yang datar, ibunya menghela napas panjang.
Justru aku yang ingin menghela napas, pikir Mizuki dalam hati.
Hanya saja—ada keinginan untuk pergi ke universitas.
Sampai SMP, ia suka belajar. Kalau dilakukan, hasilnya keluar. Dipuji oleh guru. Kuliah di universitas yang dikunjunginya saat pembelajaran lapangan di tahun ketiga SMP, juga masih tersimpan di ingatan sebagai kenangan yang menyenangkan.
Suatu hari nanti, ingin berjalan-jalan di kampus.
Mimpi kecil seperti itu, masih tersimpan rapat di dalam dadanya.
Belakangan ini, sejak diajari oleh Ryuusei, perasaan itu perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Kalau terus berusaha seperti ini, pasti bisa jadi sesuatu—momen-momen di mana ia bisa berpikir begitu juga bertambah.
Akan tetapi—.
Setiap kali wajah adik-adiknya terlintas, pilihan untuk masuk universitas yang butuh biaya, secara alami terhambat. Adik perempuannya yang kedua, tahun depan ujian masuk SMA. Kalau swasta, akan semakin banyak biaya.
Begitu memikirkan, di saat seperti itu, dirinya masuk universitas—mimpi itu, tidak bisa dengan mudah ia ucapkan.
"...Pembicaraannya, sudah selesai?"
"Begini, Mizuki—"
Di saat itu, ayahnya datang sambil menggendong adiknya, lalu duduk, "Dosh," di samping ibunya.
"Ibu, bir."
"Iya, iya..."
Ibunya menuju kulkas. Jarang-jarang ayahnya datang mendekat. Mizuki sedikit mengalihkan pandangannya.
"Belakangan ini, katanya kamu giat belajar, ya."
"...Memangnya kenapa?"
Begitu ia menjawab singkat, ayahnya terdiam sambil menenangkan adiknya. Bir datang. Ayahnya membuka tutup kaleng, meneguk bir entah yang ke berapa hari ini, lalu berkata lirih.
"Hari ini, aku bicara dengan pimpinan. Sambil ngobrol, jadinya ngomongin masa depanmu."
Sambil mengelus kepala adiknya yang mulai mengantuk, ayahnya berkata dengan ketus.
"Kalau kerja kantor, gajinya lumayan. Tiap tahun juga ada lowongan. Ada koneksi ke perusahaan utama. Jadi, kalau kamu mau kerja setelah lulus SMA, katanya nggak perlu khawatir soal tempat kerja."
Sewaktu Mizuki membelalakkan matanya, ayahnya melanjutkan, "Tapi."
"Aku bilang begini pada pimpinan. Berbeda denganku, anak perempuanku ini pintar. Jadi, aku ingin menyekolahkannya ke universitas."
"...!"
Ayahnya, biasanya, lebih tanpa ekspresi daripada Mizuki. Tapi, hanya di saat itu, bagian dalam matanya terlihat lembut.
"Jangan khawatir soal uang. Kalau kamu mau kuliah, aku akan bekerja untuk itu."
Ayahnya berkata begitu, lalu menggendong ulang adiknya yang sudah tertidur agar tidak terbangun, dan meninggalkan ruang keluarga.
"Ya ampun, gengsinya ketinggian. Yang mengatur keuangan rumah tangga, kan, aku, lho?"
Ibunya tertawa lelah, lalu meneguk bir yang ditinggalkan ayahnya.
"Tapi, sepertinya Ayahmu serius. Pikirkan baik-baik masa depanmu."
"...Ya."
Meski Mizuki berdiri dengan berpura-pura acuh, entah kenapa, sudut matanya terasa panas.
* * *
"Kira-kira, aku ini cocoknya jadi apa, ya?"
Begitu Risa bertanya, ayahnya melepaskan pandangan dari ponsel, lalu bertanya balik, "Eh? Apa?".
Restoran bintang tiga di dalam kota. Di tengah hidangan utama ikan, Risa diam-diam menurunkan garpu dan pisaunya, lalu menatap ayahnya lagi.
"Jadi, kira-kira, hal yang cocok untukku, apa, ya?"
"Ah~... apa, ya? Apa ada hal yang kamu suka, atau yang ingin kamu lakukan?"
Makanya, karena aku nggak tahu, aku bertanya—sambil berpikir begitu, Risa melanjutkan kata-katanya dengan tetap tersenyum.
"Sekarang, sih, aku syuting video dance bersama Madoka dan yang lain. Tapi, bukan berarti aku tertarik jadi influencer, atau masuk dunia hiburan, gitu. Tapi, kalau misalnya nanti kerja~ atau misalnya nanti kuliah~, belakangan ini, aku jadi memikirkan banyak hal, sih~"
Ia mencoba berkata dengan ceria. Tapi, selama itu, ayahnya mengetik sesuatu di ponselnya. Mungkin e-mail pekerjaan.
"Yah, kurasa, lebih baik lulus universitas. Papa sering ditanya soal latar belakang pendidikan, soalnya. Lulusan SMA dan lulusan universitas itu—ah, tapi, di zaman sekarang, orang yang hebat ya tetap hebat tanpa memandang latar belakang pendidikan. Jadi, mungkin nggak ada hubungannya, juga."
Terlihat seperti menjawab, tapi sebenarnya tidak.
Ayahnya Risa selalu begini. Tidak memutuskan, hanya mengambang dengan kata-kata yang ambigu. Padahal di tempat kerja, sebagai seorang pengusaha, ia pasti membuat keputusan. Tapi, di rumah, beginilah keadaannya.
Saat itu, ponsel ayahnya yang diletakkan di atas meja bereaksi.
Begitu ia melirik, ada panggilan telepon masuk. Di layar, terpampang nama perempuan.
"Ah, maaf. Ada telepon masuk."
Ayahnya meraih ponsel, lalu berkata sambil buru-buru berdiri.
"Siapa?"
"Ah, itu... dari tempat kerja. Maaf, ya, Risa-chan. Kalau sudah selesai makan, bilang pada pelayan, piringku juga tolong diangkat."
Ayahnya, "Ya, halo," menjawab telepon dengan senyuman. Lalu, langsung menuju ke arah pintu masuk.
Telepon yang lebih penting dari makan dengan putrinya, sebenarnya apa—.
Ditinggal sendirian, Risa merapikan garpu dan pisaunya, lalu meletakkannya di atas piring. Garpu dan pisau ayahnya juga, ia rapikan dengan cara yang sama di piring. Tak lama kemudian, pelayan mendekat.
"Mau kami bawakan pencuci mulut?"
"...Tidak, tolong batalkan pencuci mulutnya."
"Eh? Ah, ya... baik."
Begitu ia mengarahkan pandangan ke arah kepergian ayahnya, meja-meja di sekitar masuk ke matanya.
Pasangan, keluarga, kumpulan tempat kerja—di kursi mana pun, tidak ada yang duduk sendirian.
Risa menaruh siku di meja, lalu menatap ke luar jendela. Satu helaan napas kecil, bocor.
Hujan sedang turun. Butiran air hujan yang menempel di kaca, mengalir turun dengan tenang.
Risa, hanya diam menatap pemandangan itu.
* * *
"Sebentar lagi, peringatan tujuh tahun kematian Papa, ya~..."
Ayaka yang sedang minum highball di sofa, tiba-tiba berkata sambil menatap bingkai foto.
"Hei, Madoka. Kalau Mama bilang, Mama mau menikah lagi, kamu gimana?"
"...Hah? Serius!? Siapa orangnya!?"
"Akan dicari mulai sekarang~. Super tampan~"
"Haa~h? Apa, sih..."
"Mama, masih sangat bisa dong, sebagai perempuan?"
Kata Ayaka begitu, lalu menaruh tangannya di kepala dan pinggang, bergaya seperti gravure idol. Memang, bentuk tubuhnya luar biasa. Kalau jalan bersama di kota, sampai sekarang pun masih sering disangka kakak beradik.
"Yah, aku pikir, Mama masih muda..."
"Iya, iya. Masih tiga puluhan, kok~"
"Tapi, nenek-nenek, ya."
"Jahat banget! Kalau ngomong begitu, kamu juga akan segera di umur yang sama, lho~?"
Sambil melirik Ayaka yang membalas dengan ceria, Madoka menatap foto ayahnya.
Kalau ayahnya masih hidup, apa yang akan ia katakan melihat ibu yang seperti ini?
Ayah dalam ingatannya, adalah orang yang selalu ceria dan selalu bercanda, sama seperti ibunya.
Meninggal di usia tiga puluh—di dalam foto, ayahnya menyipitkan mata, tersenyum lebar.
"...Tapi, ya, kalau Mama bilang, mau menikah lagi, kurasa Papa juga akan mengizinkan, kok."
"Kamu pikir begitu?"
"Pikir, pikir. Karena, selama ini, kan, Mama dibuat kesepian, terus? Jadi, meskipun Mama menyukai orang lain, dia pasti akan tertawa, 'Serius, nih~,' dan nggak akan mengeluh."
"Mungkin dia akan muncul jadi hantu, lho~..."
Ayaka berkata dengan sengaja, bergaya seperti hantu.
"Kalau begitu, biar aku yang hajar!"
"Wah, Papa, kasihan~"
Mereka berdua tertawa geli.
Tiba-tiba, Ayaka memeluk Madoka, lalu memeluknya erat. Ini kebiasaannya saat mabuk.
Bercampur dengan aroma parfum yang manis, ada bau alkohol.
"Tapi, ya, Mama nggak kesepian~. Karena ada Madoka di samping Mama~"
"Ya, ya. Orang mabuk, cepat tidur~"
"Nggak mau~. Aku mau bermanja-manja sama Madoka~"
"Ganggu, ah, Mama."
Meski berkata begitu, Madoka tidak merasa buruk.
Sedikit memalukan, lembut, hangat—mungkin, Ryuusei juga, kalau dipeluk olehku, merasakan hal yang sama, pikirnya.
"Ah, sekarang, kamu lagi mikirin Ryuusei-kun, ya?"
"Hah!? Kok Mama tahu!?"
"Tahu, tahu. Madoka... terus terang, kamu suka anak itu, kan~?"
"Bukan...! Ryuusei itu teman! Karena dia teman di Gyaru Circle!"
"Iya, iya. Anggap saja begitu, ya~"
Kata Ayaka dengan puas, lalu menenggak habis highball-nya.
"Tapi, ya, di luar dugaan banget. Madoka, membawa anak yang seserius itu ke rumah~. Mama mendukung kalian berdua, lho~"
"Makanya, ganggu, ah..."
Madoka memalingkan mukanya. Tapi, sampai telinganya, benar-benar merah.
Saat itu, tiba-tiba, kata-kata Ryuusei terlintas di pikirannya.
'...Ayaka-san, mengkhawatirkan masa depan Madoka. Meskipun sekarang belum bisa menjawab dengan jelas, kupikir, suatu saat nanti, lebih baik kalian bicarakan baik-baik.'
Ibunya berbaring di sofa, mengantuk dan mengedipkan matanya. Dengan keadaannya begini, percakapan sekarang pun, besok pasti tidak akan diingatnya.
"Mama, soal masa depanku..."
"Hm~ ...apa~?"
Hampir seluruhnya suara di dalam mimpi.
Sambil berpikir, "Curang, ya," Madoka diam-diam, memantapkan tekadnya, lalu berkata.
"Itu... aku...—sebenarnya, ingin jadi penulis buku bergambar."
Setelah mengatakannya, ia sedikit menyesal.
Begitu ia melihat ibunya, ia sudah benar-benar dalam mimpi indah di pangkuan Madoka.
"Ya, kamu pasti bisa~..."
Hanya itu yang ia katakan. Lalu, Ayaka tertidur lelap seperti tali yang putus.
"...Mama, nanti masuk angin, lho? —Ya ampun.... Selamat tidur, Mama."
Madoka berkata kecil, lalu diam-diam mengelus rambut ibunya yang tidur dengan nyenyak di atas lututnya.