Otherworld Dating App - Chapter 43: Gate (8)

   




Diterjemahkan Oleh: SEV

Choi Hyena, yang pingsan karena rentetan orgasme, akhirnya terbangun sekitar tiga puluh menit kemudian.

"Ugh..."

Dia gemetar saat duduk, lengannya bergetar, jadi dia terlihat tidak dalam kondisi yang baik. Tapi nafsunya sudah ditangani dengan baik, jadi menurut standarku, itu tidak masalah.

Namun, sepertinya mustahil untuk melanjutkan perburuan magical beast hari ini, jadi kami tidak punya pilihan selain menghabiskan sisa waktu kami di dalam tenda.

'Tetap saja, kita sudah mengumpulkan lumayan banyak batu sihir.'

Choi Hyena bilang dia tidak tertarik dengan batu sihir peringkat C dan memberikan semua batu yang kami kumpulkan sejauh ini kepadaku.

Totalnya, aku punya lima batu peringkat C dan C+, dan sekitar dua puluh batu sihir dari White Wolves, yang tingkat mana individunya adalah D+.

Mengingat batu-batu yang belum sempat kami kumpulkan, sepertinya kami berdua telah membunuh banyak magical beast. Siapa yang menyangka bahwa hanya dua orang, seorang mage Lingkaran ke-2 dan mage Lingkaran ke-3, bisa mencapai sebanyak ini?

'Performaku di garis depan yang meng-carry kami.'

Kalau kami berdua bertarung sebagai mage, ada banyak pertempuran di mana nyawa kami akan berada dalam bahaya.

Terutama mengingat bagaimana Choi Hyena, dengan kurangnya pengalaman tempur melawan magical beast yang sangat parah, sering terintimidasi oleh kehadiran mereka, kehilangan fokus dan gagal merapal mantranya. Aku yang mengambil alih garis depan, tanpa ragu, adalah solusi yang sempurna.

Berkat itu, aku mendapat luka gores kecil di sekujur tubuhku, tapi fakta bahwa aku keluar dari sana utuh, dengan semua anggota tubuhku, sudah cukup.

Lagi pula, gereja bisa dengan mudah menghilangkan bekas luka seperti ini.

Tapi masalah muncul di tempat lain.

Sekitar tiga jam setelah aku memuaskan nafsu Choi Hyena dan kami hanya menghabiskan waktu di dalam tenda, aku mendengar suara yang tidak asing.

"Ngh, nnngh..."

Dia diam sejak tadi, jadi aku bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan di sudut. Ternyata, dia sedang bermain dengan dirinya sendiri.

Tangannya, yang diselipkan di antara kedua kakinya, bergerak dengan sibuk.

"Hei."

"A-apa?! Kenapa!"

Tepuk, tepuk.

Aku menepuk ruang di antara kedua kakiku.

Baru pada saat itulah Choi Hyena, dengan wajah yang terlihat seperti akan meledak, merangkak mendekat dan duduk di depanku.

"Mau kulakukan seperti tadi?"

"...Iya."

Dengan izinnya, tanganku meluncur ke balik roknya semulus air mengalir.

Seperti ular yang meliuk-liuk, aku dengan gigih membelai pahanya, lalu dengan lembut memijat area di sekitar selangkangannya, sama seperti yang kulakukan sebelumnya.

Celana dalamnya, yang tadinya basah kuyup oleh cairannya, sekarang sudah kering dan segar berkat sihir yang kugunakan. Celana itu bakal basah lagi sebentar lagi, tapi dia sempat bilang kalau harga dirinya tidak mengizinkannya untuk tidak memakai celana dalam sama sekali.

Bertanya-tanya berapa lama harga diri itu akan bertahan, aku menyingkirkan celana dalamnya dan mengelus vulvanya dengan jari-jariku.

Basah, becek.

"Hngh, haah, ngh...!"

"Enak?"

"N-nggak sama sekali... Ini nggak enak...?!"

Untuk seseorang yang mengklaim seperti itu, reaksinya cukup seketika, dan jumlah cairan yang mengalir darinya bukan masalah kecil.

Lalu sebuah pikiran terlintas di benakku. Cairan Cheon Yeo-hwa memiliki rasa yang sedikit asam manis; aku bertanya-tanya seperti apa rasa milik Choi Hyena.

Melihat adalah percaya, seperti kata orang-orang. Aku menjilat ujung jari yang tadi membelai memeknya.

Slurp. Rasanya halus. Sedikit lebih asam daripada milik Cheon Yeo-hwa. Bukannya kecut. Ini cuma masalah selera pribadi, karena aku bukan penggemar berat rasa asam.

"K-kenapa kau memakannya?!"

"Oh? Berani meninggikan suara padaku sekarang?"

Aku menyelipkan kakiku di antara kakinya, memaksanya terbuka, dan melingkarkan lenganku di pinggangnya.

Posisi yang tidak asing ini membuat Choi Hyena gemetar secara naluriah.

"T-tidak... bukan itu maksudku..."

"Terlambat."

"Heuk...?!"

Setelah itu, dengan klitoris dan G-spot-nya yang disiksa secara bersamaan selama beberapa puluh menit, Choi Hyena terpaksa klimaks tujuh kali berturut-turut sebelum akhirnya pingsan.


Awalnya, kupikir meredakan masa heat-nya (masa birahinya) akan mudah. Aku cuma perlu membuatnya keluar setiap beberapa jam, dan urusannya selesai.

Kelemahannya adalah rasa tidak nyaman di bagian bawah tubuhku sendiri, tapi itu masih jauh lebih baik daripada dia mencoba membunuhku setiap beberapa jam.

Tapi masalah sebenarnya ada di tempat lain.

"Nngh, ugh, haah..."

Siklus birahinya semakin pendek.

Baru sejam sejak dia pingsan dan bangun, tapi dia sudah berada di sudut tenda, diam-diam bermain dengan dirinya sendiri lagi.

"...Ngh, haah, haaang!"

Dia bahkan sepertinya mengalami orgasme kecil, saat dia mulai gemetar.

Apa yang harus kulakukan dengan orang mesum ini?

Tapi aku tidak bisa langsung melepaskan nafsunya begitu saja.

Selama Wendigo merasukinya, nafsu Choi Hyena tidak boleh benar-benar terpuaskan, apa pun yang terjadi.

Kalau Wendigo terbangun karena semua hasratnya terpenuhi, mimpi buruk kemarin bisa terulang kembali.

Aku harus menghindari situasi di mana aku harus menghadapi Choi Hyena yang haus darah dengan tanganku sendiri, apa pun risikonya.

Lagipula, ini baru satu jam.

'Dia harus menunggu setidaknya dua jam lagi.'

Nafsu yang dirasakan Choi Hyena sekarang adalah hasrat pada tingkat yang sama dengan dorongan membunuh yang dia rasakan saat dirasuki Wendigo.

Itu berarti dia harus belajar mengendalikan nafsunya sendiri, sehingga jika dorongan membunuhnya kembali di masa depan, dia akan mampu menahannya sampai batas tertentu.

Aku tidak punya pilihan selain mengabaikannya yang sedang masturbasi dan tenggelam dalam meditasi. Mungkin akan lebih mudah baginya untuk menekan perasaannya kalau aku memejamkan mata.

Tapi aku salah.

Seiring berjalannya waktu, suara basah yang semakin keras dan napas Choi Hyena yang memanas membuatku sulit untuk fokus pada meditasiku.

Awalnya, dia tampak mempedulikanku, tapi sekarang kelihatannya dia tidak peduli sama sekali.

Bermeditasi tanpa fokus sama sekali tidak ada bedanya dengan sekadar memejamkan mata dan membuang-buang waktu.

Aku tidak punya pilihan selain membuka mataku, dan pemandangan yang mengejutkan menyambutku.


 

"...Apa yang kau lakukan?"

"Ha, haah, haang, ah...! J-jangan lihat!"

Omong kosong.

Seolah-olah dia butuh lebih banyak bahan, dia sedang masturbasi sambil menatap lurus ke arahku.

Bahkan saat wajahnya memerah dan dia menyuruhku untuk tidak melihat, jari-jari yang menggali ke dalam memeknya tidak berhenti sedetik pun. Malahan, jari-jarinya semakin cepat.

Panggul dan pinggangnya bahkan mulai sedikit terangkat; sepertinya dia hampir keluar.

"Hngh, nngghhh...!!"

Pssh, pssshhhhhh-

Sambil mendongakkan kepalanya ke belakang, Choi Hyena mengeluarkan muncratan yang memuaskan dan ambruk ke atas kasur.

Memeknya yang merah cerah dan bengkak dibiarkan terekspos sepenuhnya.

'...Dia benar-benar membuatku gila.'

Sejujurnya, kalau aku bisa, aku bakal menggenjotnya sekarang juga.

Aku ingin menyorongkan pinggulku dengan liar dan melepaskan spermaku jauh di dalam dirinya.

'Hah... aku kangen Iris dan Cheon Yeo-hwa.'

Apa masuk akal kalau aku menjalani kehidupan selibat (menahan nafsu) padahal aku punya dua pacar yang cantik?

Ini sangat tidak adil sampai-sampai rasanya aku ingin menangis, tapi aku memutuskan untuk menerimanya sebagai takdirku.

Apa lagi yang bisa kulakukan kalau aku tidak berpikir seperti itu?

"Nngh, haah... ngh..."

Becek, becek-

Tidak menyadari betapa menderitanya teman setendanya, Choi Hyena tidak bisa menahan diri dan mulai masturbasi lagi.

Jari-jarinya yang lentik dengan rajin memainkan lubang memeknya yang kecil dan imut.

"Hei, Kang Hyun-woo..."

Suaranya yang menyedihkan menusuk telingaku.

"Tolong aku..."

Bahkan setelah menggunakanku sebagai bahan colinya, dia masih belum puas. Melihatnya memohon bantuan dengan air mata berlinang di pipinya membuat bagian bawahku mengeras hingga terasa sakit.

"..."

Aku benar-benar bisa gila.

Hanya setelah menampar pipiku sendiri dengan sekuat tenaga barulah aku bisa mengabaikan permohonan putus asa Choi Hyena untuk ditolong.

Namun, Choi Hyena terus menenangkan tubuhnya yang tak kunjung mendingin selama berjam-jam, memenuhi tenda dengan aroma dan erangan cabul.

Pada titik inilah, tersisa tiga hari dan hampir tujuh jam sebelum gate itu terbuka.

·

·

·

Untuk mengabaikan Choi Hyena, aku baru saja pergi ke sudut dan mencoba untuk tidur.

Mungkin karena posisinya yang tidak nyaman, aku tidak bisa tidur nyenyak, dan di satu titik, aku bahkan mulai merasa sesak napas.

Aku tidak punya pilihan selain memaksa kelopak mataku yang berat untuk terbuka. Pemandangan yang begitu tak bisa dipercaya sampai-sampai aku tidak bisa mempercayai mataku sendiri memasuki penglihatanku.

"Haa, haa, haa..."

"...Apa ini? Apa aku lagi mimpi?"

Kenapa pergelangan tanganku diikat dengan tali, dan kenapa Choi Hyena ada di atasku?

Pemandangan ini terasa familier.

Bersiaplah. Aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini.

Teralihkan sejenak oleh dejavu yang melintas di pikiranku, aku menyadari ada sesuatu yang aneh tentang Choi Hyena yang ada di atasku.

Mata kanannya berwarna ungu lilac seperti biasa, tapi mata kirinya berwarna biru langit pucat, mengingatkan pada es dan salju.

"Kau yang jahat...!"

"Apa yang kau..."

"Ya, kau, manusia, kau yang jahat!"

"...?"

Seolah-olah dia punya kepribadian ganda, dua suara yang berbeda keluar dari mulut Choi Hyena.

Satu adalah suara Choi Hyena yang sudah kukenal, tapi yang lain adalah suara tajam yang belum pernah kudengar sebelumnya.

'Yang lebih penting, manusia...?'

Nggak mungkin, pikirku, itu nggak mungkin, tapi pada saat yang sama, sebuah kepastian tumbuh di dalam diriku.

"...Wendigo?"

"Beraninya manusia biasa menggoda roh salju dan es yang agung ini..."

Astaga. Dari sekian banyak hal, sekarang aku bakal digenjot sama roh.

"Hei, hei, Choi Hyena! Lepaskan ini!"

"Kenapa aku harus melakukannya...?"

Percuma saja.

Hanya dari jumlah cairan yang menetes dari memek si nympho gila itu, aku bisa tahu kalau dia sedang dalam masa birahi yang luar biasa.

Mungkin malah lebih parah dari tempo hari.

'Jangan bilang aku sangat menggodanya sampai-sampai Wendigo-nya terbangun...?'

Ini gila. Roh pembunuh yang diperlakukan sebagai magical beast sedang menggeliat dalam nafsu? Apa itu masuk akal?

Sepertinya aku benar-benar meremehkan nafsu yang dirasakan Choi Hyena.

Jadi, gimana sekarang?

'...Tapi aku tidak merasakan niat membunuh sedikit pun.'

Bakal gampang aja memutuskan tali dan kabur dengan mengerahkan mana-ku, tapi terus apa?

Ini cuma tebakanku, tapi sepertinya pikiran Choi Hyena tidak terkikis oleh Wendigo. Sebaliknya, mereka berdua berbagi kendali, sekitar fifty-fifty (lima puluh lima puluh).

Kalau aku menaklukkannya sekarang dan dorongan membunuh Wendigo itu mengamuk, situasinya pasti bakal jadi tidak bisa diubah.

Untuk saat ini, sepertinya satu-satunya jawaban yang benar adalah membiarkan diriku diikat.

'...Kalau dia menunjukkan sedikit saja niat membunuh.'

Maka aku akan menggunakan semua mana yang kusimpan untuk menaklukkannya.

Sekalipun aku harus meledakkan lengan atau kakinya dalam prosesnya, selama aku membawa potongan tubuh itu ke gereja, mereka bisa menyambungnya kembali.

"Kau bilang tidak, tapi bagian bawahmu jujur sekali, bukan?"

"I-ini punya Kang Hyun-woo..."

Aku ngerasa ada angin yang masuk di bawah sana dari tadi, dan ternyata Wendigo itu udah ngelepas celana dan celana dalamku entah kapan. Dia sekarang sedang membelai penisku dengan senyum penuh nafsu.

Choi Hyena dan Wendigo, mereka berdua fokus pada penisku, masing-masing dengan reaksi yang berbeda.

Aku tidak bisa keluar selama berhari-hari sejak sesi dry humping (gesek-gesek) waktu itu, dan membantu Choi Hyena dengan masa birahinya hanya memperburuk keadaanku.

Penisku lebih besar dan lebih tebal dari biasanya. Bahkan di mataku sendiri, pembuluh darah yang menonjol itu terlihat mengerikan, seolah-olah aku habis minum semacam obat kuat.

"Menyerah secepat ini? Hoho, pilihan yang bijak. Tetaplah diam. Aku akan mengajarimu apa itu kenikmatan tertinggi."

Terlepas dari tekadku untuk bertarung habis-habisan saat dia menunjukkan niat membunuh, melihatnya menjilat bibirnya seperti penggoda membuatku, di luar kendaliku, mulai menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
NextGen Digital Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...