
[Ring of Desire Reversal]
[Target: Choi Hyena (Wendigo)]
[Hasrat yang Dibalik: Dorongan Membunuh > Hasrat Seksual]
Layar yang muncul di depan mataku membuat pikiranku terguncang, seolah-olah aku baru saja dipukul di bagian belakang kepala.
Ring of Desire Reversal (Cincin Pembalik Hasrat). Itu adalah item yang efeknya sama persis seperti namanya.
Itu membalikkan hasrat target yang paling kuat. Dalam kasus Choi Hyena, yang dirasuki Wendigo, dorongan membunuh yang luar biasa terhadap manusia rupanya telah dibalik menjadi hasrat seksual yang intens.
"...Ini gila."
"Hngh, uuh... H-Hyun-woo... Aku rasa aku juga mau gila..."
Choi Hyena, duduk mengangkang di atas perutku dengan tatapan kosong, membuat hidupku sangat rumit dengan gerakannya yang liar dan didorong oleh nafsu.
Apa yang harus kulakukan dengan ini? Apa aku harus ngentot dia habis-habisan dan memuaskan nafsunya?
Sebesar apa pun keinginanku untuk melakukannya, masalahnya adalah aku nggak punya cara untuk memisahkan Wendigo dari Choi Hyena saat ini. Gimana kalau Wendigo itu ngamuk lagi setelah hasrat seksualnya terpuaskan? Kalau itu terjadi, salah satu dari kami pasti bakal mati.
Empat hari dan sekitar delapan jam sampai gate terbuka... Apa aku bisa bertahan sampai saat itu? Aku harus menangkis serangan monster sambil mengurus libido Choi Hyena.
"Penis... penis..."
"Jangan tarik celanaku."
Aku mengerahkan setiap ons tenaga yang kupunya untuk menarik celanaku kembali saat dia mencoba melorotkannya.
'Dia jadi sedikit lebih lemah.'
Ada hikmah di balik ini. Kalau dia punya kekuatan fisik yang sama seperti saat dia sepenuhnya dikendalikan oleh Wendigo, aku nggak bakal pernah bisa melindungi kesucianku.
"Pertama, aku harus kembali ke tenda."
Untung saja badai saljunya sudah berhenti. Di hari biasa, kami pasti sudah terkubur bersama di bawah salju sekarang.
"Haah... haah... haaah..."
Masalahnya adalah gimana cara menyingkirkan kue beras manusia ini dariku.
...Tunggu, apa dia lagi masturbasi sekarang?
Astaga naga, seorang Choi Hyena lagi masturbasi di depanku? Tapi kalau dipikir-pikir, mengingat dia baru saja mencoba merobek celanaku buat nyicipin penisku, itu nggak terlalu mengejutkan.
Aku sedikit khawatir dengan guncangan mental yang bakal dia derita saat dia akhirnya sadar nanti. Dia nggak bakal nyoba bunuh diri kan...?
Mengingat betapa tingginya harga diri Choi Hyena, itu sangat mungkin terjadi. Kalau dia beneran mencoba bunuh diri, aku harus ada di sana untuk menghentikannya dan memberinya semangat.
Meskipun dia anak bermasalah yang keras kepala, nggak pernah mau dengar, dan udah bikin aku menderita setengah mati setelah dirasuki Wendigo, kami tetap bertahan hidup bersama selama beberapa hari terakhir, berbagi suka dan duka. Masih ada secercah kesetiakawanan yang tersisa.
"Penisnya Hyun-woo..."
"..."
Hyena, tolong berhenti bikin aku mikir dua kali sebelum aku beneran mutusin buat ngentot kau kayak binatang.
Setelah berjuang di salju yang rasanya seperti keabadian, aku akhirnya berhasil membawa Choi Hyena kembali ke tenda. Itu adalah pertempuran yang melelahkan, yang belum pernah kualami sebelumnya.
"Fuh."
"Mmph, mmph!!"
Dengan mulut dan tubuh terikat erat oleh tali, yang bisa dilakukan Choi Hyena hanyalah meronta-ronta dengan menyedihkan.
Rasain lu.
Syukurlah aku punya pandangan jauh ke depan untuk membeli tali saat aku menjarah toko itu untuk perlengkapan bertahan hidup sebelum bertemu Cheon Yeo-hwa. Kalau tidak, satu-satunya cara untuk menaklukkannya adalah dengan memukulnya sampai pingsan.
Entah itu efek dari Ring of Desire Reversal atau karena Wendigo tidak bisa lagi mengendalikan tubuhnya, kekuatannya hanya sedikit lebih besar dari dirinya yang biasa, jadi menahannya tidak terlalu sulit.
Bakal lebih gampang lagi kalau kondisi tubuhku sendiri lebih baik.
"Ninggalin dia keikat kayak gini selama empat hari... itu mungkin bukan ide yang bagus, kan?"
Aku membayangkannya sejenak, tapi sepertinya mustahil. Bahkan kalau aku menyuapinya dan... yah, membantunya ke kamar mandi, kalau hasrat seksualnya yang terbalik itu nggak diurus, nggak ada yang tahu apa yang mungkin terjadi.
Fakta bahwa dorongan membunuh Wendigo telah berubah menjadi nafsu berarti bahwa jika nafsu itu benar-benar terpuaskan, pikiran Choi Hyena bisa sekali lagi dikonsumsi oleh niat membunuh Wendigo.
Tapi kalau aku membiarkannya begini saja, itu juga bisa menyebabkan masalah pada kondisi mentalnya. Lagipula, ini adalah pengendalian pikiran dari monster peringkat B, sesuatu yang mampu membuat manusia gila.
Bahkan jika dorongan membunuh itu telah dibalik menjadi hasrat seksual, jika seorang manusia diliputi oleh hasrat sebesar itu untuk waktu yang lama, sudah jelas bahwa bahkan seorang mage seperti Choi Hyena pun akan menderita akibatnya.
Pada akhirnya, aku perlu meredakan hasrat seksualnya dengan tepat, tanpa membiarkannya benar-benar terpuaskan. Aku nggak tahu persis di mana batasnya, tapi aku punya firasat kuat bahwa penetrasi jelas nggak boleh dilakukan.
Meredakan hasrat seksual tanpa benar-benar berhubungan seks. Kedengarannya sulit, tapi itu adalah sesuatu yang dihadapi pria sepanjang waktu. Menahan keinginan untuk berhubungan seks dan menenangkan libido seseorang melalui masturbasi praktis adalah takdir seorang pria.
"Mmmph, mmmph!!"
"...Aku bakal ngelepas ikatanmu, tunggu sebentar."
Sepertinya banyak yang ingin dia katakan. Kalau begini terus, kulit di sekitar mulutnya bisa lecet karena tali.
"Phah!"
"Kau nggak apa-apa? Apa kau masih kayak tadi...?"
"Hyun-woo... selangkanganku gatal banget..."
"Masih sama, rupanya."
Rona merah padam dan matanya yang agak gila memberitahuku bahwa Choi Hyena masih sange berat. Sepertinya aku harus bikin dia keluar sekali biar dia sadar.
"Jangan berani-beraninya kau menyalahkanku atas ini kalau kau udah waras nanti."
"Penis, penis..."
Mengabaikan desakannya, aku perlahan membelai pahanya. Aku nggak bisa melepas atasannya karena tali, tapi karena dia memakai gaun, aku nggak perlu menelanjangi bagian bawahnya.
Pemandangan dia menggesekkan kedua kakinya, seolah vaginanya gatal, sungguh sangat cabul.
Saat aku perlahan membuka pahanya, pakaian dalam renda merah yang sudah kulihat beberapa kali sebelumnya mulai terlihat. Satu-satunya perbedaan dari biasanya adalah selangkangannya basah kuyup. Titik itu sangat gelap.
"Bau cairan memek murahanmu memenuhi udara."
"Cepat sentuh aku..."
"Jangan buru-buru."
Aku menurunkan celana dalamnya dalam satu gerakan, memperlihatkan vagina cabul yang berkedut saat mengeluarkan cairan cinta. Cara vaginanya seolah memohon untuk disentuh begitu erotis sehingga aku mendapati diriku membelainya dengan jariku sebelum aku menyadarinya.
Crot—
"Hnngh, uuh!!"
Hanya dengan itu, Choi Hyena sepertinya mencapai klimaks yang dangkal. Dia jauh lebih sensitif dari yang kuduga.
"Aku pengen sedikit lebih pelan, tapi..."
Dengan monster yang mungkin mengintai di dekat kami, aku nggak punya kemewahan untuk santai. Aku dengan hati-hati menariknya ke dalam pelukanku dan dengan lembut membelai selangkangannya dengan jari-jariku.
Basah, basah.
"Haahng, haauuh..."
Aku memaksa kakinya terbuka saat dia terus mencoba menutupnya, lalu mengambil klitorisnya, yang sudah mengeras sejak tadi, di antara jari-jariku dan menggosoknya.
"Hauuh...?!"
Crot— Crot—
Sekali lagi, kepalanya tersentak ke belakang saat dia dengan cepat klimaks. Pemandangan pinggangnya yang gemetar menyedihkan membangkitkan rasa sadisme yang aneh dalam diriku.
Nggak ada waktu untuk istirahat. Aku terus menggosok klitorisnya yang memerah tanpa henti.
"Ughat, aaah...?!! T-tunggu sebentaaarr...!!"
Aku menguasai Choi Hyena saat dia menggeliat, terus menyiksa klitorisnya. Dia gemetar menghadapi kenikmatan yang mengerikan itu, sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya seumur hidupnya.
Terlepas dari pikirannya yang didominasi oleh nafsu, tubuhnya adalah tubuh perawan yang belum pernah disentuh pria. Punggungnya melengkung dengan sendirinya, tubuhnya gemetar seperti daun tertiup badai—itu adalah neraka kenikmatan yang nggak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Tepat saat pandangannya mengabur dan dia merasa kesadarannya hampir putus, jari-jari tebal Kang Hyun-woo masuk ke dalam vaginanya.
Jleb, basah.
Saat dia menggosok klitorisnya di antara jari-jarinya, jari tengah dan jari manisnya secara bersamaan mendorong ke dalam dirinya, menggesek dinding vaginanya. Sensasi itu membuat rontaan Choi Hyena semakin panik.
"Tidak, tidak...!! M-memekku bakal rusak...!!"
"Nggak bakal."
Mendengar suaranya yang dingin dan cuek, yang bisa dilakukan Choi Hyena hanyalah menerima sentuhan Kang Hyun-woo.
"K-klitorisku bakal rusak...!!"
"Kan udah kubilang, nggak bakal."
Ada cemoohan dalam jawaban Kang Hyun-woo, tapi Choi Hyena yang kewarasannya sudah hilang nggak mungkin menyadarinya.
Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berada dalam pelukan pria yang lebih kuat darinya dan dihancurkan secara seksual. Mengeluarkan erangan cabul dan bertingkah imut di depan pria itu, dia adalah gambaran nyata dari wanita murahan yang sedang sange berat.
Pada saat kasur tidak hanya lembap tetapi benar-benar basah kuyup oleh cairan cinta yang menyembur dari vaginanya, Choi Hyena merasakan sesuatu yang luar biasa mendekat.
"T-tunggu, berhenti sebentaaarrr...!! A-ada yang mau keluaarrr!!"
Secara naluriah menyadari bahwa kenikmatan yang tidak sebanding dengan apa pun yang pernah dia alami selama ini akan datang, Choi Hyena menatap Kang Hyun-woo dan memohon. Wajahnya yang hancur, berlumuran air mata dan air liur, sungguh sangat cabul.
Itu cuma membuat pria itu semakin bersemangat.
Kang Hyun-woo mencubit klitoris Choi Hyena sambil tanpa ampun menggesek G-spot yang cekung di dalam vaginanya.
"K-kenapa...!!"
Perlawanan Choi Hyena, menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi untuk melawan kenikmatan itu, benar-benar sepele dan menyedihkan.
"Nggak mau, nggak mau...!! Aku nggak mau keluar!!"
"Kau ini nggak keluar, kau lagi menikmati."
"Tidak, tidak...!!"
Melihat penolakan terus-menerus dari wanita di pelukannya, cengkeraman Kang Hyun-woo pada klitorisnya menguat.
Meskipun sentuhan seperti itu biasanya menyakitkan, Choi Hyena, yang didominasi oleh hasrat seksual yang intens, merasakan kenikmatan yang memabukkan bercampur dengan rasa sakit.
"Kubilang, katakan padaku kau lagi menikmatinya!"
Jari-jarinya yang menggesek G-spot-nya menjadi lebih kasar. Tidak mampu lagi menahan gelombang kenikmatan yang menghantam, Choi Hyena akhirnya harus menyerah.
"H-Hyena keluar lagiii...!!!"
CROOOOT!!
"Nnggh-hoook...!?!!"
Saat kenikmatan yang terasa seperti sengatan listrik menjalar ke tulang belakangnya hingga ke otaknya, Choi Hyena menjadi lemas seperti boneka yang talinya diputus.
Yang bisa dilakukan gadis yang ambruk itu hanyalah berkedut sesekali, mengeluarkan sisa cairan cintanya.
Matahari terbenam, dan malam pun tiba.
"Ugh, uuh..."
Setelah pingsan karena serangkaian orgasme paksa, Choi Hyena terbangun, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.
"Di mana aku..."
Dia berada di dalam tenda yang familier.
Melegakan rasanya nggak bangun di tengah padang salju dengan anggota tubuh yang mati rasa, tapi dia nggak ingat bagaimana dia bisa sampai di sini.
Di mana Kang Hyun-woo? Nggak ada satu pun ingatan yang jelas.
Kepalanya berdenyut setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu. Tanpa menyadari bahwa ini adalah mekanisme pertahanan otaknya yang aktif untuk melindungi martabat pemiliknya, Choi Hyena memaksa dirinya untuk mencoba dan mengingat.
Akhirnya, dia ingat pertempuran dengan kawanan Serigala Putih, dan kemudian ingatannya mulai membanjir kembali.
Setelah mengalahkan kawanan serigala itu, dia sempat pergi sebentar karena dia nggak tahan melihat wajah Kang Hyun-woo. Di sana, dia diserang oleh monster peringkat B, Wendigo, tubuhnya diambil alih, dan langsung menyerang Kang Hyun-woo.
Bukan dalam artian seksual; dia benar-benar mencoba membunuhnya.
Untungnya, karena alasan yang nggak dia mengerti, saat dia menurunkan pelindung mentalnya seperti yang diperintahkan Kang Hyun-woo, dorongan membunuh yang telah mengikis pikirannya lenyap seolah-olah itu bohong belaka.
Sepertinya insiden itu berakhir di sana, tapi...
"...Hah?"
—Kau... kelihatan enak banget...?♡
—Hngh, uuh... H-Hyun-woo... Aku rasa aku juga mau gila...
—Penis... penis...
—Penisnya Hyun-woo...
Gambaran dirinya dalam ingatan yang mengikuti jauh dari kata selesai.
"A-apa...??"
Dari ingatan tentang dirinya yang bertingkah imut di depan Kang Hyun-woo seperti semacam pelacur untuk memuaskan nafsunya...
—K-klitorisku bakal rusak...!!
—H-Hyena keluar lagiii...!!!
...sampai pada pemandangan dirinya di pelukan pria itu, mengompol saat dia keluar dengan spektakuler. Semuanya kembali membanjirinya.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!"
"A-ada apa ini?!"
Tepat saat itu, Kang Hyun-woo membuka pintu tenda dan masuk.
"Keluar! Keluar!! KELUAR!!!"
"Keuk...!"
Terkena tendangan kekuatan penuh Choi Hyena di ulu hatinya, Kang Hyun-woo terpental keluar dari tenda.
Masih ada empat hari dan dua jam tersisa sampai gate terbuka.