
Gate itu sangat luas.
Semakin tinggi peringkatnya, ukurannya pun semakin besar. Kudengar beberapa Gate peringkat tertinggi punya ukuran raksasa yang nggak masuk akal, sebanding dengan seluruh benua.
Ini membuktikan alasan kenapa negara adidaya seperti Amerika Serikat membiarkan Gate peringkat A terbuka selama bertahun-tahun, dan kenapa selama Gate masih ada, umat manusia tidak perlu khawatir soal sumber daya.
[Raging Screw]
DUAAR!!
Pusaran angin melesat ke langit, mencabik-cabik enam Serigala Putih (White Wolves) di udara.
Hujan darah dan daging mereka berjatuhan.
Pemandangan padang salju putih bersih yang ternoda oleh bangkai busuk magical beast sekarang sudah jadi pemandangan yang lumayan familier.
Tapi, yang nggak bisa kubiasakan adalah rasa perih dari lecet yang terbentuk di seluruh telapak tanganku karena menggenggam gagang pedang terlalu erat dalam waktu lama.
"Kerja bagus."
"Hmph."
Choi Hyena dengan santai mengabaikan kata-kataku.
Aku menghela napas pelan saat dia berjalan pergi entah ke mana begitu pertarungan berakhir.
Aku nggak bisa berkata apa-apa, karena sikapnya itu sepenuhnya salahku.
Aku ketahuan coli dengan ngegesekkin kontolku ke tubuhnya pas dia lagi tidur. Fakta bahwa dia nggak menanamkan mantra sihir di tengkorakku saja sudah cukup berbelas kasih.
Parahnya lagi, aku bahkan nembakin muatan cairan lengket ke pantatnya.
Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, itu adalah tindakan yang cuma bisa dideskripsikan sebagai otak yang dikendalikan oleh selangkangan.
"Haaah..."
Aku nggak bisa berhenti menghela napas. Tapi apa gunanya menyesal sekarang? Kalau aku kembali ke momen itu, aku mungkin bakal ngelakuin hal yang sama persis.
Yah pokoknya, aku nyongkel batu sihir dari bangkai monster-monster itu dulu lalu mencuci tanganku dengan salju.
Pria sejati harus ngelakuin apa yang harus dia lakuin. Secapek apa pun aku, aku nggak bisa ngelakuin tindakan kejam dengan ninggalin batu sihir dari monster peringkat C.
'Tentu saja, seekor Serigala Putih sendiri bukan peringkat C, jadi harganya bakal sedikit lebih murah.'
Choi Hyena pernah memberitahuku.
Serigala Putih diklasifikasikan sebagai peringkat C karena mereka bergerak dalam kawanan; secara individu, mereka cuma sekitar peringkat D+.
Tapi aplikasi itu menganggap mereka peringkat C dan ngasih aku hadiah penuh. Sepertinya standarnya untuk peringkat monster berbeda dari standar kita.
'Untung saja kita nggak ngadepin kawanan Yeti Putih.'
Masing-masing dari mereka adalah monster peringkat C asli. Kalau kita ngelawan kawanannya, mustahil untuk ngabisin mereka dengan satu mantra kayak yang baru saja kulakuin.
"Tetap saja, rasanya aku mulai terbiasa ngelawan monster peringkat C. Kalau cuma tiga Yeti Putih, kurasa aku masih bisa ngatasinnya entah gimana..."
Meskipun aku mencoba berpikir positif, aku nggak bisa menepis perasaan ragu, bertanya-tanya apa sih yang sebenarnya lagi kulakuin.
Awalnya, aku berencana belajar ilmu pedang tahap demi tahap di dojo. Belajar genggaman yang benar, ngebangun stamina dan kekuatanku, dan menguasai dasar-dasarnya.
Tapi apa-apaan ini? Kenapa aku harus selalu mulai dengan pertarungan nyata?
Ini ngingetin aku sama dungeon bawah tanah.
Waktu itu, aku bahkan belum sebulan belajar sihir, tapi aku harus ngelawan monster peringkat D+ sebagai dasarnya, di tempat gila di mana spesimen elit berkeliaran sesuka hati mereka.
"Hah."
Ya, ini pasti udah takdirku.
Aku belum pernah ngelihat hidup seseorang membaik karena mengeluhkan takdir mereka.
Pada akhirnya, aku cuma harus melewatinya sendiri.
Memutuskan kalau keluhannya udah cukup, aku mulai berjalan buat nyari Choi Hyena, yang mungkin lagi ngambek di bawah pohon entah di mana.
Ini sudah hari kedua sejak kami tersedot ke dalam Gate yang terisolasi ini. Kami punya sisa empat hari dan kira-kira sepuluh jam sampai Gate itu terbuka.
Choi Hyena selalu percaya bahwa hal-hal seperti pernikahan dan pacaran nggak akan pernah jadi bagian dari hidupnya.
Di luar urusan resmi, dia bahkan benci memikirkan ngobrol dengan seorang pria, apalagi pegangan tangan dengannya.
Misandry (Benci pria)? Ya, kau bisa menyebutnya begitu.
Kenangan tentang ayahnya dari masa kecilnya telah meninggalkan trauma yang dalam dan berat.
Mungkin karena itu, Choi Hyena sudah tidak menyukai pria sejak dia cukup umur untuk mengerti.
Tentu saja, dengan statusnya sebagai pewaris tunggal keluarga sihir Choi Seongbuk yang bergengsi, penampilannya yang memukau, dan bakatnya yang luar biasa, banyak pria berkerumun di sekitarnya sejak dia masih muda. Itu adalah kehidupan yang jauh dari yang dia inginkan.
Kapan pun mereka punya kesempatan, orang dewasa di sekitarnya cuma tertarik menjodohkannya dengan pria. Kencan buta yang dipaksakan padanya adalah yang terburuk. Para pria yang muncul, menyebut diri mereka calon pasangannya, semuanya adalah sampah tak berguna yang bahkan dia malas ajak bicara.
Mereka adalah bajingan tipikal yang nggak ngelakuin apa-apa selain pamer latar belakang keluarga dan uang orang tua mereka. Kencan butanya nggak pernah bertahan lebih dari tiga puluh detik.
Tapi Kang Hyun-woo entah kenapa berbeda.
Apa karena pertemuan pertama mereka sangat mengerikan?
Di depannya, dia mendapati dirinya tanpa malu-malu menunjukkan jati dirinya yang biasa dia sembunyikan demi hubungan sosial.
—"Bitch gila ini ngomong apa sih, bangsat?"
—"Hei, buka telingamu dan dengarkan. Keluarga Choi Seongbuk? Mage jenius? Kau tahu apa yang lebih penting dari semua omong kosong itu? Tata krama, bocah. Kau bahkan nggak kelihatan kayak manusia yang layak, dan kau mau jadi mage? Penelitian? Omong kosong."
—"Kau... kau...!! Beraninya pengemis sepertimu mengatakan hal seperti itu padaku!!"
—"Sebaiknya kau bersiap-siap. Mulai sekarang, tidak akan ada satu tempat pun di bumi ini bagimu untuk menjejakkan kaki sebagai mage."
Bahkan memikirkannya sekarang, itu benar-benar pertemuan pertama yang mengerikan.
Kalau mereka berpisah di sana, dia nggak bakal cuma melupakan kencan kedua; dia bakal menggunakan kekuasaan keluarganya untuk menyiksa pria itu.
Tapi sekarang, rasanya begitu jauh, seolah-olah dia berpikir, Apa aku beneran ngelakuin itu?
Apa sebenarnya yang sudah berubah?
Tak peduli berapa kali pria itu telah menyelamatkan nyawanya, dia telah memanfaatkannya saat dia tertidur, melakukan pelecehan seksual yang tak terkatakan dan... dan...
'Dia muncrat...!!!'
Bahkan sekarang, jika dia memejamkan mata, dia bisa mengingat benda miliknya itu—panas, lengket, dan kental—menyemprot di seluruh pantatnya.
Sperma pria, yang selama ini hanya pernah dia dengar, dan bahkan penisnya.
Seberapa keras pun dia mencoba melihatnya dari sisi positif, dia tidak bisa memaafkan raut wajah tak tahu malunya saat pria itu tersenyum setelah melakukan tindakan seperti itu tanpa persetujuannya.
Dia tidak seharusnya hanya mencekiknya saat itu; dia seharusnya mencabut semua rambutnya.
'Wajah Kang Hyun-woo yang botak...'
Entah kenapa, itu lucu.
Dia jarang sekali tertawa, tapi membayangkan wajah botaknya saja sudah membawa senyum konyol di bibirnya.
Bagaimana bisa jadi begini?
Kalau ada yang bertanya apa dia jatuh cinta pada Kang Hyun-woo, jawabannya adalah tidak.
Dia berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan nyawanya dua kali, tapi dia nggak punya niat membiarkannya mengambil tubuhnya sebagai alasan.
Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa jatuh ke dalam labirin.
'...Kalau dipikir-pikir, sudah lama aku nggak tidur senyenyak itu.'
Saat dia dipeluk Kang Hyun-woo, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia nggak mengalami mimpi buruk.
Sembilan dari sepuluh malam, kenangan hari itu bakal muncul di mimpinya. Lorong yang bersimbah darah dan ayahnya, menatapnya dengan mata penuh niat membunuh.
Obat nggak ada efeknya.
Insomnia kronisnya bahkan menghambat penelitian sihirnya.
Apa yang ada pada diri pria itu sampai-sampai membuatnya melupakan mimpi buruk yang seharusnya dia alami, dan bahkan mengizinkannya menyentuh tubuh yang dia bersumpah nggak bakal biarin siapa pun menyentuhnya?
Choi Hyena tiba-tiba merasa takut.
Takut kalau ini terus berlanjut, dia mungkin benar-benar bakal ngasih pengalaman pertamanya pada pria itu.
Takut kalau dia mungkin bakal menyerahkan hatinya pada pria vulgar itu.
Dan dia takut pada dirinya sendiri, karena menyadari bibirnya melengkung membentuk senyuman saat membayangkan masa depan yang mengerikan itu.
Tapi kalau dia bertanya pada dirinya sendiri apakah dia benar-benar setakut itu sampai ingin lari darinya... untuk kali ini, Choi Hyena nggak bisa memberikan jawaban pasti.
Dia nggak tahu kenapa.
'Tapi...'
Kapan malam tiba?
Pohon besar tempatnya bersandar, langit kelabu yang suram, padang salju yang dingin dan membosankan—semuanya lenyap.
Yang mengelilinginya hanyalah kegelapan yang pekat.
Kegelapan yang mengancam itu membuatnya mustahil untuk membedakan apakah apa yang dilihatnya tepat di depannya atau sangat jauh.
Tepat saat tangan dan kakinya mulai gemetar...
—"...Hyena!!!"
Prak—
Kegelapan yang mengelilinginya hancur seperti kaca, dan cahaya yang familier menyinari dari segala arah.
"Hei!! Choi Hyena!!"
"...Hah?"
Meskipun penglihatannya kembali normal, Choi Hyena nggak bisa memahami apa yang sedang terjadi.
Dan ada alasannya.
"Sialan, sadarlah!!"
Karena saat ini, dia berada di atas Kang Hyun-woo, bersiap menusukkan sebongkah batu tajam ke lehernya.
Roh (Spirits). Mereka adalah spesies yang berbeda dari magical beast, dan mereka ada di mana-mana di dunia ini.
Di dalam kobaran api yang membakar hebat, di dalam ombak yang mengamuk, di dalam angin yang melintasi ladang, dan di dalam gua yang gelap.
Roh, tanpa kecuali, sangat egosentris dan egois, jadi kebanyakan orang nggak suka sama mereka.
Tidak, beberapa bahkan membenci mereka.
Di zaman dulu, roh dan magical beast dianggap sama, yang memberikan indikasi betapa jahatnya mereka.
Tentu saja, apa itu berarti semua roh itu jahat? Kalau kau bertanya begitu, jawabannya adalah tidak.
Kenyataannya, roh lebih dekat dengan manusia murni.
Sama seperti orang-orang nggak dibagi rapi menjadi baik dan jahat, sebagian besar roh punya disposisi netral.
Sama seperti ada orang yang lahir dengan sifat baik, ada roh yang sangat baik. Dan sama seperti ada orang yang lahir jahat, ada roh yang menyakiti manusia tanpa alasan sama sekali.
"A-apa...??"
"Sadarlah!!"
Choi Hyena, yang telah menindih Kang Hyun-woo, mengancamnya dengan mata merah, siap menusukkan batu tajam yang diambilnya entah dari mana ke leher pria itu.
Dengan kekuatan yang tak terbayangkan dari Choi Hyena yang biasanya, yang bisa dilakukan Kang Hyun-woo hanyalah meraih lengannya dan menahannya sekuat tenaga.
"Kenapa... kenapa aku...??"
"Kalau kau udah sadar, minggir sana...!!"
Ugh. Pikirannya sepertinya sudah kembali, tapi kekuatannya malah bertambah.
Kalau begini terus, batu tajam itu bakal menusuk lehernya kapan saja.
"T-tubuhku nggak mau gerak sesuai kemauanku!!"
"Apa-apaan...!!"
Kang Hyun-woo, yang memeras kata-katanya dengan suara yang terdengar seperti akan mati, benar-benar merasa seperti akan mati.
Tekanan yang menekan ke bawah begitu besar sampai-sampai saat dia menahannya dengan kedua tangan, dia merasakan sendi-sendinya berderak.
Tadi dia lagi melihat-lihat untuk menenangkan Choi Hyena yang jelas-jelas sedang marah ketika dia melihat gadis itu berdiri melamun di bawah pohon besar dan berlari menghampirinya.
Saat dia nggak menjawab panggilannya, dia sempat mikir apa gadis itu cuma lagi ngambek berat, tapi begitu dia mendekat, gadis itu malah menyerangnya dengan batu tajam yang dipegang di tangannya yang lain.
Tertangkap basah oleh serangan mendadak itu, dia berakhir dalam jalan buntu ini, dan lima menit sudah berlalu.
Kekuatannya mulai memudar. Dia nggak punya banyak waktu buat pulih dari pertarungan ngelawan kawanan Serigala Putih, dan dia nggak bisa bertahan lebih lama lagi.
Choi Hyena sama kebingungannya, tapi layaknya mage sejati, dia dengan cepat dan rasional menilai situasinya.
Monolog yang dimulai entah kapan, kesadaran yang terperangkap di ruang tak dikenal, dan tubuh yang nggak mau mematuhi perintahnya.
Ini semua adalah tanda klasik pengendalian pikiran (mind control).
Sebagai mage dengan pelindung mental yang jauh lebih kuat dari orang biasa, nggak banyak magical beast yang mampu menggunakan pengendalian pikiran seperti itu padanya.
Terlebih lagi, di Gate padang salju yang diperkirakan peringkat C+ atau lebih tinggi, cuma ada satu monster yang mampu melakukan hal seperti itu.
"Wendigo!"
Wendigo. Roh salju dan es, sangat jahat sampai-sampai disebut roh jahat.
Peringkatnya B- yang mengejutkan.
Dia nggak punya kekuatan fisik, tapi dikenal karena kemampuannya merasuki tubuh seseorang dan mengendalikan pikiran mereka.
Seseorang yang nyaris lolos dari rasukan Wendigo mengatakan bahwa mereka merasakan dorongan membunuh yang intens.
Untungnya, berkat pelindung mentalnya yang kuat, dia nggak merasakan dorongan untuk membunuh, tapi itu pun sudah mencapai batasnya.
Dia cuma mage Lingkaran ke-3, sementara Wendigo adalah monster peringkat B.
Kesadarannya perlahan memudar. Kalau begini terus, sudah jelas bahwa pikirannya, seperti halnya tubuhnya, bakal segera didominasi sepenuhnya oleh Wendigo.
Kalau itu terjadi, dia dan Kang Hyun-woo bakal tamat.
"Apaan itu Wendigo...!!"
"Monster peringkat B yang bisa ngendaliin pikiran!!"
"Apa kelemahannya?!!"
"Kekuatan Suci (Divine Power)!!"
Di tengah Gate yang cuma ada dua mage, nggak ada pendeta yang bisa menggunakan Kekuatan Suci, juga nggak ada Air Suci yang mengandung kekuatan itu.
Cuma tersisa satu pilihan.
"S-Shop!!"
Tring—
[Shop]
[Antidote Tingkat Terendah: Terjual Habis]
[Sweet Apple: 250 Koin]
[Pedang Sihir Tentara Kekaisaran: Terjual Habis]
[Buku Etiket untuk Nona Memesona: 540 Koin]
[Random Scroll Tingkat Tinggi: 600 Koin]
· · ·
Aku sudah berharap, tapi seperti dugaanku, shop belum di-reset.
"Sialan...! Cepat reset dong!!"
Kalau begini terus, dia beneran bakal mati. Sepertinya dia nggak punya pilihan selain memulai match baru.
Ini yang terburuk. Dalam kondisinya saat ini, dia nggak punya kemewahan waktu untuk memilih informasi lawannya dengan hati-hati.
Tepat saat dia terpaksa berdoa supaya orang biasa yang di-match dengannya...
Tring—
[Reset Shop]
[Harga: 1.000 Koin]
[Apakah Anda ingin me-reset shop?]
[Y/N]
[Peringatan! Pilihan ini tidak dapat dibatalkan.]
Secercah harapan muncul.
Tapi itu harapan yang sangat meresahkan.
Waktunya terlalu pas buat nggak dicurigai, dan 1.000 koin? Bajingan-bajingan ini ngejalanin bisnis kotor bahkan di saat nyawa seseorang lagi dipertaruhkan.
"Aku me-reset-nya!!"
Tapi saat ini, dia nggak punya pilihan lain.
[Y]
[Shop sedang di-reset.]
Sepuluh item baru muncul. Nggak ada waktu buat ngebaca setiap deskripsinya.
Dia harus menebak apa fungsinya berdasarkan namanya.
Mataku memindai ke bawah dengan kecepatan kilat.
Dan aku tahu secara naluriah kalau ini adalah satu-satunya item yang bisa menyelesaikan situasi saat ini.
[Apakah Anda ingin membeli Ring of Desire Reversal?]
[Y/N]
[Y]
[Anda telah membeli Ring of Desire Reversal.]
[Sisa Koin: 2.000]
"Choi Hyena! Turunkan pelindung mentalmu!!"
"Apa?! Kau gila ya?! Kalau aku ngelakuin itu, kau bakal mati, dan aku juga mati!!"
"Percaya padaku!!"
Melalui penglihatannya yang kabur, Choi Hyena melihat mata Kang Hyun-woo, lebih serius dari sebelumnya.
"Percaya padaku."
"...Baiklah!!"
[Gunakan Ring of Desire Reversal?]
[Target: Choi Hyena (Wendigo)]
[Y/N]
[Y]
Krak. [Ring of Desire Reversal] hancur, dan gelombang energi tak berwujud menyapu kami.
Aku nggak ngerasain apa-apa, tapi Choi Hyena, yang ada di atasku siap untuk membunuhku, ambruk ke samping seolah dia pingsan.
"Ha, haah, haah... Aku beneran hampir mati tadi."
Penyelamatan yang luar biasa.
Ini bener-bener pantes buat jadi kompilasi highlight di pemakamanku nanti.
Saljunya sangat dingin, tapi sekarang, aku nggak punya tenaga buat ngangkat satu jari pun.
Untungnya, pemindaian mana singkat mengungkapkan kalau satu-satunya magical beast di dekat sini cuma Wendigo yang merasuki tubuh Choi Hyena.
"Sekarang, gimana caraku ngurusin makhluk itu..."
Tepat saat kepalaku mulai berdenyut memikirkan cara menangani monster peringkat B...
"Ugh, eung..."
Choi Hyena, yang terbaring di salju, bergerak dan mulai duduk.
Syukurlah, dinilai dari matanya, rasukannya sepertinya sudah putus.
[Ring of Desire Reversal]. Aku nggak tahu apa efeknya, tapi sepertinya 800 koin yang kuhabiskan buat itu sepadan.
"Hei, kalau kau udah bangun, bisa bantu aku berdiri? Tenagaku habis... Choi Hyena...?"
Choi Hyena, yang susah payah berdiri, kini mendekatiku.
Dia sempoyongan goyah, tapi lebih dari itu, ada yang aneh dengannya.
"Haah, haah..."
Napasnya yang tersengal-sengal membuatnya terlihat gelisah.
'Jangan bilang... rasukannya belum putus??'
Tapi nggak mungkin. Pas dia dirasuki Wendigo dan nyoba ngebunuh aku, aku ngerasain niat membunuh yang mengerikan darinya.
Sebaliknya, Choi Hyena yang sekarang nggak memancarkan niat membunuh sedikit pun, bahkan nggak ada tanda-tanda ancaman.
Terus apa ini efek samping dari rasukan itu?
"Choi Hyena? Kau nggak apa-apa...?"
Aku baru saja memaksa diriku untuk berdiri saat Choi Hyena menerjangku lagi.
Tepatnya, dia naik ke atas perutku.
"Choi Hyena...?"
"Hh, ngh... haah... haaht..."
Dari dekat, kondisi Choi Hyena jelas nggak normal.
Wajahnya merah padam, dan napasnya anehnya kasar.
Tring—
"Heeey... Kang Hyun-wooo..."
Suaranya manja dan lengket, nada yang nggak pernah kubayangkan dari Choi Hyena yang biasanya.
Parahnya lagi, pupil matanya berbentuk hati, sesuatu yang cuma bisa kau lihat di doujinshi dewasa.
[Ring of Desire Reversal]
[Target: Choi Hyena (Wendigo)]
[Hasrat yang Dibalik: Dorongan Membunuh > Hasrat Seksual]
"Kau... kelihatan enak banget...?♡"